Author Archives: yasminahasni

About yasminahasni

A writer, a mother from two adorable children, Langit Habiby and Naira Hati, and also 5 cats, a wife from an adorable husband, and a life enjoying woman.

My emotion Journey: Idul Fitri

Image

Pengalaman idul fitriku tidak seperti idul fitrimu.

Memori yg ada di kepala mengenai idul fitri kebanyakan menyebalkan. Karena selalu ada kejadian2 konflik ditengah idul fitri, pre dan pasca.

Apalagi buat manusia yg seperti saya, yang sebelum situ pada ribut soal introvert dan ansos, saya udah diem di pojokan kek kaktus.

Makanya pas jadi wartawan saya suka mengajukan diri untuk piket di hari raya, demi menghindari idul fitri. Meski saya tau, nantinya mama suka manyun.

Idul fitriku bukan idul fitrimu.

Kami gak punya kampung, maksudnya mudik kami paling jauh hanya ke bandung. Gak jauh2. Ya dulu sebelum ada cipularang kami harus lewat puncak, kadang jonggol dan perjalanan sungguh melelahkan. Tapi alhamdulillah selalu punya mobil, kalau malas nyetir pun bisa menikmati perjalnan dengan tenang via kereta api.

Jadi tak ada kenangan mudik, mungkin krn itu mama sejak dulu mengingatkan “Kalau cari jodoh, cari yg gak punya kampung. Kamu itu gak biasa mudik jauh2, gak bakalan tahan diajak mudik jauh. Seleksi aja yg keluarganya di jakarta..”

Emang visioner.

Idul fitriku (mungkin) tak sama dengan idul fitrimu.

Mamaku tidak pernah masak ketupat, sayur, atau opor. Mamaku juga tidak memanggang kue. Dia selalu bilang

“Mama kan kerja, kalau sudah pulang, mendingan buat ibadah di bukan ramadan atau main sama anak2, menggantikan waktu yg hilang. Masak biar urusan orang, kan kalau kita beli juga ngasih rezeki buat orang lain..”

Mama memang jarang masak, biasanya hanya sup kaldu ayam yg kentaaaaal kalau kami gak enak badan (makanya saya doyan bgt bakmi acang karena tiap nyeruput kuah kaldu, rasanya seger inget mama) atau sayur kacang merah favoritnya. Gak pernah jadi masalah buat saya. Karena memang waktu yg diberikannya untuk main, bacain buku atau mengajak kami duduk dan mengaji bersama buat saya lbh menyenangkan. Makan mah apa ajalah.

Idul fitriku rasanya kerap berbeda dengan idul fitrimu.

Hal ini baru saya rasakan ketika menikah dan merasakan idul fitri di rumah keluarga suami. Baru tau kalau idul fitri itu semarak. Baru tau kalau idul fitri itu artinya masak hingga nyaris tengah malam. Baru tau kalau idul fitri itu penuh ritual yang awalnya terasa amat membingungkan.

Tapi bisa jadi idul fitriku sama dengan idul fitrimu.

Karena mamaku selalu membeli kembang sedap malam, kadang dicampur lily, atau bunga matahari. Karena dia suka bunga. Rumah kami haruuuum alami, dan rasanya hangat.

Mamaku juga suka sekali makan lidah, maka selalu ada menu semur lidah di hari idul fitriku. Mamaku suka duduk di teras, menikmati suara takbir sambil ikut merapal takbir, ditemani segelas kopi panas. Kadang ia tiba2 menitikkan air mata. Entah kenapa..

Idul fitri bagiku mungkin tak seistimewa bagimu,

karena kebiasaan kami tidak selalu meromantiskan sesuatu. Silaturahim harus dilakukan kapan saja, tak perlu menunggu lebaran. Baju baru juga tak selalu. Saling memberi hadiah selalu dilakukan kapan saja. Ketupat bisa dinikmati bersama ketoprak atau sate padang.

Tapi sejak mama meninggal, saya jadi banyak muhasabah.

Betapa lebar senyum mama tiap kali bertakbir, padahal lelah, padahal hidupnya tak pernah ramah. Betapa kerasnya mama berusaha agar kami semua mengalami kenikmatan yg sama, meski situasinya lebih sering tak ideal. Betapa dia memahami bahwa anak2nya merasa diem di rumah dan gak ngapa2in saat lebaran itu jauh lbh menyenangkan ketimbang harus berkumpul rame2.

Tapi mama, adalah mama. Orang yg selalu berusaha untuk mengakomodir segala situasi, dari keluarganya sendiri–a.k.a orang tuanya yg sudah berpisah, anak2 dan suaminya yang pendiam dan sukanya ngumpet di goa, lalu keluarga suaminya yang luar biasa orkestra.

Ini adalah idul fitri ke 9 tanpa mama. Tak terasa? Terasa. Karena ternyata hidup saya berotasi mengelilingi mama. Kebayang gak, ketika saya harus berhenti berotasi?

Ternyata idul fitri bagi saya adalah mengenai mama. Bagi saya, ramadan lebih banyak kenangannya. Ramadan lebih menyenangkan ketimbang idul fitri. Ramadan lebih hangat karena waktu yg saya habiskan bersama mama lebih banyak. Ramadan lebih istimewa.

Idul fitri hanyalah sebuah pesta, persis seperti resepsi pernikahan. Iya, hanya berlangsung satu hari dan sudah itu, begitu saja. Mama tidak pernah menceriterakan soal hari kemenangan atau menganjurkan kami untuk maaf2an di hari idul fitri.

Mama hanya bilang bahwa idul fitri itu mengenai hadir di lapangan untuk solat dan mendengarkan khutbah (yang realitanya jaman kecil saya selalu tertidur di paha mama) kemudian sisanya; idul fitri adalah tentang menjaga silaturahim dan menjaga koneksi.

Karena dulu, usai solat, kami akan menemani nenek keliling dari satu rumah ke rumah lainnya. Sampai waktu zuhur tiba, kami kembali berkumpul di rumah, solat lalu tidur sampe sore. Semakin kesini, semakin habis keluarga yg dikunjungi karena meninggal dunia.

Jadi, kami akan duduk bersama dan ngobrol santai menikmati hari libur bersama2. Iya, keluarga saya enggak terlalu saklek harus ini harus itu ketika idul fitri. Tapi mama, akan selalu jadi katalis bagi anak2nya yang bersikap kaktus.

Mama akan selalu sibuk menyiapkan berbagai hadiah kecil, untuk dibawa dan diberikan sebagai buah tangan tiap kunjungan. Mama akan sibuk meminta kami bersilaturahim dengan keluarga yg masih ada, sebab menurutnya, kami harus paham garis keturunan dan menjaga silsilah.

Saya tau, itu adalah bentuk penjagaan mama buat kami. Karena menjaga silaturahim artinya menjaga relasi, dan membuka kesempatan berkolaborasi. Mama meninggalkan harta yang paling berharga; kompetensi. Saya tau, saya berani membuka diri justru ketika mama enggak ada.

Ya kan kalau masih ada mama, biarin aja mama yang maju, saya diem aja di keteknya. Ketika mama gak ada, saya harus mampu melakukan hal2 yang biasanya dia lakukan. Percayalah, saya mau melakukannya.

Saya senang melihat dia senang, meski kadang rasanya maleeees bangeeeet. Saya pengen bisa melakukan yang mama lakukan, meski kadang rasanya susaaaaaaahh banget membuka diri dan menghadapi orang banyak.

Ini tidak pernah mengenai pertanyaan “kapan nikah?” Atau “kapan punya anak?”

Saya gak terlalu peduli ditanya apapun, karena saya tau saya gak harus menjawab dan saya gak bisa mengendalikan apa yg akan dilakukan orang lain. Ini mengenai saya yang terbiasa dengan suasana tenang dan sepi. Saya yang enggak biasa hidup dengan banyak orang.

Ini mengenai saya dan kemampuan beradaptasi yang memang harus bisa saya lakukan karena saya manusia. Mau lari kemanapun, situasi orang banyak dan rame gak bisa saya hindari. Ini mengenai saya dan kemampuan berpikir kreatif, bahwa masalah itu harus dihadapi dengan cara yang manusiawi, bukan lantas kabur atau melakukannya dengan kebencian.

Saya sekarang paham kok, bahwa momentum idul fitri buat kebanyakan orang adalah mengenai sosialisasi, kebahagiaan karena bisa bersama2 berkumpul, namun bukan juga mengabaikan diri sendiri karena terus menerus berusaha menyenangkan orang lain sementara energi saya habis.

Ini tentang keseimbangan. Karena ngobrol basa basi memang membutuhkan banyak rasa legowo dan mau belajar. Saya manusia, dan saya enggak akan bisa hidup benar-benar sendiri. Iya saya gak suka small talk, tapi menjalin koneksi dan membangun deep talk, mau gak mau harus dimulai dengan small talk.

Saya mungkin seperti ebenezer scrooge atau grinch, yang terkenal karena membenci hari raya namun kemudian belajar dan berusaha berubah.

Saya enggak percaya dengan kata enggak bisa. Saya enggak suka hari raya, karena saya takut orang banyak, banyak kenangan buruk, dan males basa basi. Itu aja. Maka semakin saya mengenali diri sendiri, saya jadi paham bahwa saya bukannya enggak bisa, tapi saya enggak suka.

Dan hidup bukan melulu soal saya suka atau gak suka. Hidup adalah mengenai membangun koneksi, mempererat koneksi. Bukan memperkuat benci. Gimana saya bisa mengajarkan anak2 saya untuk terus saling sayang dan saling jaga, kalau saya sendiri enggak mau mencontohkan kebiasaan itu?

