Kuping Caplang, Pendengar yang Baik?

Standard

Mumpung lagi bisa, hajar lagi deh blog nya. Susah lagi nyari waktunya. Hehehe..

Jadi kemarin, di Sydney, kami datang ke pop up market, yang namanya Finders Keepers di Australian Technology Park. Naik kereta dari city, plus jalan kaki 500 meter-an deh dari stasiun Reidfern ke lokasinya. Sengaja banget deh mau dateng, demi ngeliat barang-barang kreatif buatan orang Australia.

Nah disana, saya nemuin satu stand yang namanya Welly’s Wonder ini. Saya, sebagai penggemar gambar-gambar kartun klasik, macam bikinannnya miss Potter ini langsung diem lama disitu. Sebab, mereka bikin gambar kartun yang persis si Peter Rabbit dkk, gayanya.

Tadinya saya mau beli salah satu poster gede buat dipajang. Tapi kayanya susah banget bawanya, takut lecek. Akhirnya saya liat buku cerita bergambar, dan langsung saya bayar setelah minta sign dari authorsnya. Mereka, sepasang suami istri Demelza Kaines dan Adam Murphy. Istrinya bikin cerita, suaminya gambar.

20150519_161805

Yang bikin saya langsung pengen punya buku itu, bukan Cuma karena gambar dan kemasannya yang ciamik. Tapi karena kalimat di halaman ini.

20150519_161822

Hahaha…

Ini jawaban Mama dulu, tiap saya ngeluh, kenapa sih kuping kok caplang banget. Saya suka sebel sama daun telinga saya yang lebar kaya gajah. Lalu mengeluh ke mama. dan dia bilang persis seperti yang buku ini bilang

“Mungkin kamu bisa jadi pendengar yang baik, jadi dikasih telinga lebar biar bisa dengerin orang..”

“Buat apa dengerin orang? Kan lebih enak didengerin…” kata saya.

“Kalau semua orang ingin didengar, lalu siapa yang tugasnya mendengarkan? Ribut dong dunia ini kalo semua sibuk bicara, tanpa ada yang mau mendengar?” gitu kata mama saya yang bijaksana itu. hehehe..

Dan omongan orangtua memang jadi doa. Pada akhirnya saya sekarang memang lebih suka mendengarkan orang lain. Yah well, meski akhirnya saya jadi bisa merangkai tulisan dari banyak cerita yang saya dengar itu, dan tetap membaginya dalam kisah. Hehehhee..

Tapi sebenernya, jadi pendengar itu enak loh. Ya asal kuat hati aja, gak kebawa perasaan dari berbagai kisah orang lain. dengan banyak mendengar, kita bisa jadi tahu lebih banyak. Jadi berhenti menghakimi, dan bisa menilai setiap kisah enggak dari satu angle aja. Kita jadi bisa menilai, dalam hati, siapa orang yang benar-benar tulus, dan siapa yang tidak.

Lalu, lambat laun, kita juga jadi bisa menempatkan diri. Kapan harus bicara, dan kapan harus diam mendengarkan. Karena gak semua orang yang gemar bicara itu, ingin solusi. Kebanyakan Cuma ingin didengar. Tak semua orang ingin mendengar pendapat kita mengenai ceritanya, langsung saat itu juga. Rata-rata hanya ingin mencari tempat untuk meluapkan isi hati, biar enggak gila.

Ini juga jadi amat menguntungkan buat saya, karena saya amat suka belajar tentang manusia. Sebab sesungguhnya manusia itu RUMIT. Ya bicara ini, tapi maunya itu. Ya hari ini begini, besok begitu. Gak bisa diukur dengan angka, tabel, dan kurva. Emosi manusia itu jauh lebih rumit ketimbang ilmu fisika atau kimia.

Jadi, selalu menarik dan enggak ada habisnya. Seru kan?

Kisah setiap manusia juga enggak pernah ada yang sama persis. Ada kemiripan, tapi pasti ada perbedaan. Makanya, dengan banyak mendengarkan, saya biasanya dapet banyak inspirasi buat nulis atau mengerjakan sesuatu yang saya suka.

Saya juga jadi belajar berempati. Sebab, enggak sedikit cerita yang penuuuuh dengan kesedihan. Dan kadang manusia bisa bertutur dengan cara yang amat pilu, hingga sedihnya terasa sampai ke hati saya, sebagai pendengar. Ini pelajaran penting juga buat saya.

Tapi, pelajaran yang paling pentingnya adalah, saya jadi semakin paham bagaimana cara menjalani hidup, ya dari kisah orang-orang. Keputusan yang diambil orang lain, cara orang lain menyikapi permasalahannya, dan hubungan sebab-akibat dari apa yang dilakukan seseorang dalam kehidupannnya. LUAR BIASA.

Jadi, kadang, saya enggak harus mengalami sendiri kesedihan yang pernah dikisahkan kepada saya, sebab saya sudah lebih dulu mengambil pelajarannya. Menguntungkan, ya kan?

