Monthly Archives: April 2013

Belajar dari Alam

Image

Dulu, waktu belom punya anak, sahabat saya pernah berteori. Dia bilang:

“Gak ada induk burung yang bawel nyuruh-nyuruh anaknya ini itu. Contohin aja, nanti juga ditiru.”

Dulu, saya memandang quotation itu dari kacamata anak, yang mendambakan sosok orangtua ideal, yang enggak pake bawel suka ngomelin saya yang nakal. Yang gak cerewet nyuruh-nyuruh ini itu plus ngomelin.

Sekarang, saat anak saya masuk ke usia jelang dua tahun, saya terngiang lagi kata-kata itu. Dan, heuheu, gak gampang yah?

Ya bener memang, kalau mau ambil pelajaran dari parenting gaya hewan. Hehe..enggak salah juga kok. Karena ternyata cukup sulit aplikasinya. Yang suka cerewet ngasitau anaknya jangan naik-naik kursi, tapi sendirinya naik kursi buat ngambil barang diatas lemari, mana suaranyaaa?? Yang suka bawel ngomelin anaknya kalo makan jangan pilih-pilih, tapi sendirinya gak doyan ini itu, angkat tangannyaaaa!!

Belom bisa banyak ngasih contoh sih, kan anaknya masih 1,5 taun. Ahahaha..tapi ya masa-masa ini memang saatnya dia meniru dan meniru dan MENIRU. *GarukPala*

Salah satu hal yang saya rasa berat adalah, mengajarkan si Abib kegiatan outdoor. *Batuk* saya ini, adalah orang yang gak gitu suka kegiatan outdoor, dan bahkan gak suka olahraga—kecuali berenang, that’s all. Dulu, SMA saya adalah sekolah yang semi sekolah alam. Banyak banget kegiatan outdoornya. Dan saya, selalu bolos. Ahahaha..

Bekasi Selatan-20130121-00089

Maksudnya, tiap ada kegiatan outbond dan sebagainya, saya pasti minta mama bikinin surat sakit. Yess, karena males. Ogah amat gue nyemplung ciliwung, becek-becekan, perosotan di tebing. Dududududuuuh…males.

Begitu juga saat kuliah. Bahkan KKN wajib di kampus, saya pilih gelombang1, yang KKN nya di kota. Deket rumah. Gak pake harus nginep di kampung, since denger cerita sepupu saya bahwa ada desa lokasi KKN yang rumahnya di tengah rimba. Saya emang (dulu) lumayan ribet. Karena saya punya alergi, saya gak pernah tahan sama dedaunan, rerumputan, kotor-kotor tanah, selalu gatel2, bentol sekujur badan. Yeah well, mungkin karena gak dibiasain ya…

Mendingan jalan kaki keliling kota deh buat hunting foto, atau cari cerita. Selama masih di kota, saya merasa aman. Hahahaha..

**

Sekarang, saat dianugerahi anak laki-laki, it’s a big no no untuk mendidik anak dengan kebiasaan saya. Apalagi dia ini cenderung anak dengan pola belajar kinestetik. Gak bisa diem. Dan gak mau belajar sambil duduk anteng dirumah.

Kalo ditanya kepengenan saya sih, maunya duduk aja santai dirumah, belajar dari iPad, atau browsing-browsing, baca buku, nonton. Atau kita jalan-jalan ke museum, pameran foto, nonton bioskop, dan main di playground buatan aja yang ga banyak rumputnya. Bhahahaha..

Tapi, saya sudah jadi ibu. Bukan saatnya untuk egois. Kalo memang belajar dari alam, bisa membuat Abib jadi lebih cepet ngerti, membantu kinerja otaknya, dan menyambungkan sinapsis2 dengan lebih baik. Well, outdoor it is!

Bekasi Selatan-20130110-00027

Maka, saya akhirnya berkegiatan di lapangan rumput, di semak-semak penuh rumput, di pinggir danau, ketemu air banjir, main hujan, dan berjibaku dengan tanah plus lumpur. Abib bahagia, saya gatel-gatel. Namun, ternyata memang sangat efektif. Abib cepat belajar mandiri, dia jadi cepat paham bahwa tempat yang basah itu licin (karena dia sering jatuh), jadi harus pelan-pelan. Dia juga cepat mengerti wilayah yang berbahaya dan aman. Tubuhnya juga punya alarm, saat lagi gak enak badan, dia gak mau main hujan, sebab paham bahwa dia akan kedinginan.

Bekasi Selatan-20130311-00273

Yang paling menyenangkan adalah, anak saya, langit Habiby, tumbuh berani. Yess, dia jadi berani mencoba banyak hal baru, berani sama berbagai hewan yang baru ditemuinya-termasuk anjing GEDE. Ini juga tantangan buat saya dan suami, karena saya takut banget sama ulet, dan bapaknya takut anjing. Jadi kalo lagi jalan-jalan, dan di lapangan ketemu ulet, saya mundur teratur. Berusaha KERAS untuk tidak menunjukkan ketakutan. Begitu juga kalau ketemu anjing, saya yang menggandeng Abib dan Poe mundur hahaha…

Abib juga lebih cepat mengenal hewan, tumbuhan, cuaca, benda-benda disekitarnya. Plus dia juga tambah murah senyum dan mudah bergaul dengan siapa saja. Seneng sekali melihatnya. Nah, ajaibnya, seiring dengan waktu, rajin nemenin Abib jalan, lama kelamaan tubuh saya nampaknya membentuk imunnya sendiri. Enggak ada lagi bentol-bentol gede yang menghantui berhari-hari. Ya kalau gatal, masih. Tapi udah enggak parah.

Akhirnya saya juga jadi bisa menikmati jalan-jalan pagi/sore kami berdua. Sama nikmatnya dengan si Abib. Kadang plus gendong, kadang plus lari, kadang plus drama karena sudah sore dan anaknya gak mau berhenti jalan. Lambat laun saya menyadari bahwa, alam ini adalah sesuatu yang patut dinikmati. Saya gak tau sampai kapan mereka eksis dan semuanya berganti besi…

IMG-20130117-00224

Dengan ini, saya belajar lagi, bahwa yang paling sulit dari mendidik anak adalah menguatkan hati kita sendiri. Ya, hati harus kuat dan gak boleh menyerah untuk melakukan yang terbaik buat perkembangan si anak. Meyakinkan diri sendiri agar tetap calm dan assertive menghadapi apapun kejutan yang dilakukan si anak, menghadapi anak yang rewel dan mulai masuk ke fase terrible two, melawan kemalasan dan rasa letih diri sendiri, PLUS menyiapkan argumen kuat saat diserang opini orang lain yang merasa pola pendidikan saya itu gak bener.

Semua senang? 😀

dadabib

Sharing is Caring

Image

Waktu masih bekerja di Republika, saya punya sahabat yang chubby dan menggemaskan. Hihihihi..namanya Fitria Andayani, dipanggil Pipit. Sekarang, dia sudah dapet promosi dan jadi redaktur halaman ekonomi.

Tapi saya bukan mau cerita soal dia, Geer deh lo pit..LOL

Saya mau nyalin sebuah tulisan yang pernah dia buat di halamannya, 22 Januari 2013 lalu. Judulnya: Seratus orang Terkaya Bisa Atasi Kemiskinan.

Ini isinya:

Ada satu jurus jitu untuk menghentikan penyebaran virus kemiskinan di muka bumi. Namun jurus tersebut hanya dimiliki oleh 100 orang terkaya di dunia. Tahun lalu, orang-orang kaya tersebut menghasilkan pendapatan bersih hingga 240 miliar dolar AS. Jumlah tersebut cukup untuk membuat orang miskin bangkit dari keterpurukan ekonomi mereka.

Penelitian tersebut diungkapkan oleh organisasi hak asasi manusia dan amal internasional, Oxfam, yang berbasis di London. Laporan tersebut dirilis berdekatan dengan penyelenggaraan World Economic Forum yang akan digelar di Davos, minggu depan.

Kelompok ini menyatakan, orang-orang terkaya di dunia itu mengalami peningkatan penghasilan hingga 60 persen dalam 20 tahun terakhit. Krisis keuangan dunia sama sekali tidak memengaruhi jumlah uang yang bisa mereka hasilkan. Kekayaan mereka justru bertambah, sementara jutaan orang di dunia harus bersusah payah mendiamkan perut mereka yang meraung kelaparan.

sharing1

 

(Gambar dari sini)

Direktur kampanye Oxfam, Ben Phillips, menyatakan, biasanya dunia hanya berbicara tentang ‘mereka yang tidak punya apa-apa’ dan ‘mereka yang punya’. Namun kini, pembahasan harus juga melibatkan ‘mereka yang punya segala-galanya’. “Kami kelompok antikemiskinan. Kami fokus pada kemiskinan. Kami bekerja dengan orang-orang paling miskin yang ada di dunia. Kami tidak biasa bicara tentang kekayaan. Tapi, sekarang keadaannya sudah diluar kendali. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin ekstrem,” ujarnya seperti dikutip Al Jazirah.

Dengan demikian, salah satu cara untuk menyelesaikannya hanya dengan melibatkan kelompok ‘satu persen’ tersebut. Mereka yang memiliki kekayaan ekstrem untuk menyelesaikan kemiskinan ekstrem.

Oleh karena itu, mereka berharap para pemimpin dunia berkomitmen mengurangi kesenjangan ekonomi. Setidaknya, porsi kesenjanngan balik ke level moderat seperti yang terjadi pada 1990.

Sharing2

 

(Gambar dari sini)

Direktur eksekutif Oxfam, Jeremy Hobbs, menambahkan, dunia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa menciptakan banyak kekayaan bagi beberapa orang akan memberikan manfaat bagi banyak orang.

**

Shht..jangan komen dulu soal untuk siapa Oxfam berdiri, dan atas dasar kepentingan apa Oxfam berjalan.

Terlepas dari itu semua, idenya kembali lagi ke ‘berbagi’. Hal yang kini jarang dilakukan orang-orang, baik yang SANGAT kaya, orang kaya baru, orang kaya, bahkan middle class.

Padahal,  sejak dulu, sudah jelas terbukti bahwa sharing, adalah satu-satunya kunci kestabilan.

Setelah baca artikel itu, saya semakin yakin ingin jadi orang kaya. Hahahaha..etapi bener lah, orang kaya yang berbagi dong. Kalo kita kuat, insya Allah bisa ikut menguatkan yang lemah. Coba kalo kita sendiri lemah? Boro-boro menguatkan orang lain, diri sendiri aja susah.

Padahal udah sekolah tinggi-tinggi, udah bekerja atau memiliki pengalaman bekerja, sayang kan kalo gini-gini aja, dan Cuma bisa membantu sedikit? C’mon, be strong. Menabung, berinvestasi, dan bekerja lebih cerdas dan keras. Saya harus jadi orang kaya, yang mampu memberikan manfaat bagi BANYAK orang dengan kekayaan saya.

Itu jangan sampe lupa. 😀

*PelukPipit*

sharing3

(Gambar dari sini)

Kisah Cinta Mario dan Fiona…

Image

Ehm, belakangan, saya lagi punya TAMBAHAN kesibukan baru. Yakni, menjodohkan dua ekor anggota keluarga baru kami, Fiona dan Mario. Sepasang lovebird.

**

Seumur hidup, passion saya memang ada di dunia hewan. Gak tau juga dapetnya dari mana, tapi saya sangat cinta binatang dan punya hasrat tinggi untuk belajar soal hewan. Sebagai hobby, tentunya. Bukan karier. Karena, untuk jadi dokter hewan, saya gak tega-an buat melakukan tindakan operasi dan lain sebagainya. Untuk jadi breeder, saya juga gak akan bisa profesional karena gak mau jual hewan kesayangan ke sembarang orang.

Namun yah, dari dulu, saya Cuma ngerti soal mamalia domestik yang enak dipeluk. Kucing, anjing, kelinci, misalnya. Belum pernah melihara unggas atau ikan.

Sayangnya, suami saya lebih berpengalaman dalam memelhara unggas dan ikan. Hahaha..

Jadi saat menikah, dan rumah kami dipenuhi kucing, dia menuntut hak nya. LOL. Pilihan tentu jatuh ke burung, karena memelihara ikan agak ribet ya harus punya aquarium atau kolam.

Maka, kami pernah memelihara dua ekor burung., waktu masih di kontrakan. Cucak hijau dan jalak kebo. Tapi kemudian keduanya meninggal. Heu. Si cucak hijau, kami prediksi, meninggal karena keselek pisang yang masih dingin. Sementara si jalak, entah kenapa, misterius, tiba-tiba berhenti bernyanyi dan kemudian wafat.

Sejak itu, saya trauma. Takut ah. Merasa bertanggung jawab atas nyawa yang hilang itu.

Sampai kemudian, setelah tinggal dirumah sendiri, suami saya mulai lagi mencetuskan ide memelihara burung. Saya jadi ingat, dulu, saat kami membeli si jalak di pasar burung Jatinegara, ada sepasang burung paruh bengkok yang SUPER CANTIK. Warnanya abu-abu putih, paruhnya merah muda dan suaranya nyaring. Sayang, harganya lumayan mahal.

Maka, saya mulai lah cari tau soal burung yang disebut ‘lakbet’ di jatinegara. Ternyata namanya LOVEBIRD. Hahaha…dan saya ketemulah berbagai penjelasan, foto plus video2. Yang membuat saya semakin JATUH CINTA. Jadi, lovebird itu adalah burung yang punya kepribadian macam kucing siamese. Nyaring, dominan, sangat butuh teman (kalo kesepian bisa stress dan mati), bahkan bisa keluar kandang dan bersosialisasi di dalam rumah. Layaknya burung-burung yang masuk di golongan parrots. Tapi ini ukurannya kecil.

Ahh..lucu amat. Belom pernah kebayang kalo ada burung yang bisa begitu.

Apalagi waktu nonton video ini.

Oh Tuhan…

Jadi saya bilang ke Poe, gak boleh melihara burung, kecuali love bird. “Kalo Lovebird, gue mau ikut ngurus. Kalo burung lain, gak mau!” #sikap

Akhirnya, jadilah Fiona. Seekor lovebird jenis fischer’s. Usianya udah delapan bulan.

IMG_3480

 

Ketuaan memang untuk memulai bonding dengan seekor lovebird. Tapi saya gak berdaya karena beberapa alasan.

  1. Saya masih takut untuk punya burung muda yang masih harus makan makanan lembut, dan sebenarnya masih butuh ibunya. Meskipun tentunya bonding lebih mudah tercipta. Tapi saya kan gak pengalaman, takut mati. Heu
  2. Di Indonesia ini, ehm, sangat JAUH berbeda dengan di luar negeri. Jadi, jarang ada yang ngejual lovebird di usia muda, karena biasanya orang cari lovebird untuk dilombakan, dicari yang suaranya nyaring dan merdu, biar harganya bisa tinggi. Bla bla.

Oke out of topic dikit, saya mau cerita soal lovebird dari hasil gugling.

Di negara bule-bule itu, lovebird, (seperti juga anjing, kucing dan pets lainnya) dijadikan anggota keluarga. Disayang, dperlakukan sama dengan keluarga, berbagi ruang rumah dan ruang hati sepenuhnya. Sementara di sini, jadi barang dagangan. Saya gak sembarangan ngomong kok. Bener deh, coba aja gugling soal love bird versi indonesia dengan lovebird versi asing. Hasilnya bedaaaaaa banget.

Web versi indonesia, judulnya akan seputar: “Cara mengembangbiakan lovebird dengan cepat, agar menghasilkan keuntungan besar” atau “Cara mengisi suara lovebird” atau”Lovebird gacor? Gampang!” dan sebagainya.

Sementara web bule, judulnya “Siapkah anda memelihara lovebird sebagai anggota keluarga?” atau “Kepribadian Lovebird dan cara menciptakan bonding” dan sebagainya.

Coba aja nonton video2 di youtube. Breeder lovebird di luar negeri, akan menyediakan ruang khusus, dengan kandang besar penuh mainan dan terbuka. Jadi burung-burungnya bebas keluar masuk dengan nyaman. Sementara di kita, harus punya kandang dengan ukuran super kecil yang efisien, jadi modal kecil hasil besar. Ah, ya gitudeh.

Maka, kalo berminat memelihara lovebird sebagai anggota keluarga, gak akan dapet banyak info dari web lokal. Siap-siap buka kamus aja buat berbagai istilah asing soal unggas, hahaha..

Nah, kembali ke fiona. Awalnya, saya juga dibilangin sama mas-mas di Galaxy bird shop itu tips2 dan berbagai obat vitamin yang isinya kimia2 semua itu biar burungnya ngekek, gacor, atau cepet kawin, dan sebagainya. Jadi saya harus menjelaskan ke dia, bahwa saya gak akan mau melombakan Fiona. Saya mau dia jadi anggota keluarga.

Untungnya si Mas Uji itu orangnya pengertian. Btw itu adalah satu-satunya toko burung yang bikin saya betah berlama-lama, karena bersih dan teratur. Mas Uji ini orangnya sayang banget sama burung. Jadi dia ngurusin semua burung itu dengan optimal. Makanya pas saya bilang gitu, dia langsung kasih ide bikinin mainan, dan ngasih jenis makanan yang enak (tapi bukan favorit breeder karena aga mahal dan bikin burung gendut jadi males nyanyi).

Tadinya niat awal saya memang Cuma mau melihara satu aja. Punya pembantu atau gak, tiap hari saya yang bersihin kandang dan ganti panganannya. Saya sengaja kasih makan Fiona dari tangan saya, biar bonding cepat terbentuk. Awalnya, tentu saja dipatokin sampe pedih-pedih. Lama kelamaan, dia bahkan bisa bertengger akrab di tangan. Sayang, belom sampe rela mau diajak keluar.

Niat awal itu akhirnya berubah karena Abib semakin besar. Saya mulai merasa kewalahan kalo harus membagi begitu banyak perhatian. Sebab Abib butuh 50 pesen, sisanya harus dibagi dengan poe, empat kucing, diri saya sendiri, rumah, dan tanaman-tanaman. Nahlo!

Hahaha..akhirnya saya memutuskan untuk mencari teman buat Fiona. Setidaknya, saat saya kewalahan, dia gak sendirian. Lagipula, ada juga kok dalam hati keinginan belajar membiakan burung. Bukan sih, bukan buat bisnis, niatnya malah mau saya bagi2kan. Tapi saya seumur hidup belum pernah secara live, melihat burung kawin, menyiapkan sarang, bertelur, telur menetas dan rangkaian proses keberlangsungan hidupnya.

Saya kepengen belajar. Hehe..seperti saya bilang kan, passion saya memang ada di hewan kok dari kecil.

Akhirnya, datanglah Mario. Tadinya mau dikasih nama loki sama suami saya, iya, loki adik angkatnya Thor yang jahat itu. kata Poe, ‘Loki itu kan super cerdas dan licin’ tapi saya gak setuju. Cerdas sih cerdas, tapi Loki kan jahat. Hehe..saya percaya, nama itu doa, meskipun buat binatang. So, jadilah Mario. Cocok kan? Mario dan Fiona.

IMG_6107

**

Setelah sekitar lima bulan, mereka mulai menunjukan gelagat-gelagat jatuh cinta.

photo (12)

Akhirnya, saya menyiapkan diri dengan ilmu-ilmu dari buku, internet dan film. Kemudian menyiapkan mental. Yak, mari kita jodohkan mereka.

Terhitung sampai hari ini, berarti sudah lima hari mereka berbagi kandang.

IMG_7506

 

(Kandang mereka berdua, sekarang)

Terbukti sih memang kalo mereka sudah lama jatuh cinta, haha. Karena, biasanya lovebird yang dijodohkan akan berantem dulu, baru kemudiankawin. Sementara Mario dan Fiona gak pake berantem, langsung suap-suapan. Hahaha..

IMG_7526

 

(Suap-suapan)

Saya sendiri belom pernah sukses liat kawinnya, tapi sejak dikandangkan bareng, dua hari pertama, sampe jam tiga pagi mereka masih aja ribut gusel-guselan berdua. Err..setelah dua hari itu, frekuwensi berisik gusel2an itu berganti dengan Mario yang sibuk mindahin jerami dari kandang ke dalam ‘gua’ untuk bertelur dan mengerami telur. Haha..romantis deh, jadi, sebelum si betina bertelur, Jantan akan menyiapkan dulu jerami dan rumah yang nyaman untuk si betina nantinya.

IMG_7503

Sebab, Fiona akan mengerami telurnya selama 21 hari kan. Lumayan juga tuh lelahnya. Duh lucu deh liat mereka berdua. Tidur berdua saling menyender, makan berdua, mandi berdua. So sweet..

Setiap pagi sampai sore, Mario sibuuuk bolak balik kandang dan Gua dalam kandang. Sementara Fiona nyuapin. Ini romantis sih. Karena saya Cuma tau mamalia rumahan macam kucing yang boro-boro kerjasama. Abis kawin seminggu, jantannya pergi aja gitu. Kadang malah kawin lagi di depan si betina. Sementara si betina harus sibuk hamil, nyari tempat beranak yang gelap dan sepi, kemudian mengejan melahirkan lalu mengurus anak-anaknya sampai bisa jalan, SENDIRIAN.

Gak heran deh namanya Lovebird. Hehe..

Ngeliatin mereka lima hari ini jadi bikin saya terharu. Karena inget suami saya yang kelakuannya sama persis Mario, waktu saya hamil. Selalu ada, selalu mau bantuin saya, selalu siap, bahkan bikinin saya juice, masakan sehat dan ngebalurin punggung saya yang pegel akut tiap hari.

Sungguh cara yang unik dari Tuhan, untuk mengingatkan saya agar bersyukur. Bahwa saya diberikan seorang suami yang baik dan selalu ada. *tersipuMalu*

Aww…hehehe..

IMG_7494

 

(Foto ini saya jepret jam 2 pagi, dan mereka lagi tidur berdua, saling menyender. Itu Mario kalo tidur emang ngumpetin muka di ketek..hehe )