Maka yang saya lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Merapal mantra, mem-brief anak2, memberikan hak diri sendiri untuk menenangkan diri sebelum hari H, mempersiapkan hal2 menyenangkan (misalnya stok kopi, roti kesukaan atau harum2 yang saya suka) untuk diri sendiri, dan membangun suasana kondusif buat saya juga anak2.

Olahraga, tidur cepat, mandi air dingin, dan tetap melakukan rutinitas yang membuat saya merasa lebih secure juga jadi cara saya untuk coping dengan idul fitri. Saya melakukannya bukan untuk siapa2, tapi untuk saya. Karena kemampuan ini penting untuk saya.

Penting juga untuk saya contohkan ke anak2 saya, karena mereka akan menjalani hidupnya masing2 kelak. Symptoms seperti alergi mendadak kumat, nafas agak pendek dan mules2 sih masih kerap muncul karena anxious. Tapi enggak apa2, saya tarik nafas panjang dan membuangnya panjang juga.

Karena gak ada gunanya saya belajar banyak, kalau ilmunya enggak bisa saya bagi. Enggak ada gunanya saya kalau enggak bisa memberi manfaat buat banyak orang. Sibuk idealis dan merasa bahwa idul fitri adalah buang2 waktu, mudik adalah salah, lebaran artinya sampah menumpuk, tapi keluar hanya dalam bentuk marah2 ya enggak akan bikin orang jadi sadar dan bekerjasama dengan saya untuk mencari jalan keluar terbaik, kan?

Bersikap SJW enggak harus selalu muncul dalam bentuk demonstrasi, tapi lebih nyaman jika dilakukan dalam bentuk cinta.

Siapa sih yang mau dengerin orang ngomel dan penuh ancaman? Siapa sih yang mau ngikutin kata2 manusia yang bersikap santun aja gak bisa?

Maafin yasmina yang biasanya ngeselin dan gak ramah, ya. Yasmina sekarang lagi belajar untuk jadi lebih toleran dan beradaptasi. Karena belajar meregulasi diri dan koneksi emang pace-nya masing2 kok. Buat saya, mungkin emang penting dikasih harus ditinggal mama dulu biar belajar.

Karena i’m on my own, now. Enggak ada lagi mama tita yang bisa pasang badan buat saya. Sekarang waktunya saya menghidupkan lagi mama tita dan setiap pesannya semasa hidup, untuk terus menjaga silaturahim. Waktunya saya menerapkan ajaran mama dalam kehidupan saya.

Trauma bisa sembuh, dan sembuhnya bukan dengan melarikan diri. Tapi dengan koneksi, regulasi emosi, saling jaga, saling sayang tanpa perlu menyingkirkan kebutuhan diri sendiri.

Taqabalallahu minna wa minkum. May Allah accept [good deeds] from you and us.

Eid mubarak to all of you and your family. Hope you fill your bellies and have a day filled with laughter and joy. May Allah grant you and your family success and make you among the righteous.

Yasmina

Sebagai penutup; foto anak kecil megang segepok duit. Duit bapaknya. Hahahahhaa

My Emotion Journey; Heartbreak

Image

Memutuskan untuk punya anak adalah mengenai kesiapan menerima akan apapun yang akan terjadi kedepannya.

Segala daya dan upaya terbaik, tentu akan diusahakan. Tapi, apapun nanti yang terjadi, tentu sesuatu yang diluar kuasa kita sebagai orang tua.

Untuk manusia yang control freak seperti saya, melakukan praktik pengasuhan dua anak cukup membuat hela hembus napas jadi lebih sering dilakukan. Tentu ditambah bengong, air mata, teriakan, gundah gulana dan berbagai bentuk emosi.

Iya, saya bukan ibu sempurna. Bukan, dan enggak akan pernah.

Tapi, saya menyadari bahwa Ketika saya memilih untuk menjadi ibu, maka saya akan masuk ke dalam kehidupan yang sama sekali berbeda. Saya akan memasuki sebuah hubungan yang tidak ada kata berhenti atau bisa memilih lari meninggalkannya, seperti yang biasa saya lakukan setiap overwhelmed dengan hubungan-hubungan lain selama ini.

Saya akan menjalani sebuah hubungan yang penuh picuan pada masa lalu saya, dan saya harus mampu untuk bersikap bijak meski terus-terusan terpicu.

Berkeluarga di mata saya

Saya tidak pernah membayangkan punya anak dan menikah seperti yang orang-orang bayangkan; indah, penuh tawa, Bahagia, berjalan di atas padang rumput dengan baju berkibar-kibar sambil bergandengan tangan dan berpelukan (hahahahhaa kaya foto2 keluarga gitu)

Saya membayangkan sebuah kehidupan yang penuh konflik seperti yang saya alami sejak kecil, saya membayangkan kehidupan yang terus-terusan memaksa saya belajar. Saya sejak awal sudah paham, bahwa realita itu enggak akan bisa dihindari, Ketika saya memilih menikah dan punya anak.

Lho, kata siapa enggak Bahagia?

Saya Bahagia kok. Dulu waktu kecil saya asma, Ketika menikah dan punya anak saya malah enggak pernah kumat lagi asmanya. Saya hatinya tenang, tidurnya nyenyak dan makannya enak. Hidup penuh tantangan itu bukan berarti enggak Bahagia, tapi bayangan bahagianya beda dengan yang digambarkan di iklan mobil atau perumahan dengan cicilan berbunga tinggi.

Karena saya tau, Ketika saya berani berkomitmen dalam pernikahan dan menjadi ibu, artinya saya sudah bersedia menyerahkan diri saya seutuhnya. Saya sudah berani membuka hati dan menerima segala yang datang bersamanya. Ya Bahagia, ya duka, ya kehidupan nyata. Karena dulu (alm) Hilman pernah nulis di salah satu bukunya “Orang yang paling lo sayang itu ada di posisi yang paling tepat buat nyakitin hati lo…!”

Ya tentu karena berani sayang sama orang artinya berani menjadi vulnerable, bukan? Kalau masih mau tambeng seperti sedia kala sih Yasmina mendingan jangan nikah dan jangan punya anak deh.

KONSEKUENSI

Karena itu juga, saya paham, hidup ini adalah mengenai konsekuensi dari setiap pilihan yang saya ambil. Saya memilih untuk mendedikasikan hidup saya kepada keluarga dan kemudian berperan di lingkup pengasuhan serta Pendidikan anak.

Untuk itu, saya belajar psikologi, saya belajar penerapan ilmu kuliah saya, saya belajar mengenai otak dan emosi manusia, maka tentu saja, Allah memberikan konsekuensi di situ. Bagaimana saya mengasuh anak dan bagaimana saya menghadapi kehidupan ini. One thing led to another.

Iya, karena saya berani mencintai keluarga saya, berani mencintai dunia pengasuhan dan Pendidikan anak, maka saya belajar lagi jenis emosi lainnya. Emosi yang tadinya enggak pernah saya rasakan, karena saya belum pernah membuka diri pada apapun bentuk perasaan yang bisa menghambat cita-cita besar saya.

Kalau menurut ATLAS OF THE HEART, emosi ini berada di ranah ;

Places we go when the heart is open; Love, lovelessness, heartbreak, trust, self-trust, betrayal, devensifeness, flooding, hurt.

“We cultivate LOVE when we allow our most vulnerable and powerful selves to deeply seen and known, and when we honor the spiritual connection that grows from that offering with trust, respect, kindness and affection”

Maka apapun yang terjadi, apapun ketetapan Tuhan akan keluarga dan anak-anak saya,  harus saya terima dengan bijak. Enggak bisa lagi tentang ekspektasi saya dan kepentingan saya. Termasuk Ketika menerima tegaknya diagnosis mengenai kondisi anak-anak.

Fase baru; menerima tegaknya diagnosis

Anak-anak saya tumbuh dengan dampingan psikolog, dokter anak dan dokter spkfr. Dari dulu kami sudah melihat SPD (sensory processing disorder) di Abib, kecurigaan terbesar ya ADHD.

Tapi diagnosis gak bisa ditegakkan sebelum usia SD. Dan sekarang usianya sudah 10 tahun, maka diagnosisnya sudah bisa ditegakkan bahwa abib memang ADHD.

Awalnya yang saya rasakan adalah rasa kaget dan gak terima. Tentu ini semua karena HEARTBREAK. Wajar dan manusiawi, karena sebijak-bijaknya saya dan sebisa-bisanya saya meregulasi emosi, tetap saja dalam hati terkecil saya punya ekspektasi.

Namun seperti biasa, Allah selalu mempersiapkan saya untuk menghadapi apapun. Selalu..

Seperti saya si sayang hewan yang dalam hidup selalu mengurus hewan dan bertanggung jawab pada kehidupan mereka, maka Ketika punya anak saya siap lahir dan batin.

Saya si disiplin dan punctual ini menikah dengan si tukang bikin surprise yang akhirnya bikin saya jadi jauh lebih fleksibel, enggak kaku amat.

Maka, sejak awal abib lahir ya saya udah disiapin untuk bisa menerima bahwa setiap anak berbeda. Bahwa saya enggak bisa punya ekspektasi akan hidup mereka, apalagi harapan-harapan besar, karena biar gimanapun kelak itu hidup mereka, bukan hidup saya.

Seketika setelah diskusi sama ibu-ibu psikolog dan dokter kesayangan, saya akhirnya bisa menerima realitanya. Apalagi kemudian saya langsung dikasih opsi-opsi solusi. Sama seperti Ara waktu didiagnosis laxity dan kakinya panjang sebelah; kaget sih, tapi kemudian saya langsung dapet opsi solusi yang bisa saya jalankan.

