Monthly Archives: October 2010

Kita sama-sama berubah, yuk…

Gallery
Quote

Shocked.

This are characterized by feelings of heart pounding and sometimes cause dizziness

It could comes from lots of reasons. And mine?

Came since reading a few lines of text on your pages, your dark and obscure page

That texted made me fall silent

Don’t know what to do

….

You and our stories..

We and Our undemonstrative feeling

We, you and me, and our secrets time or places..

I know there will never be a finished story circle

But your smile, your jokes and you as a personal

Will always there on our stories that never begin and never end

You, will always here in mine…

Thank you dear..

just for you..

rak mimpi buatku

Image

Aku butuh rak besar

yang BESAR sekali..

yang cukup untuk letakkan mimpi,

mimpi-mimpiku yang terpatri di hati..

jadi semua bisa tersimpan rapi, dan dapat kupilih untuk diwujudkan dalam hari demi hari hidup ini..

agar tidak bisa mati, meski jasadku telah terkubur di lahat bumi…

(Yasmina hasni oktober 2010, kamar mungil Otista)

 

 

belajar bersyukur?

Standard

Telinga saya sibuk mendengarkan keluh kesah seseorang soal gaji..

“Gila yah gaji kita ini gak naik-naik, mana kerjaan banyak banget.”

Saya senyam senyum, sambil asik makan

“Itu lagi si boss, dia dapet banyak keuntungan dari perusahaan, notabene dari kita-kita juga kan! bukannya bukan dibalikin buat meningkatkan kesejahteraan kita malah bikin tivi. Tivi islam di saluran berbayar pula, apa sih maksudnya?

Saya jawab : “Dia berpikir bagus kok buat ekspansi bisnisnya, berpikir seperti orang cina dan jepang, berkesinambungan. bikin policy dengan manfaat dan raupan keuntungan jangka panjang, jadi gak gampang jatuh bangun. Kemaren pak Boed juga ngomong kalo itu efektif,”

Jawaban saya disambut bibir manyun dan diam.

Dalam hati saya bersyukur. Berisik, saya pusing dengar dia bicara soal gaji. Soalnya menurut pandangan saya, kalau situ gak puas ya tinggal hengkang. Cari kerjaan lain. Masih muda ini.

Hehehehe…iya saya paham kok kalo cari kerja itu gak gampang, trus mau gimana? nuntut kantor? nuntut pak boss? atau nuntut pemerintah? hehehe…apa gak lebih buang-buang waktu? Saya tau, gaji kita gak cukup besar. Saya tau, BANYAK bos-bos raja perusahaan media yang asik membangkitkan idealisme wartawan untuk menggempur tenaga dan mengirit pengeluaran gaji. Lalu dia bikin mol. Atau perusahaan baru lainnya.

Ya lalu salah siapa? Yang jelas, yang pasti bukan salah si boss. Kenapa? karena sejak awal, heyy, anda yang memilih bekerja di perusahaan media, apalagi jadi wartawan, ya harus siap lah dengan semua konsekuensinya. Saya hampir gak pernah complain soal gaji. Kenapa? karena dari awal saya udah tau konsekuensinya. Toh saya jadi wartawan juga niatnya mau belajar, bukan nyari uang, apalagi nyari jodoh. Bahkan di kepala saya, kantor saya udah baik.

Lihat ya, kemaren saya baca di majalah SWA terbaru, di artikel “Wajah Usaha”, ada muka boss saya disitu.Di bagian terakhir, Adrian Sarkawi bilang, pak ET terlalu baik. “Padahal dia menganggap dalam bisnis media kuncinya adalah SDM,” katanya. persoalan apapun yang harus ditolong lebih dahulu adalah SDM. ET dinilainya longgar dalam memberikan tantangan ke anak buahnya. ” Kalau saya, jika peluangnya 14 ya saya push aja sampai 14. Jangan dibawahnya, sedangkan pak ET oke saja dengan target 10, melihat anak buah bisanya 10,” Riri Satria, pengamat manajemen juga bilang kalo ET memiliki kekuatan dalam mengelola orang. ET berhasil mendapatkan orang-orang terbaik di industri ini karena pria ini sangat fokus dalam bisnis media.

Dalam hati saya ngangguk-ngangguk. Bener kok. Saya gak pernah merasa kecewa dengan apa yang udah kantor kasih, terutama dalam bentuk fisik yaaa…atasan juga sebenernya baik2, konflik2 kecil sih biasa lah. Namanya juga orang idup. Coba bandingin sama media sebelah pimpinan CT yang grup bisnisnya ekspansif banget. Karyawan digaji keciiiiil banget, fasilitas sedikit, klaim susah, tapi di push kerja sampe teler. Gak percaya, boleh lirik blog temen saya http//www.denyamanja.wordpress.com kalo liat di laporan keuangannya, dan analisis di majalah bisnis, direktur utama bank-nya juga dapet gaji yang cuma beda tipis sama dirut BPR. Padahal grup bisnisnya sangat besar dan menggurita.

Jadi, masa saya gak boleh bersyukur? Menurut saya, in my humble opinion, ketimbang marah-marah dan ngeluh, ada beberapa opsi yang seharusnya temen saya yang manyun itu bisa kerjain:

1. Cabut

2. Punya bisnis sambilan yang menghasilkan

3.Hemat dan menabung

4. Atau Kerja sesuai argo aja. Ini industri kawan, sejak awal seharusnya sudah tau kalo gak usah terlalu ngoyo. Gak usahlah kerja kesetanan. Jalanin hidup yang sehat, istirahat cukup, makan teratur, biar masih punya kesempatan buat melakukan hal-hal yang lebih baik ketimbang terjebak jadi wartawan.

Ada juga jalan ekspress: Cari jutawan buat dipacarin, ambil uang haram, punya lebihan uang main aja ke BEI atau cobalah pasang togel…hehehehe

Sayang dia keburu manyun, diem dan pergi ninggalin saya. Terpaksa deh hal-hal yang tadinya mau saya omongin ke dia jadi saya tulis disini aja. Kalo kata orang jawa, namanya, buang sial… 🙂

Indonesia masih punya harapan, teman..

Gallery

berdamai dengan sushi?

Gallery

java BELOK land 2010

Gallery