Category Archives: Uncategorized

AYO IBU, KITA MAJU JAGA BUMI! (Jadi bagian dari Peri Bumi)

Image

Nama saya Yasmina.

Saya bukan siapa2 dan bukan anaknya siapa-siapa..

Saya bukan artis, bukan pejabat, bukan pengusaha kaya, bukan dokter, bukan psikolog.

Saya adalah ibu. Dari 2 orang anak, yang saya cintai sepenuh hati.

**

Saya inget banget, dulu waktu saya remaja, saya pernah ngomel balik ke mama yang lagi cerewet ngingetin ini itu, bawelin ini itu.

Saya bilang “Mama bisa berhenti gak sih bawel? Iya aku ngerti kok harus ini itu”

Mama menatap saya dalam dan bilang “ENGGAK. MAMA GAK AKAN BERHENTI! mama mencintai kamu, maka mama melakukan ini semua. Kamu sekarang belom paham, tapi suatu hari nanti kamu pasti tau, ibu mencintai anak2nya bahkan lebih dari dirinya sendiri. Makanya sibuk mikirin masa depan anaknya, sibuk mikirin apa aja yang layak untuk anaknya..”

**

Sekarang, mama udah gak ada. Meninggalkan saya dengan 2 anak, pre-teen dan toddler yang harus saya peluk tubuh dan jiwanya dalam satu waktu.

Kalau mama masih ada, saya akan cium dan peluk dia lalu meminta maaf karena dulu suka ngelawan dan ngebantah. Saya pengen sekali bilang “Oh ternyata gini ya rasanya, jadi ibu…”

Iya, ternyata gini rasanya jadi ibu. Mencintai sepenuh hati dan berupaya sekuat tenaga untuk melakukan segalanya agar masa depan anak-anaknya aman.

Saya enggak akan pernah belajar soal manusia, soal otak, mendirikan tempat Pendidikan anak dan membangun komunitas pengasuhan, kalau Tuhan tidak mengizinkan saya menjadi ibu. Saya belajar banyak hal setelah menjadi ibu. Saya belajar soal pengasuhan, pendidikan hingga belajar merawat yg ada, termasuk bumi, agar anak-anak saya kelak tinggal di tempat yg layak..

**

Menjadi ibu adalah sebuah pilihan yg membuat kita rela terus berjalan tanpa henti, mencari cara untuk menyiapkan segalanya demi anak-anak. Ini yang membuat kita Jadi lebih kuat, lebih smart dan lebih hebat.

Berbanggalah ibu. Kita adalah garda terdepan yang menjaga masa depan anak-anak. Makanya mari kita bergandengan, berjalan beriringan. Menjaga anak-anak artinya menjaga lingkungannya, artinya menjaga anak-anak lain juga layaknya anak-anak kita. Menjaga anak-anak pun artinya menjaga tempat tinggalnya, bumi, sehingga masih layak ditempati hingga ia dewasa nanti.

Menjaga anak-anak artinya belajar dan berusaha lebih keras, merapatkan barisan dan ayok kita lakukan yang terbaik.

Karena kita adalah ibu. Menjadi ibu adalah pilihan yang membuat kita jadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Menjadi ibu, artinya menjadi tempat bermula sebuah kehidupan baru dan itu pekerjaan luar biasa.

Apalagi bekalnya cuma satu; cinta.

**

Modal ini (tentu selain modal duit yang gimana juga diusahakan itu), adalah bekal saya maju terus. Enggak kok, ini ujungnya bukan nyaleg, bukan. Yang kaya Yasmina gak bakat nyaleg.

Saya resah. Kalau kamu yang udah ngikutin blog saya dari dulu pasti tau, keresahan-keresahan saya yang terus menerus diulang:

  • Kesejahteraan anak
  • Keasrian lingkungan
  • Kesetaraan gender

Dari jaman saya masih jadi jurnalis, sampe sekarang, isu terpenting yang selalu nyangkut di kepala saya adalah 3 hal itu. Saya selalu tertarik sama dunia anak-anak, saya selalu kepengen melakukan sesuatu untuk bumi, dan saya merasa gender dibuat Tuhan untuk setara. Bukan sama, tapi setara.

**

Untuk menjadi bagian dari solusi, saya percaya kunci utamanya berawal dari rumah; keluarga. Semua diawali dari bagaimana kita semua diasuh dan dididik di rumah. Karena kita semua dulunya sama-sama menggulung nyaman di dalam perut seorang…IBU.

Eits, jangan ngegas dulu. Ini bukan artinya bahwa semua jadi tanggung jawab ibu dan mengesampingkan peran bapak. Justru ini artinya, ibu, peran yang dianggap kecil karena hanya beberes rumah, masak, jajan di tukang sayur itu adalah peran yang terpenting. Membesarkan manusia itu bukan hal kecil, lho.

**

Berbekal keyakinan bahwa peran ibu yang gak mungkin gak bawel di rumah, dan rasa cinta ibu ke anak-anaknya yang tak kan bisa ditandingi siapapun itu, maka saya menggagas sebuah Gerakan yang kami di parenting is easy namai: PERI BUMI.

Bumi kita Cuma satu. Kalo kata Greta, there’s no planet B, bla bla bla..

Kalau dipikir-pikir, logis deh. Orang tua sibuk mempersiapkan masa depan anak dan mendukung penuh cita-citanya. Jadi dokter, jadi psikolog, jadi pejabat, jadi pengusaha, sampe jadi artis. Lah kalo diterjang banjir, ledakan gas metan sampah, kebakaran hutan, angin topan, gempa bumi, tsunami, trus sekolah tinggi-tinggi tuh buat apa? Buat menjemput maut?

Bumi kita enggak baik-baik aja, lho. Dan itu karena manusia, bukan mahluk hidup lain.

**
Saya sering denger ejekan di sana sini, ya emang pemerintah juga regulasinya gak ramah lingkungan sih. Atau, ya manusia juga tamak sih, enggak kenyang-kenyang. Atau, males ribet —a.k.a not in my backyard phenomenon. Saya tetap percaya, kita semua dasarnya baik. Kita semua bisa tumbuh kembang sampe usia dewasa ini karena attachment dan koneksi.

Jadi daripada ngejek, mending ngajak—kalo kata Denia, cleanomic.

Saya percaya, semua harus dimulai dari tahu. Kalo kata Nia Umar, skemanya ; tau, mau, mampu. Itu dulu deh bekalnya. Maka, hal pertama yang kami lakukan adalah; edukasi.

Iya, mengajak ibu-ibu untuk belajar, supaya tau. Bahwa yang gak keliatan di halaman rumah kita itu, bukan berarti gak kejadian. Coba deh penasaraaaan aja dulu, kemana sih perginya bungkus ciki, mangkok Styrofoam abis jajan mi ayam, gelas dan sedotan plastik boba yang kita beli dan buang di tempat sampah dalam damai itu?

**

Ke TPA, TPS ditumpuk gak keruan ngotorin udara dan air tanah, ke laut, ke sungai, ke mana-mana. Indonesia bukan lagi paru-paru dunia, tapi tempat sampah dunia. Soalnya Amerika juga buang sampahnya ke Indonesia, ditumpuk tuh begitu aja nyampur-nyampur gak keruan.

Pemerintah dan regulasinya SANGAT PENTING. Tapi memulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar juga penting, lho. Kalau kepingin ada perubahan menuju arah yang lebih baik, maka hal pertama yang harus dilakukan tentu; mulai.

**

Di PERI BUMI ada 3 kegiatan yang kami usahakan bisa dimulai dan berlangsung secara sustain, mulai 2022:

  1. Pemilihan 50 orang duta ibu yang akan mengikuti rangkaian kelas terkait pengasuhan dan waste management
  2. Konten Pendidikan untuk anak-anak baik yang bisa dipergunakan di sekolah maupun di rumah
  3. Memberikan pelatihan kepada mereka yang paling terdampak; Geng TPST Bantar Gebang. Ke pengurus Yayasan atau sanggar Pendidikan anak yang ada disana.

Basicnya adalah karena kami di ROOTS LEARNING CENTER sudah mengaplikasikan connection-based curriculum, yang meyakini bahwa tahapan Pendidikan awal seorang manusia itu mulai dari 3 hal: makan, tidur, toileting.

Lah apaan sih? Apa hubungannya sama zero-waste living?

Kaitannya adalah conscious, alias mindful. Iya, jadi Pendidikan anak itu seperti bangunan rumah. Ada pondasi, ada bangunan dan ada atap. Pondasinya, di usia bayi hingga pra-sekolah: makan, tidur, toileting.

**

Tau gak bedanya habit dan ritual?

Habit itu adalah sesuatu yang dilakukan otomatis aja, tidak bermakna karena ya dilakukan aja setiap hari. Sementara ritual itu adalah sesuatu yang conscious. Dilakukan dengan sadar dan ada tujuannya.

Kebayang gak kalau hal-hal yang dianggap sederhana seperti makan, tidur dan toileting dilakukan sebagai habit. Yaudah laper makan, ngantuk tidur, buang air. Apa istimewanya?

