Cerita Tentang Ovy Melon dan kepergiannya..

Gallery

(Review) Moonlit Sanctuary

Gallery

Berbahaya dan Tidak Bermanfaat, tapi boleh dibaca

Gallery

Tempat Sampah Basa Basi?

Standard

Jadi kemarin saya dan Poento berdebat dodol (seperti biasa) soal hal kecil; fungsi tempat sampah di gardu tol.

Saya, setiap kali usai bayar tol, tiket parkirnya pasti ditaro di laci kecil tempat naro receh, di dalam mobil. Nanti sampai rumah, saya kumpulin semua dan dibuang ke tempat sampah. Begitu juga tiket parkir dan sebagainya.

Karena saya menganggap, tempat sampah kecil di gardu tol itu gak berfungsi dengan baik. pernah memerhatikan gak, bahwa lebih banyak orang yang meleset saat membuang tiketnya kedalam tempat sampah, ketimbang yang masuk?

gerbang tol

Coba deh liatin, di gardu tol itu berserakan betul sampah-sampah bekas tiket, dan berantakan gak keruan.

“Lah ngapain juga disimpen sih? Kan ada tempat sampah..” kata Poe

“Berapa kali kamu bisa berhasil masukin tu kertas kedalam tempat sampahnya?” tanya saya

“Ya gak selalu sih, tapi kan kadang juga masuk…” Balas dia ngeyel.

“Trus biarin aja berantakan, karena bukan urusan kamu?” jawab saya gak kalah ngeyel.

“Ya kan nanti juga disapu…” katanya nyengir

“Oh gitu ya? Kamu buang sampah aja ditengah jalan kalo gitu, buang sampah sembarangan aja dimana-mana. Nanti juga ada yang beresin. Mau jawab apalagi? Semua orang juga gitu? Ya makanya karena semua orang kaya gitu, trus tu gardu jadi berantakan, kan kesel liatnya…” muka mulai nyureng..

“Lah tapi kan udah ada tempat sampahnya, ya kita pergunakan dong…”

Saya gak jawab lagi, karena itu udah jawaban ngeles. Poe emang gitu anaknya, kalo dia udah tau salah, ya tetep gamau kalah. Hahahaha…saya mah nyengir aja, plus noyor.

Bener kan?

Percaya deh satu hal sama saya, ENGGAK AKAN ADA YANG MENYEDIAKAN APAPUN BUAT KITA. Tempat sampah kecil di gardu tol itu, adalah salah satu bentuk basa basi. Bahwa ada tempat sampah, that’s it. Yang terjadi, tetap aja, sampah berantakan dimana-mana. Lalu tetap mau merasa bahwa itu bukan urusan kita?

Nanti kalau kita dibilang jelek dan kotor sama berita internasional, lalu marah. Kemudian nyalahin pemerintah, karena tempat sampahnya terlalu kecil, maka tidak bisa menampung bekas tiket dengan baik.
Nanti anaknya gak naik kelas, yang salah kurikulumnya, gurunya, kementerian pendidikan. Lalu badannya sakit-sakitan, kena infeksi paru karena polusi udara, salahin lagi kebijakan pemerintah soal pembatasan kendaraan lah, pabrik lah. Gitu aja terus sampe kiamat.

Menyalahkan pihak lain, atas segala hal yang terjadi di muka bumi ini, bukan jawaban dari persoalan dunia yang harus kita hadapi, ya kan?? Iya semua tau, banyak kebijakan bobrok, banyak aturan gak jelas, banyak korupsi. Trus mau ngapain? Ngomel tiap nonton berita? Demonstrasi? Marah-marah sama pemerintah?
Tapi enggak pernah berusaha berbuat sesuatu.

Sebelas dua belas dong, kak. Hehehe..

Saya, adalah manusia yang udah lama menganggap kita ini rumput liar. Tumbuh dan hidup begitu saja tanpa aturan, tanpa fasilitas, tanpa hal-hal yang harusnya kita terima. Makanya, saya anggap aja mereka enggak ada. Soalnya kalo inget-inget ini bermula dari mana, yang ada kesel terus. Ngegerutu enggak jelas, dan lalu apa? Ya gitu aja terus. Ngomel, kesel, ngaruh juga enggak.

Kita kan sekolah ya? Kata nyokap, gunanya sekolah itu sebenarnya Cuma satu; bisa memetakan masalah, punya skema sebab akibat buat menjalani kehidupan. Jadi, kalo sudah tau, kita gak diurus, kenapa gak coba aja mengurus diri sendiri? Coba aja berbuat dari hal yang terkecil, seperti membawa pulang tiket-tiket itu dan membuangnya dirumah.

