My Emotion Journey; Heartbreak

Image

Memutuskan untuk punya anak adalah mengenai kesiapan menerima akan apapun yang akan terjadi kedepannya.

Segala daya dan upaya terbaik, tentu akan diusahakan. Tapi, apapun nanti yang terjadi, tentu sesuatu yang diluar kuasa kita sebagai orang tua.

Untuk manusia yang control freak seperti saya, melakukan praktik pengasuhan dua anak cukup membuat hela hembus napas jadi lebih sering dilakukan. Tentu ditambah bengong, air mata, teriakan, gundah gulana dan berbagai bentuk emosi.

Iya, saya bukan ibu sempurna. Bukan, dan enggak akan pernah.

Tapi, saya menyadari bahwa Ketika saya memilih untuk menjadi ibu, maka saya akan masuk ke dalam kehidupan yang sama sekali berbeda. Saya akan memasuki sebuah hubungan yang tidak ada kata berhenti atau bisa memilih lari meninggalkannya, seperti yang biasa saya lakukan setiap overwhelmed dengan hubungan-hubungan lain selama ini.

Saya akan menjalani sebuah hubungan yang penuh picuan pada masa lalu saya, dan saya harus mampu untuk bersikap bijak meski terus-terusan terpicu.

Berkeluarga di mata saya

Saya tidak pernah membayangkan punya anak dan menikah seperti yang orang-orang bayangkan; indah, penuh tawa, Bahagia, berjalan di atas padang rumput dengan baju berkibar-kibar sambil bergandengan tangan dan berpelukan (hahahahhaa kaya foto2 keluarga gitu)

Saya membayangkan sebuah kehidupan yang penuh konflik seperti yang saya alami sejak kecil, saya membayangkan kehidupan yang terus-terusan memaksa saya belajar. Saya sejak awal sudah paham, bahwa realita itu enggak akan bisa dihindari, Ketika saya memilih menikah dan punya anak.

Lho, kata siapa enggak Bahagia?

Saya Bahagia kok. Dulu waktu kecil saya asma, Ketika menikah dan punya anak saya malah enggak pernah kumat lagi asmanya. Saya hatinya tenang, tidurnya nyenyak dan makannya enak. Hidup penuh tantangan itu bukan berarti enggak Bahagia, tapi bayangan bahagianya beda dengan yang digambarkan di iklan mobil atau perumahan dengan cicilan berbunga tinggi.

Karena saya tau, Ketika saya berani berkomitmen dalam pernikahan dan menjadi ibu, artinya saya sudah bersedia menyerahkan diri saya seutuhnya. Saya sudah berani membuka hati dan menerima segala yang datang bersamanya. Ya Bahagia, ya duka, ya kehidupan nyata. Karena dulu (alm) Hilman pernah nulis di salah satu bukunya “Orang yang paling lo sayang itu ada di posisi yang paling tepat buat nyakitin hati lo…!”

Ya tentu karena berani sayang sama orang artinya berani menjadi vulnerable, bukan? Kalau masih mau tambeng seperti sedia kala sih Yasmina mendingan jangan nikah dan jangan punya anak deh.

KONSEKUENSI

Karena itu juga, saya paham, hidup ini adalah mengenai konsekuensi dari setiap pilihan yang saya ambil. Saya memilih untuk mendedikasikan hidup saya kepada keluarga dan kemudian berperan di lingkup pengasuhan serta Pendidikan anak.

Untuk itu, saya belajar psikologi, saya belajar penerapan ilmu kuliah saya, saya belajar mengenai otak dan emosi manusia, maka tentu saja, Allah memberikan konsekuensi di situ. Bagaimana saya mengasuh anak dan bagaimana saya menghadapi kehidupan ini. One thing led to another.

Iya, karena saya berani mencintai keluarga saya, berani mencintai dunia pengasuhan dan Pendidikan anak, maka saya belajar lagi jenis emosi lainnya. Emosi yang tadinya enggak pernah saya rasakan, karena saya belum pernah membuka diri pada apapun bentuk perasaan yang bisa menghambat cita-cita besar saya.

