Monthly Archives: February 2011

selamat ulang tahun pak Boediono..

Gallery

Not Too Old For Deftones

Gallery

Masih pantaskah dicintai?

Video

Young artist for Haiti- Wavin Flag

When I get older, I will be stronger
They’ll call me freedom, Just like a wavin flag

Born from a throne, Older than Rome
But violent prone, Poor people zone

But it’s my home, All I have known
Where I got grown, but now its gone

Out of the darkness, in came the carnage
threatening my very survival

Fractured my streets
and broke all my dreams
now Feels like defeat to wretched retreat

So we strugglin’

Fighting to eat

And we wonderin’

If we’ll be free

We cannot wait for some faithful day
it’s too far away so right now I’ll say

[Chorus]
When I get older, I will be stronger
They’ll call me freedom, Just like a waving flag
(And then it goes back x3)

Ahhho ahhho ahhho

So many wars settling scores
All that we’ve been through
and now there is more
I hear them say love is the way
Love is the answer that’s what they say

But were not just dreamers, of broken down grievers
Our hand will reach us, and we will not see ya

This can’t control us, no it can’t hold us down
We gon pick it up even though we still struggling

Au nom de la survie (In the name of survival)

and we wondering

Battant pour nos vies (Fighting for our lives)

We patiently wait
for some other day

thats too far away so right now I say

[Chorus]

Uhh… well alright
How come when the media stops covering
and there’s a little help from the government
we forget about the people still struggling
and assume that its really all love again nahh
see we don’t have to wait for things to break apart
if you weren’t involved before it’s never too late to start
you probably think that it’s too far to even have to care
well take a look at where you live what if it happened there?
you have to know the urge to make a change lies within
and we can be the reason that they see the flag rise again

When I get older, I will be stronger
They’ll call me freedom, Just like a wavin’ flag
and then it goes back
and then it goes back
Then it goes back

[Chorus]

When I get older
When I get older
I will be stronger
just like a waving flag

***
Saya rasa, semua orang kenal sama lagu itu. Selain anthem world cup, anthem bencana Tahiti, tapi juga jadi jingle iklan produk minuman soda yang terkenal banget ituuu…

Tapi, belakangan ini, tiap denger lagu itu rasanya saya jadi sedih. Asli. Kenapa? Rasanya mirip aja sama Indonesia. Negeri yang, rencananya, akan saya tinggalkan ini.

Negeri yang, katanya, diciptakan Tuhan dengan senyum. Negeri tropis dengan spesies tanaman dan hewan (mungkin manusia juga? Eh?) yang jumlahnya terlampau banyak sampai gak terhitung. Negeri yang, katanya, kaya dan punya limpahan minyak, emas, uranium, batu bara, gas dan sumber daya alam lainnya. Negeri yang kebanjiran kharisma, tentu, sebelum melihat pulau jawa dan kekacauan di mukanya. J

Negeri, tempat mama melahirkan saya, 26,5 tahun silam.

..

Sejujurnya, sebelum saya jadi wartawan, saya belum terlalu ‘ngeh’ dengan kebobrokan negeri bodooh yang saya cintai sepenuh hati ini. Karena  saya, adalah tipikal pelajar dan mahasiswi hura-hura yang males ngikutin berita, boro-boro ikutan demo. Setelah jadi wartawan, setiap hari, yang saya bawa pulang Cuma  duka.

Berlebihan?  Mungkin..tapi dengan otak dalam keadaan waras dan berkesadaran penuh, saya berani sumpah, gak Cuma sekali dua kali saya mewek tiap pulang liputan. Di  Bekasi, tempat liputan pertama saya, ada seorang walikota yang gak ada otaknya tapi punya motto hidup: “In greed we trust” macam film casino jack. Sampai sampah-sampah, dia hajar jadi duit, buat dia dan kelompoknya. Sekarang, dia lagi asik karaoke tiap malem di LP Salemba.

Selanjutnya, Bogor. Tempat liputan yang sebenarnya menyenangkan, karena adem. Tapi sisanya, ada walikota gemuk yang doyan ngasih izin angkot sampe kota itu ‘dihijaukan’ angkot. Ada jajaran pemerintah yang sangat kemaruk sama uang hasil dari prostitusi gang-gang kecil di puncak.

Keluar dari desk metropolitan, saya dicemplungin di desk ekonomi sektor perbankan dan BUMN. Disitu, ada jajaran antek investor, yang apapun pernyataannya selalu berdasarkan kepentingan investor baik asing maupun lokal, jelas yang besar2 dan tamak2. Disitu, saya ketemu orang-orang yang bangga setelah menjual hasil kekayaan negaranya, sambil mengesampingkan usaha-usaha kecil yang perlahan mati di negerinya sendiri. Meskipun, saya suka desk ini, karena masih bicara data, dan memaksa saya untuk belajar sesuatu yang baru setiap harinya.

Desk berikutnya, saya terdampar di nasional. Post: istana wakil presiden. Meskipun wapresnya mantan gubernur BI, seorang profesor ekonomi, tapi, desk saya tetap nasional. Jadi, saya seringkali dilempar ke berbagai diskusi politik bahkan sesekali bantu2 di DPR. Ini adalah masa-masa yang paling membuat muak. Saya sangat sangat suka nge post di istana wapres, tapi dia dibungkam. Inget, DIBUNGKAM. Jadi, saya harus melanglangbuana ke acara politik. Acara-acara yang paling sering membuat saya marah. Karena semua orang Cuma bisa  bicara, bicara dengan tujuan2 tertentu, membuat kebijakan (baca:memaksa) demi kepentingannya, keluarganya, kolega dan bisnisnya. Kumpulan manusia yang cari duit dengan mematikan orang dan mencela-cela orang lain, tanpa tahu, apa sebenarnya yang dia bicarakan. Politik=shit.