Saya jadi bisa selangkah lebih maju, dan lebih dulu belajar tanpa harus benar-benar mengalami.

Si Poe suka sebel, kalo saya sering kesana dan kesini, Cuma buat dengerin orang curhat. Begadang semaleman, Cuma buat melukin temen yang lagi sedih. Buat dia, itu kegiatan yang melelahkan. Buat saya, enggak. Saya suka kok. Buat saya, ini penting. Karena nantinya, pengalaman saya jadi lebih banyak daripada banyak orang.
Padahal, Cuma modal dengerin, gak ngalamin. Hahaha..makanya saya seneng nonton film yang banyak dialognya.
Menarik banget mendengarkan manusia bicara tentang kehidupan.

Kadang memang bosan kalau harus berhadapan dengan orang yang terlampau mellow. Sebab, tipikal ini biasanya mengulang-ulang cerita, tanpa pernah punya solusi. Kadang sudah tau harus bagaimana, tapi enggan berbuat. Ia seperti demen tenggelam dalam kesedihannya. Gemes sih. Tapi gapapa, jadi tambahan jenis karakter buat saya kenali.

That’s why, saat buka buku cerita ini saya langsung senyum dan menahan air mata. ada juga orang lain yang berpendapat sama dengan mama saya soal kuping caplang. Saya jadi kangen mama, sekaligus merasa senang. Ya karena jadi pendengar itu sebetulnya amat menyenangkan. Ketimbang bicara melulu, tanpa ada yang mendengar.

Dahsyatnya menjadi pendengar, juga pernah diomongin sama Marylin Manson ketika kasus penembakan di columbine. Waktu itu dia diwawancara, dan ditanya: “What if the kids at columbine were here today, what would you say to them?

Dia jawab:” I wouldn’t say a single word to them. I’d listen to what they had to say. And that’s what NO ONE DID..”

Iya ya, bener juga?

Jadi yang punya kuping caplang, gausah malu. Kita bisa jadi pendengar. Yaaah…siapa tau ada gunanya buat mencegah kekerasan atau tindak kriminal… :))

Polisi Tidur Melecehkan Kecerdasan? Lalu Gimana..?

Standard

Dulu, bokap pernah ngomel2 saat di kompleks rumah ada kebijakan menambah jumlah polisi tidur, karena banyak terjadi kecelakaan, yang disebabkan oleh kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi dalam kompleks.

Dia bilang: “Polisi tidur itu pembodohan. Sebab, ini berarti pihak yang membuat polisi tidur meremehkan kecerdasan warga. Mengganggap warga gak bisa diatur dengan rambu-rambu ketentuan batas kecepatan, dan harus di “gajlugin” biar gak ngebut..”

Saya jawab “Lah kan emang iya gak bisa dibilangin”

Dia jawab lagi “Gini nih yang susah..manusia kan punya otak,bisa diajarin baca, bisa diajak ngerti. Polisi tidur itu seolah menganggap manusia enggak bisa diajarin. Coba terapkan dulu sistem denda yang mahal, kalo melanggar. Lalu kasih ketentuan batas kecepatan…”

Saya potong “Siapa yang mau ngawasin pelanggarannya? Wong macet ngejelimet dijalanan aja gak ada yang atur?”

Dia memandang saya “Ya pake cctv..”

Saya nyengir “Pertama, anggaran siapa yang mau provide cctv di semua wilayah? Kedua, yakin kagak dipretelin? Ketiga, lahan basah baru tuh buat korupsi..”

Dia ikut nyengir “Ya iya sih, susah juga ya sistemnya udah bobrok gini. Perkara polisi tidur aja bisa jadi merembet kemana-mana. Tapi kamu gak boleh gitu, harus terus punya harapan dong sama negara ini. “

Saya ngakak “Iya pa, harapan mah ada. Gimana kalo papa aja coba dulu berlakukan sistemnya di komplek. Makanya, ikutan dong gabung sama RT RW biar bisa punya suara…”

Dia melengos.

Hahaha…papa saya paling males kalo harus ikutan acara RT RW, dimanapun. Ya susah juga kalo bisanya protes doang, ya? Tapi memang ngejelimet juga perkara polisi tidur ini.

Saya sendiri sekarang sering kesel banget dengan polisi tidur. Asal tau aja ya, di Bekasi tu jalanannya ancur banget. Bolong disana sini, jadi kalo nyetir mobil sedan, tersiksanya minta ampun. Eh ini pake ditambah lagi pake polisi tidur yang tajem-tajem, dimana-mana. Makin lengkaplah penderitaan.

Saya sih sebenernya setuju banget dengan ucapan papa bahwa keberadaan polisi tidur itu melecehkan kecerdasan warga. Saya bisa kok nurut sama rambu, kalo emang ada rambunya. Bener deh. Tapi kita terlanjur biasa dengan rasa tidak percaya kepada warga lain yang meolewati wilayah. “Takutnya ngebut, kan banyak anak kecil…” gitu kata pak RT saya, saat semangat banget mandorin pengerjaan polisi tidur keberapa ratus ribu gitu di kompleks.