Coba kalau dilakukan dengan berkesadaran.

Oke udah jam 8.30 nih, aku harus siap-siap tidur. Beresin dulu deh kerjaan, sikat gigi dulu deh, ganti baju, bersih-bersih, wudhu, baca buku, baca do’a. Jadi jam 9 sudah bisa merem.

Atau

Wah udah jam 11.45 nih, oke siap-siap deh rapiin dulu meja kerja, siapin checklist buat nanti, cuci tangan dulu, siapin minum biar jam 12 makan. Oh apa nih makanannya? Wah ada pepes ayam, sayur bayam. Ambil nasi secukupnya deh, jangan terlalu kenyang nanti ngantuk. Ambil satu aja pepesnya cukup kok, kasian nanti yang lain gak kebagian..

Iyak, MINDFUL.

Tau kapan lapar, kapan kenyang. Tau kebutuhan diri sendiri. Kenal sama diri sendiri. Ngeh sama badannya. Ini akan membiasakan kita menilai segala sesuatu gak membabi buta. Gak akan kalap sama diskon yang sebenernya gak diskon, gak akan kalap ngambil makan sebanyak-banyaknya mumpung di kondangan tapi trus gak abis, gak akan terus-terusan nontonin serial sampe pagi karena keasyikan…

Endingnya? Badan jadi lebih sehat, kantong juga, buminya juga. Kebayang kan kalau kita enggak harus FOMO orang ngapain kita ikutan, trus segala barang atau makanan dibeli padahal gak dipake ujung2nya jadi sampah. Ah kalo dijelasin mah panjang.

Tapi kebiasaan ini tentu akan mengarah ke hidup yang zero waste karena gak berlebihan, maka gak banyak nyampah. Tau kapan berhenti, tau rasa cukup.

Akhirnya banyak waktu untuk refleksi dan menjalin koneksi dengan diri sendiri, dengan orang lain bahkan dengan ibu bumi tersayang…

**

Kurikulum ini kami namakan roots of growth, dan ini landasan utama yang akan kami berikan di pelatihan pengasuhan PERI BUMI.

Harapannya semoga 50 orang duta ibu ini bisa melakukannya di rumah, bahkan menyebarkannya ke lingkungan sekitar bahkan membuat sesuatu sebagai output dari pelatihan ini.

Kalau saya sih percaya. Terserah deh orang mau ngeledekin, ngetawain dan bilang misinya terlalu ambisius. Gak apa. Saya tetep akan maju.

Karena saya percaya, semua harus dimulai dari hal yang paling kecil; diri sendiri. Kalau keyakinan ini dilakukan oleh ibu, seenggaknya sudah ada 3 atau 4 manusia lain yang akan otomatis ngikut.

**

Percayalah, sejak saya kecil, ibu saya yang lebih ambisius itu sudah membekali kami dengan Tupperware akordeon dan tempat minum lipat kemanapun kami pergi. Lengkap dengan totebag lucu-lucu.

“Jangan pake plastik, jangan nyampur sampah, jalan kaki aja kurangin naik mobil, decluttering rumah jadi gak ada barang gak kepake yang ujung2nya jadi sampah, bikin menu biar gak ada makanan kebuang, rapihin bahan makanan di kulkas, simpen botol plastik atau gelas-gelas sekali pake nanti mamah jadiin tempat semai bibit….”

Kalau ada kesempatan jalan-jalan, kami pasti diajak ke laut, ke gunung, ke hutan, lalu dijejali dengan doktrin “Disayang ya, biar kamu masih bisa lihat pemandangan seperti ini kelak..”

Pesan-pesan dan contoh itu yang membawa saya sampai disini, hari ini.

Jadi saya sih percaya banget bahwa ibu punya peranan maha penting, karena saya udah mengalami jadi anak ibu Tita yang conscious. Gimana? Mau coba? YUK!

Ikut dan jadi bagian dari movement PERI BUMI. Cuss http://parentingiseasy.id

Trauma dan mengenali diri sendiri

Image

Sebulan belakangan, sepertinya saya lagi dikasih bonus sama Allah untuk semakin dekat sama diri sendiri, semakin mengenal diri sendiri dan memahami banyak hal yang terjadi dalam hidup

Iya, dikasih banyak trigger, yang saya yakin; BUKAN KEBETULAN.

  1. Series MAID
  2. The Wisdom of Trauma summit
  3. Nemenin anak-anak di kantor melewati banyak hal berat yang dialami di saat ini.
  4. Menyelesaikan bukunya dr Bruce Perry dan Oprah; What happened to you?

Semua ini nyenggol-nyenggol terus luka lama saya, dan sekarang bisa tiba-tiba menangis gak tau kenapa, susah tidur, dan sesak nafas. Sampe akhirnya saya sadar, haha, ini mah gue ke-trigger.

**

Jaman SMA, saya dan sahabat saya sering ngobrol dalem di perjalanan pergi-pulang sekolah, tentang hal-hal yang terjadi sama hidup kami. Hingga akhirnya kami berkesimpulan bahwa, sebetulnya yang kami alami adalah hal yang cukup berat dan traumatis. Maka kami berjanji, untuk memutus lingkaran setan ini di kami.

Jika kelak kami punya anak, kami akan belajar lebih keras untuk mampu menjadi orang tua yang memahami dengan benar cara mengasuh anak dan mengasuh emosi diri sendiri. Kami berikrar, tidak akan melakukan lagi hal-hal yang orang tua kami lakukan, tentu tanpa menyalahkan mereka kok. Kami berdua sedang mencari solusi. Hehehe..(you know who you are)

**

Nah, Ketika punya anak, saya sering kesenggol. Sering banget ke-trigger sama perilaku Abib yang ekspresif. Saya sadar, ini bukan saya, ini burden saya yang bicara. Saya nyoba belajar, ngobrol sama psikolog anak, play therapy Abib biar saya bisa ikut belajar.

Hingga akhirnya saya sadar, ini bukan Abib. Ini saya. Maka, sebelum pandemi, saya sudah sekitar 2 tahun rutin main ke sanatorium dharmawangsa ketemu mbak psikolog kesayangan. Saya gak mau kejadian yang dulu saya alami, harus dialami anak saya. Saya gak mau membesarkan dia dengan amarah dan luka-luka masa lalu yang belum sembuh.

Sayangnya, pandemi ini bikin saya harus survive tanpa curhat di tempat yang tepat. Sudah mau 2 tahun, dan kadang saya irritate dan exhausted. Saya tau saya gak harus Kembali ke safe place, saya harus breath in and out, saya harus reflection, saya paham setiap step, tapi ya Namanya manusia, kadang ketelepasan juga.

**

Trauma itu hal besar. Sesuatu yg bisa tiba2 bikin kita ga bisa nafas, ketika ke trigger. Sesuatu yg bs bikin shaking seluruh badan, ketika keinget. Sesuatu yang diam terperangkap di dalam diri dan enggak pernah diizinkan keluar.

GAK BISA DISINGKIRIN begitu aja, gak bisa dilupain, karena dia ada terus di kepala gak ilang. Dia kadang ga bisa diinget, tapi kalo ke trigger, saya bisa nangis marah takut demam sesak gak keruan secara berbarengan.

Nah ini terjadi di setiap episode Ketika nonton MAID. Awalnya saya nonton maid itu karena produsernya sama dengan produser series kegemaran saya dari 10 tahun lalu; shameless. Kirain ceritanya akan dodol kaya shameless, ternyata ya GUSTI ini mah trigger kelas dewa. Habis2an saya nontonnya. Sampe klik judulnya aja saya gemeter…

Apalagi episode 5, saya gemetar, nangis dan ga bisa bergerak. Ketakutan, kaya semuanya gelap dan saya harus jalan di Lorong yang sempit banget. Sesak dan demam seketika. Ngeri.

This series pull my trigger. In a Hard way.

**

Tapi maid bukan pembuka bulan reflection ini, justru semuanya berawal dari buku What happened to you yang lamaaaaaaaaaaa banget saya bacanya, karena membaca buku ini dari halaman ke halaman bikin saya lemes.

Iya, ke trigger.

Soalnya cerita yang dibahas miriiiip banget sama cerita saya. Rasa yang dibahas persis banget sama rasa yang saya alami. Jadi rasanya kaya membaca buku tentang saya. Jangan ditanya gimana, karena saya baca 3 halaman trus tutup. Gak mau lanjut. Gak kuat.

Ya tapi saya biarin kok saya gak kuat, yaudah gak dipaksa. Enggak disuruh jadi YASMINA YANG KUAT, kaya biasanya. Gak dibikin harus jadi jagoan terus. Kalo gak kuat, ya udah gapapa.

Eh berbarengan dengan menyelesaikan buku itu, ada beberapa kejadian di kantor.

Ada anak kantor yang burn out, ada yang ke-trigger satu kejadian, ada yang stress berat, dan semuanya cerita ke saya. Emang nasib aja sih dari dulu saya kan emang tempat orang cerita, jadi saya dengerin dan saya temenin.