Kalau menurut ATLAS OF THE HEART, emosi ini berada di ranah ;

Places we go when the heart is open; Love, lovelessness, heartbreak, trust, self-trust, betrayal, devensifeness, flooding, hurt.

“We cultivate LOVE when we allow our most vulnerable and powerful selves to deeply seen and known, and when we honor the spiritual connection that grows from that offering with trust, respect, kindness and affection”

Maka apapun yang terjadi, apapun ketetapan Tuhan akan keluarga dan anak-anak saya,  harus saya terima dengan bijak. Enggak bisa lagi tentang ekspektasi saya dan kepentingan saya. Termasuk Ketika menerima tegaknya diagnosis mengenai kondisi anak-anak.

Fase baru; menerima tegaknya diagnosis

Anak-anak saya tumbuh dengan dampingan psikolog, dokter anak dan dokter spkfr. Dari dulu kami sudah melihat SPD (sensory processing disorder) di Abib, kecurigaan terbesar ya ADHD.

Tapi diagnosis gak bisa ditegakkan sebelum usia SD. Dan sekarang usianya sudah 10 tahun, maka diagnosisnya sudah bisa ditegakkan bahwa abib memang ADHD.

Awalnya yang saya rasakan adalah rasa kaget dan gak terima. Tentu ini semua karena HEARTBREAK. Wajar dan manusiawi, karena sebijak-bijaknya saya dan sebisa-bisanya saya meregulasi emosi, tetap saja dalam hati terkecil saya punya ekspektasi.

Namun seperti biasa, Allah selalu mempersiapkan saya untuk menghadapi apapun. Selalu..

Seperti saya si sayang hewan yang dalam hidup selalu mengurus hewan dan bertanggung jawab pada kehidupan mereka, maka Ketika punya anak saya siap lahir dan batin.

Saya si disiplin dan punctual ini menikah dengan si tukang bikin surprise yang akhirnya bikin saya jadi jauh lebih fleksibel, enggak kaku amat.

Maka, sejak awal abib lahir ya saya udah disiapin untuk bisa menerima bahwa setiap anak berbeda. Bahwa saya enggak bisa punya ekspektasi akan hidup mereka, apalagi harapan-harapan besar, karena biar gimanapun kelak itu hidup mereka, bukan hidup saya.

Seketika setelah diskusi sama ibu-ibu psikolog dan dokter kesayangan, saya akhirnya bisa menerima realitanya. Apalagi kemudian saya langsung dikasih opsi-opsi solusi. Sama seperti Ara waktu didiagnosis laxity dan kakinya panjang sebelah; kaget sih, tapi kemudian saya langsung dapet opsi solusi yang bisa saya jalankan.

Mudah, bukan? Kata siapa, Alfonso?

Hehehhee…kaya gampang ya, bacanya? Enggak kok ini gak gampang. Tapi karena saya terus menerus belajar untuk mengelola ekspektasi dan emosi, saya tau bahwa yang bikin ini semua terasa tidak mudah adalah; saya.

Iya, karena, kalau kata Brene Brown;

Masih di ranah Places we go when the heart is open, ada satu lagi yang saya rasakan Ketika menerima realita ini; defensiveness. At it’s core, defensiveness is a way to protect our ego and a fragile self-esteem.

Nah jelas kan, ini satu lagi yang bikin saya merasa bahwa ketetapan ini terasa berat. Karena our self-esteem is considered fragile when our failures, mistakes and imperfections decrease our self-worth. Any perceived call-out of our weakness is experienced as an attack on our worth, so we fight hard to defend ourselves against it.

Ya jelas terasa berat, karena..

Defensiveness blocks us from hearing feedback and evaluating if we want to make meaningful changes in our thinking or behavior based on input from others.

Nah, ini hasil saya melakukan refleksi dari badai emosi yang saya rasakan. Maka, saya kemudian meregulasinya lalu menyadari bahwa, time is ticking. Tumbuh kembang Abib enggak nungguin kemampuan saya menerima kenyataan. Saya harus bergegas.

Saya ibunya, saya yang berkewajiban memberikan segala yang terbaik untuk dia. Maka, saya inhale exhale dan menerima lalu mencari cara agar ia bisa beradaptasi dengan baik.

Heartbreak is more than just a painful type of disappointment or failure. It hurts in a different way because heartbreak is always connected to love and belonging.

Padahal, to love with any level of intensity and honesty is to become vulnerable. To love is to know the loss. Heartbreak is unavoidable unless we choose not to love at all. A LOT OF PEOPLE DO JUST THAT,

Including me. Was. Before I am a mom.

Sekarang saya sadar; THE BROKENHEARTED ARE THE BRAVEST AMONG US—-THEY DARED TO LOVE.

Bersyukur sekali

Setelah meregulasi emosi, saya kemudian malah merasa bersyukur karena semua selalu ketauan sejak dini. Ya kaya sakit aja, kalo takut ke dokter dan gak mau meriksa karena takut diagnosis malah bikin hidup lebih repot kan, karena tebak-tebakan dan gak bisa dicari solusinya sebab enggak tau akar masalahnya.

Yang lebih bahaya, tentu saja, adalah ekspektasi.

Kalo saya enggak tau ini semua, tentu saya sebagai manusia biasa, punya ekspektasi Abib bisa menjalani kehidupan seperti anak-anak lain. Bisa beradaptasi seperti anak-anak lain.

Since sekarang saya tau emang cara kerja otak abib berbeda, ya saya semakin menurunkan ekspektasi. Dengan itu, saya justru bisa membangun koneksi yang lebih baik.

Sebab, dengan koneksi itu, Abib yang mengalami banyak masalah dengan menjalani kehidupan penuh tuntutan dari society ini tau bahwa dia punya tempat paling aman yang pasti menerima dia dan menyayangi dia. Dia bisa membekali dirinya dengan rasa aman.

Krn itu kebutuhan utama manusia. Rasa aman. Secure.

Kalo dia sudah merasa aman, maka dia akan lebih berani bikin kesalahan untuk kemudian belajar. Resiliensi dan kemampuan beradaptasi akan tumbuh. Dia bisa jadi manusia yang mandiri dan lebih bertanggung jawab.

Krn kemampuan akademis mah gak susah, kemampuan mengelola dan meregulasi emosi ini yang susah. Kalo dia mampu memahami dirinya, merasa aman dan mampu meregulasi emosinya, dia akan mampu menjalani perjalanan hidupnya dalam bidang apapun yg mau dia jalani.

Iya, optimal.

Maka penting untuk saya mengetahui akar masalahnya, membantu dan mendampingi dia, mencarikan solusi dan menemani dia menjalaninya.

Ini privilleges, karena saya punya daya untuk abib terapi. Saya juga punya teman-teman profesional yang selalu membantu; ya dana, ya tenaga, ya waktu. Karena itu, saya juga berusaha mengoptimalisasi.

Salah satunya juga dengan belajar mengelola emosi saya sendiri. Belajar memahami diri saya dan Batasan-batasan saya. Tau betul bahwa ini bukan hanya perjalanan Abib tapi perjalanan kita semua sebagai keluarga. Tau betul bahwa ini adalah konsekuensi dari pilihan yang saya ambil karena berani mencintai.

Iya, ini bukan tulisan mengenai diagnosis Abib. Mau tau soal ADHD dan ciri2nya, banyak banget bahannya dimana-mana, sila googling aja. Ini tentang perjalanan emosi saya, karena ini yang paling penting dimiliki oleh ibu dari anak neourodiversity. Penerimaan orang tua akan anaknya, apa adanya, adalah bekal paling penting bagi si anak.

Saya si tukang ngatur, yang susah me-let go, yang maunya semua berjalan sesuai mau saya, yang keras kepala dan seneng banget sama segala sesuatu yang bisa diprediksi, harus mendampingi anak ADHD yang serba mengejutkan. Tidak mudah, tapi saya yakin saya bisa. Karena ini bukan tentang saya. Ini tentang Abib.

Ini tentang koneksi. Tentang kami yang sama-sama belajar untuk terus bertumbuh. Karena saya percaya, pada akhirnya nanti, semua akan baik-baik saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s