Akan lebih bagus kalo langkahnya semakin besar, misalnya memisahkan sampah dan mendaur ulang. Karena ujung-ujungnya, hingga saat ini, sampah rumah tangga masih selalu bercampur aduk gak keruan. Dan menumpuk di TPA, tanpa ada penanganan yang baik. Tapi ya setidaknya, kita peduli dulu untuk enggak buang sampah ditempat yang Cuma diletakkan dengan basa basi.

Jadi kepikiran, kemarin abis nonton Tomorrowland.

tomorrowland

Ok, sedikit review soal filmnya yang biasa aja ini. skrip nya berjalan dengan ra jelas mau kemana juntrungannya. Dia mau bikin suasana futuristik ala disney, tapi kurang fun. Lalu, banyak sub plot yang terlewatkan begitu saja, mungkin karena enggak dianggap penting. Padahal, ini harusnya jadi kunci utama yang bisa langsung kena ke hati penonton, yang harusnya kebanyakan anak-anak.

Jadi film ini berusaha bikin ala ala intersetellar, tapi logika sci fi nya gak masuk. Cerita disney yang penuh magical excitement juga kandas, karena penjabaran keras dengan nada pesimistis soal dunia yang kini jelang hancur. Akhirnya jadi film yang berusaha menceritakan soal world peace, dan udah gitu aja. Banyak kejanggalan, dan banyak pertanyaan yang timbul abis nonton film ini.

Akting george clooney juga, entah kenapa, butut banget. Chemistry antar pemain juga gak terasa dari awal sampe akhir. Film yang enggak konsisten. Meski ya saya sih nontonnya seneng2 aja. Hahaha…murahan.

Well, Belakangan ini film-film lagi banyak banget ngangkat tema soal ini. dari Interstellar yang berusaha mencari planet lain buat melestarikan umat manusia menghadapi kiamat, sampe film kingsman, dan avengers 2 juga mengangkat tema untuk “menginstall ulang” dunia, agar nantinya ada perbaikan.

Tapi Cuma tomorrowland yang bisa bikin saya terharu denger quotes nya:

“You’ve got simultaneous epidemics of obesity and starvation, explain that one. Bees butterflies start to dissapear, the glaciers melt, the algae blooms. All around you the coal mine canaries are dropping dead and you won’t take the hint! In every moment there’s a possibility of a better future, but you people won’t believe it. And because you won’t believe it, you won’t do what is necessary to make it reality” (Nix)

Iya, ide-ide di film ini memang seru, nyari planet lain, memelajari adanya parallel world di bumi ini kaya nonton serial FRINGE, semua untuk menghadapi akhir dunia yang entah datangnya kapan. Menurut saya sih itu bukan harapan. Trus kalo udah bisa nemuin planet lain, parallel world dan sebagainya, trus mau apa? Mau diancurin juga? ya sama aja kan..

Dunia kan akan tetap berakhir, man. Tapi sekarang, mumpung belom, yaudah, berusaha aja untuk tetap berbuat baik dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Buat kita, buat orang lain, buat anak-anak kita. Kalo kata Michael Moore, kita emang sengaja dibikin takut. Lewat berita-berita kriminal, lewat film2, lewat iklan. Lalu dengan kadar keparnoan tinggi, kita malah jadi melakukan hal-hal yang lebih mengerikan lagi.

Kita udah kehilangan rasa percaya. Sama pemerintah, sama orang lain, sama dunia, sama masa depan, bahkan sama kemampuan diri sendiri. Ya bebas sih kalo mau begitu. Saya gak mau ah. Saya masih mau berusaha. Yah setidaknya, berusaha untuk percaya sama diri sendiri, bahwa saya bisa kok melakukan hal-hal baik, meski kecil.

Siapa tau nanti ada barengannya. Kan jadi banyak. Kalo kata Tomorrowland “Dreamers need to stick together!!”

Hehehehe..

Kuping Caplang, Pendengar yang Baik?

Standard

Mumpung lagi bisa, hajar lagi deh blog nya. Susah lagi nyari waktunya. Hehehe..

Jadi kemarin, di Sydney, kami datang ke pop up market, yang namanya Finders Keepers di Australian Technology Park. Naik kereta dari city, plus jalan kaki 500 meter-an deh dari stasiun Reidfern ke lokasinya. Sengaja banget deh mau dateng, demi ngeliat barang-barang kreatif buatan orang Australia.

Nah disana, saya nemuin satu stand yang namanya Welly’s Wonder ini. Saya, sebagai penggemar gambar-gambar kartun klasik, macam bikinannnya miss Potter ini langsung diem lama disitu. Sebab, mereka bikin gambar kartun yang persis si Peter Rabbit dkk, gayanya.

Tadinya saya mau beli salah satu poster gede buat dipajang. Tapi kayanya susah banget bawanya, takut lecek. Akhirnya saya liat buku cerita bergambar, dan langsung saya bayar setelah minta sign dari authorsnya. Mereka, sepasang suami istri Demelza Kaines dan Adam Murphy. Istrinya bikin cerita, suaminya gambar.

20150519_161805

Yang bikin saya langsung pengen punya buku itu, bukan Cuma karena gambar dan kemasannya yang ciamik. Tapi karena kalimat di halaman ini.

20150519_161822

Hahaha…

Ini jawaban Mama dulu, tiap saya ngeluh, kenapa sih kuping kok caplang banget. Saya suka sebel sama daun telinga saya yang lebar kaya gajah. Lalu mengeluh ke mama. dan dia bilang persis seperti yang buku ini bilang

“Mungkin kamu bisa jadi pendengar yang baik, jadi dikasih telinga lebar biar bisa dengerin orang..”

“Buat apa dengerin orang? Kan lebih enak didengerin…” kata saya.

“Kalau semua orang ingin didengar, lalu siapa yang tugasnya mendengarkan? Ribut dong dunia ini kalo semua sibuk bicara, tanpa ada yang mau mendengar?” gitu kata mama saya yang bijaksana itu. hehehe..

Dan omongan orangtua memang jadi doa. Pada akhirnya saya sekarang memang lebih suka mendengarkan orang lain. Yah well, meski akhirnya saya jadi bisa merangkai tulisan dari banyak cerita yang saya dengar itu, dan tetap membaginya dalam kisah. Hehehhee..

Tapi sebenernya, jadi pendengar itu enak loh. Ya asal kuat hati aja, gak kebawa perasaan dari berbagai kisah orang lain. dengan banyak mendengar, kita bisa jadi tahu lebih banyak. Jadi berhenti menghakimi, dan bisa menilai setiap kisah enggak dari satu angle aja. Kita jadi bisa menilai, dalam hati, siapa orang yang benar-benar tulus, dan siapa yang tidak.

Lalu, lambat laun, kita juga jadi bisa menempatkan diri. Kapan harus bicara, dan kapan harus diam mendengarkan. Karena gak semua orang yang gemar bicara itu, ingin solusi. Kebanyakan Cuma ingin didengar. Tak semua orang ingin mendengar pendapat kita mengenai ceritanya, langsung saat itu juga. Rata-rata hanya ingin mencari tempat untuk meluapkan isi hati, biar enggak gila.

Ini juga jadi amat menguntungkan buat saya, karena saya amat suka belajar tentang manusia. Sebab sesungguhnya manusia itu RUMIT. Ya bicara ini, tapi maunya itu. Ya hari ini begini, besok begitu. Gak bisa diukur dengan angka, tabel, dan kurva. Emosi manusia itu jauh lebih rumit ketimbang ilmu fisika atau kimia.

Jadi, selalu menarik dan enggak ada habisnya. Seru kan?

Kisah setiap manusia juga enggak pernah ada yang sama persis. Ada kemiripan, tapi pasti ada perbedaan. Makanya, dengan banyak mendengarkan, saya biasanya dapet banyak inspirasi buat nulis atau mengerjakan sesuatu yang saya suka.

Saya juga jadi belajar berempati. Sebab, enggak sedikit cerita yang penuuuuh dengan kesedihan. Dan kadang manusia bisa bertutur dengan cara yang amat pilu, hingga sedihnya terasa sampai ke hati saya, sebagai pendengar. Ini pelajaran penting juga buat saya.

Tapi, pelajaran yang paling pentingnya adalah, saya jadi semakin paham bagaimana cara menjalani hidup, ya dari kisah orang-orang. Keputusan yang diambil orang lain, cara orang lain menyikapi permasalahannya, dan hubungan sebab-akibat dari apa yang dilakukan seseorang dalam kehidupannnya. LUAR BIASA.

Jadi, kadang, saya enggak harus mengalami sendiri kesedihan yang pernah dikisahkan kepada saya, sebab saya sudah lebih dulu mengambil pelajarannya. Menguntungkan, ya kan?

Saya jadi bisa selangkah lebih maju, dan lebih dulu belajar tanpa harus benar-benar mengalami.

