Abib 3 Tahun!!

Gallery

Cerita Otak dan Film Pilu

Standard

Malam ini, saya menghabiskan waktu satu jam untuk membaca berbagai artikel mengenai otak. Penggunaan kapasitas otak manusia, mitos, fakta, otak kanan, otak kiri dan kaitannya dengan perasaan.

Sebenarnya sudah BANYAK betul yang saya baca, tapi belum juga merasa puas. Mungkin karena susah ya bacanya. Bahasanya kebanyakan science bgt. Hahha..

Semua ini saya lakukan, hanya karena penasaran setelah nonton film ala Hollywood, Lucy. Dan kemudian membandingkannya dengan film The Disappearance of Eleanor Rigby. Hahaha cheesy bgt ya?

Tapi sungguh, saya penasaran sekali.

**

Jadi begini, kemarin saya nonton film tragis The Disappearance of Eleanor Rigby itu. Ceritanya lumayan menarik dan pilu. Tentang seorang ibu baru yang kehilangan anaknya, masih dalam usia bayi.

The-Disappearance-of-Eleanor-Rigby

Mirip sama film rabbit hole sebenarnya. Menyedihkan dan tragis.

Makna tragis dalam film ini, menurut saya, bukan perjalanan keseluruhan kisah dari film ini. Tapi lebih kepada perasaan yang dihantarkan ke penonton. Sedih, kesepian, kehilangan, hampa, dan –dalam bahasa saya- langitnya selalu berwarna abu-abu. Meski pada akhirnya, logika saya menolak cerita perjalanan dan pilihan Eleanor Rigby (Jessica Chastain) dalam menyikapi dukanya.

Nah, beberapa waktu sebelum nonton film yang jadi official selection festival Cannes ini, saya juga nonton film LUCY. Filmnya tentang seorang perempuan yang terpaksa menyerap zat sintetis di tubuhnya dan menyebabkan otaknya menyempurnakan kapasitas, hingga 100 persen.

Di film ini, ada satu penelitian yang bilang bahwa, manusia Cuma menggunakan 10 persen dari seluruh kapasitas otaknya. Semakin tinggi seorang manusia memaksimalkan kapasitas otaknya, semakin ia tidak punya waktu untuk ‘merasakan’. Dia akan jadi manusia yang senseless. Karena otaknya terlalu sibuk.

Nah, sementara di Eleanor Rigby, ia sibuuuuukkk sekali menceritakan perasaannya. Sibuk sekali dengan dukanya, sampai tak bisa lagi berpikir jernih. Ia terjun bebas dari jembatan-meski akhirnya tidak mati-, ia meninggalkan suaminya begitu saja, hingga akhirnya ia mencari cara untuk mengobati dukanya dengan lari. Pergi mengenyahkan kehidupan, luka hatinya di kota itu.

Akhirnya saya jadi kepikiran….

Bener atau enggak ya, bahwa semakin tinggi manusia memaksimalkan kinerja otaknya, ia akan sulit merasakan luka fisik dan hati. Semakin pinter seseorang, akan membuatnya less human.

“Like this pain you’re experiencing. It’s blocking you from understanding. All you know now is pain. That’s all you know, pain. Where are the others?” (Lucy)

**

Setelah baca ini dan itu, berbagai artikel yang ngebahas soal film lucy, dan apakah penelitian di film itu relevan. Hasilnya adalah:

1. Lucy adalah film khayalan, karena teori di film itu; manusia hanya mempergunakan 10 persen dari seluruh kapasitas otaknya, sudah lama dinyatakan sebagai mitos. Baca disini , http://www.nerdist.com/2014/07/how-we-know-your-brain-is-just-as-amazing-as-lucys/ dan disini, bahwa manusia sudah menggunakan 100 persen otaknya.

2. Otak kita memang butuh nutrisi dari berbagai aspek. Dengan belajar, berkegiatan, membaca, menulis dll kita sedang memberikan nutrisi dalam bentuk menyambungkan neuron satu dan lainnya. Makan sehat, olahraga, tidur cukup juga memberikan nutrisi pada otak. Ini benar. Tapi namanya bukan meningkatkan kapasitas otak, melainkan mealtih otak agar tetap bisa bekerja dengan baik. Soalnya semua bagian otak, memang selalu bekerja menurut pembagian tugasnya masing-masing.