Mudah, bukan? Kata siapa, Alfonso?

Hehehhee…kaya gampang ya, bacanya? Enggak kok ini gak gampang. Tapi karena saya terus menerus belajar untuk mengelola ekspektasi dan emosi, saya tau bahwa yang bikin ini semua terasa tidak mudah adalah; saya.

Iya, karena, kalau kata Brene Brown;

Masih di ranah Places we go when the heart is open, ada satu lagi yang saya rasakan Ketika menerima realita ini; defensiveness. At it’s core, defensiveness is a way to protect our ego and a fragile self-esteem.

Nah jelas kan, ini satu lagi yang bikin saya merasa bahwa ketetapan ini terasa berat. Karena our self-esteem is considered fragile when our failures, mistakes and imperfections decrease our self-worth. Any perceived call-out of our weakness is experienced as an attack on our worth, so we fight hard to defend ourselves against it.

Ya jelas terasa berat, karena..

Defensiveness blocks us from hearing feedback and evaluating if we want to make meaningful changes in our thinking or behavior based on input from others.

Nah, ini hasil saya melakukan refleksi dari badai emosi yang saya rasakan. Maka, saya kemudian meregulasinya lalu menyadari bahwa, time is ticking. Tumbuh kembang Abib enggak nungguin kemampuan saya menerima kenyataan. Saya harus bergegas.

Saya ibunya, saya yang berkewajiban memberikan segala yang terbaik untuk dia. Maka, saya inhale exhale dan menerima lalu mencari cara agar ia bisa beradaptasi dengan baik.

Heartbreak is more than just a painful type of disappointment or failure. It hurts in a different way because heartbreak is always connected to love and belonging.

Padahal, to love with any level of intensity and honesty is to become vulnerable. To love is to know the loss. Heartbreak is unavoidable unless we choose not to love at all. A LOT OF PEOPLE DO JUST THAT,

Including me. Was. Before I am a mom.

Sekarang saya sadar; THE BROKENHEARTED ARE THE BRAVEST AMONG US—-THEY DARED TO LOVE.

Bersyukur sekali

Setelah meregulasi emosi, saya kemudian malah merasa bersyukur karena semua selalu ketauan sejak dini. Ya kaya sakit aja, kalo takut ke dokter dan gak mau meriksa karena takut diagnosis malah bikin hidup lebih repot kan, karena tebak-tebakan dan gak bisa dicari solusinya sebab enggak tau akar masalahnya.

Yang lebih bahaya, tentu saja, adalah ekspektasi.

Kalo saya enggak tau ini semua, tentu saya sebagai manusia biasa, punya ekspektasi Abib bisa menjalani kehidupan seperti anak-anak lain. Bisa beradaptasi seperti anak-anak lain.

Since sekarang saya tau emang cara kerja otak abib berbeda, ya saya semakin menurunkan ekspektasi. Dengan itu, saya justru bisa membangun koneksi yang lebih baik.

Sebab, dengan koneksi itu, Abib yang mengalami banyak masalah dengan menjalani kehidupan penuh tuntutan dari society ini tau bahwa dia punya tempat paling aman yang pasti menerima dia dan menyayangi dia. Dia bisa membekali dirinya dengan rasa aman.

Krn itu kebutuhan utama manusia. Rasa aman. Secure.

Kalo dia sudah merasa aman, maka dia akan lebih berani bikin kesalahan untuk kemudian belajar. Resiliensi dan kemampuan beradaptasi akan tumbuh. Dia bisa jadi manusia yang mandiri dan lebih bertanggung jawab.

Krn kemampuan akademis mah gak susah, kemampuan mengelola dan meregulasi emosi ini yang susah. Kalo dia mampu memahami dirinya, merasa aman dan mampu meregulasi emosinya, dia akan mampu menjalani perjalanan hidupnya dalam bidang apapun yg mau dia jalani.

Iya, optimal.

Maka penting untuk saya mengetahui akar masalahnya, membantu dan mendampingi dia, mencarikan solusi dan menemani dia menjalaninya.

Ini privilleges, karena saya punya daya untuk abib terapi. Saya juga punya teman-teman profesional yang selalu membantu; ya dana, ya tenaga, ya waktu. Karena itu, saya juga berusaha mengoptimalisasi.

Salah satunya juga dengan belajar mengelola emosi saya sendiri. Belajar memahami diri saya dan Batasan-batasan saya. Tau betul bahwa ini bukan hanya perjalanan Abib tapi perjalanan kita semua sebagai keluarga. Tau betul bahwa ini adalah konsekuensi dari pilihan yang saya ambil karena berani mencintai.

Iya, ini bukan tulisan mengenai diagnosis Abib. Mau tau soal ADHD dan ciri2nya, banyak banget bahannya dimana-mana, sila googling aja. Ini tentang perjalanan emosi saya, karena ini yang paling penting dimiliki oleh ibu dari anak neourodiversity. Penerimaan orang tua akan anaknya, apa adanya, adalah bekal paling penting bagi si anak.

Saya si tukang ngatur, yang susah me-let go, yang maunya semua berjalan sesuai mau saya, yang keras kepala dan seneng banget sama segala sesuatu yang bisa diprediksi, harus mendampingi anak ADHD yang serba mengejutkan. Tidak mudah, tapi saya yakin saya bisa. Karena ini bukan tentang saya. Ini tentang Abib.

Ini tentang koneksi. Tentang kami yang sama-sama belajar untuk terus bertumbuh. Karena saya percaya, pada akhirnya nanti, semua akan baik-baik saja.

My Emotion Journey: OVERTHINKING

Image

Setelah saya nulis soal Failure kemarin, dan posting juga di Instagram Story, ternyata lumayan banyak yang komentar dan nanya ini itu terkait menghadapi perasaan gagal, sampe ke:

“Lalu kalau lagi meltdown, dan membiarkan segala perasaan sedih di dalam diri, trus idupnya gimana? Kan hidup enggak menunggu kita healing?”

Wah iya, saya lupa juga menyertakan cerita bahwa saya punya time management yang baik. Saya bisa mengatur waktu yang tepat, dan memberikan waktu untuk sedih dan merana sambil tetap menyelesaikan semua tasks dengan baik.

Saya bisa memberi jeda dan titik buat hidup 24 jam saya. Kalau tiba-tiba kabut datang dan membuat jiwa terasa mendung, saya akan rehat dan memberi waktu untuk diri saya merasakannya sampai reda, kemudian Kembali lagi bekerja.

Saya enggak lantas HILANG HEALING berhari-hari, karena saya tau, manusia itu hidup enggak hanya untuk dipenuhi hak-nya tapi juga memenuhi kewajibannya. Hak saya untuk merasakan perasaan, menjadi diri sendiri, terkoneksi dengan diri, harus berbanding lurus dengan kewajiban-kewajiban saya, yang merupakan konsekuensi dari pilihan hidup saya.

Tapi iya, itu gak otomatis terjadi, meski saya emang dari sananya udah pinter ngatur waktu. Ada hal-hal yang terjadi sehingga membuat saya lebih mampu me-manage waktu untuk emosi dan kewajiban.

Cerita dulu deh,

Saya ini biasanya kepalanya berisiiiiiik banget. Segalanya kepikiran, apalagi pas mau tidur. Asli sih semuanya seliweran seenaknya di kepala. Mikirin satu hal, merembet ke yang lain, trus connecting the dots, akhirnya gugling trus malah buka laptop.

Good thing; jadi konsep

Bad thing; kurang tidur

Ternyata yang saya pikir good thing itu gak good-good amat. Karena ternyata otak yang kurang tidur itu adalah otak yang kelelahan.

Dilihat dari circadian rhythm, perilaku saya udah salah banget. Karena jam 9 malem kan tubuh kita otomatis melepas melatonin. Itu hormone tidur supaya membantu tubuh tidur nyenyak.

Lah saya, udah mah overthinking, trus buka layar lagi. Padahal cahaya dari layar itu kan membuat otak berpikir bahwa saat itu masih terang, jadi belum waktunya tidur. Gak balance dong yak an hormonnya…

Lagipula, saat tidur itu kan justru saatnya tubuh kita melakukan banyak hal penting:

  1. Perbaikan otot
  2. Pertumbuhan tulang
  3. Pengaturan hormone
  4. Sortir ingatan

Jadi hasilnya tu kaya lingkaran setan: kurang tidur bikin cranky, disregulasi emosi. Nah disregulasi emosi ini kemudian bikin susah tidur. Ya gitu aja terus sampe gajah bisa masuk kulkas.

Menyadari hal ini membuat saya yakin bahwa ini kuncian saya sih.

Behaviour change itu SUSAH, iya. Tapi bukannya gak bisa, kok!

Saya mulai dari validasi, seperti biasa. Kenapa sih saya susah tidur? Ya karena :

  1. Kebiasaan, dan ini bermula sejak kecil sih karena selalu merasa tengah malam adalah waktu ternyaman untuk menikmati waktu sendirian. Rumah sepi, gak ada yang ngomong, gak ada siapa2, bisa duduk bengong ngeliatin bintang.
  2. Sekarang juga masih begitu, tapi karena bisa jadi diri sendiri di tengah malam. Bisa melakukan hal2 yang mau saya lakukan. Bikin konten, baca buku, nonton series, merangkai ide, bengong. Being truly Yasmina.

