Energi Positif dari Dog Whisperer

Gallery

Suka nonton The Dog Whisperer di National Geographic?

 

(Gambar nyomot dari sini)

Saya suka *ngacung*

Menurut saya, Cesar Millan is AWESOME!! Mungkin bisa intip web nya dia disini.

Jadi, di acara ini, cesar akan datang ke rumah-rumah para pemilik anjing yang merasa kesulitan dengan perilaku anjing nya yang bermasalah. Entah anjing yang berprilaku agresif dan menyerang manusia, atau anjing lain, kemudian anjing yang ‘menguasai’ rumah, hobinya acak2in kulkas dan lemari makanan, intinya adalah permasalahan terkait rasa secure dan kedisiplinan seekor anjing.

Setelah si pemilik jungkir balik mencoba mendisiplinkan anjingnya, Cesar Cuma dateng dan bilang “sshh” di depan tu anjing, tarrraaaa…abracadabra, nurut begitu saja. Menakjubkan banget. Well, kadang2 ada juga sih anjing yang direhabilitasi di sarana rehab khusus anjing, milik Cesar. Khusus anjing-anjing dengan kasus yang dianggap cukup berat.

Nah, setelah nonton dari episode ke episode dog whisperer, Cuma satu benang merah yang ditekankan Cesar buat setiap anjing ‘bermasalah’ : Energi kita. Hmmm, jadi, perilaku anjing yang menyulitkan kita itu, seringkali bikin si pemilik nervous, panik dan marah, ternyata, energi negatif macam itulah yang bikin tu anjing malah semakin parah.

Jadi, menurut Cesar, di SETIAP kasus, sebelum memperbaiki perilaku anjing, sebaiknya sang pemilik harus ‘kosong’ dulu. Means: tenang, tegas dan sabar. Karena, meskipun anjing gak bisa kita ajak ngobrol seperti manusia lain, mereka lebih sensitif. Mereka mampu merasakan energi yang dikeluarkan mahluk-mahluk disekitarnya, mereka mampu mendengar apa yang dijeritkan hati pemiliknya, dan mereka bereaksi atas itu.

Sounds familiar? Yess..karena bayi juga begitu.

Hahaha…ini bukan membandingkan bayi manusia dengan anjing, tapi bener kan? Admit it, kita belum bisa ngobrol sama bayi seperti ngobrol dengan manusia biasa, tapi gak tau gimana caranya, mereka selalu bereaksi terhadap apapun perasaan kita.

Hal ini diulas sama Dr Oz di buku Raising your child. Dia tulis: “Memang terdengar janggal, tapi salah satu hal yang paling berpengaruh dalam lingkungan anak anda adalah kondisi pikiran anda!”

Kalo menurut buku ini, Antara 10-20 persen ibu dari bayi yang baru lahir terpengaruh oleh depresi pasca melahirkan (belum lagi syndrom baby blues), sementara 1/3 ibu yang memiliki anak usia pra sekolah juga bs menderita depresi.

Ketika seorang ibu depresi, ia mungkin hadir secara fisik, tapi tidak secara psikologis. Otomatis, seorang bayi yang ibunya depresi bisa keseret-seret ikutan depresi dan sulit menjalin hubungan sama orang lain dan sekitarnya. Yang paling parah ni, dalam keadaan ekstrem, bayi itu bisa berada di bawah kurva pertumbuhan. A.k.a bayinya kecil.

Nah, kalimat berikutnya ini lebih scary lagi: “Bila ibunya mengalami depresi kronis, sang anak mungkin mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan akrab SEUMUR HIDUPNYA. Selain itu, anak mungkin mudah bosan, pasif, memiliki tabiat yang SULIT DIKENDALIKAN, mudah tersinggung, penakut dan pencemas.”

Ternyata, semua hal itu bisa terjadi karena si ibu yang depresi itu jarang ngobrol sama bayinya, gak menggunakan sifat keibuan-nya, plus jadi enggak peka sama isyarat yang ditunjukkan si bayi.