“Ya polisi tidur kan adanya di jalanan-jalanan yang enggak utama aja, soalnya enggak ada polisi beneran yang bisa ngatur. Jadi, kita khawatir…” gitu katanya lagi.

Emang di jalanan besar ada polisi? Ada sih. Tapi emang… #ahsudahlah capek banget nyalah2in. Emang aja salah kita ya gak mau diatur.

Nah, kemarin, saya dan keluarga punya kesempatan main kerumah sahabat saya di Melbourne, Australia. Dia sih udah sering cerita tentang kotanya itu, yang disiplin, yang pajaknya mahal tapi jalanannya bagus, yang melahirkan dikasih duit, yang bayi harus duduk di carseat nya dengan safety belt, dan sebagainya.

Maka, hal yang pertama yang saya perhatikan dalam perjalanan dari airport menuju city, adalah keberadaan polisi maupun polisi tidur. Hasilnya? Enggak ada. Ok, itu mungkin jalan utama, jadi gamungkin ada polisi tidur. Tapi polisi lalu lintas pun enggak ada. Cuma semua orang nurut sama rambu yang dipasang.

IMG_1039

Lewat jalan A, 60 km. Jalan B, 40 km. Sengebut2nya di tol, maksimal ya 80 km/jam. Semua orang taat aja. Pegang hp sambil nyetir, ga berani. Anak kecil gak di safety belt, gak berani. Asli nyaman banget. Gapake deg2an. Mana jalanannnya mulus banget kaya muka dian sastro. Nyetir elf juga berani deh gue. (yakalii…)

Akhirnya, kita kerumah sahabat saya itu didaerah suburb, satu jam perjalanan dari city. Yang mana terasa jauh banget, karena satu jam nya bukan karena macet. Hahaha..

IMG_1044

Di suburb, rumah dia daerah dandenong-hampton park-rowville situ deh, ternyata juga enggak ada polisi tidur. Asli enggak ada. Dan biarpun daerahnya sepi, ya orang tetep aja taat sama aturan. Nyebrang, nunggu lampu hijau penyeberang nyala. Nyetir, ya sesuai ketetapan rambu kecepatan.

Temen saya bilang, denda kalo melanggar di Australia itu GEDE BANGET. Dan gak ada tuh pake polisi harus stop in kita di jalanan. Tau-tau nanti udah dateng aja tagihan kerumah, dan ngeri jumlahnya bisa sampe 200AUD, cuma karena melanggar batas kecepatan. Ditambah lagi banyak orang yang pengen jadi permanent resident, maka dalam masa percobaannya gak boleh melanggar aturan apapun.

Plus disana, untuk dapetin SIM aja, rumitnya minta ampun. Harus melewati banyaaaaaaak banget masa percobaan. Ya salah satunya, gak boleh juga melanggar. Nanti sim nya enggak dapet-dapet.

Makanya, orang Indo di Aus memang kebanyakan akan ngomelin anaknya dengan “AYOK duduk!! Kalo jumpalitan di mobil nanti keliatan police, lalu kita ditangkap. Mau ditangkap??”

Kalo di Indonesia, hahahaha…

Oh well, Gusti. Saya jadi gak tau mau bicara apa. Hal yang sama juga saya dapati di Sydney, karena kemarin kita juga sempet dateng kesana 3 hari.

Ok. Kayanya otak manusia dimana-mana sama aja ya? Tuhan Cuma membedakan fisik ras orang bule, orang asia, orang afrika. Tapi kalo otak sih kayanya semua sama ya kapasitasnya?

Lalu bagaimana cara mengatur manusia? Apa yang salah ya? Kalau kita terapkan denda yang besar, kira2 pelaksana hukumnya bisa gak ya? Kalo mau ada kamera disetiap rambu, kira2 aman gak ya keberadaannya? ah, tuh kan pesimis lagi. Heu…

Balik ke Bekasi, rasanya saya mau langsung jadi ketua RW trus bikin ketetapan rambu aja dan ngabisin semua polisi tidur di kompleks. Ya maksudnya, mungkin saya harus bener2 terlibat dalam sistem terkecil, dan menyosialisasikan aturan seperti itu ya? Kebijakan denda mahal, demi terciptanya manusia-manusia yang bisa diatur?

Atau saya mau diem aja, ngomel-ngomel sendiri, tapi gak berbuat apapun?

Atau,,,

Ngumpulin duit buat pindahan, trus ngajuin buat jadi permanent resident di Australia?
Hahahaha…*LapKeringet

Tertular Gembira Pak Ratimin

Gallery

Hari ini lucu. Saya naik taksi dari rumah mau anter abib les renang di anak air, kebagusan. Lalu si supir dateng dengan wajah amat sumringah. Kemudian dia bercerita… “Saya Alhamdulillah bgt mbak, ini bener2 kyasa Allah ya. Saya ini mau urus beasiswa buat anak saya. Td dr pool tambun, saya sengaja ke daerah galaksi, krn […]

Rate this: