rumah kami, our patch of heaven

Gallery

Hari ini, 9 Mei,

Genap sebulan sudah, saya dan poento plus kucing2 tinggal di rumah kami. Iya, rumah kami, rumah yang kami beli eh kredit..hehehe..

Sampe hari ini, rasanya masih gak percaya. Waw, kita bisa beli rumah sendiri. Sebuah rumah yang sertifikatnya atas nama poento hariyadi. Apalagi kalau mengingat prosesnya yang berdarah-darah selama  setahun lebih.

Dari hari poento melamar saya, Oktober 2009 lalu, kami gak hanya merencanakan sebuah event pernikahan. Justru lebih banyak ke perencanaan masa depan. Heu, poin ini kami lakukan demi mengingat bahwa kita sudah kalah banyak sama sipit-sipit Jepang yang merencanakan bisnisnya sampe 10-20 tahun mendatang. Jadi, perencanaan pra pernikahan, tidak kami fokuskan semata pada pesta pernikahan yang Cuma berlangsung sehari. Tapi kepada masa depan kami yang,  insyaAllah, sampai mati. Akhirnya, terciptalah sebuah perencanaan jangka pendek yang cukup matang. Semacam repelita (rencana pembangunan lima tahun) atau kalau Pak Hatta yang bilang, rencana pembangunan jangka pendek nasional..hehehe..

Rencana yang, alhamdulillah, selama setahun ini telah terwujud. Oke, jadi, sejak hari itu, kami berkomitmen bahwa, kami akan mengambil resiko mandiri, keluar dari rumah orang tua tak lama dari hari pernikahan. Well, hal itu menyebabkan, kami harus mengorbankan waktu ‘bulan madu’ yang selama ini dilakukan oleh pengantin baru. Jadi, sejak persiapan pernikahan sampai sepekan setelah menikah, kami melanglangbuana mencari rumah kontrakan yang nyaman dan lokasinya deket.

Singkat cerita, akhirnya dua pekan setelah menikah, kami menempati rumah kontrakan mungil di pedati, otista. Di gang, lokasi padat penduduk itu, kami kemudian memanfaatkan waktu selama setahun untuk mencari rumah. Hal ini, juga membuat kami harus menunda keinginan untuk punya anak. Hehe..well, to be honest, kami gak mau punya anak, sebelum punya rumah sendiri. Kasian, kalau masih kecil harus ngerasain pindah2 rumah.

Eeniwei, Tuhan, sekali lagi memenuhi rencana kami. Molor 2 bulan, akhirnya kami menemukan rumah yang pas.

Fyi, selama setahun itu, hehe, kami terus labil dalam menentukan lokasi. Awalnya, kami yakin, bakalan cari rumah di Bekasi. Karena poento kantornya di Bekasi, dan dia lah yang harus berangkat pagi setiap hari. Sementara saya kan agak santai, bisa berangkat siangan. Tapi, pencarian beberapa bulan secara langsung, lewat internet, tanya temen, dll, belum menemukan titik terang. Kalo ada yang cocok, harganya kemahalan. Kalo harganya cocok, rumahnya ancur. Sejak awal kami udah menetapkan standar pencarian rumah:

  1. Gak boleh lebih dari Rp 300 juta (kaga bakalan di approve juga sama bank nya…hahaha..)
  2. Luasnya gak boleh kurang dari 90m2, karena susah kalau kedepannya kami mau renovasi, nambah ruangan di lantai atas, misalnya.
  3. Daerahnya harus aman, jadi bisa bikin pagar pendek, dan jendela tanpa teralis.
  4. Bebas banjir.
  5. Banyak makanan, supermarket, pasar, sekolah dan rimbun.
  6. VENTILASI yang sangat baik! ini poin penting mengingat kami punya 5 ekor kucing, dan dalam rangka-cencunya- menghemat listrik lampu dan AC. Jadi rumah harus terang dan adem saat siang.
  7. Yang jelas bukan daerah tangerang dan depok. Kejauhan dari kita berdua

Agak ngeselin ya? Tapi, bener kata orang, cari rumah itu sama kaya cari jodoh. Susah. Dan kalo gak dicari yang cocok sama hati, ya kedepannya bakal gak enak. Mosok seumur idup mau tinggal di tempat yang dikeluhin tiap hari?

Pilihan kami sempat juga jatuh ke daerah jakarta barat, tapi setiap rumah yang harga nya pas, pasti lokasinya banjir. Sempat liat di daerah jakarta timur kaya duren sawit dan sekitarnya, ternyata harga rumah 90m2 udah berkisar 400 jutaan. Sempet juga dicariin papa di daerah deket palapa, pasar minggu, ada yang luasnya pas, tapi ada rumah induknya. Ah, enggak lah. Itu juga mahal bener..

Akhirnya, sempet hampir nyerah dan mau liat rumah di daerah lenteng agung, tapi, masih gak ada juga yang cocok. Sempet juga cari di sekitaran pancoran, tapi, rumah kecil aja harganya 500 jutaan. Sinting. Akhirnya di waktu2 mepet, desember, saat kontrakan tinggal sebulan lagi waktunya, kita memutuskan untuk kembali terfokus di bekasi. Sempet ditawarin rumah di jati asih sama Arie, yang gak sreg. Sempet juga liat2 daerah rumah Abang di jati warna, tapi, sekali lagi, gak pernah sreg.