Sayangnya, saya adalah manusia yang very sensitive. Saya bukan sekadar bisa merasakan luka dan duka orang, saya absorb semuanya. Jadi saya sempet melewati 1 minggu kabur2an terus dari kerjaan yang harus diselesaikan, procrastinating dan enggak mau mikir. Saya tidur jam 9 malam dan bangun pagi bengong 1 jam…

Banyak hal yang dicurhatin itu men-trigger memori, yang sebenernya saya juga gak inget persis ya memori yang mana. Tapi semuanya bertubrukan dari buku bruce perry dan tumpukan curhat.

**

Tapi bukan Yasmina Namanya kalo gak terus2an ngegesek dirinya sendiri. Heu. Saya emang seneng banget nyakitin diri sendiri, ngasih beban yang terlalu berat ke diri sendiri.

Saya nonton deh tuh series MAID. Alhamdulillah closingnya sih cakep ya, nonton film The wisdom of trauma. Oh tentu banjir air mata dan bikin sesenggukan gak karuan. Tapi saya jadi sadar banyak banget hal.

Selama ini, saya menyimpan trauma di dalam diri dan selalu diajarkan untuk menjadi KUAT. Untuk menahan marah, merepress emosi dan membiasakan diri untuk tidak merasakan apapun.

Enggak pernah ada yang mengajarkan saya untuk vulnerable, untuk embrace semua emosi yang muncul dan memahami apa itu lalu harusnya gimana, enggak pernah ada yang ngasitau bahwa kalau saya enggak meregulasi maka saya akan disconnected dengan diri sendiri.

**

Iya berhasil sekali yang ditanamkan ke saya: MENJADI KUAT. Kadang saya jadi terlalu kuat, dan bahkan sampe enggak bisa merasakan apa2.

Kejadian paling dekat belakangan ini; ada benjolan di bawah dagu saya. Lumayan besar segede kelereng. Sudah 3 bulan ada disitu, dan saya mulai kuatir, karena sejarah kanker berulang di keluarga saya. Akhirnya saya periksa ke spesialis onkologi, dan sudah menjalani tes darah, tes hormone dan USG. Hasilnya; bagus semua kecuali CRP.

CRP adalah protein yang diproduksi oleh organ hati sebagai respons terhadap peradangan di tubuh. Jadi yang akhirnya ditanya dokternya adalah “Giginya aman?”

Saya rutin sih cek ke dokter gigi 3 bulan sekali, tapi emang sejak PPKM jadi tertunda. Nah tapi Ketika dokter nanya, saya enggak kenapa-kenapa giginya. Saya gak ngerasain apa-apa. Jadi saya yakin banget, bukan gigi.

Pekan depannya saya akhirnya kontrol gigi karena penasaran, hasilnya? Iya lubang di gigi paling belakang dan harus perawatan saluran akar. Tapi saya gak ngerasain apa2.

Kebayang gak?

IYA SAYA GAK BISA NGERASAIN SAKIT. Itu masalah banget ternyata. Dulu, saya pernah ngalamin dicakar kucing sampe giginya nyangkut di jari saya dan seluruh kakinya nyakarin tangan saya dalem banget lukanya sampe sekarang ga ilang.

Dan saya tenang aja, saya bersihin pake air, lalu saya siram alcohol, trus saya lap kering pake kassa. Semua teman2 kosan menatap saya dengan wajah kaya ngeliat setan. Tapi ya gitu, saya gak bisa ngerasain sakit.

Habis nonton dr Gabor Mate, saya baru tau bahwa itu cara tubuh saya untuk survive agar gak ngerasain sakitnya dulu waktu kecil diapa2in.

**

Trauma is; when the pain is there and there’s no one to share it with. Children get traumatized because they are alone with the hurt..(dr Gabor Mate)

Iya saya sering dicurhatin, dan saya selalu dengerin dengan baik. Tapi saya enggak curhat. Saya ngomoooong tapi biasanya ide dan hal-hal seru kaya filem, buku, atau pengetahuan. Saya enggak suka curhat dan ngomongin luka.

Saya kan jagoan. Saya gak mau terlihat lemah, apalagi nangis di depan orang lain.

Silakan cerita, saya temenin, saya bantuin, saya ada. Tapi ternyata ini ekspresi dari trauma, saya ada buat orang lain tapi gak pernah ada buat diri sendiri. Ya Allah ini nulisnya sambil nangis.

I CARE FOR OTHERS AND ABANDONING MYSELF.

**

Tapi, dr Gabor juga bilang; the depression was a major success, not a failure. Having the pain showed me deeper inside of myself; how I was abandoning myself.

Iya, saya juga ngalamin addiction kok. Eh, addict itu bukan hanya tentang drugs atau alcohol lho. Kalo saya workaholic. Dan hal ini ternyata juga dialami dr Gabor, yang kalo dia sadar bahwa hal itu dilakukannya karena waktu bayi dia ada di tengah holocaust yang terpisah dari orang tua dan situasi perang.

Hal ini menyebabkan otaknya menangkap pesan bahwa ia tidak diinginkan. Akhirnya dia bekerja terus agar dia tau rasanya diinginkan. Ya kan dia dokter kan, tentu bekerja terus menerus akan membuat dia merasa dibutuhkan. That’s highly addictive. Because u get the validation all the time.

**

Aduh ya Allah pokoknya 1,5 jam nonton film ini bikin air mata gak berhenti dan saya sadar bahwa everything on me was a band aid…

Tapi sekarang, saya sudah ada di dalam perjalanan menuju semakin kenal sama diri sendiri, kok. Perjalanannya lumayan panjang, sudah sekitar 11 tahun saya terus on/off berusaha menangani trauma.

Oh enggak sendiri, saya gak pernah sendiri lagi. Ada psikolog saya, ada psikolog Abib, ada teman2, ada suami saya yang sabar, ada kucing, ada reptile.

**

Underneath their traumatized persona, there’s the healthy individual who has never found expression in this life. Every human being has a true, genuine authentic self, and that never be destroyed. 

When we start the journey of being compassionate with ourselves, it changes our community and our society. Ya karena energy of trauma being transformed into the energy of life. Iya akhirnya saya bisa being present. Dan saya jadi bisa bilang…

It feels good to feel.

 **

Oh iya, saya seringkali menyesali, kenapa sih saya punya ingatan yang sangat baik. Mungkin kalau saya pelupa kaya orang-orang semuanya enggak akan terasa seberat ini.

Tapi ternyata enggak ngaruh kok. Karena memorinya mah gak pernah ilang dari kepala, jadi kalau ada trigger, maka reaksi yang dipilih otak diambil dari memori lama itu. Meski kitanya mah gak inget, dan malah gak tau kenapa.

Alhamdulillah berarti bagus dong ya saya punya ingatan yang kuat. Lalu saya inget, iya, dulu saya kelas 1 SD waktu pertama kali mama ngasih diary yang ada gemboknya. Dan saya inget mama selalu bilang “Tuliskan, semua yang terjadi, semua yang terasa, tuliskan…”

Persis seperti serial MAID, rasanya writing saves me. Saya bisa ingat dengan baik karena saya selalu menulis, dan semua tulisan saya, disimpan rapi sampe sekarang. Oh iya, saya masih punya diary pertama saya itu sampe hari ini. Writing is healing, atau setidaknya proses acceptance dan memahami kejadian jadi lebih mudah.

**

Ini dia alasan Yasmina, si yang gak suka2 banget sama anak kecil ini memilih berdiri tegak di dunia Pendidikan anak.

Saya mengalami trauma dan enggak pernah tahu bahwa saya trauma dan harus diselesaikan sebelum melangkah lebih jauh. Saya mengalami trauma entah sejak kapan, dan saya kepengen tidak ada lagi anak-anak yang harus melangkah seberat saya.

Saya tau, bahkan bayi yang nangis dicuekin tiap malam itu aja akhirnya trauma karena dia sedang ketakutan tapi enggak ada yang datang untuk peluk dia. Kebayang gak rasanya, overwhelmed, ketakutan, lalu dibiarkan sendirian?

Orang tua sekarang banyak yang kesulitan mendengarkan guts nya sendiri, karena terdisconnect dengan dirinya. Karena tak lagi mendengarkan rasanya. Karena terbiasa dengan stress dan sebetulnya mengalami trauma yang tak dia sadari.

Iya, ini EPIDEMIK kok. Anxiety, depresi, angka bunuh diri dan adiksi meningkat terus. Saya kepengen jadi bagian dari solusi, saya tau rasanya sendiri, saya tau rasanya tersesat tanpa peta dan sendirian. Saya gak mau anak-anak lain mengalami ini.

**

Mama saya, si hebat sedunia itu, menghabiskan sisa masa pensiunnya hingga sakit dan gak bisa kemana2 itu dengan mengajar di LP CIPINANG.

Mama pernah pesan…

“Penjara itu tempat orang diobati, penting sekali membersamai mereka. Namun inget yas, yang paling penting adalah dunia anak-anak. Berdiri tegak di dunia anak-anak ya, temani mereka. Karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati….”

Siap, bos!

Semoga lingkaran trauma ini bisa benar-benar terputus di saya, seperti mimpi saya dan si sahabat SMA.

Semoga saya bisa membersamai orang tua-orang tua lain untuk berjalan Bersama agar anak-anak kita terhindar dari trauma yang akan terus mengikat kaki dan tangan mereka kelak.

Saya janji, saya gak akan berhenti mengejar mimpi ini.

Bantu Gen Z menemukan makna hidup!

Image

GEN Z adalah generasi break out, generasi yang mudah bosen dan sering pindah kerja. Generasi sosial yang apa2 harus ada purpose-nya. Generasi yang bisa minta cuti karena mentally breakdown. Generasi yang pre-digital native, tapi seringkali kesulitan small talk dan sopan santun.

gen millenial

Siapa sih Gen Z?

Masih banyak lagi statement geng millennial tiap bahas gen z.

Saya sepakat gak sepakat.

First of all, siapa sih gen z? mereka yang lahir antara tahun 1995-2010.

Jadi anak2 saya mah masih masuk gen alpha. Udah digital native banget. Mungkin kelak akan lebih complicated lagi. Hahahaha

Tapi saya sih gak seneng melakukan generalisir ya, soalnya buat saya manusia ya manusia. Siapapun dia, lahir dimana, lahir di tahun berapa, ses nya apa, pendidikannya gimana, ya manusia aja.

Gak mau generalisir

Mungkin emang ada penelitian secara umum mengenai karakter satu generasi yang lahir di tahun yang berdekatan, kaya generalisir zodiac, atau asal daerah. Bisa jadi memang mirip, karena ada kesamaan pembentukan karakter.

Tapi, MBTI aja gak semuanya sama persis. Saya yang INTJ banget ini, kadang muncul perilaku ENFP-nya, kadang ada perilaku2 lainnya juga. Gak bisa dipukul rata, kok.

Bagi saya, pukul rata ini akan mengakibatkan kita jadi fixed mindset. Ngeselin.

“Duh gue gak bisa deh rapi gitu, gue kan sanguine!” atau “Ya ampun, gue kan ENFP banget. Ya gue emang gini!” lah gimana dah ceritanya. Kaya gak gaya belajar aja; duh gue tuh gaya belajarnya visual banget, gak bisa deh gue belajar kalo gak liat visualnya.

No, saya percaya bahwa kita semua divergent.

Otaknya belum beres dibentuk

Nah coba kita bahas dari GEN Z deh. Kalo yang paling tua lahirnya tahun 1995, berarti usia mereka sekarang, yang paling tua aja, baru 26 tahun kan?

Prefrontal cortex—bagian otak yang mengatur executife function, behavior dan personality-nya aja baru terbentuk di usia 25. Itu juga kalo stimulasinya cukup.

Artinya? Ya masih nyari. Hehehehe…apa Anda lupa dulu jaman muda juga alay? Apa lupa kalo dulu sosialisasi nongkrong sana sini jauh lebih penting ketimbang apapun di dunia ini?

Jadi kalau perilakunya masih lompat sana lompat sini, masih galau, overthinking, gak bisa ambil keputusan, meaningless, ya wajaaaar laaah! Emang milestone-nya kan!

OUR BRAIN IS A MEANING MAKING MACHINE

Ketimbang nyela2 dan generalisir, mendingan ngana yang tua mulai ngajak mereka yang masih muda itu untuk menemukan WHY hidupnya!

Sebelum baca buku Simon Sinek, saya udah nonton KUNGFU PANDA. Menurut saya, film itu menggambarkan lebih gamblang soal mencari meaning atau why. Iya, dia mencari siapa dia? Panda apa angsa?

Dia juga mencari chi-nya, mencari tau kenapa dia dipilih master oogway sebagai dragon warrior, mencari maksud keberadaannya di dunia ini. Keren banget, asli.

Trus belajar juga Ketika sertifikasi positive psychology. Soal meaningful life yang harus ditanamkan ke anak-anak bahkan sejak kecil. Anak-anak harus terbiasa dengan WHY. Jangan sampe idup Cuma jadi rutinitas yang meaningless.

Mulai dari KINDNESS

Tau emotional contagion? Jadi kalau dalam satu ruangan ada manusia yang “bertingkah”, dia akan mengakibatkan efek domino ke yang lain. Iya, energy impact the whole room.

Nah, tentu menanganinya harus dengan kindness. When someone receive the act of kindness, they’ll more grateful and more likely to pass it on. Kita, otomatis, jadi kepengen juga pay it forward ke orang lain.

THE MORE WE FOSTER GRATITUDE AND KINDNESS>> THE MORE THE CULTURE TURNS TOWARD POSITIVITY.

Meaning

Nah, habis itu, masuk deh ke meaning. Makanya, semakin besar anak, mereka akan lebih sering nanya “WHY???” Ya kaaaan…artinya neocortexnya makin gede ya makin terbentuk. Masukin deh value-value yang penting.

Sebab, memahami arti diri kita di dunia ini akan membuat hidup yang dijalani jadi fits into a larger context and has significance. Tumbuh deh tu komprehensi dan merasa hidup ini semuanya masuk akal.

Makanya, disebut bahwa memahami punya alasan menjalani hidup akan menahan dampak stress. Penelitian bilang bahwa mereka yang punya kapasitas untuk membuat hidup yang dijalaninya masuk akal dan meaningful, biasanya mampu menanggapi trauma yang pernah dihadapi sebagai pembelajaran yang membuatnya tumbuh lebih dewasa.

Iya, mention itu; GRIT, RESILIENCE. Ini dia kan kompetensi penting yang dibutuhkan kita untuk tumbuh optimal. Kita jadi mampu connecting the dots, kemudian memahami kenapa kita dikasih ujian A, ujian B sampe Z. accept dan melenting lebih tinggi.

Penting banget, kan? Iya lah. Makanya sekaarang juga di ilmu marketing, yang dikedepankan bukan what to say, tapi justry why-nya. Brand purpose-nya. Karena tanpa itu, kita Cuma jualan sesuatu yang meaningless. Gak ada sesuatu yang bermakna di brand kita.

Lebih oke sih menurut saya, perkembangan zaman yang justru menggiring kita ke consciousness ini, menjalani kehidupan yang jauh lebih mindful. Bukan sekadar bangun tidur lalu siap2 dan menjalani rutinitas just because this is what I’m supposed to do.

ERA 5.0 DI DEPAN MATA

Sudah pernah nonton film free guy? Ceritanya sederhana tapi bagus banget buat saya. Dulu nonton ready player one, udah kuatir kalo masa depan anak-anak akan lebih banyak dihabiskan di dalam dunia VR yang meaningless, dan justru menjadikan mereka robot.

Di free guy, lebih gila lagi. Kode games yang bisa mikir kaya manusia itu gila sih. Sayangnya, hal ini mungkin banget terjadi. Bahkan manusia bisa jatuh cinta sama manusia di dunia game yang totally bot, gak ada playernya. Buseeeett!!!

Nah itu gambaran masa depan gen alpha, Ketika society 5.0 terjadi kelak, manusia akan berjalan beriringan dengan robot. Iya, robot yang kecerdasannya bisa melebihi manusia dan bahkan bisa bikin manusia merasa lebih nyaman Ketika Bersama dengan robot. Inget film HER? Ya saya aja seneng kok ngobrol sama google assistant, bener dah.

Jadi jangan gila ya, hari gini masih enggak aware sama competencies yang dibutuhkan anak kita di masa depan kelak. Solusinya bukan menjadikan mereka robot dengan jadwal yang ketat tanpa flexibility, dipaksa duduk dan belajar coding terus tanpa bergerak seru layaknya anak-anak.

Justru, jadikan mereka manusia. Karena secanggih2nya coding setiap robot kelak, still, mereka buatan manusia kok. Pasti tetap bisa diprediksi, bahkan bisa di reboot. Manusia kan enggak. Kalo bersanding dengan kemampuan robot doang, ya pasti kalah, karena robot gak pake nyeri mens, gak pake sakit hati, gak ada perasaan yang bisa menghambat kinerja.

Cuma manusia yang punya creativity, flexibility, interdependence dan kemampuan kolaborasi. Cuma manusia yang punya resiliensi, karena kita tau kita gak bisa di-reboot. Kuncinya ada di WHY. Iya di kemampuan tiap kita memahami makna keberadaan kita di dunia.

Kalau anak-anak muda itu sering bilang hampa dan mental breakdown; embrace, validasi, dan lakukan meaningful roles intervention. Kasih peran penting untuk berpartisipasi di komunitas masyarakat, atau kasih kesempatan untuk memahami makna hidupnya dengan beri kepercayaan berperan.

STOP GENERALISIR

Jangan malah disentak di generalisir. Ingat, otaknya masih cor-coran. Kalau yang kita tawarkan adalah feedback positif, dan kindness, mereka akan tumbuh lebih baik dan punya peran di masa depan. Bukan buat diri mereka sendiri aja, kok. Buat kita semua juga..

Bukankah kita juga punya tanggung jawab untuk membangun negeri Bersama-sama? Bukankah kita kepengen Indonesia jadi lebih baik dan lebih nyaman untuk ditinggali? Bukankah anak-anak kita akan berjalan beriringan dan masa depannya juga ditentukan oleh si gen z yang sedang berperan di era kita udah sakit pinggang susah jalan, kelak?

Mereka semua akan menjadi pemimpin, menggantikan peran generasi kita, kelak. Ketimbang saling menyudutkan, gimana kalau berjalan beriringan saling membersamai, saling menyayangi?

yasmina

GOAL SETTING and PROBLEM SOLVING si anak sekolah online

Image

Hal terberat apa yang membuat saya mau pengsan, selama pandemi?

Well banyak…

Kalo dibikin list

  1. Mikirin gimana caranya roots bisa bertahan
  2. Mikirin gimana caranya bisa tetap sehat
  3. Mikirin ABIB DAN KEGIATAN SEHARI-HARINYA.

Nah yang capslock itu yang paling ngeganjel…

Abib the explorer

Anak saya yang satu ini kan istimewa ya. Dia adalah anak outdoor, cara belajarnya kinestetik, dia dapet energi dari kehidupan sosial Bersama manusia lain (preferably dalam jumlah banyak), dia butuh ruang yang luas dan kegemarannya adalah berada di lingkungan baru setiap saat.

Pandemi membuat dia….MENDERITA!!!

Tahun pertama, 2020, kami melewatinya dengan babak belur. Sungguh dia yang penuh semangat dan selalu senang belajar hal baru berubah menjadi seonggok manusia yang tidak punya semangat, procrastinating, gak punya motivasi, apapun yang dia lakukan gak ada yang bikin dia happy, dan sekolah jadi hal yang paling dia benci.

Waktu awal-awal saya sempet nge-gas juga karena sayanya juga dalam kondisi yang stress berat kan banyak pikiran dan banyak banget yang harus di-adjust di pekerjaan. Lalu saya sadar bahwa, ini rasanya mungkin lebih berat untuk Abib.

Minta bantuan

Saya meminta konselor sekolah untuk ikut membantu, saya juga konsultasi ke Belinda, psikolog kesayangan kami. Lalu konsultasi ke dokter Adilla, yang kemudian menyatakan bahwa Abib memang mengalami regresi karena craving sensori, maka harus terapi untuk menentukan Langkah berikutnya; sensory lifestyle.

Eh iya, saya tau, saya enggak akan bisa jalan sendiri. Saya butuh banyak sekali bantuan. Saya sendiri keteteran soalnya, dengan begitu banyak kejadian dalam satu waktu. Saya tau, kalau saya enggak minta bantuan, pilihannya antara saya atau Abib yang harus jadi korban. Dan itu bukan pilihan…

Belajar lagi

Sambil terapi dan konsultasi terus berjalan, saya juga terus belajar.

Saya ikut berbagai kelas online psikologi anak dari summit-summit di GOZEN, play first summit, sampe sertifikasi PEC di The nourishing center-positive psychology. Karena saya tau saya harus belajar, ini hal baru dan saya enggak ngerti.

Self-efficacy

Di salah satu kelas itu, ada pembahasan soal Self-efficacy. Apa ya Bahasa indonesianya? What a person believes they can do with their skills under certain condition. Kepercayaan seseorang akan kemampuannya dalam menuntaskan suatu hal dengan sukses, kali ya?!

Nah, saya jadi belajar bahwa hal itu SANGAT PENTING Ketika berusaha mengembalikan motivasi si Abib. Soalnya, dia tentu harus mulai dari goal besar dan dirinci ke list-to do kecil yang bisa dilakukan setiap hari untuk mencapai goals tersebut.

Yah kaya ngitung KPI (Key performance indicator) kalo di kantor gitu, lho! Bedanya Cuma ini alat ukurnya bukan angka apalagi financial balance. Hahahaha…

Berangkat dari kerangka berpikir yang rasional dan taktis itu, saya jadi ngeh bahwa saya harus boosting self-efficacy si Abib nih, sebagai upaya dia untuk bertahan dan bahkan tidak lagi mengalami kemunduran.

Soalnya, self-efficacy saya cukup bagus, bagi saya, difficult tasks itu adalah interesting challenge to be mastered. Tapi kan saya INTJ sejati yang susah banget memahami orang lain dan kenapa tu orang gak bisa! Hehehe..jadi ngajar’s not my thing, sebetulnya. Namun berhubung ini anak saya, maka enggak ada pilihan ya harus saya coba.

Goal-setting

Saya tau, cara boosting self-efficacy itu dengan menjadi role models, dengan menjadi cheerleader (terus percaya, dan mengingatkan Abib bahwa saya akan selalu ada nemenin dia), mengajarkan regulasi emosi, mendukung agar dia mastery something, membantu dia mengenal strengthsnya, dan membantu dia memetakan masalah yang terjadi.

Gampang kok. Yang susah mengendalikan sabar saya yang tipis…

Standarnya ya GOAL SETTING seperti yang biasa digunakan di kantor-kantor; SMART. Tau kan…

Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Timely.

Metode WOOP

Nah, tapi kalo di PEC, Saya diajarin pake WOOP. Apa itu?

WOOP METHOD

Wish: Children looking what should they wish to accomplish

Outcome: They hope will come from the thing that they wanna see happen. (what it would like?)

Obstacle: What may be the obstacle? What may get in a way that they plan?

Plan: Putting all that together and put it in a plan

Gunakan WOOP untuk semua project yang dia kerjakan. Jadi dia paham banget why-nya, what to do, how to say, obstacle dan bisa bikin perencanaan yang ajeg.

Nah kemudian, gunakan ilmu otak. Karena saya harus mulai dengan melakukan approach, kaaan? Nah tau gak bahwa otak kita enggak bisa enggak melakukan sesuatu? Hahahaha…iya maksudnya, otak kita itu susah memahami kalimat dengan “NOT”!

Because we cannot imagine ourselves “Not doing something” we can only imagine ourselves doing something.

YOU SHOULD THINK ABOUT WHAT YOU WANT, NOT WHAT U DON’T WANT.

Maksudnye gimane sik maleh?

Gini contohnya:

  1. I don’t want to be in debt anymore

I want to have financial abundance

  • I don’t want more stress

I want calm and ease

  • I don’t want students to act out

I want a classroom where students are engaged

Iyak gunakan kalimat yang enggak pake “enggak” gitu deh. Kalimat positip.

Mental constracting

Truuuus abis itu, gunakan strategi

MENTAL CONSTRACTING

Maksudnya adalah menggunakan Statements:

If ————- then —————

When————- then———–

Contohnya:

When I want to watch television instead of doing my homework, Then I will remind myself that I can use my favorite show as a reward and do 45” of work first.

Breakdown goal besar ke hal kecil

Nah, karena si PEC ini science-based, jadi Kembali lagi ke ilmu otak:

SIMPLIFY THE GOAL INTO IT’S SMALLEST ACTION STEPS

How do you break your goals into a small component?

With MIND MAP.

Make it as specific as possible. More mini wins; reward. Iyak, one step at a time. Kaya naik tangga aja, satu persatu. Kalo langsung 3 anak tangga kuatir kejengkang, sis.

Ini dia maksudnya, mulai dari goals besar lalu lakukan pemetaan ke list-to do kecil-kecil yang bahkan bisa dicicil setiap hari sampe mastery. 10.000 hours rules itu lhooo…

Soalnya si otak kita yang paling bawah itu, yang ngatur emosi, a.k.a otak reptile tu lebih suka sama hal-hal kecil dan mudah. Bener kan katanya “Mendingan ibadah yang kecil-kecil tapi dilakukan setiap hari!” edan emang agama gue ya? Hahahhaa..

Note penting untuk boosting si SELF-EFFICACY ini adalah:

  1. Spesifik kalau mau ngasih apresiasi; “You did well because you tried 3 times to draw flower without giving up” instead of praising them with “GOOD JOB”
  2. Providing just-right activities. Children need to be involve in the decision making process and practice new skills that are challenging but achievable.

Kondisi terkendali

ALHAMDULILLAH sekarang udah JAUH BANGET MEMBAIK.

Saya ajak dia mulai dari pemetaan skills. Karena anak ini kan ikut les, ikut sekolah ini itu. Alias skillsnya banyak, tapi dia gak termotivasi karena susah banget coping sama pandemic ini. Makanya saya mulai dari situ.

Dia petakan skillsnya lalu dia breakdown, skills mana yang mau dia fokuskan sampe akhir tahun.

Disesuaikan dengan “WHY”-nya. Dia mau tujuannya apa? Cita-cita dia apa? Tujuan besar hidupnya apa? Nah dari situ dia milih; fotografi, painting, drawing, public speaking and business untuk di-upskills.