Lalu, tahun ini, saya terdampar di desk yang PALING parah. Istana presiden. Kenapa parah? Pertama, karena saya, mau gak mau, dengan hati terpaksa, harus ketemu presiden setiap hari. Kedua, saya, setiap hari menempuh perjalanan yang engga pendek buat kerja ke istana, liat orang-orang, rakyat, yang lapar, yang sakit, yang miskin, yang cacat, yang menangis. Sampai di istana, saya liat mereka, para petinggi yang seminggu sekali sidang kabinet paripurna, kerjanya Cuma  RAPAT. Rapat rapat rapat. Rapat yang gak pernah menghasilkan sesuatu yang signifikan. Rapat yang bisa bikin mas eko tempo teriak “gak ada (berita) yang baru paaaakk…”. ya iya aja gak bakalan ada yang baru, karena dari tahun kapan, sampai sekarang, orang2 itu Cuma bisa bilang “akan”. Kami AKAN membangun infrastruktur, kami AKAN membuat food estate, kami AKAN menurunkan harga pangan, kami AKAN mengurangi jumlah impor, kami AKAN mensejahterakan rakyat. Gak pernah ada kata “sudah”, dari balik tembok dingin istana, teman-teman…

Kalau anda jadi saya, anda muak gak sama Indonesia?

Saya muak. Karena seringkali saya merasa kehilangan harapan. Kehilangan kepercayaan. Kehilangan keinginan untuk bermimpi dan mewujudkan mimpi besar saya: melakukan sesuatu.

Sampai akhirnya saya merasa, sudah saatnya saya meninggalkan negeri ini. Sudah saatnya, saya juga memikirkan diiri sendiri, dan keluarga saya. Sudah saatnya, saya pergi dan pindah kewarganegaraan. Dengan pertimbangan, emang gak bakalan ada negara yang pemerintahannya beres, semua pasti ada cacatnya, tapi seenggaknya ada negara2 lain yang bisa kasih jaminan pendidikan, kesehatan, kedisiplinan, kebersihan, keamanan dan kenyamanan buat warganya. Gak seperti negara saya yang maksimal banget ancurnya ini. Sabar memang ga ada batasnya, tapi toleransi kan berbatas.

Sampai akhirnya, saya inget omongan seorang perempuan yang selalu dibilang ‘perempuan penjual aset negara’ sama  orang2 politik. Perempuan, yang dimata saya berani, tegas, punya hati yang besar, sri mulyani indrawati, dalam kuliah umumnya, sebelom dia cabut ke Amrik.

“Jangan pernah putus asa mencintai Indonesia,…”

(bisa juga buka notes temen saya, Aditya Suharmoko: http://www.facebook.com/note.php?note_id=405703158088 utk transkrip lengkapnya..)

Itu kata dia. Kata-kata yang keluar dari mulut seorang perempuan yang ada di kantornya siang malam. Pimpinan yang melindungi bawahannnya. Menteri yang ‘diusir’ dari negerinya. Sudah sebegitu pedihnya jadi dia, dia tidak pernah meninggalkan semua tugas. Kemudian, didepak. Setelah harus pergi, dia tetap mengingatkan semua orang, agar tetap mencintai negerinya yang sialan ini. Negeri rongsok, bobrok, gak keruan ini.

Jadi, ingatan saya pada omongan itu, yang membuat saya kembali mencari. Mencari selah untuk bertahan dalam rasa cinta pada negeri ini. Di saat2 itulah, saya ketemu rumah autis, yayasan yang didirikan sejumlah para terapis yang peduli. Mereka peduli pada anak2 berkebutuhan khusus yang miskin, dan mendirikan sarana terapi serta sekolah yang gratis. Sementara menteri sosial yang asalnya dari ‘partai dakwah’ itu, bahkan TIDAK TAHU pengertian dari ‘anak berkebutuhan khusus’. Dahsyat kan? Saat pemerintah gak tau, atau gak mau tau, rumah autis sudah maju. Sudah mencoba melakukan sesuatu…

Setelah itu, saya ketemu seorang pendiri yayasan yang sekarang juga sudah bisa bikin sekolah, rmh sakit dan berbagai sarana gratis buat orang miskin. Dia punya sejuta kesempatan, jelas jauh lebih banyak dari kesempatan yang saya punya, untuk melarikan diri keluar negeri. Tapi jawabannya simple, “Kalo bukan kita, trus siapa yang mau bertahan dan melakukan sesuatu?”

Orang-orang di rumah autis, si pemilik yayasan dan sri mulyani, sudah melakukan sesuatu. Saya? Belum. Kalau mereka menyerah kemudian cabut jadi WNA, wajar. Kalo saya yang cabut? Namanya culun. Belom ngapa2in kok udah nyerah. Mungkin, Tuhan masih kasih saya umur buat melakukan sesuatu, buat Indonesia, yang masih pantas dicintai. Mungkin, saya Cuma harus ingat prinsip yang saya pegang bertahun-tahun ini: “Anggap aja kita memang ga punya pemerintah. Indonesia, maju atau mundurnya, ada di tangan kita. Orang-orang yang udah ngabisin uang orang tua sampe segede gini dan sekolah sebanyak ini.”

..But it’s my home, All I have known, Where I got grown, but now its gone
Out of the darkness, in came the carnage, threatening my very survival

Fractured my streets, and broke all my dreams, now Feels like defeat to wretched retreat. So we strugglin’…Fighting to eat…And we wonderin’…If we’ll be free
We cannot wait for some faithful day, it’s too far away so right now I’ll say

When I get older, I will be stronger, They’ll call me freedom, Just like a waving flag..