Intinya apa sih? Saya butuh waktu sendiri. Itu kan? Jadi saya switch,

Prinsipnya kaya melihara hewan di captivity. Tau gak saya belajar dari mana? Dari bukunya Temple Grandin; Animals makes us human. Iya disitu dia cerita bahwa hamster yang menggali-gali di kendang itu bukan berarti dia suka menggali. Dia menggali, karena di alam liar, Ketika dia menggali, dia mau bikin burrow.

Ya kan dia menggali, ke tanah, jadi liang buat dia ngumpet. Jadi yang dia butuhkan apa? Burrow.

Nah, instead of ribet merasa bahwa hamster harus dikasih banyak alas kayu karena dia suka menggali, mendingan kasih rumah2an yang dia bisa ngumpet dan merasa nyaman disitu. Dia gak akan ngegali lagi, karena dia udah dapat yang dia butuh. Meet the needs.

Sama lah kaya behavior anak yang tantrum, rewel, ya solusinya bukan gadget biar rewelnya ilang kan? Solusinya ya dicari akar penyebab si behavior itu apa. Baru deh diselesaikan.

Siapa tau dia Cuma butuh “burrow” ya kan?

Ya gitu juga dengan saya. Ternyata yang saya butuhkan adalah waktu sendirian, sepi dan nyaman.

Gak harus tengah malam kan sebenarnya?

Maka saya memulainya dengan ngobrol sama anak-anak, bertahap.

  1. Saya mulai jelasin, bahwa setiap hari saya akan butuh waktu sendirian. Saya butuh waktu untuk bernapas, karena pekerjaan sangat melelahkan. Kalau saya memaksakan diri main sama anak-anak tanpa memberi jeda untuk diri saya, yang terjadi saya akan cranky dan mudah marah-marah.
  2. Saya juga mulai ngasitau bahwa sekali2 nyanyak butuh keluar dan ketemu orang-orang dewasa untuk ngobrol dan berbagi. Jadi sesekali nyanyak akan pulang malam atau menghilang siang-siang.

Habis ngobrol dan ngejelasin ke mereka, perlahan saya coba bertahap. Awalnya dari hanya “hilang” 5-10 menit, sampe akhirnya sekarang saya bisa punya 20 menitan bahkan kadang 30 menit kalo lagi luar biasa capeknya.

Anak-anak gimana? Baik2 aja. Mereka ngerti dan bisa memahami bahwa ibunya butuh waktu dengan dirinya sendiri. Toh sebenarnya gak sering-sering kok. Kadang memang Cuma 10 menit aja.

Karena minimal #10Menitsehari cukup banget kok rekoneksi.

Nah, karena hak saya untuk bengong sendirian sudah dipenuhi, maka saya jadi lebih mudah tidur. Belom bisa dibawah jam 11 malem sih, tapi sekarang udah bisa dibawah jam 12 malem. Udah ada kemajuan. Pelan-pelan gapapa kaaaan?

Tapi yang berasa banget, saya juga jadi gak terlalu anxious. Saya jadi bisa mikir lebih jernih di siang hari. Nah yang paling alhamdulillah; saya berhenti OVERTHINKING.

Jadi kalau kaya sekarang, saya lagi sedih dan merana disebabkan oleh 1 hal, ya waktu bengong dan sendirian saya Cuma buat konsentrasi merasakan 8 sensori saya Ketika tenggelam dalam rasa yang satu ini aja. Enggak jadi kemana-mana, enggak mikir yang enggak-enggak, yaudah itu aja diselami sampe puas.

Kalau di Atlas of The Heart-nya Brene Brown, sepertinya ini ada di:

PLACES WE GO WHEN THINGS ARE UNCERTAIN or TOO MUCH. (Stress, overwhelm, anxiety, worry, avoidance, excitement, dread, fear, vulnerability)

Ada beberapa poin yang saya highlight:

ANXIETY feels like what I lovingly call the “Willy Wonka Shit Tunner”. None of it makes narrative sense; it’s just scary and confusing.

“You are afraid of surrender because you don’t want t lose control. But u never had control; all u had was ANXIETY!”

Worry is described as a chain of negative thoughts about bad things that might happen in the future.

Worrying is not a helpful coping mechanism, that we absolutely can learn how to control it, and that rather than suppressing worry, we need to dig into and address the emotion driving the thinking.

Avoidance, the second coping strategy for anxiety, is not showing up and often spending a lot of energy zigzagging around and away from that thing that already feels like it’s consuming us. And avoidance isn’t benign. It can hurt us, hurt other people, and lead to increased and mounting anxiety.

In her book The Dance of Fear, Dr.Harriet Lerner writes, “It is not fear that stops you from doing the brave and true thing in your daily life. Rather, the problem is avoidance. You want to feel comfortable, so you avoid doing or saying the thing that will evoke fear and other difficult emotions. Avoidance will make you feel less vulnerable in the short run, but it will never make you less afraid.”

Sekarang badan saya ada alarm-nya. Kalau saya udah kerja seharian, trus saya bilang cukup then cukup. Udah selesai. Waktunya saya istirahat, waktunya saya main sama anak-anak.

But believe me, semua kerjaan malah selesai dengan baik.

Saya bisa membuat tasks harian yang secukupnya, gak overworked. Tapi bisa selesai tanpa begadang. Dan begitu juga besok2nya, bahkan saya siang2 bisa punya waktu makan siang santai sambil ngobrol atau nonton vindes.

Eh kalo bagian ini tentu juga dengan bantuan Allah SWT ya ngasih saya tim baru yang LUAR BIASA KINERJANYA. Gila mereka kerja cepet dan bagus banget!!!

Jadi ya, saya bisa being vulnerable. Ngasih waktu buat nangis dan merana setiap hari sampai dukanya berangsur hilang. Sekaligus ngasih waktu juga untuk tubuh mendapatkan hak-nya: tidur.

Karena 24 jam itu ternyata cukup kok.

Oh ada juga yang bilang, kemarin:

“Min, kalau gundah kan Kembali aja ke Allah, sholat dan doa. Kok lo gak pernah bahas?”

Hmmm…iya saya enggak pernah bahas soal ibadah, karena:

1. Saya gapunya kompetensi bicara soal itu. Takut salah

2. Dalam persepsi saya, ibadah kan wajib ya masa harus dibahas? Trus ya saya sih pernah nulis juga kalo nyokap saya selalu ngingetin; jangan bergantung pada manusia karena ada Allah. Tentu kesitu yg pertama saya cari, kok. Gak kemana-mana.

Cuma ya itu, saya takut salah. Jadi gak apa lah ya, saya bahas yang saya tau aja?! Yang saya tau adalah cerita saya. I own my story, dan saya ceritakan Kembali, siapa tau ada manfaatnya buat orang lain. Karena saya tidak melewatinya dengan mudah.

Jadi apa kesimpulan cerita ini? Ya Kembali lagi ke Yasmina si gila-gila performa. Yasmina yang takut gagal. Yasmina yang sibuk mikirin orang lain over herself. Yasmina yang berusaha untuk ngurusin semua hal, bahkan hal-hal yang diluar kuasanya.

LET IT GO, YASMINA! LET IT GO!

My emotion journey: Failure

Image
resource: @sistercody

Kalimat “gak bisa” adalah musuh terbesar saya.

Bagus ya di satu sisi, saya punya growth mindset. Saya selalu percaya bahwa gak ada yang gak bisa. Selama saya mau belajar lagi dan lagi, pasti bisa.

Tapi di sisi lain, saya tumbuh menjadi sangat ambisius, dan yang paling jelek adalah;

saya gak terima ketika menghadapi kegagalan.

Padahal hidup ya tentang gagal. Iya, kalo gagal saya pasti nyoba lagi nyoba lagi terus sampe berhasil. Tapi kebiasaan ini bikin saya lupa bahwa ada hal yang emang bukan buat saya. Ya emang diusahain kayak gimana juga, ternyata emang bukan milik aja sih.

Saya gak tau sih ini berkah atau bukan, tapi saya emang nyaris enggak pernah gagal. Semua yang saya tuliskan untuk menjadi goals, kebanyakan berhasil. Apalagi goals besar.

Ada sih yang side track, kaya SMA yang saya pengen gak berhasil saya dapatkan krn harus ngalah sama maunya papa. Meski ya setelah dijalani, ternyata saya justru dapet banyak banget hal baru yang seru.

Atau pas melahirkan Abib yang saya rencanakan pervaginam tapi jadinya SC. Dibilang “enggak bisa” sama dokter dan saya gak terima selama 7 tahun. Tapi kan pas melahirkan Ara akhirnya berhasil dan saya bisa bilang ke diri sendiri “Tuh kan min, bisa!”

Saya paling sering dikasih pelajaran soal ini, tapi ini juga yang selalu bikin saya lupa karena setelah kegagalan, saya biasanya selalu dapetin lagi semua yang saya mau. Karena saya selalu punya rencana2 cadangan yang membuat saya merasa gak pernah runtuh.

Diajarin terus soal GAGAL

Belakangan ini saya lagi diajarin lagi nih sama Allah soal kegagalan. Ada lah kejadian yang buat saya sih super besar, dan saya utak atik ulik-ulik kesana kemari lewat jalan tikus sampe jalan besar ternyata enggak ada celah menuju keberhasilan sama sekali.

Kejadian ini mungkin mirip-mirip aja sih sama kejadian kegagalan saya yang dulu selalu saya deny, atau saya lupa2in karena udah berhasil bikin rencana baru lalu kemudian berhasil. Bedanya, saya sekarang udah belajar soal emosi.