Ide bisnis pot

Tiba-tiba dia punya ide untuk membangun bisnis; POTTOPIA. Dia mau beli pot-pot gerabah kecil, lalu di cat dan dijual. Dia presentasi ide-nya. Dan why-nya adalah “Nyanyak sering bikin charity, kegiatan-kegiatan dimana-mana untuk anak-anak, aku pengen ikutan, aku pengen punya uang sendiri biar bisa melakukan sesuatu”

Oh sungguh terkesima aku.

Sebenernya sih goals saya Cuma kepengen bikin dia semangat lagi, punya passion lagi, punya sesuatu yang dia seneng lakuin jadi bisa lebih mudah coping dengan situasi yang serba berat ini.

Alhamdulillah kalo akhirnya bisa jadi sesuatu yang lebih besar.

Trus implementasinya gimana?

Yang masih jadi kendala adalah nemenin dia sih. Soalnya saya juga banyak banget kerjaannya dan dia kan butuh banget ditemenin. Cuma kerangka berpikir dan semangat udah mulai Kembali. Tentu ini berkat bantuan semua pihak juga, ya dari sekolah yang suportif banget, miss-miss dan konselor, juga dari terapi yang dia jalanin sepekan sekali.

Sekolah online masih on-off semangatnya, tapi ya gimana Namanya juga bocah kan maunya pecicilan. Saya mah yang penting jiwa raganya selamet aja dulu deh. Gak tinggi kok ekspektasi saya, karena ini kan force majeur.

Tapi asli sih belajar itu membantu banget. Kebayang kalau saya enggak belajar dan enggak minta bantuan, mau jadi apa saya dan Abib?

Koneksi tentu yang utama, karena saya terkoneksi dengan Abib, maka saya tau kalau ada yang gak beres. Saya jadi tau apa yang dirasain Abib dan saya akan terus berusaha enggak nyerah untuk membantu dia. Karena dia masih kecil, otaknya masih terus tumbuh. Gimana saya mau ngarepin dia mampu coping, kalau prefrontal cortexnya aja masih cor-coran.

Tentu harus saya yang turun tangan, dan saya percaya, secapek apapun yang saya rasakan ini, manfaatnya jadi JAUH LEBIH BANYAK. Bukan Cuma buat Abib, namun justru juga buat saya.

Parenting itu mudah

Image

Parenting itu mudah.

Ngeselin ya? Iya seringkali saya dicap ngeselin Ketika mengatakan hal ini. Saya sudah berulangkali mengulangnya di Instagram saya, dan tetep lah ada komen kesel sama statement ini, karena semua orang bilang parenting itu adalah pekerjaan paling sulit di dunia.

Hmmm…

Gini, anak saya emang hanya dua, dan belum berpengalaman lah hitungannya. Anak pertama usianya 10 tahun, yang kedua usianya 3 tahun. Satu pre-teen, satu toddler. Tapi saya semakin yakin bahwa parenting itu mudah, yang susah itu berubah.

Masa lalu saya enggak mudah. Banyak trauma yang saya alami di masa kecil, dan masih saya bawa sampe sekarang. Tapi sejak memutuskan untuk menikah, saya belajar. Iya, saya terus menerus menenggelamkan diri dalam bahan bacaan dan ikut berbagai kelas untuk semakin memahami tugas baru sebagai istri dan ibu.

Ternyata, semakin saya belajar, semakin saya paham bahwa yang tersusah adalah berubah. Hal yang paling berat untuk dilakukan adalah menyadari apa yang salah, dan memahami diri sendiri. Memahami kenapa saya merasakan ini dan itu, kenapa saya melakukan ini dan itu, dan apa sih yang idealnya dilakukan.

**

Saya adalah manusia yang sulit merasakan perasaan. Sulit memahami apa yang terjadi. Karena biasanya, emosi yang saya tau hanya garis besar: senang dan marah. Kalau di gambar gunung es, dua perasaan ini ada di permukaan dan sisanya adalah rasa-rasa lainnya yang kerap tersembunyi; cemburu, sedih, kecewa, dan sebagainya.

Saya sulit memahami itu semua, karena terbiasa me-repress hal-hal yang saya rasakan dengan kalimat kunci “I’m fine!”

Saya memutus koneksi dengan diri saya sendiri. Sehingga, saya mengalami banyak kesulitan dalam bersosialisasi. Saya mengalami banyak kesulitan dalam berkonsentrasi, karena saya bahkan tidak mampu meregulasi emosi saya sendiri.

Terima kasih Tuhan karena mengizinkan saya menjadi ibu, dan belajar lebih banyak lagi dari anak-anak saya tentang emosi.

Ternyata begitu sulit mengasuh anak, jika saya bahkan tidak mampu meregulasi emosi diri sendiri. Ternyata begitu sulit menjalani rumah tangga, jika saya bahkan tidak mengenali kebutuhan diri sendiri. Ternyata yang sulit bukan praktik pengasuhan, namun memahami emosi dan meregulasinya sehingga dapat berfungsi dengan baik, sebagai manusia.

Luka-luka masa lalu, yang enggan diakui dan diterima keberadaannya ini akan terus memberikan beban berat di Pundak saya. Inilah yang membuat saya kerap terganggu dengan perilaku anak-anak. Ini yang membuat saya sering marah dan merasa parenting itu sulit.

**

Saya terbiasa menjadi sosok kuat, apalagi saya anak pertama. Banyak hal yang dibebankan di Pundak saya. Saya pikir saya memang baik-baik saja. Saya pikir tidak ada masalah. Ternyata ada begitu banyak masalah yang terjadi Ketika saya harus bersosialisasi dengan manusia lain.

Saya terlalu keras. Saya terlalu gamblang mengatakan hal-hal yang harusnya saya katakan dengan hati-hati. Saya tidak bisa memahami air mata orang lain. Saya tidak mau mengerti kesulitan yang dialami orang lain. Saya terus menerus memberikan pressure seolah semua orang sekuat saya.

Iya, saya memang keras kepala. Saya memang kuat. Saya memang bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu dan saya pembelajar yang kelewat baik. Namun ternyata semua itu percuma, tanpa regulasi emosi.

Saya gagal memahami bahwa kuat itu berarti mampu mengakui diri sendiri dengan segala kelemahannya. Saya gagal memahami bahwa saya manusia, ada kalanya saya Lelah dan butuh istirahat. Saya gagal memahami bahwa saya tidak akan pernah bisa hidup sendiri.

Saya akui, ini berat sekali.

Dan tambah berat Ketika saya menikah dan harus menyesuaikan diri untuk hidup dengan orang lain. Lalu punya anak, Ketika saya yang sebetulnya keropos ini, harus terus berbagi dengan manusia mungil yang menggantungkan hidupnya pada saya.

Gelas saya kosong, jadi tidak ada yang bisa saya bagi.

Ini adalah titik terberat yang akhirnya membuat saya sadar. Saya butuh koneksi.

**

Semua berubah Ketika saya memahami soal koneksi, Ketika saya memahami diri sendiri, dan mulai perlahan melakukan perubahan.

Saya belajar menangis. Saya belajar mengakui. Saya belajar merasa lemah dan tak berdaya. Saya belajar berserah diri pada Tuhan. Saya menyambung Kembali koneksi dengan diri sendiri. Perlahan gelas saya Kembali terisi.

Sejak itu saya paham bahwa parenting itu mudah.

Parenting itu sebetulnya pekerjaan yang amat mudah, Ketika saya memahami koneksi. Ketika saya terus belajar untuk meningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri, dan berbagai kondisi psikologis di diri ini untuk kemudian mengisi gelas dan membaginya dengan keluarga saya.

Oh ya, seperti iman, koneksi juga naik turun.

Ada kalanya saya Lelah dan kelepasan marah. Ada kalanya saya bosan mendengar keluh kesah anak-anak. Ada kalanya saya butuh waktu sendiri.

Namun karena saya sudah memahami diri saya, maka yang saya lakukan adalah memberikan waktu untuk diri sendiri. Yang saya lakukan adalah terus belajar bernafas dan mencoba menggali lagi, “Kenapa ya tadi saya melakukan itu?”

Koneksi juga mengajarkan saya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf pada anak-anak saya.

Koneksi juga mengajarkan saya untuk memahami bahwa behavior itu seperti demam. Iya, itu adalah gejala dari suatu penyakit. Bukan penyakitnya. Jadi saya harus mencari tahu, kenapa orang melakukan behavior tertentu, menggali dari akarnya dan mencari solusi untuk itu.

Kalau anak saya tantrum, saya adalah manusia pertama yang harusnya paling memahami kenapa dia melakukan itu? Bukannya menyelesaikan tantrumnya dengan Langkah sementara demi ego saya…
“biar gak berisik” atau “biar anteng”

Koneksi akan memudahkan saya untuk melakukannya. Koneksi akan membuat segalanya jadi mudah dipahami dan sungguh deh, mudah dilakukan.