Ya kan? Ya kan? Mirip kan sama dog whisperer???

Sebagai seorang enyak, saya cukup mengerti hal itu. alhamdulillah saya gak sampe depresi, tapi kalo kesel-kesel, pegel-pegel yang mengakibatkan bete, serta cranky kalo abib lagi males makan, itu lumayan sering ya. Hehehe..dan dengan nonton dog whisperer, seolah menjadi alarm buat saya. Mengingatkan bahwa, heyy, kalo dia lagi males makan ya dicari dong akar masalahnya. Mungkin dia belum laper, mungkin ga enak badan, mungkin makanannya gak enak, mungkin bosen sama menu itu, dan sebagainya. Setelah itu, cari SOLUSI nya!!

Bukannya malah jadi marah-marah dan bete. Karena, terbukti, tiap dia lagi ogah2an makan, dan kemudian saya kesel, abib malah jadi makin males makan kemudian jadi rewel. Ya masa mau berantem sama bayi????

Begitu juga untuk masalah-masalah interaksi enyak-abib lainnya, yang –ternyata- bisa berakibat fatal.

Nah, saya pernah baca artikel bagus yang ditulis sama Asma Nadia di Republika soal ini. Nih artikelnya!

Orangtua profesional. Well..

Kalimat ini kena banget:  Orang tua profesional bukan mereka yang tidak pernah marah namun mengerti kapan harus menunjukkan sikap tegas. Bukan semata-mata karena dorongan emosi melainkan ketika marah—dengan proporsi yang tepat—memang diperlukan sebagai pembelajaran.

Orang tua yang profesional tidak akan marah karena terbebani banyaknya pekerjaan kantor dan kesal karena menganggap orang rumah tidak bersikap toleransi, lalu dengan mudah menemukan alasan untuk meluapkannya. Sebaliknya, ayah-bunda profesional akan bersikap tegas dan berbuat semestinya saat anak melakukan tindakan yang dianggap kriminal atau melanggar norma sosial lainnya. (Asma Nadia)

Kesimpulannya: bersikap profesional itu bukan Cuma sama klien, bos, atau orang-orang yang berkaitan dengan pekerjaan. Being a professional parents itu ternyata juga sangat penting. Karena dengan bersikap profesional, kita jadi bisa memilah waktu untuk bersikap tegas (bukan ngamuk-ngamuk) dan kapan bisa guling2an manja sama si anak.

Kalo udah bisa begitu, kemudian terpancarlah energi positif yang dibutuhkan itu, ya kan?

Ya, kalo sama temen/orang dewasa lainnya, kita mungkin bisa bohong, dan berpura2 bahwa ga ada apa2, dengan ekspresi. Tapi hewan, dan bayi, tentunya, gak bisa dibohongin. Mereka bisa merasakan dan bereaksi dengan energi kita. Rasanya, anger management sangat diperlukan disini ya? Apalagi buat manusia yang impulsif banget kaya saya ini. *urutdada*

Hal ini, jadi salah satu alasan saya nonton dog whisperer. (Selain karena emang aja saya seneng binatang) buat jadi REMINDER. Karena iman itu naik turun, kan? Kadang eling, seringan edan. Hehe..Dan reminder bisa kita ambil dari mana aja, termasuk hewan, bukan?

So, buat saya, dog whisperer itu berguna bukan Cuma buat mempelajari attitude dan tips mendisiplinkan hewan peliharaan. Tapi juga untuk mengingatkan saya, agar stay professional. Karena dirumah ada empat kucing, 1 burung dan 1 bayi yang bisa merasakan energi saya.

Daaaaannn,, tentunya 1 orang laki-laki dewasa yang juga harus diperhatikan. Hehehe..

Jadi siapa bilang, jadi ibu rumah tangga itu kurang kerjaan? 😀

One response »

  1. Pingback: Mpasi? Santaaaaiii…. « My -FreeTime- Writing Domain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s