Saya jadi sadar bahwa, saya enggak harus selalu langsung merasionalkan segala sesuatu dan bergegas melangkah ke step selanjutnya hanya demi merasa tenang karena saya bisa membuktikan “Gue gak gagal!”

Mau membuktikan apa ke siapa sih, miiin???

Kalau dari atlas of the heart-nya brene brown, mungkin ini masuknya ke section:

Places we go when we fall short: shame, self-compassion, perfectionism, guilt, humiliation, embarassement.

Saya juga masih menerka2 sih, apa ya yang saya rasain sekarang? Biar apa? Biar dinamain jadi tau persis apa yang saya rasa.

Namun ya, saya masih tenggelam dalam duka. Karena dukanya sih mirip grieving aja. Gak terima aja kalo emang mentok ga ada celah yg bisa diusahain. Maka saya biarkan diri saya merasa luar biasa patah arang. Nangis, mellow, mendung, kaya ditinggal mati.

Saya biarin aja diri saya merasakan semua, dan menikmati kesepian.

Saya tau, this too shall pass.

Saya tau saya harus belajar “let go” karena gak semua harus saya miliki.

Saya tau, pada akhirnya ya saya cuma harus ikhlas sama ketentuan Tuhan pada hidup saya.

Bukan sih ini bukan saya gak bersyukur. Saya gak pernah ga bersyukur sama apapun yang saya jalani sekarang. Saya cuma enggak mau memburu2 proses ini. Saya mau semua emosi yang bikin saya berantakan ini gak perlu denial. Gak perlu saya enyahkan secepat kilat.

Karena coping mode saya ya kaya gitu banget. Begitu saya mengalami kegagalan, otak saya langsung cepet2 mikir jalan keluar biar gak perlu merasakan dukanya. Kemarin juga sempet begitu kok, sempet saya repress sekuat tenaga,

dan mencari pembenaran lewat hal lain.

Sayang sih kejadiannya terlalu personal dan saya gak mau cerita. Tapi mungkin saya bisa menggambarkannya lewat hal lain. Hmmm…kejadian apa ya?

Luka 2017 sampe sekarang masih terasa

Oh ini deh, saya pernah menjadwalkan pergi ke adelaide waktu travelling berdua abib ke melbourne 2017. Tiket pesawat melb-adelaide udah dibeli, hotel di adelaide juga udah di booking. Saya udah menyiapkan baju dan diri sejak malam untuk pergi pagi2 buta menuju bandara.

Pesawat jam 7.30 dan saya nyampe ke bandara jam 7. Tapi gate nya sudah ditutup, situ tau kan orang oz yang keras banget. Enggak ya enggak. Padahal pesawatnya masih ada, tapi saya terlambat 5 menit. Edan banget itu rasanya. Saya nyoba nyari pesawat lain, bis, kereta apa ajalah pokoknya saya harus sampe ke adelaide.

Tapi gagal.

Saya sempet duduk diem di salah satu cafe di bandara buat sarapan berdua anak kecil yg msh ngantuk. Saya kesel banget tapi saya akhirnya cepet2 bertindak. Nelp apt selanjutnya di melb yg udah saya booking untuk hari2 setelah saya balik dr adelaide, trus mikir mau kemana 2 hari itu.

Yaudah deh jalan ke ballarat dan jadi sempet menikmati banyak tempat lain di melbourne yg tadinya enggak saya jadwalkan. Selesai perkara. Happy.

Tapi sampe hari ini, saya masih ada rasa gak terima karena saya gagal ke adelaide hari itu. Ya kalo di ikhlas2in tentu ikhlas aja. Saya juga bisa mikir silver lining-nya, ya mungkin kalo hari itu saya maksa, jangan2 ada hal buruk yang akan terjadi sama saya dan abib. Jangan2 di adelaide malah gak se seru perjalanan saya di melb pada waktu itu.

Saya juga jadi belajar bahwa saya harusnya gak ambil travel pagi itu yg mampir2 bikin saya telat sampe bandara. Saya juga belajar bahwa kalo ke australia lagi maka saya bener2 harus tepat waktu. Iya, belajar kok. Bersyukur juga karena dikasih pelajaran.

Tapi emosi kan gak bisa di repress. Sampe hari ini, asli, saya masih punya kecewa dan dendam karena saya gagal. Berat ya? Hahahahhaa..

Gak ada yang salah juga sih dengan tindakan saya yang cepat pada waktu itu, karena saya kan bawa anak dan cuma berdua2an di negeri orang. Kalo saya gak bisa mikir solusi cepat, masa kita luntang lantung?

Tapi harusnya saya waktu itu mengakui atau minimal nangis deh. Mengakui bahwa saya sedih banget karena saya gagal. Nangis buat memproses perasaan yang buat saya ternyata besar itu. Instead of menamai rasa kecewa, saya malah bilang “Gak apa2 kan, kita jadi jalan2 seru di melbourne!” Udah aja.

Jadi sekarang kalo lagi keingetan, saya suka bilang “Iya yasmina kamu kecewa banget waktu itu. Kesel banget dan sedih karena gagal pergi ke adelaide. Gapapa kok kalo mau nangis karena perasaan itu..”

Ganggu banget sih enggak ya. Enggak juga jadi kepikiran mulu. Tapi rasanya tetep sesak kalo diingat2. Padahal kan harusnya enggak, gila udah berapa taun tuh? Dan itu ga besar2 banget, karena emang langsung dpt apt dan destinasi jalan2 yang seru.

Terjebak dalam SHAME

Sementara yang sekarang lagi terjadi cukup besar damagenya. Mayan ganggu dan bikin saya sedih banget. Maka saya, yang sedang belajar mengenali emosi ini, mengakui rasa kecewa itu. Saya mengulang2 terus sampe rasanya luluh lantak karena duka.

Saya embrace kegagalan saya dan mengakui bahwa yang satu itu emang bukan milik. Bukan buat saya, dan saya kecewa. Mungkin keliatannya cheesy ya, tapi kegagalan sih selalu besar buat saya. Gagal checklist task satu hari aja bisa bikin saya uring2an kok.

Iya, kelihatannya saya merasa shame, guilt dan terjebak terus karena perfectionism. Ngaco tapi perlahan saya embrace. Biar terproses bener dan bersih, lalu saya bisa siap mengisi lagi hippocampus dengan memori-memori lain.

Gue merasa gak boleh gagal, karena nanti gue akan merasa gak worthy.

Shame is the intensely painful feeling or experience of believing that we are flawed and therefore unworthy of love, belonging, and connection.

Shame is the fear of disconnection—it’s the fear that something we’ve done or failed to do, an ideal that we’ve not lived up to, or a goal that we’ve not accomplished makes us unworthy of connection.

I’m unlovable. I don’t belong.

What To do?

Trus harus gimana? Ya kenali dulu akar masalahnya. Gue sih kayanya ke shame ya, dan gue jadi bisa sih connecting the dots sama hidup yg gue jalani dari kecil. Jadi tau asalnya darimana.

Lalu ngapain? Healing. Kaga usah jauh2 ke labuan bajo buat healing, itu mah holiday aja. Healing mah nangis, cuy. Di kamar juga bisa!

Nangis itu cara paling proper untuk bebersih hippocampus. Supaya segala emosi terproses dengan bener. Karena kalo semua dijejelin tapi gak diproses, ya ruwet gak bakalan bisa bikin otak mikir jernih. Boro2 mindful yang ada mind FULL.

Resource: @sistercody

Ibaratnya tu Kaya kamar penuh barang, berantakan, tapi saya deny dan semuanya saya jejelin aja masuk lemari biar gak keliatan berantakannya. Perfect, on the outside, messy on the inside. Boro2 diisi barang lain, yang ada makin kacau.

Decluttering itu hqq, fren! Hahahaha

Habis itu ngapain? Cerita. Cari orang yang bisa menanggapi dengan empati. Ke psikolog, mungkin?

The antidote to shame is empathy. If we reach out and share our shame experience with someone who responds with empathy, shame dissipates.

Shame needs you to believe that you’re alone. Empathy is a hostile environment for shame. Self-compassion also helps us move through shame, but we need empathy as well for an important reason: Shame is a social emotion.

Shame happens between people and it heals between people. Even if I feel it alone, shame is the way I see myself through someone else’s eyes.

Self-compassion is often the first step to healing shame—we need to be kind to ourselves before we can share our stories with someone else.

Brene Brown

Toh idup emang gak sempurna, kan? Saya harus bisa merasa cukup, tapi merasakannya harus bener2 ikhlas. Dan saya percaya, ikhlas akan muncul kalo saya udah bisa menerima bahwa ini semua ketentuan Tuhan, pasti yang paling baik buat saya.

Kalo kata diga “Mungkin setelah kesusahan ini akan ada hal yang justru lebih baik bakal terjadi sama nyanyak..”

#np let somebody go – coldplay

Mengasuh kucing; mengajarkan saya menjadi orang tua responsif

Image
Mengasuh kucing; mengajarkan saya menjadi orang tua responsif

Aling sakit. Mendadak.

Ya kalau sakit, untuk kucing, kecuali kita rajin banget cek darah dan rontgen berkala beberapa bulan sekali, hampir bisa dipastikan gak akan ketauan dia sakit apa gak.

Soalnya kucing itu kalo kerasa-kerasa sakit ya diem aja, malah mojok. Gak rewel. Gak menunjukkan komunikasi caper dengan suara atau gesture.

Kalau kucing-kucing saya biasanya nunjukin dengan pup atau pipis yang bukan di tempatnya. Itu biasanya dia ngasih sinyal kalo ada yang kerasa gak enak banget di badannya.