Serius deh, parenting itu…MUDAH

Jadi, saya akan tetap ngotot menyatakan bahwa parenting is easy.

Saya akan tetap menggaungkan kepada dunia bahwa “easy” bukan berarti menggampangkan. Bukan berarti menyelesaikan persoalan seenaknya, memilih jalan yang paling mudah untuk mengurus anak atau bahkan mengabaikan anak-anak, karena harus easy.

Bukan itu.

Easy terjadi karena koneksi.

Once saya memahami koneksi, maka apapun yang anak-anak saya lakukan, saya tau apa yang harus saya lakukan. Kalau saya salah Langkah maka saya akan meminta maaf dan mengakui kesalahan. Lalu memperbaiki hubungan.

Easy terjadi karena koneksi.

Ketika saya terkoneksi dengan diri sendiri, saya akan mampu meregulasi emosi. Ketika saya mampu meregulasi emosi, maka saya tau apa yang sedang dibutuhkan oleh tubuh saya, jiwa saya. Saya tau kapan saya harus tetap tegas pada pendirian, dan kapan saya harus mengalah. Saya tau battle mana yang harus saya pilih.

Easy terjadi karena koneksi.

Dengan memahami koneksi, saya akan mulai melakukannya dengan setiap manusia bahkan mahluk hidup lain. Karena itu saya mulai connecting the dots, karena ternyata setiap hal saling terkoneksi satu sama lain. Ternyata semua hal tidak ada yang diciptakan sendirian. Ternyata banyak hal yang saya belum ketahui, dan saya jadi semakin haus pengetahuan.

Saya jadi belajar lebih banyak, dan tertarik pada banyak hal secara simultan.

Ketika ibu menjadi pembelajar, ia akan terus memperbaiki dirinya di setiap hembusan nafasnya.

Saya yang tadinya enggak pernah tau cinta itu apa, sekarang mulai paham, karena Tuhan mengajarkan cinta lewat anak-anak saya. Saya jadi tahu, ternyata cinta yang membuat saya masih berdiri disini dan rela melakukan apapun untuk masa depan anak-anak saya.

Saya yang mulai terkoneksi ini merasa bahwa belajar untuk menjadi lebih baik itu sangat penting untuk anak-anak saya kelak. Saya adalah role model mereka, ucapan saya akan menempel di kepala mereka, keyakinan saya adalah keyakinan mereka, duka saya adalah duka mereka.

Cinta yang membuat saya jadi lebih baik terus setiap harinya.

Cinta yang menggiring saya menuju koneksi.

Dan koneksi yang meyakinkan saya bahwa….parenting is easy!

Yasmina Hasni

FASE BARU LAGI: PRE-TEEN

Image

Setelah skip menulis blog selama 2 tahun, ada fase-fase tumbuh kembang Abib yang belum saya ceritakan di sini. Dulu selalu menulis soal tumbuh kembang anak sulung itu dari bulan ke bulan, menuliskan soal betapa beratnya keeping up with baby.

Lalu bergeser terkejut karena masa toddler kok terasa jauh lebih berat? Sampe terjadilah toddler blues. Ketika orang2 mah baby blues, saya mah toddler blues. Nah sekarang usianya sudah 10 TAHUN. Lah kok tau2 udah gede aja sih ni anak ya ampun.

Meski tadinya saya masih denial dan menganggap “Ah 10 tahun masih cimil!” tau2 pas naik2kan kelas kemarin, buibu sekelas abib pada cerita sudah ada beberapa teman perempuan sekelas abib yang menstruasi. JENG JENG. Lah iya sudah gede…

Fase Pre-teen

Saya yang tadinya masih belajar soal pengasuhan dan Pendidikan anak, mulai merambah ke pelajaran2 mengenai anak pre-teen dan remaja. Mulai belajar cara bicara soal seks, cara bicara ke anak pre-teen, dan sebagainya. Sebab ini, jujur, adalah fase yang paling bikin saya kuatir. Bukan apa-apa, mengingat masa remaja saya yang GUSTI NU AGUNG, JANGAN SAMPEEEEE KEJADIAN.

Dulu, jaman Abib bayi, acapkali saya mengeluh Lelah. Mama selalu ketawa dan bilang “Duh yas, ini mah masa-masa indah. Percaya deh, nanti kalau anaknya sudah kelas 6, dunia akan berubah jumpalitan gak keruan karena si gemes ini akan memberikan tantangan yang sangat edan..”

Waktu mama ngomong gitu, saya sebenernya sadar kok, betapa chaos-nya perilaku saya di usia remaja. Saya selalu goosebumps setiap mengingat masa remaja. Sebab, sepertinya masa remaja adalah masa yang paling menentukan dalam hidup saya.

Alhamdulillah, saya punya mama yang selalu ada.

Insight dari psikolog

Emang sih Allah itu selalu sayang sama saya, dikasihlah saya kesempatan untuk ngobrol sama Anastasia satriyo, psikolog anak dan remaja, Jumat lalu. Topiknya kelakuan remaja. Dan saya dapet statement “SEGALA SESUATU YANG TERJADI DI USIA REMAJA JADI BLUEPRINT KE MASA2 USIA SELANJUTNYA.”

JENG JEEEEEEENG lagi. Zoom in zoom out. Tegang. Iya, tegang, karena saya merasakan betul itu nyata adanya.

Sebelumnya, hal utama yang saya kuatirkan adalah soal seks. Maka saya ikutin beberapa kelas, termasuk kelasnya pak Justin Coulson tentang ngobrol soal sex sama anak. Nah tapi, Ketika ngobrol sama Kak Anas, saya baru ngeh lagi bahwa banyak banget hal yang harus dipikirin. Enggak Cuma soal seks, tapi justru ke berbagai perubahan emosi dan cara kerja otak yang berubah ekstrim di usia ini.

Otak remaja memproses satu kali kejadian distress selama 10 hari, sementara otak orang dewasa memproses stress selama 3 hari (pada umumnya). Udah gitu inget kan, stressnya anak remaja mikirin apa sih? Orang yang lagi disukain? Approval temen? Pengen beli baju yang trendy? Segala sesuatu yang di mata kita; APAAN SIIIIK???? Buat mereka….bisa jadi hell hole.

Ya bayangin aja, otaknya itu kaya rumah yang lagi di renovasi. Kebayang kan? Punya dapur, tapi enggak bisa dipake. Nah ya gitu deh otaknya anak remaja.

Mengingat masa remaja diri sendiri

Meskipun sebetulnya, jumat siang itu saya sepanjang live nahan air mata. Karena saya kangen mama. Sepanjang kak Anas bicara soal anak remaja, saya terus kebayang-bayang diri saya sendiri di usia remaja. Setiap omongan kak Anas soal anak remaja itu bikin saya sedih, karena kebayang-bayang rasanya jadi mama dulu.

Betapa ngeselinnya saya waktu itu, ya Allah.

Mana mama punya anak remaja langsung dua, kan, karena jarak saya sama adek hanya 14 bulan. Udah gitu, urusan hidup dia bukan Cuma anak. Dia juga kerja, dia juga ngurus rumah. Bahkan saya inget banget, Ketika anak2nya SMP, mama mengambil keputusan besar untuk memecat semua asisten rumah tangga dan menyerahkan rumah pada dua anaknya ini.

Kebayang gak?

Saya dan adek waktu itu harus berangkat sekolah dengan bawa kunci masing-masing. Kami dibekali uang untuk beli makan siang buat berdua. Jadi saya gak bisa pergi main, sebelum pulang dulu bawain makanan buat adek.

Di rumah juga kami bertanggung jawab atas tugas-tugas kami agar rumahnya tetap rapi dan bersih.

Kalo saya ngebayangin hal itu, saya suka begidik. Bukan apa2, kalo saya nih harus ngikhlasin anak-anak di rumah tanpa orang dewasa, saya pasti kuatir. Saya jadi ngebayangin, gila mama pasti deg2an terus sepanjang hari. Mana dulu belum ada handphone, belum ada cctv. Bener-bener berjalan dalam iman banget mama..

Tumbuh mandiri

Tapi dampaknya gak pernah putus saya rasain. Waktu masih terjadi sih saya suka ngeluh, suka merasa mama gak sayang sama saya. Suka merasa mama gak peduli.

Tapi waktu kuliah dan ngekost sendiri, saya baru sadar. Ya Allah, untung dulu dibiasain mandiri. Saya bisa membandingkan diri saya dengan teman-teman kosan yang belum bisa apa2 dan gak ngerti apa2.

Nah kemarin pas ngobrol, kak Anas bilang “Mengasuh remaja itu investasinya gak keliatan dalam waktu dekat. Kalo bayi kan jelas ya, yang dipikirin makannya maka bb nya naik. Koneksi, maka enggak tantrum. Nah kalau mengasuh remaja, efeknya baru keliatan di usia 20-an nanti. Kita enggak tau hal-hal yang sekarang kita lakukan ini dampaknya apa. BERJALAN DALAM IMAN BANGET..”