3. Otak manusia punya sekitar 86 juta neuron. Emang enggak sebanyak jumlah bintang di galaksi tapi ini jelas lebih banyak dari jumlah neuron pada otak hewan. Kalo kita, manusia, rata2 Cuma menggunakan 10 persen dari otak kita, jumlah neuron kita pasti hanya selevel dengan zebra dewasa, ikan dan dibawah katak.

4. Kata Douglas Fields: “a more realistic side effect of a sudden increase in brain cells would be amnesia; recent research indicates that birth of new neurons in the growing brains of young children is one of the reasons we can’t remember events from when our head was still expanding to its adult size. The new neurons seem to disrupt the existing connections between neurons holding memories.” Ya itu dia penjelasan kenapa kita gak bisa banyak mengingat hal-hal yang terjadi waktu kita kecil. Jadi bukan karena kita Cuma menggunakan 10 persen dari kapasitas otak.

5. Nah, sementara disini, ada poin bagus yang bikin saya ngangguk-ngangguk. Jadi, saat kita merasakan takut, under attack, stress dll, ini biasanya ‘menyalakan’ me center di otak. Ini yang akhirnya bikin kita mengalami anxiety. Nah, Membangunkan koneksi antar neuron bisa membantu kita untuk menjaga reaksi yang terjadi saat me center di otak kita menyala. Dengan membangun koneksi ini, kita menguatkan koneksi antar assessment center otak kita dengan sensasi tubuh serta reaksi ketakutan. Mudahnya adalah; kita bisa menyikapi segala pressure yang terjadi dengan berpikir rasional.

Nahhhh!! Jadi berarti ada juga benernya juga ya tu film lucy. Ya memang, enggak juga bikin kita jadi less human. Tapi, semakin banyak kita memberikan nutrisi bagi otak, membangunkan koneksi antar neuron di otak kita, maka kita semakin pandai berpikir rasional dalam menghadapi apapun. Alias enggak terlalu mudah terbawa perasaan, dan tenggelam dalam duka yang terlalu lama. Kita bisa MOVE ON! Yes..

(Btw, Saya sengaja nulis poin-poin awal tadi agar imbang aja. Bahwa Lucy memang film fiksi dan bukan science, karena grand theory nya sudah lama dinyatakan banyak ilmuwan sebagai mitos. Tapi, poin membangunkan koneksi antar neuron ini ternyata bener juga. hehe..meski entah ya, mengingat saya belajar nya dari artikel yang belum tentu benar.)

**

Fffuuhh..

Pusing banget Cuma mau ngebahas film aja. Ahahaha..soalnya saya penasaran betul, kenapa bisa ada manusia seperti eleanor rigby yang cukup cerdas, asupan gizi cukup, punya keluarga normal, tapi enggak bisa menghadapi kehilangan. Kenapa bisa ada kesedihan, yang se sedih itu dalam kehidupan seseorang, sampe mampu membuat orang itu meninggalkan ‘dunia’nya? Kenapa ‘rasa’ bisa sebegitu menguasai diri seseorang hingga ia hancur lebur?

Saya pernah berhadapan langsung dengan orang seperti ini. Dan waktu itu, saya enggak punya cukup waktu untuk baca artikel tentang otak. So, yang saya bilang ke dia hanya “Kita lahir dengan agama, Tuhan ajarkan kita untuk tegar. Tuhan janjikan kita bahwa Dia enggak akan kasih ujian diluar kemampuan kita. Rasa sedih itu wajar, tapi Tuhan banyak melarang kita untuk bersedih, karena tidak banyak kebaikannya bagi hati. Melemahkan hati, melemahkan semangat dan merusakkan niat berbuat baik.”

Nah sekarang setelah sok iye belajar otak, saya jadi punya lagi jawaban untuk mbak eleanor dan teman-teman yang sulit sekali menanggulangi rasa sedih, kehilangan, kepedihan dan lain-lain. kasih nutrisi buat otak, makan yang baik, tidur cukup, olahraga dan BANYAKIN BELAJAR. Ohya, kalo di artikel tadi ada juga cara lain; meditasi. Mungkin kita bisa menerjemahkan ‘meditasi’ dengan kegiatan serupa?!

Kita punya otak, yang akan menjaga diri dari perbuatan-perbuatan enggak rasional. Kaya yang dilakukan sama Eleanor Rigby; mencoba bunuh diri, ninggalin suaminya gitu aja karena ngerasa ‘kehilangan dirinya’, kabur keluar negeri karena gak sanggup hidup dan menjalani hari-hari di kota lama. Ya mau sampe kapanpun, kalo enggak diselesaikan, rasa sedih sih ngejar terus gak ada berhentinya.