Nah untuk kasus Aling,

2 pekan yang lalu dia sudah nunjukin tu ciri-ciri gak enak badan. Dia diare dan pup di samping kotak pasirnya. Ketika diperiksa, keliatan ada iritasi di perut, tapi hasil tes darah masih bagus semua.

Ganti makanan, dan suplemen, keliatan enakan.

Gak Taunya hari minggu malem tiba-tiba bibirnya banyak item-item dan berlendir. Saya pikir Cuma kotor biasa jadi dibersihin dan dikasih vitamin.

Tau-tau selasa sore, napasnya tersengal-sengal sampe mangap napas dari mulut, kaya orang asma. Kelihatan sekali dia kesakitan setengah mati. Hati saya mencelos banget liatnya. Lemes sejadi-jadinya.

Ya Allah Aling..

Mana usianya kan udah tua, 13 tahun. Langsung travelling lah isi kepala, mikir jeleeek aja!

Sedih banget kan ya, tapi yaudah diurusin aja. Penanganan pertama; jangan sampe dehidrasi! Jadi, suapin minum air kelapa ijo. Trus pisahin di kamar, karena takut virus nanti yang lain ketularan. Lalu coba berikan sebanyak2nya udara.

Besoknya ke vet, dan bener ada flek di paru. Trus perut udah penuh udara karena dia napas pake mulut. Maka 4 hari ini saya bolak balik bawa Aling ke dokter. Jadi pagi dia udah di klinik, untuk dirawat dengan infus dan obat. Sorenya pulang dan saya rawat di rumah.

Berusaha suapin makan—air kaldu ayam, vitamin, diffuse essential oils. Tiap malem ada kali sejam sekali kebangun, karena tiap ada pergerakan saya kebangun. Liat dia kira2 kenapa.

Nyungsep2, oh kedinginan. Melet2, oh haus. Dan sebagainya, sampai akhirnya alhamdulillah hari ini mau makan dan bisa pup.

**

Trus saya jadi ngeh; iya ya, saya mengasuh Aling dari lahir sampe sekarang usianya 13 tahun tuh kan kenal banget ya sama dia. Mengasuh kucing kan berbeda sekali ya sama mengasuh manusia, karena manusia sih di usia 2-3 tahun udah bisa ngomong dan ngasitau apa yang dirasakan, apa yang dia mau.

Kucing kan gak bakalan ngomong.

Saya aja yang udah membangun koneksi yang bisa memahami apa yang dia rasa, sinyal2 yang dikasih untuk ngasitau apa maunya. Jadi saya ya emang harus jadi ibu yang paling dekat, paling erat, paling paham sama apa yang terjadi dengan anak-anak kaki empat. Saya harus lebih aware, lebih rajin ngecek, lebih percaya sama intuisi.

Tapi ya, mungkin kemampuan saya memahami apa yang terjadi dengan anak-anak hewan ini, yang membuat saya percaya banget sama intuisi Ketika anak-anak saya masih bayi. Jadi mudah responsif Ketika mereka ngasih sinyal-sinyal apapun untuk kemudian saya tindaklanjuti.

Kayanya emang Allah sudah mempersiapkan saya untuk punya anak, bahkan sejak saya masih jadi anak-anak ya? Hahahaha…

Koneksi. Berasa banget Ketika kamu adalah ibu kucing.

Soalnya saya dari kecil selalu menganggap; mengasuh hewan itu adalah hal yang serius. Dari dulu, setiap kali saya mungut hewan, mama selalu mengingatkan bahwa itu tanggung jawab saya. Mama gak akan bantuin, mama Cuma mau sayang2in aja. Karena yang memutuskan untuk memelihara kan saya.

Ya mama emang gitu sih, waktu saya hamil juga berulangkali diingetin; mama Cuma mau main, seneng2 aja. Mama akan ajarin kamu di awal melahirkan, sisanya u do it yourself. Jangan cari mama buat yang susah2, bukan tugas mama.

Hahahahaha

Good thing for me.

Saya jadi belajar lebih keras, dan selalu cari tau dengan sepenuh hati, karena saya tau banget bahwa ini sepenuh2nya tanggung jawab saya. Dari kecil, saya selalu berusaha cari tau soal kucing2 saya. Selalu berusaha baca, dan bahkan pas kuliah, saya lebih sering nongkrong di klinik hewan buat belajar soal hewan.

Sampe vet saya bilang

“Kamu ni lulus dari Bandung, ijazahnya dua; FISIP dan Kedokteran Hewan!”

hahahahaha..saking saya baca buku, dengerin dokter ngomong sampe assisting di ruang praktik. Tapi ya itu dia yang bikin saya konsisten, punya komitmen yang kuat dan terus2an bisa memepererat koneksi dengan anak-anak kaki empat.

Intuisi itu bukan Cuma feeling semata. Justru karena koneksi kuat, maka intuisi jadi kuat, Ketika ada yang enggak tepat yang saya lakukan adalah belajar. Saya bisa merasakan Ketika ada yang salah = intuisi. Nah itu yang mengarahkan saya menuju semangat belajar agar bisa mengatasi masalah.

Saya jadi tau, Ketika anak saya demam, saya akan responsive sama isyarat2nya. Gak panik dan buru2 langsung ke rumah sakit. Karena kan dokter Apin juga bilang; observasi dulu, liat baik2 dulu, jangan panik karena di rumah sakit banyak bakteri nosocomial, bisa jadi anak saya hanya commoncold malah tertular penyakit lain karena terlalu sering ke rumah sakit.

Jadi apa yang paling penting? Ya koneksi.

Koneksi gak hanya soal Kesehatan fisik, namun justru memahami perilaku. Memahami bahwa dibalik perilaku yang ditunjukkan itu, ada penyebabnya. Kaya kucing saya yang tiba2 pup sembarangan, kan solusinya bukan lantas saya omelin trus saya kurung di kandang.

Saya paham betul, kalau perilakunya udah ngaco, ini pasti ada yang dia rasakan. Maka yang saya lakukan adalah memeriksa seluruh bagian tubuhnya. Ada yang sakit apa gak? Ada yang gak tepat apa gak? Observasi dulu, kalau keliatan memburuk baru ke dokter. Atau saya cek, kenapa ya, apa dia udah gak kuat jalan jauh (in my case kucing tua yang tiba2 pipis sembarangan), atau dia takut sama kucing lain di rumah. Maka saya taro dulu kotak pasir di tempat paling dekat dengan dia.

Ya gitu, responsive. Sama seperti Ketika anak saya bertingkah, ya observasi dulu. Ajak ngobrol. Elus2. Ajak gambar bareng, sampe keluar semua tu curhatnya. Karena anak gak tetiba betingkah tantrum, begitu saja. Itu kan bentuk frustrasi. Nah kenapa? Itu dia yang harus dicari tau.

Iya, mulai dari AKARnya.

Makanya saya percaya banget bahwa koneksi itu asalnya dari akar. Mulai dari membesarkan akar, karena mereka yang tumbuh dengan koneksi akan punya secure attachment sebagai bekal masa depannya kelak. Itu akar yang harus dibentuk.

Ya layaknya ngurus tanaman aja. Kalau tetiba potel, masih bisa diusahakan dengan propagasi di air agar akarnya tumbuh lagi. Begitu juga rekoneksi kan? Cari tau akar masalahnya, dan tumbuhkan lagi si pondasi akar tersebut.

Hahahahaha…jadi panjang ya Allah. Mungkin basic-nya saya emang suka banget nurture, ya. Saya suka mengasuh, saya suka ngurusin, saya suka jagain, saya suka belajar dan

rasa penasaran saya bisa membunuh indominus rex.

Bekal utama menjadi manusia sih buat saya rasa penasaran. Karena dengan itu, kita akan terus belajar. Terus mencoba dan terus berusaha, tidak mudah menyerah. Persisten dan resilien.

Kalau asalnya udah semangat belajar, tentu akan lebih bisa memahami akan kebutuhan diri sendiri, dan kebutuhan orang lain atau hewan-hewan bahkan lingkungan sekitar. Semuanya berawal dari koneksi, dan itu berlaku pada siapapun dan apapun.

Saya tau, ini semua plotnya Allah untuk terus ngajarin Yasmina.

Saya percaya, semua pengalaman itu berharga, dan ada maknanya. Betul?

My Emotion Journey; Exhausted

Image

My Emotion Journey: Exhausted

Pergi ke psikolog enggak pernah jadi hal baru untuk saya.

Sejak saya kuliah, dan satu kost sama anak-anak psikologi, lalu di kelas saya sendiri belajar ilmu-ilmu psikologi, saya sudah paham bahwa saat butuh bantuan, enggak ada salahnya nyari psikolog.

Tapi dulu jaman kuliah, ya saya seringkali “berobat jalan” aja sama temen-temen, sisanya gak peduli. Karena saya enggak pandai merasakan emosi.

Nah Ketika menjadi ibu, dan mengalami banyak hambatan, tentu jalan pertama yang saya cari adalah psikolog anak. Dulu pertama kali ke Rainbow Castle dong, ketemu Devi dan konsultasi beberapa kali sampe akhirnya menjalani theraplay bareng Abib.

Terapi beberapa bulan itu membuat saya sadar bahwa, yang butuh diterapi ini bukan Abib. Tapi saya!

**

Inilah yang kemudian mengawali perjalanan saya diterapi oleh psikolog klinis dewasa. Kasus saya, engga Cuma butuh konsultasi, tapi butuh diterapi EMDR. (gugling aja sendiri ya, saya males jelasinnya)

Dan bolak balik ke psikolog saya lakoni beberapa saat hingga negara api menyerang, yes, pandemic. Yaudah saya skip nih 2 tahun karena EMDR enggak mungkin dilakukan secara online.

Ternyata 2 tahun ini saya menumpuk banyak banget hal dan Desember 2021 saya ngalamin trigger berat yang bikin semua hal muncul dan berantakan di kepala. Ya sih selama 2 tahun ini saya produktif banget, sertifikasi beberapa kali buat ilmu2 psikologi.

Ada beberapa tugas yang juga akhirnya membuat saya lebih banyak memahami diri sendiri. Ada beberapa kelas yang rasanya lebih dalem lagi deh berobat jalannya. Tapi ternyata Ketika trigger ini kejadian, rasanya tetap berat dan saya nyerah. saya sadar, saya butuh bantuan.

Psikolog saya belum mau terapi offline. Jadi saya mencari lagi. Dapat rekomendasi psikolog senior yang trnyata pertama kali membawa EMDR ke Indonesia. Waw lebih hebat nih, baiklah pasti enak diajak ngobrol.

**

Hari ini, saya sudah 2 kali konsultasi dan hasilnya: REMBES LUAR DALAM.

LUAR BIASA BANGET INI. Saya yang tadinya berasa enggak napak, enggak content, enggak tau kenapa dan harus ngapain langsung kaya dikasih suntikan ilmu kehidupan.

Kaya ada pintu yang selama ini saya tau ada di depan saya, tapi saya diemin aja. Saya memilih untuk tidak memasuki ruangan tersebut. Saya memilih untuk enggak penasaran dan enggak kepengen tau.

Lalu ibu psikolog ini membantu saya untuk berjalan pelan-pelan menuju pintu itu. Karena kuncian emosi saya hanya berani membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya.

**

IYA TENTU SAJA ISINYA DERITA DAN AIR MATA

Saya memilih untuk mengabaikan, karena cara saya menjalani hidup adalah dengan BIG PICTURE.

Saya selalu melihat hidup dari big picture, lalu setting goals. Ketika saya sudah tau, apa yang harus saya kejar dan kapan saya harus berhasil mendapatkannya, baru deh saya breakdown semua hal-hal yang harus saya lakukan dalam rangka mengejar goals tersebut.

Saya bikin steps detail dan memulainya dari hal yang paling visible di depan mata. Nah, pola pikir ini selalu membuat saya menyingkirkan obstacles yang bisa menghambat goals.

Good kan di satu sisi saya selalu bisa mengejar setiap deadline, dan bahkan masih punya spare waktu untuk santai karena saya sudah selesai jauh sebelum deadline. Saya masih bisa punya waktu untuk nongkrong, menjalin relasi, mencari inspirasi untuk hal-hal lain yang bisa saya lakukan lagi.

MENYINGKIRKAN OBSTACLES itu ternyata; saya menyingkirkan emosi.

Hahahahaha…saya menyingkirkan rasa. Saya mengesampingkan kebutuhan diri untuk memahami hal-hal yang saya rasakan seperti; ngantuk, capek, bosen, sedih, terluka, dan sebagainya.

Selama ini saya—si yang selalu hidup di WAR ZONE— menganggap bahwa hal-hal tersebut enggak penting, dan berisiko pada kemampuan saya mengejar goals.

Oh, iya, efektif kok. Deadline dan goals semua tercapai. Tapi, gak content. Saya gak bisa ngerasain apa-apa, dan sebenernya jadi nggak jejak valuesnya.

**

Tapi ini bukan berarti berpikir dari big picture-nya yang salah, karena enggak ada yang salah dengan setting goals dan mem-breakdown-nya. Yang salah adalah hidup saya di masa lalu. Bahwa sepanjang usia saya menjalani hidup seperti kijang yang hidup di hutan terbakar.

Saya sibuk lari-lari menghindari terbakar.

“Untung larinya lurus ke depan ya, gak mencong-mencong trus nyeblos jurang…” kata bu psikolog. Hahahhaha bener juga. Tapi part ini sih tentu saja part mama si growth mindset, yang selalu ngajarin saya untuk mengejar goals.

**

Kalau menyesuaikan dengan atlas of the heart, kayanya saya seumur hidup ada di

PLACES WE GO WHEN THINGS DON’T GO AS PLANNED

Isinya apa aja sih?

Boredom, disappointment, expectations, regret, discouragement, resignation, Frustration.

Iya saya si tukang ngejar masa depan, si pinter bagi waktu, si tau apa aja yang harus dilakukan, si jago bertrategi, si gak kenal capek kalo semua belum di checklist, si taktis, sip inter negosiasi, si ngotot persisten, si kuat.

Jadi perkara state emosinya ya Cuma ada disitu. Kecewanya muncul dari hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana, bentuk paling nyata dari anxious. Terpampang nyata bahwa seumur hidup Yasmina emang kejar-kejaran sama api karena takut kebakaran.

**

Di pertemuan kedua, saya cerita bahwa sejak pertemuan pertama itu saya lebih sering nangis dan gak tau kenapa nangis mulu. Trus diingetin lagi bahwa nangis itu obat, dengan nangis, saya bisa melepas banyak sumbatan2yang selama ini saya juga gak sadar bahwa itu terjadi karena nyumbat. Emang bloon..

Trus saya diminta membayangkan kalau saya melihat diri saya sendiri, seorang perempuan dewasa yang mendadak nangis, dan tersedu sedan, apa yang kira2 dirasakan..?

Tau gak apa jawaban saya?

“CAPEK…”

Iya, capek.

Dari semua pilihan emosi yang bisa saya pilih, segitu banyaknya, yang saya rasakan ternyata…”CAPEK”

Habis itu saya Meletus. Nangis dan cerita bahwa saya selelah itu menjadi yang paling kuat, yang paling pinter, yang paling berani, yang paling menjaga, yang selalu siap pasang badan di depan, yang selalu ada buat semua orang.

Trus bu psikolog senyum dan bilang

“Gak nyangka ya, kamu itu kayanya Cuma capek…”

Iya, saya emang enggak pernah takut mati. Makanya saya sering bilang kan, gak nyangka kalo umur saya nyampe juga ke 30 ternyata. Kok bisa?!

Itu semua karena saya enggak takut mati, enggak pernah mikir kalo saya bakalan panjang umur. Kayanya saya selalu menganggap hidup saya kurang berharga dan gak perlu ada.

Ternyata saya emang hidup, tapi seumur2 capek.

Disclaimer dulu deh; capek itu wajar dan boleh dirasakan. Bukannya saya enggak bersyukur, tapi saya Cuma capek. Dan kelihatannya itu gapapa banget ya?! Tapi ternyata saya seumur2 selalu menganggap capek itu salah. Jadi gak dirasain.

**

Well, intinya, emang paling bener sih nyari bantuan. Lebih tepatnya mencari bantuan dari professional yang memang punya kompetensi untuk membantu.

Akhirnya saya treatment sepekan sekali ke ibu psikolog. Sungguhlah rasanya sangat terbantu. Ini tuh kaya mecahin batu besar yang udah lama banget ngeganjel di hati tapi gak bisa disingkirin.

Pelan-pelan batunya diproses, pelan2 saya berani masuk ke dalam ruangan yang ‘terlarang’ itu. Saya berani terus mendesak masuk ke dalam ruangan yang penuh air mata dan rasa merana itu. Saya berani menghadapi semua dan meyakini bahwa, gak apa2 kok merasakan pedihnya luka. Gapapa kok merasa lemah dan gak berdaya. Gapapa kok sedih, dan bukan jadi yang paling kuat dan menjaga semua.

Kalau capek, ya istirahat, min. Bukan maksain sampe babak belur…

My emotion Journey; Sadness

Image

Sedih dan menderita…

Jadi, saya baru saja menamatkan buku ATLAS OF THE HEART: MAPPING MEANINGFUL CONNECTION AND THE LANGUAGE OF HUMAN EXPERIENCE- nya Brene Brown.

Nah, disitu di jelasin peta nama-nama perasaan manusia. Kan katanya NAME IT TO TAME IT. Jadi saya baca dengan tekun satu persatu perasaan-perasaan itu. Lalu Ketika sampai di #6 PLACES WE GO WHEN WE’RE HURTING, perasaannya ada: Anguish, Hopelessness, Despair, Sadness, Grief.

Menderita, putus asa, hilang harapan, sedih, duka cita.

Segala jenis perasaan yang seumur hidup saya enggak pernah mengerti, apa bedanya, apa Namanya, tapi saya terjemahkan jadi satu perasaan : MARAH.

Maka reaksi saya Ketika mengalami berbagai macam badai perasaan tersebut adalah: marah-marah.

Iya itu saya sadar betul terjadi dan saya lakukan, sampe akhirnya saya mulai memahami jenis-jenis perasaan lain selain marah dan senang.

*helaNafas

Oke, jadi dalam beberapa tulisan ke depan, saya akan bercerita mengenai perasaaan dan semuanya akan saya rangkum di YASMINAHEALINGJOURNEY

Cie ileh healing. Kaya anak jaman sekarang gak sih?

Iya, biarin lah gapapa norak. Tapi emang rasanya banyak banget yang saya alami, dan perjalanan ini bukan perjalanan yang singkat. Karena sudah 12 tahun ini saya bergulat dengan memahami apa yang saya rasakan dan mempertanyakan

“What Happened to me?”

Itu terus yang saya pertanyakan.

Lalu, kenapa saya memutuskan untuk belajar mengenai emosi dan segala sesuatu yang seumur hidup saya tolak dan saya bentengi? Karena saya menikah lalu punya anak.