GIMANA SIH AKU GAK MAU MEWEK INGET MAMA???

Gimana ya, di tahun 90-an itu mama sudah tau apa yang harus dilakukan dalam mengasuh anak remaja? Mana anak remajanya raging banget kaya saya. Kalo saya harus jadi ibunya Yasmina, mungkin saya menyerah dalam hitungan hari.

Mendekatkan diri lewat yang anak sukai

Kak Anas juga bilang “Remaja itu suka banget kalau kita usaha. Misalnya, dia suka main game, kita gak ngerti, ya coba aja gugling cari tau dan bisa ngobrol sekilas-sekilas. Tertarik sama cerita dia soal yang dia sukai, misalnya. Itu jadi salah satu kebutuhan emosi anak remaja, lho.

Tapi jangan palsu ya, mereka bisa liat kalo kita pura-pura suka. Bilang aja, kalo enggak suka tapi mau usaha untuk cari tau biar bisa ngobrol sama dia…”

Ini juga bikin hatiku terpotek-potek jadi banyak.

Dulu, aku suka diomelin papa karena senengnya musik metal. Senengnya lagu-lagu kenceng yang enggak-enggak. Mama selalu jadi teman, dia bilang kalo dia takut masuk kamarku karena ada poster marylin manson gede banget. Diumpetin aja di belakang pintu.

Jadi enggak dilarang, tapi di sesuaikan.

Mama selalu support aku. Mau cat rambut, ayok yas kita cat bareng. Mau skinhead, ayok mama temenin, mama tau salon bagus. Kalo tattoo saya aga gak suka sih emang, saya kan bersihan, suka geli liat kulit di tattoo kaya kotor.

Waktu lagi suka-sukanya OASIS, EMINEM, PINK, mama suka tau-tau pulang kantor bawa oleh-oleh print-printan info terbaru soal band dan penyanyi itu. Bahkan pernah mama bawa pulang buku dari British council tentang united kingdom, lalu mama bilang “Tuh Liam dan Noel lahirnya di Manchester tuh, baca deh soal kota-kota disana. Siapa tau kapan-kapan kita bisa kesana…”

(((Ma, aku udah sampe ke Manchester, udah liat kotanya Liam dan Noel. Udah liat hard rock café tempat mereka pertama kali manggung, ma. )))

Akhirnya ya saya enggak pernah ngotot jadi die hard fans sama siapapun. Ya suka karena valuesnya, karena storiesnya dan karena karyanya. Udah gitu aja. Saya enggak pernah kebawa perasaan lalu ngefans sampe tergila-gila.

Every moment is a coaching moment

Dulu, tiap kali saya berantem sama papa. Tiap kali saya pulang dengan perasaan penuh dan banting pintu. Tiap kali saya glatak glutuk di kamar berisik gak bisa tidur sampe tengah malem. Tiap kali saya melakukan kesalahan-kesalahan karena abai atau gak disiplin.

Mama enggak pernah ngomel. Iya, mama itu ngomelin saya Cuma sepanjang masa SD, lho. SMP ke atas, mama adalah teman. Gak ada ngomel-ngomel berat. Ya kalo tipis-tipis kaya bangunin pagi, atau ngingetin solat aja sih kan biasa aja ya.

Mama selalu ketok pintu baik-baik minta masuk, dan dengerin saya. Enggak sih, mama tuh bukan ibu yang hangat dan memeluk saya lalu saya menangis di pelukannya. Saya juga gak gampang nangis. Tapi dia duduk di samping saya, dengerin saya ngoceh sambil senyum-senyum (gila masih bisa inget senyumnya, setnya, wardrobenya dengan detail di kepala saya kaya rekaman video).

Lalu biasanya dia akan menanggapi dengan cerita. Dia tau, saya selalu suka sama cerita. Maka dia akan bercerita tentang dirinya, atau temannya, atau siapapun itu. Cerita yang related sama yang saya alami. Biasanya habis itu saya merasa tenaaaaang banget.

Jadi air mata saya udah di pelupuk waktu Kak Anas bilang bahwa every moment is a coaching moment. Sampe saya lulus kuliah juga saya masih diajak cerita sama mama. Kadang jadi gentian, karena sejak saya kerja, mama jadi lebih sering curhat sama saya, dan saya menyikapi curhatnya sebagaimana mama menyikapi curhat saya.

Lalu endingnya mama akan senyum kemudian bilang “Makasih ya yas, mau dengerin mama…”

((IYA INI NULISNYA SAMBIL MEWEK))

Choose your battle wisely

Iya ini statement yang sudah kita dengar dari pengasuhan toddler, ya? Jangan semua dilarang, jangan semua di komplen, jangan semua di benerin. Kasih kesempatan buat anaknya. Kasih ruang buat anaknya.

Tapi di usia pre-teen ini. Saya berasa banget lebih berat untuk memilih medan perang. Soalnya, ekspektasi saya udah tinggi kan karena dia sudah besar. Tapi kelakuannya malah makin seenaknya. Meskipun saya seringkali malu kalau abis ngomelin Abib trus baru sadar bahwa “Apa bedanya dia sama gue sih, itu kan kaya kelakuan gue…”

Misalnya BM (Banyak Mau), gils ini anak segala sesuatu kepengen dia coba. Semua hal kepengen dia jalanin. Sayangnya, konsistensi buyar mulu. Lah Yasmina kurang BM apa dah? Waktu muda ya sama gak konsisten. Sekarang aja udah tua, udah bisa mikir.

Nah tapi dulu, mama memilih battlenya di bidang Pendidikan. Dia akan menegur tegas kalau nilai saya jelek. Dia akan meminta saya untuk lebih serius belajar dan menekuni Pendidikan-pendidikan lain di luar sekolah. Dia ngotot saya harus bisa berbahasa inggris dengan baik. Dia yang meminta saya tetap les musik. Dia yang mengingatkan saya untuk tidak membuang-buang waktu, dan mendingan menghabiskan banyak waktu untuk berorganisasi.

Sebab, mama selalu mengingatkan bahwa jadi anak perempuan WAJIB PINTAR. WAJIB CERDAS. WAJIB KRITIS. WAJIB BERANI BICARA. Karena perempuan, di dunia nyata, seringkali diinjak-injak haknya sama laki-laki. Di dalam pernikahan juga banyak perempuan yang mengalami kekerasan ekonomi. Tidak berdaya, tidak bisa apa-apa dan menggantungkan hidup pada suami yang kerap kali perilakunya seenaknya.

Maka di Pendidikan, mama cukup keras sama saya, meski saya gak dipaksa sih mau les apa atau mau milih jurusan kuliah apa, yang penting tekun dan serius. Tapi karena attachment dan koneksinya terbangun kokoh, saya nurut. Saya rela dan ikhlas ngikutin mau mama. Saya lulus 4 tahun dengan nilai bagus, bahkan skripsi 220 halaman yang gak ada celah buat di komplen sama dosen penguji.

Saya lulus dari Bandung dengan begitu banyak skills, kemampuan berorganisasi, pengetahuan luas dan teman yang banyak karena saya ikut banyaaaaaak kegiatan di luar kampus.

YANG MEREKA BUTUHKAN ADALAH ORANGTUA YANG ENGGAK PERNAH GIVE UP SAMA MEREKA

Ini gongnya yang bikin jantung melorot sampe dengkul. Mau pingsan rasanya. Tapi untuk poin yang ini, alhamdulillah both mama dan papa enggak pernah nyerah sama saya. Enggak pernah ninggalin saya. Enggak pernah “membuang saya” ditaro di rumah nenek atau di pesantren karena Lelah udah desperate ngurus anaknya.

Saya ini anak remaja yang luar biasa menguras energi, percayalah. Saya ini anak remaja yang PAIN IN THE ASS. Saya ini anak remaja yang berani dan mandiri, jadi saya seringkali merasa terlalu percaya diri merasa gak butuh orang lain dan arogan.

Saya adalah versi remaja yang akan kamu hindari untuk main sama anakmu.

Kebayang gak rasanya jadi orangtua saya? Tapi ya, mereka enggak pernah nyerah sama saya. Mereka seringkali babak belur ngadepin saya. Tapi ya besok dilakuin lagi, lusa dilakuin lagi. Sedih ya kalo diinget-inget. Malu dan merasa bersalah.

Habis ngobrol sama kak Anas kemarin itu, saya menghela nafas panjaaaaaaaang banget. Ya Allah sayangi mama dan papa seperti mereka menyayangi saya semasa hidupnya. Aaamiin.

Konflik Keluarga? Hit the restart button!

Gallery

So recently, our ship’s start to hit the rocks. Banyak sekali konflik terjadi di rumah belakangan ini. Mulai dari abib bertingkah, gue yg gas lighting terus tiap hari dan deded yg kepancing lalu bereaksi lbh keras. On and off beberapa bulan ini sampe akhirnya gue, si unsecured ini sadar bahwa we all in needs of […]

Rate this: