Jangan (bangga) jadi orang miskin

Gallery

Serba salah.

Iya, itu dia perasaan saya tiap kali lampu merah dan diserbu sama pengemis, pengamen dan anak jalanan. Kalo ngasih, setau saya, mereka itu sistemnya setoran kaya supir taksi. Dikumpulin sama induk semang, dikasih rumah, dikasih jatah makan, trus disuruh kerja. Belum lagi rumor2 yang entah bisa digeneralisir atau gak, bahwa sebenarnya mereka di kampung punya rumah mewah dan harta berlimpah. Mengemis jadi pilihan, karena merupakan pekerjaan mudah dan hasilnya cihuy.

Tapi kalo gak ngasih, hati saya merasa bersalah. Kan saya gak bisa menjamin, apakah semua keburukan-keburukan perilaku yang tadi saya bahas itu terjadi pada SEMUA pengemis atau tidak. Karena harga bahan pokok kan memang mahal, cari pekerjaan kan memang sulit.

Dilema ini, saya yakin pasti dialami banyak orang deh. Ya gak?

Mentoknya, rata-rata pasti ; “Yaudahlah, yang penting niat kita baik, urusan uangnya dipake untuk apa, ya biar dicatatnya sama Allah”…ehm..ya gak salah sih. Tapi, saya tetap merasa ada sesuatu yang kurang PAS dengan kata2 itu. Tapi gak tau apa? Ketidaktahuan ini juga rasanya, yang bikin saya serba salah setiap berpapasan dengan para gelandangan, pengemis, anak jalanan dan se-TON sebutan buat mereka semua.

Tapi dari semua itu, menurut saya, kesalahan paling besar yang menyedihkan adalah: mencari penghidupan dari rasa kasihan orang lain.

Terlepas dari mereka benar2 miskin atau tidak, namun rasanya ada pergeseran nilai kemiskinan, sekarang. Kemiskinan, bukan lagi momok memalukan yang harus segera disingkirkan. Melainkan, sebuah ‘kebanggaan’ dan bahkan mata pencaharian. Well..

Gini, kemarin, saya dan Poe baru pulang dari rumah sodara di daerah cipayung-kampung ceger. Kami pulang lewat kp rambutan yang semrawut gak keruan itu. Saat sedang menunggu lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau, sebuah metro mini no 53 yang ukurannya sama sekali gak slim itu, nyelip di kanan. Maksa banget. Untung gak bikin mobil baret, kata Poento.

Karena, masih menurut Poe, dulu jaman kuliah dia pernah jadi penumpang sebuah metro mini dan supirnya begajulan macam si supir 53 itu. salip kanan, salip kiri, berasa motor. Nah, adalah satu mobil yang kena baret panjaaaaaang. Tapi si supir metro mini ini jalan aja, meski cenderung ngebut.

Saat dia pikir, mobil yang dia kasih kenang2an tadi sudah enggak mengejar, mulailah dia ngetem lagi. Tetiba, dari kerumunan antrean mobil yang macet, muncullah mobil yang dibaret panjang tadi. Keluarlah seorang emak2, bawa kunci setang. Dengan emosi, dia memecahkan semua kaca2 lampu di metro mini sambil berteriak memerintahkan si supir keluar.

Keren ya? Hahaha…

Coba deh, setelah mendengar kisah tadi, di dalam benak kita pasti tercipta 2 angle. Pertama, angle kasian. Pemakluman bahwa si supir metromini itu miskin, gak mampu sekolah, jadi bodoh. Ya maklumin aja. Kalo dirusak2 gitu, dia nanti harus mengganti dan itu pake biaya. Lagipula, nuntut pertanggung jawaban supir metro mini ya sama aja menunggu godot. Rasanya jarang ada supir bus kota yang mengganti kerugian dengan full, belum pernah dengar.

Sementara angle kedua adalah, SUKURIN!! Emang supir metro mini itu harus dapet pelajaran. Karena kita yang sehari2 nyetir mobil udah capek sama kesembronoan mereka, semena-menanya mereka, dan semua perilaku supir kendaraan umum yang membahayakan.

Angle di kepala saya Cuma satu: SERBA SALAH. Heu.

Ya, benar memang adanya rasa iba karena supir itu miskin dan perusakan kendaraan yang bukan miliknya, akan membuat hidupnya lebih sulit. Tapi, merusak fasilitas umum, atau kendaraan orang lain tidak bisa dibenarkan, hanya dengan alasan: MISKIN. Jadi orang miskin punya privillage untuk melakukan perusakan?

Apa bedanya dengan koruptor dong?

Ya kalau Cuma rusak. Kalau sampai mengambil nyawa, atau menyebabkan kecacatan?

**

Saya pernah juga buka artikel foto pengemis yang siangnya mengais-ngais nafkah dari belas kasihan, sementara malamnya makan di sebuah fastfood ini.

Atau artikel ini, tentang desa Grinting yang warganya banyak menghabiskan waktu untuk mengemis di Jakarta, sementara di kampung mereka punya rumah mewah dan sebagainya. Buat cerita yang satu ini, saya pernah denger live nya. Dari temennya Poento yang menyewakan rumah-rumah petak untuk dikontrakkan, dengan harga miring.

Kebanyakan para penghuni nya ternyata berprofesi sebagai pengemis.

Suatu hari, si empunya kontrakan diundang ke kampung salah satu penyewa rumah petaknya. Sebab anaknya menikah. Saat datang, temennya Poe ini kaget banget, karena si pengemis yang mengontrak rumah petaknya ternyata juragan di kampung. Sure, alasannya, jadi pengemis, hidup dari belas kasih orang, menyatakan diri sendiri miskin, lebih menguntungkan ketimbang pekerjaan lain. Pekerjaan yang bisa didapatkan dari seorang tanpa ijazah dan tanpa pendidikan yang mumpuni.

Sementara, disini, kita dibiarkan mengalami rasa serba salah acapkali lihat mereka memohon kasih dari tangan-tangan kita.

Nah, tapi apa semua pengemis itu Cuma pura-pura? Belum tentu kan? Tapi, setelah tahu semua ini, apa kita masih mau ngasih? Ini persis lah sama kasus gayus dan teman2nya. Apa iya semua pegawai ditjen pajak itu penjahat? Belum tentu. Tapi, setelah berbagai kasus yang dibongkar di media, apakah kita masih mau percaya mereka….?

Kejahatan masif yang dilakukan orang-orang itu, membuat rangkaian kesalahan dimana-mana. Di tangan kita yang tak lagi ingin memberi. Di benak orang yang benar-benar membutuhkan, tapi tak lagi mendapatkan kepercayaan.

Serba salah memang. Pedih..

Pemecahan masalah ini, kita semua sudah tau. Harus ada penurunan angka kemiskinan. Harus ada kebijakan yang lebih mementingkan kebutuhan rakyat. Harus ada peningkatan kesejahteraan. Tapi, apa kita mau nyalahin pemerintah? Gak perlulah. Kita balik aja ke diri sendiri, tanya sama diri sendiri, sebagai orang yang pernah duduk di bangku kuliah. Sudah bekerja, sudah berkeluarga.

Gimanapun semua itu, sejelek2nya negeri ini, kita punya tanggung jawab. Kita harus bisa membuat gerakan kebaikan yang tak kalah masif. Gimana caranya? Lakukan aja dari yang terkecil. Dari diri sendiri, dari keluarga atau teman-teman dekat.

**

Menurut saya, kemiskinan bukanlah kebanggaan. Mencari nafkah dengan menggadang-gadang kemiskinan itu adalah perbuatan yang tidak menghargai diri sendiri. Kalo sama diri sendiri aja demikian, bagaimana sama orang lain?

Kalau merasa bodoh, merasa miskin, harusnya punya semangat lebih untuk maju. Saya punya contoh buat statement ini.

Kemarin, adik saya sempet dapet tugas kuliah. Dia bikin semacam filem pendek, tentang Andri. Dia ini tukang ketoprak di depan kampus adek saya. Umurnya 20 taun, asalnya dari Pacitan, Jawa Timur. Dateng ke Jakarta, niatnya emang untuk bekerja, ikut pamannya. Sampai di sini, dia kedapetan kerjaan dagang ketoprak di depan Al Azhar.

Sabaaan hari liat mahasiswa, Andri gak tahan. Dia kepengen kuliah, kepengen pinter, kepengen nasibnya berubah. Setelah tanya2 sama beberapa mahasiswa yang makan ketoprak buatannya, akhirnya dia memberanikan diri untuk datang ke administrasi kampus Al Azhar, mencari beasiswa.

Sekarang, dia resmi jadi mahasiswa. Bahkan sampe dapet tempat tinggal di asrama kampus.

Ini video nya…

Ya kan? Enggak perlu mengais rasa kasihan dari orang lain. Jadi miskin dan bodoh itu gak enak. Kenapa? Karena kita lebih banyak meminta daripada memberi. Padahal, sebaik-baiknya manusia kan yang bermanfaat buat orang lain. Nah, kalo kita sendiri terbatas, gimana kita bisa menguatkan yang lain? Gimana kita bisa berbagi?

Mungkin begitu, seharusnya. Biar gak bikin serba salah.

Saling menguatkan… 😀

One response »

  1. Pingback: Yang Kuat itu Lebih Baik.. | My -FreeTime- Writing Domain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s