Saya tahu, tanggung jawab saya jadi besar dan jauh lebih besar ketimbang sebelumnya Ketika saya hanyalah seorang anak dan seorang karyawan.

Saya tahu, saya harus terus belajar untuk memahami perasaan karena saya berhubungan dengan manusia yang harus saya urus dan saya perhatikan semua kebutuhannya.

**

Di tahun pertama menikah, saya dan poe memutuskan untuk tidak punya anak dulu selama setahun pertama. Karena kami percaya bahwa, hubungan kami belum cukup kuat untuk membesarkan anak.

Kami masih harus saling beradaptasi, saling mengenali satu sama lain dan belajar menoleransi satu sama lain.

Maka, kami berusaha keras untuk melakukannya. Berantem tiap hari, gak nyamaaaaan banget sebenernya karena ada begitu banyak perbedaan. Jadi, actually saya dan poe tidak mengalami “kebahagiaan” pengantin baru yang biasa diceritakan.

Katanya, kalau setahun pertama masih manis dan masih romantis, masih lucu, masih gemes. Kaga ada sih sedikitpun. Karena yang terjadi adalah kami bertengkar tiap hari dan kabur2an. Hahahaha…

Tapi di tahun pertama ini adalah masa pertama kalinya saya merasakan beberapa emosi baru. Eh maksudnya baru ngerasain emosi itu.

Baru tau rasanya kecewa, joy, bersyukur, belonging.

Dan semua itu bisa saya rasakan, sepertinya karena untuk pertama kalinya saya harus banyak memahami satu orang dalam intensitas yang mendalam, setiap hari ketemunya dia doang, orang asing dengan kebiasaan-kebiasaan yang amat berbeda dengan kebiasaan saya.

**

Mungkin bacanya aneh ya?! Masa sih manusia enggak bisa ngerasain perasaan. Tapi ya saya beneran sih ngalamin itu.

Oh iya tentu latar belakangnya sih trauma ya.

Saya enggak kepengen cerita detail soal trauma-nya, maybe later, but not now.

**

Nah, bicara soal kesedihan.

Duh gak tahan lagi nulisnya.

Filem ini juga salah satu yang bikin saya terhenyak dan kenalan sama rasa sedih

Ternyata menyebut nama-nama perasaan yang berkaitan dengan kesedihan aja bikin hati saya nelangsa. Enggak kuat. Lemes bahkan sampe ngantuk

Mungkin ini adalah bentuk perasaan yang paling membuat saya merana sehingga paling saya hindari untuk dirasakan. Begitu nekad merasakan, saya….lebur.

Tau gak, kapan pertama kali saya begitu merananya? Waktu kucing kesayangan saya yang saya rawat 11 tahun meninggal dunia di 2010. Saya sampai bikin tiga tulisan di blog ini soal dia. Disini, disini dan disini. Saking merananya saya ditinggal mati.

Dan kejadian itu saya alami Ketika saya sudah Bersama poe. Jadi saya enggak sedih sendiri.

Cuma saya emang suka bloon, kalo gak dipancing, saya enggak cerita. Dan saya enggak ngerasa harus cerita karena enggak pernah terbiasa cerita dari kecil. Saya biasa sendirian dan selalu enggak mau nyusahin orang lain. Saya selalu merasa bahwa saya kuat dan bisa kok menguatkan orang lain, selalu siap jagain dan melindungi orang lain.

Dan bahkan saya enggak bisa nangis. Bayangkan. Hahahaha…

**

Saya jarang banget keluar air mata, nyaris ga pernah.

Nah baru sekarang-sekarang ini nih saya tau rasanya sesaaaaak di dada karena segala perasaan campur aduk gak keruan.

Ketika dari satu nafas ke nafas lainnya harus di hirup dan di hela dengan tenaga, Ketika angin menerpa wajah tiba-tiba memantik air mata menetes begitu saja..

Iya, saya baru merasakannya.

Yasmina, si selalu kebingungan sama perasaan dan hal-hal yang dirasakan.

Si enggak pernah tahu harus ngapain, si resah Ketika menyadari; kok ngeliat semua jejak dari orang itu aja, bikin hati pilu banget dan gak tau ini Namanya apaaa.

Tapi satu yang saya Yakini, ini bukan hal buruk. Ini hal yang harus saya alami dan memang mau gak mau harus saya lewati. Karena perasaan semacam ini harusnya sudah pernah dilewati jaman muda dulu, sayangnya saya dengan sengaja men-skip-nya.

Ini seperti anak usia 5 tahun yang harus menjalani terapi sensori integrasi—merangkak, merayap, karena waktu usia batitanya dulu ia tidak melewati fase itu. Sementara tubuh kita semua, butuh melewati fase itu.

Jadi aneh sih sebetulnya ya, mengejar keterlambatan. Special needs banget ini ya kasusnya.

  1. Kesedihan dan depresi bukan hal yang sama

Kesedihan itu hal wajar yang terjadi pada setiap orang, namun bukan berarti depresi. Sebab, depresi adalah Kumpulan gejala yang terbentuk dalam kurun waktu tertentu. Biasanya bentuknya diiringi dengan tidak nafsu makan, insomnia, kehilangan ketertarikan pada berbagai bentuk kegiatan, atau sulit konsentrasi.

2. Kesedihan dan berkabung (grief) juga bukan hal yang sama

Meskipun kesedihan merupakan bagian dari rasa berkabung, namun berkabung merupakan emosi yang lebih kompleks karena menggabungkan berbagai macam bentuk emosi lainnya berbarengan dengan kejadian besar.

3. Ada hal-hal positif yang bisa muncul dari kesedihan

Kalau menurut Joseph P. Forgas, professor dan universitas New South Wales di Sydney, kesedihan itu sebetulnya banyak manfaatnya. Orang-orang yang mau merasakan kesedihan sebetulnya cenderung jarang melakukan kesalahan dalam menilai sesuatu, biasanya lebih mudah termotivasi, dan lebih sensitive terhadap berbagai norma sosial. Perilakunya pun biasanya lebih murah hati.

Menekan atau “menendang” jauh emosi yang terasa, tidak akan membantu kita melaluinya dengan baik. Apalagi kesedihan. Biasanya, berani merasakan kesedihan akan membantu seseorang untuk mengevaluasi hidupnya dan mempertimbangkan untuk melakukan perubahan di dalam hidupnya usai kejadian yang membuatnya sedih.

Acknowledging dan menamai kesedihan merupakan elemen penting untuk diri mampu membangun rasa compassion dan empati. Iya kan? Biasanya pas kita sedih, yang kita pengenin itu dipeluk orang lain dan merasa terkoneksi dengan mereka yang punya pengalaman yang mirip, meski penyebabnya bisa berbeda. Dari situ akan muncul empati.

4. Ada alasan kenapa kita menyukai filem sedih

Kalo kata suami saya, ini filem pembunuhan. Hehehehe soalnya filem sedih itu kan sebenarnya menyiksa ya. Tapi sebetulnya kita suka lho menontonnya, karena kita pengen mendapatkan motivasi dari hal-hal baik di filem sedih, kita, sebagai manusia, pengen merasa terkoneksi dan Pengen diingatkan bahwa satu kejadian dialami karena adanya koneksi yang tak terpisahkan antara 1 kejadian dengan yang lain.

Jadi, nonton filem sedih itu sebenernya membantu kita mengungkap adanya korelasi positif antara kesedihan dan enjoyment. Urutannya tuh gini: sedih –> feeling moved (termotivasi) –> enjoyment.

Saya sih suka banget filem dan lagu sedih. Seringkali saya malahan bisa konsentrasi kerja kalo denger lagu sedih. Makin merana, makin konsen. Hahahaha

Jadi yaudah, sekarang saya lagi belajar banget memproses kesedihan, membedakannya dengan depresi, hopelessness, anguish, dan despair. Saya lagi memproses tempat baru yang seumur hidup saya hindari; PLACES WE GO WHEN WE’RE HURTING.

Karena kalau kata Gabor Mate:  

When people are numbing themselves through work or through the internet or pornography or through drugs or alcohol or nicotine or whatever it is, is because they’re in pain. So, you have to ask what gave them the pain in the first place? And that’s always shelter trauma. And why do people numb themselves?

There’s nothing wrong with pain, life brings pain as the Buddha pointed out, life is painful, life brings suffering. It’s not that that’s all it brings, but it does bring it. Why does it bring it? Because we lose. We lose our health, we lose loved ones, our favorite cat or dog may die. Our friends might not want to play with us, grandfather might die or maybe the neighbor yells at us.

That’s all painful.

There’s nothing wrong with that pain, as long as you can manage it. We can handle it as long as we can hold it, as long as our minds can hold the pain. But no child’s mind can hold the pain on their own. So, the child needs the parent to help them hold their pain. But in our society because of the disconnection we’ve been talking about, so many parents are not available to hold their child’s pain.

So they try and do two things. One is to suppress the pain in the child or stop crying or give you something to cry about or they try and distract the pain through objects and television and gifts and junk food and so on. But they’re not available to hold the child’s pain.

So the child has the pain, they can’t hold the pain themselves, then they start numbing the pain in themselves. So then one way to do that, there’s many ways to do it. But one way to do this is through addiction. So then that child becomes an adult and they’re used to numbing their pain.

Yaudah kan? Life brings pain.

TO BE HUMAN IS TO KNOW SADNESS. OWNING OUR SADNESS IS COURAGEOUS AND A NECESSARY STEP IN FINDING OUR WAY BACK TO OURSELVES AND EACH OTHER.