Si Poe suka sebel, kalo saya sering kesana dan kesini, Cuma buat dengerin orang curhat. Begadang semaleman, Cuma buat melukin temen yang lagi sedih. Buat dia, itu kegiatan yang melelahkan. Buat saya, enggak. Saya suka kok. Buat saya, ini penting. Karena nantinya, pengalaman saya jadi lebih banyak daripada banyak orang.
Padahal, Cuma modal dengerin, gak ngalamin. Hahaha..makanya saya seneng nonton film yang banyak dialognya.
Menarik banget mendengarkan manusia bicara tentang kehidupan.

Kadang memang bosan kalau harus berhadapan dengan orang yang terlampau mellow. Sebab, tipikal ini biasanya mengulang-ulang cerita, tanpa pernah punya solusi. Kadang sudah tau harus bagaimana, tapi enggan berbuat. Ia seperti demen tenggelam dalam kesedihannya. Gemes sih. Tapi gapapa, jadi tambahan jenis karakter buat saya kenali.

That’s why, saat buka buku cerita ini saya langsung senyum dan menahan air mata. ada juga orang lain yang berpendapat sama dengan mama saya soal kuping caplang. Saya jadi kangen mama, sekaligus merasa senang. Ya karena jadi pendengar itu sebetulnya amat menyenangkan. Ketimbang bicara melulu, tanpa ada yang mendengar.

Dahsyatnya menjadi pendengar, juga pernah diomongin sama Marylin Manson ketika kasus penembakan di columbine. Waktu itu dia diwawancara, dan ditanya: “What if the kids at columbine were here today, what would you say to them?

Dia jawab:” I wouldn’t say a single word to them. I’d listen to what they had to say. And that’s what NO ONE DID..”

Iya ya, bener juga?

Jadi yang punya kuping caplang, gausah malu. Kita bisa jadi pendengar. Yaaah…siapa tau ada gunanya buat mencegah kekerasan atau tindak kriminal… :))

Polisi Tidur Melecehkan Kecerdasan? Lalu Gimana..?

Standard

Dulu, bokap pernah ngomel2 saat di kompleks rumah ada kebijakan menambah jumlah polisi tidur, karena banyak terjadi kecelakaan, yang disebabkan oleh kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi dalam kompleks.

Dia bilang: “Polisi tidur itu pembodohan. Sebab, ini berarti pihak yang membuat polisi tidur meremehkan kecerdasan warga. Mengganggap warga gak bisa diatur dengan rambu-rambu ketentuan batas kecepatan, dan harus di “gajlugin” biar gak ngebut..”

Saya jawab “Lah kan emang iya gak bisa dibilangin”

Dia jawab lagi “Gini nih yang susah..manusia kan punya otak,bisa diajarin baca, bisa diajak ngerti. Polisi tidur itu seolah menganggap manusia enggak bisa diajarin. Coba terapkan dulu sistem denda yang mahal, kalo melanggar. Lalu kasih ketentuan batas kecepatan…”

Saya potong “Siapa yang mau ngawasin pelanggarannya? Wong macet ngejelimet dijalanan aja gak ada yang atur?”

Dia memandang saya “Ya pake cctv..”

Saya nyengir “Pertama, anggaran siapa yang mau provide cctv di semua wilayah? Kedua, yakin kagak dipretelin? Ketiga, lahan basah baru tuh buat korupsi..”

Dia ikut nyengir “Ya iya sih, susah juga ya sistemnya udah bobrok gini. Perkara polisi tidur aja bisa jadi merembet kemana-mana. Tapi kamu gak boleh gitu, harus terus punya harapan dong sama negara ini. “

Saya ngakak “Iya pa, harapan mah ada. Gimana kalo papa aja coba dulu berlakukan sistemnya di komplek. Makanya, ikutan dong gabung sama RT RW biar bisa punya suara…”

Dia melengos.

Hahaha…papa saya paling males kalo harus ikutan acara RT RW, dimanapun. Ya susah juga kalo bisanya protes doang, ya? Tapi memang ngejelimet juga perkara polisi tidur ini.

Saya sendiri sekarang sering kesel banget dengan polisi tidur. Asal tau aja ya, di Bekasi tu jalanannya ancur banget. Bolong disana sini, jadi kalo nyetir mobil sedan, tersiksanya minta ampun. Eh ini pake ditambah lagi pake polisi tidur yang tajem-tajem, dimana-mana. Makin lengkaplah penderitaan.

Saya sih sebenernya setuju banget dengan ucapan papa bahwa keberadaan polisi tidur itu melecehkan kecerdasan warga. Saya bisa kok nurut sama rambu, kalo emang ada rambunya. Bener deh. Tapi kita terlanjur biasa dengan rasa tidak percaya kepada warga lain yang meolewati wilayah. “Takutnya ngebut, kan banyak anak kecil…” gitu kata pak RT saya, saat semangat banget mandorin pengerjaan polisi tidur keberapa ratus ribu gitu di kompleks.

“Ya polisi tidur kan adanya di jalanan-jalanan yang enggak utama aja, soalnya enggak ada polisi beneran yang bisa ngatur. Jadi, kita khawatir…” gitu katanya lagi.

Emang di jalanan besar ada polisi? Ada sih. Tapi emang… #ahsudahlah capek banget nyalah2in. Emang aja salah kita ya gak mau diatur.

Nah, kemarin, saya dan keluarga punya kesempatan main kerumah sahabat saya di Melbourne, Australia. Dia sih udah sering cerita tentang kotanya itu, yang disiplin, yang pajaknya mahal tapi jalanannya bagus, yang melahirkan dikasih duit, yang bayi harus duduk di carseat nya dengan safety belt, dan sebagainya.

Maka, hal yang pertama yang saya perhatikan dalam perjalanan dari airport menuju city, adalah keberadaan polisi maupun polisi tidur. Hasilnya? Enggak ada. Ok, itu mungkin jalan utama, jadi gamungkin ada polisi tidur. Tapi polisi lalu lintas pun enggak ada. Cuma semua orang nurut sama rambu yang dipasang.

IMG_1039

Lewat jalan A, 60 km. Jalan B, 40 km. Sengebut2nya di tol, maksimal ya 80 km/jam. Semua orang taat aja. Pegang hp sambil nyetir, ga berani. Anak kecil gak di safety belt, gak berani. Asli nyaman banget. Gapake deg2an. Mana jalanannnya mulus banget kaya muka dian sastro. Nyetir elf juga berani deh gue. (yakalii…)

Akhirnya, kita kerumah sahabat saya itu didaerah suburb, satu jam perjalanan dari city. Yang mana terasa jauh banget, karena satu jam nya bukan karena macet. Hahaha..

IMG_1044

Di suburb, rumah dia daerah dandenong-hampton park-rowville situ deh, ternyata juga enggak ada polisi tidur. Asli enggak ada. Dan biarpun daerahnya sepi, ya orang tetep aja taat sama aturan. Nyebrang, nunggu lampu hijau penyeberang nyala. Nyetir, ya sesuai ketetapan rambu kecepatan.

Temen saya bilang, denda kalo melanggar di Australia itu GEDE BANGET. Dan gak ada tuh pake polisi harus stop in kita di jalanan. Tau-tau nanti udah dateng aja tagihan kerumah, dan ngeri jumlahnya bisa sampe 200AUD, cuma karena melanggar batas kecepatan. Ditambah lagi banyak orang yang pengen jadi permanent resident, maka dalam masa percobaannya gak boleh melanggar aturan apapun.

Plus disana, untuk dapetin SIM aja, rumitnya minta ampun. Harus melewati banyaaaaaaak banget masa percobaan. Ya salah satunya, gak boleh juga melanggar. Nanti sim nya enggak dapet-dapet.

Makanya, orang Indo di Aus memang kebanyakan akan ngomelin anaknya dengan “AYOK duduk!! Kalo jumpalitan di mobil nanti keliatan police, lalu kita ditangkap. Mau ditangkap??”

Kalo di Indonesia, hahahaha…

Oh well, Gusti. Saya jadi gak tau mau bicara apa. Hal yang sama juga saya dapati di Sydney, karena kemarin kita juga sempet dateng kesana 3 hari.

Ok. Kayanya otak manusia dimana-mana sama aja ya? Tuhan Cuma membedakan fisik ras orang bule, orang asia, orang afrika. Tapi kalo otak sih kayanya semua sama ya kapasitasnya?

Lalu bagaimana cara mengatur manusia? Apa yang salah ya? Kalau kita terapkan denda yang besar, kira2 pelaksana hukumnya bisa gak ya? Kalo mau ada kamera disetiap rambu, kira2 aman gak ya keberadaannya? ah, tuh kan pesimis lagi. Heu…

Balik ke Bekasi, rasanya saya mau langsung jadi ketua RW trus bikin ketetapan rambu aja dan ngabisin semua polisi tidur di kompleks. Ya maksudnya, mungkin saya harus bener2 terlibat dalam sistem terkecil, dan menyosialisasikan aturan seperti itu ya? Kebijakan denda mahal, demi terciptanya manusia-manusia yang bisa diatur?

Atau saya mau diem aja, ngomel-ngomel sendiri, tapi gak berbuat apapun?

Atau,,,

Ngumpulin duit buat pindahan, trus ngajuin buat jadi permanent resident di Australia?
Hahahaha…*LapKeringet