Percaya deh. Been there.

Bagaimanapun manusia harus move on. Mama saya pernah ngomel: “Sekali airmata turun, kita enggak akan bisa berdiri tegak lagi. Bayangkan sebungkuk apa kita kalo nangis terus?”
..

“Life was given to us a billion years ago. What have we done with it?” (Lucy)

Menyalahkan Orang Lain?

Image

Oke. Kali ini saya mau curhat dikit.

Kemarin, saya mampir ke salah satu toko kue waralaba. Kondisi saya agak terburu-buru, dan di toko tersebut menerapkan sistem self service kepada customer.

Kue-kue yang hendak saya ambil terpampang manis di dalam showcase. Nah, saat saya hendak membayar kue-kue yang saya pilih, kemudian saya teringat untuk mengambil lagi satu kue keju. Iya, saya lihat disitu ada seorang ibu dengan anak kecil yang juga sedang memilih kue. Tapi karena sedang terburu-buru, maka saya membuka showcase kue nya dengan gerakan cepat. Tanpa sempat melihat posisi tangan si anak kecil tersebut.

Saat saya sudah mengambil kue yang saya ingin beli, tiba-tiba ibu itu menegur saya pelan “Mbak, lain kali hati-hati ya bukanya, tadi tangan anak saya ada disitu (sambil nunjuk pintu kaca showcase), untung enggak kejepit…”

Saya kaget lalu senyum sekilas.

Setelah pergi dari toko jadi kepikiran…

Iya sih saya salah karena saya keburu-buru maka kurang perhatian. Tapi, saya enggak pernah melakukan tindakan yang ibu tadi lakukan terhadap saya, kepada Abib.

Sebab menurut saya, itu jadi sama saja dengan menepuk meja jika kepala Abib kejedot.

Bener atau enggaknya, entah ya. Tapi buat saya, itu jadi seperti menyalahkan orang lain ketimbang memperingatkan anak sendiri untuk berhati-hati. Mosok yang ditegur orang lain? kan orang itu gak mungkin dengan sengaja mau menjepit tangan anak saya di show case toko kue…

Kecuali kalo lagi di playground dan ada anak yang lebih besar, dengan sengaja mendorong Abib sampai jatoh ya…itu lain cerita. *siapin Sarungtinju

Saya jadi inget baca di bukunya Ayah Edy:

1. Raja yang Tak Pernah Salah
Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.

Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah.

Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau hukuman adalah orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.
Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis? Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi; katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit): ” Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.”

Nah ya kan??

Saya sih gak tersinggung ya dengan ditegur sama ibu itu. namanya juga orang tua, kan suka terlalu sayang sama anak. Tapi, sayang dalam definisi saya gak seperti itu. sayang buat saya, adalah mengajak anak saya mandiri, berani dan bisa menjaga diri. Karena saya enggak pernah tahu, sampai kapan saya bisa hidup dan melindungi anak saya.

Kalo besok saya mati, dan anak saya selalu benar, maka celakalah saya. Karena saya sudah bikin dia susah dengan menjadikannya anak yang dirasanin orang lain mulu. Saya sudah bikin Tuhan marah karena mendidik anak untuk menjadi orang yang egois dan menyalahkan orang lain. Saya juga sudah bikin orang lain yang berada di sekitar dia susah, karena dia akan melawan terus. Sebab dia selalu merasa benar…

Kalo kata Dr Sears…”Initially a child believes behaviors are right or wrong because you tell her so, or she considers the consequences. By five years of age your child begins to internalize your values: what’s right for you becomes right for her. Your values, virtuous or not, become part of your child.”

Hehehe…

Sekian curhat kecil malam ini. Semoga ini bisa jadi pengingat dalam hidup saya, dalam membesarkan anak.

(Review) Sabtu Bersama Bapak @adhityamulya

Gallery

Semalam, saya enggak bisa tidur. Ya biasa sih, karena keasyikan. Bukan, bukan keasyikan nulis, nonton atau buka-buka instagram (baca: ONLINE SHOP hahaha). Tapi karena baca buku. Buku yang tadinya saya anggap buku cheesy, yang isinya bisa bikin ngakak, dan saya baca karena saya lagi mumet, butuh hiburan. Mengapa saya sudah yakin bahwa buku yang saya […]

Rate this: