Monthly Archives: August 2010

Memaksa Anda Ikut Senyum Bareng Saya

Standard

Since the moment I spotted you,
Like walking round with little wings on my shoes
My stomach’s filled with the butterflies…

ooo and it’s alright
Bouncing round from cloud to cloud
I got the feeling like I’m never going to come down
If I said I didn’t like it then you know I’d lied
ooo….

Everytime I try to talk to you
I get tongue-tied
Turns out that everything I say to you
Comes out wrong and never comes out right

So I’ll say ‘why don’t you and I get together and take on the world
and be together forever
Heads we will and tails we’ll try again’
So I say ‘why don’t you and I hold each other and fly to the moon
and straight on to heaven
Cause without you they’re never going to let me in’

When’s this fever going to break?
I think I’ve handled more than any man can take
I’m like a love-sick puppy chasing you around
ooo and it’s alright
Bouncing round from cloud to cloud
I got the feeling like I’m never going to come down
If said I didn’t like it then you know I’d lied

And slowly I begin to realize this is never gonna end
Right about the same time you walk by
And I say ‘Oh here we go again, oh’
itu lagu. Judulnya why don’t you and I. Lagu yang dinyanyiin sama chad Krueger barengan sama cabikan gitar Santana.

Lagu lama kok..tapi liriknya ga nahan ya? Bisa sih dia kepikiran bikin kata2. “So I say ‘why don’t you and I hold each other and fly to the moon and straight on to heaven
Cause without you they’re never going to let me in”

Akhirnya jadi saya paksa si Chad nyanyi terus hari ini, sambil nemenin saya senyam senyum di tengah paksaan kerjaan. Ya senyam senyum karena satu alasan, dan ditambah lagu si Chad yang makin memaksa buat bikin bibir saya ga bisa nahan senyum.

Yaudahlah, sebelum saya memaksa orang yang baca ini jadi ikutan gak keruan kaya saya, sebaiknya sudah dulu deh tulisan gak penting ini.

Cuma mau memaksa supaya semua orang ikut senyam senyum kaya saya aja kok.

Senyum itu, percaya deh, nikmat…

Kejar Passion di Sebuah Ajang Harian…

Gallery

Me, Zero, Smashing

Gallery

Siapa mau hamiiil???

Gallery

Cinta Tanpa Reserve…

Gallery

Cukup Daikiber…

Image

Suara gelak tawa riang terdengar bingar dari sebuah kedai kopi di plaza oakwood, mega kuningan. Ada 7 orang duduk melingkar di salah satu mejanya….

5 orang nya adalah para lelaki, sobat akrab, yang menemani saya tumbuh dari masa benar-benar ABG ke jenjang agak lebih dewasa sedikit, 2 orang lainnya adalah saya dan suami saya yang menyenangkan sehingga tidak mengganggu pertemuan yang dilakukan sampai larut malam itu.

Daikiber.

Begitu kami sebut geng kami.

Sebenarnya “anggota” daikiber ada 13 orang. Saya, ridwan hakim amanudin, teddy maulana tiwar, ismaniar putri bahrumsyah, hilal salim al bakry, fauzan zidni surapranata, iman kusumaardika, nurrahman adi jarman, abdurrahim saleh “alex” pane, maulana, dani, ahmad al abid al alim, dan zuhal hud. Hehehe,,,

Lucu, karena kita masih bisa ngumpul dan ngobrol layaknya anak SMA. Padahal, keadaannya udah jauh berbeda. Sekarang semua sudah lulus kuliah dan masuk ke dunia kerja, bahkan kebanyakan udah menikah, dan ada yang sudah bercerai. Hehe..

…..

Semuanya dimulai dari sekitar tahun 2001, waktu saya kelas 2 SMA akhir menjelang kelas 3. saya, ridwan, teddy, hilal, niar, adi, alex dan zuhal duduk di satu angkatan yang sama di sebuah sekolah terpencil, tidak terkenal, dan punya peraturan yang galaknya bukan main. Terutama menyangkut keagamaan. Namanya juga sekolah islam, based nya jelas pesantren. Jadi, konsepnya pesantren yang belaga sekolah biasa karena letaknya gak di balik gunung. (meskipun tetap nyempil di depok)

Malahan, kita ber-7 ini angkatan pertama sekolah yang namanya lebih dikenal sebagai bimbingan belajar itu. Iya, itu loh..bimbel yang ngewajibin muridnya pake kerudung dan duduknya antara laki2 dan perempuan dipisah. Hehe,, kebanyakan dari kita ga pengen masuk kesitu tapi terpaksa karena berbagai alesan yang sutralah gak usah diceritain.  Sementara si zidni duduk di angkatan 2, dan abid di angkatan 3. Iman, pernah juga bersekolah di bawah naungan yayasan SMA kita itu, tapi Cuma SD dan SMP. Habis itu dia menyerah, dan cabut ke SMA negeri. Gitu juga dengan maul. Sedangkan dani, sejak awal emang ga pernah satu sekolah dan dia duduk di kelas 2 SMP waktu saya duduk di kelas 2 SMA. Tapi, kita jadi kenal dia karena rumahnya sebelahan sama hilal, dan itu bikin dia sering ikutan main ke rumah abid.

Hmm..rumah abid?

Hehe..itu dia base camp kita. Rumahnya bukan rumah mewah nan besar dan megah. Rumah nomor 45 itu, biasa aja dan cenderung kurang rapi karena isi keluarganya abid cowok semua. tapi, letaknya dekaaaat sekali dari sekolah jadi kita gampang menjangkaunya, dan selalu kosong. Pagi, siang, sore, malem, ya isinya kita2 aja. Keluarganya kegusur.

Tentu saja diawali dengan rasa males ada di sekolah, seperti layaknya ababil. Kita sering banget cabut, seringan cabutnya daripada masuknya. Atau kadang-kadang istirahat makan siang, kita langsung kabur ke rumah abid dan nongkrong aja disitu sampe malem. Ga ada juga yang dikerjain. Ngobrol, ngakak2, cela-celaan, main2 gitar sambil nyanyi2, nonton, dengerin musik, makan, tidur, main kartu. Kalo udah bosen, kita tinggal cabut naik hardtop gagahnya ridwan cari tempat serem, ngeband, ato ngemall.

Semacam gejala remaja tidak produktif-lah.

Mungkin itu sebabnya, sekarang di 2010, kita semua berubah jadi orang2 bertubuh sintal cenderung gembrot, kecuali adi.

Nah, suatu hari, si abid beli sebuah buku tulis yang ukurannga agak besar dan pake spiral item di pinggirannya. Notebook gitu. Hilal, si master kurang kerjaan cabut sndirian dan langsung masuk ke rumah 45. (emang ga pernah dikunci) karena dia bingung mau ngapain, akhirnya dia coret2 lah itu buku dengan tulisan tangan jeleknya dan kata2 yang ga ada maknanya.

Sorenya, saat kita semua udah ngumpul, si empunya buku ngeliat tulisan hilal di buku dia dan malah nambahin coret2an. Gak lama, tu buku udah penuh sama tulisan2. Ada yang curhat, nulisin lagu, bikin puisi, maki-maki, gambar2 jelek, dan nulis2 aja gak keruan. Pernah inget di masa itu, ada sebutan cekiber (cewek kita bersma) atau cokiber (cowok kita bersama) karena cewe/cowo itu sungguh aduhai dan jadi rebutan se geng?

Sebutan kiber-kiber itu akhirnya dideklarasikan buat buku tulis yang tadinya kepunyaan abid.

Daikiber, diary kita bersama.

Haha sungguh gak banget yah karena 11 dari anak daikiber itu LAKI-LAKI!!

Well, sebenernya yang suka ikutan nongkrong di rumah 45 gak Cuma kita bertiga belas. Msh banyaak anak2 lain. Tapi mereka datang dan pergi. Sementara kita disitu mulu *sangking ga produktifnya*

Dan sebenernya zuhal, adi, dani juga ga pernah nulisin sepatah katapun di daikiber. Baca aja jarang. Tapi mereka tau persis isi daikiber itu.

Dari situ, kita terus temenan.

Sampe akhirnya lulus. Satu persatu meninggalkan Jakarta. Saya ke bandung, hilal ke Australia, iman ke jerman, teddy ke jogja, ridwan ke inggris, zuhal dan alex ke Malaysia, zidni di UI trus ke singapura, maul di lembang, yang stay di Jakarta tinggal niar, adi, abid, dani. Ini bikin kita mencar2 gak keruan. Setahun pertama pisah2, kalau musim liburan kita masih sering kumpul. Tapi tahun kedua dan selanjutnya, Cuma email, sms, ym aja.  Akhirnya kita pun agak terpecah dan pecahan2 itu bikin kelompok2 sendiri dengan orang lain.

Di 2009, akhirnya kita mulai coba lagi kumpul. Dan ternyata cukup berhasil…

Banyak banget perubahan yang udah terjadi sekarang. Diluar geng, kita bisa jadi orang yang benar2 serius, orang yang dewasa, orang yang cerdas, sensitive, sopan, lihai dan pandai. Tapi anehnya, kalo udah ngumpul dan ngobrol bareng, udah aja. Gak ada lagi itu manis2. Mau dimanapun duduknya, kita bakal angkat kaki ke kursi. Ngakak sekenceng2nya dan nyela2 sekejam2nya, tanpa ada yang ngerasa terseinggung. Jadi saat awal2 ngumpul, setelah lama gak ngumpul, canggung yang terjadi Cuma 10 menit pertama. Setelah itu, kita berubah lagi jadi bocah sma yang bau matahari.

makanya, setelah itu kita juga bikin BLOG buat gantiin daikiber… meskipun sekarang udah ga pernah diisi lagi juga sih. hehehe

….

Rasanya selalu senang setiap habis ketemu. Seperti mencharge ulang baterei yang mulai soak.

Apalagi sekarang teknologi udah maju, ada blackberry yang bisa bikin kita terus ngobrol 24/7 di bbm group, dan ngapus kangen susahnya ketemu selama beberapa tahun

Mengisi bolong2 yang kita gak tau, selama masa gak ketemu itu.

Seperti hadiah yang Tuhan lemparkan ke pangkuan. Sahabat. Kata orang, menemukan sahabat itu gak mudah. Seperti nyari jarum di tumpukan jerami. Harus sabar, teliti, dan jeli, tapi bukan gak mungkin. Karena sahabat itu pasti adalah orang yang bisa dipercaya, orang yang mau membalas sayang yang kita kasih dengan jumlah yang sama bahkan lebih besar,  dan rasanya ada 1.000 lagi syarat untuk jadi sahabat yang baik.

Daikiber, itu sahabat2 saya. Sudah itu, cukup.