Kelabilan juga berlanjut dalam memilih rumah baru atau rumah 2nd. Awalnya kepengen rumah baru, komplek baru yang cluster, supaya ga ngeluarin biaya besar saat baru pindah. Karena kami yakin pasti buat beli rumah, kami arus bayar DP, notaris dan embel2 lainnya. Kalo harus benerin rumah lagi, pasti berat. Belom kewajiban syukuran..tapi, lama2 kami malah beralih, kepengen rumah 2nd. Supaya lingkungannya udah jadi. Udah ada RT RW yang jelas. Keamanan udah rutin. Suasana juga udah rimbun, dan banyak anak kecil buat temen main anak-anak kami nantinya.

Kelabilan2 itu, membuat, tanpa sadar, akhirnya kontrakan nambah 3 bulan. Untung bapaknya baik. Hehehe..tipsnya, tiap kali keluar kota/keluar negeri, jangan pernah lupa bawain oleh2 buat bapak kontrakan. Bener kata Nabi Muhammad, hadiah itu melembutkan hati. Hehehe…

One day, akhir Januari, kami berdua udah niat sepenuh hati, sabtu pagi itu kami akan keliling bekasi barat, dan selatan, wilayah kalimalang, dan HARUS NEMU!! Malemnya, kita udah cari2 di internet, dan nyatet beberapa alamat.

Ternyata, rumah2 di internet itu, masih ga ada yang cocok. Saat kami sudah mulai hopeless, breathless, sambil iseng coba belok ke daerah galaksi. Dan bukannya masuk ke taman galaxi, kami malah belok kiri dan masuk ke komplek pulopermatasari. Tanya satpam, dan dia tunjukin kami rumah yang nyaman itu.

Hati saya, langsung tertinggal di rumah itu sejak pertama masuk dan merasakan hawanya. Rasanya gak percaya, kok bisa? Ibu dan bapak yang sudah nempatin rumah itu selama 20 tahun berencana untuk pindah ke Surabaya, karena anak2nya dsana semua. Maka itulah mereka niat ngejual rumahnya. Belum sampai seminggu mereka minta tolong pak satpam buat ngejualin, tiba2 kami datang. Rasanya, kaya ketemu jodoh.

Habis dari rumah itu, kami sempat keliling lagi, tapi semua rumah lain nampak salah. Hehehe…iya, kami jatuh cinta. Luasnya 144m2, harganya 290 juta. Di komplek itu, semua rumah punya pagar dan tembok yang pendek. Jadi, suasananya macam saya kecil dulu, saat kita bisa duduk di tembok antar rumah untuk ngobrol sama tetangga. Saat gak harus menggembok pagar rapat2 dan bisa ngegodain anjing tetannga dari balik pagar rumah.

Karena komplek lama, jelas RT RW sudah kebentuk, banyak anak kecil main sepeda, banyak orang melihara binatang, suasanya rimbun, dan nyaman. Rumah itu sendiri ventilasinya bagus, bayangkan ada lubang udara di pojokan rumah dan masih kokoh. Jadi angin adem dan matahari bisa menyeruak masuk dari mana-mana. Di galaxi, banyak makanan, supermarket, sekolah, tempat les, rumah sakit, sampe petshop. Semua ada. Cuma satu yang masih menggelayut, lokasi ini banjir atau gak? Tanya2 beberapa teman, ada yang bilang daerah itu banjir waktu banjir 5 tahunan dulu. Ada juga yang bilang bahwa itu tadinya daerah rawa jadi tanahnuya turun terus.

Akhirnya, kami macam melakukan investigasi semenjak memutuskan untuk membayar uang jadi Rp 5 juta. Tiap ujan deras, kami main kesana. Tapi, keliatannya gak banjir. Kami juga datang di saat pagi, siang, sore dan malam buat memastikan semua sesuai keinginan. Soalnya, perasaan jatuh cinta seringkali memupuskan logika.  Ehehehehe,,,setelah yakin dengan lingkungan, kami mulai rese soal rumah. Periksa air, periksa listrik, periksa loteng, periksa atap, periksa pintu, jendela dll. Kemudian menghitung, kira2 apa saja yang harus kita lakukan setelah rumah itu jadi milik kami.

Persiapan itu, kami lakukan, sambil ngajuin kredit ke bank. Jadi, rumah itu kami temukan di akhir Januari. Pemeriksaan lingkungan berlangsung sampe pertengahan Februari. Lalu, ajuin kredit ke bank sambil cek ‘daleman rumah’. Dan membutuhkan waktu 2 minggu-an, sampai akhirnya kredit kami di approve. Alhamdulillah gak lama, katanya sih karena semua prosedur kemudahan pemberian kredit telah kami miliki. Tipsnya: dua2nya bekerja, belom punya anak, tidak ada tanggungan lain (orangtua/saudara) dalam waktu lama, jumlah gaji dan harga rumah masuk akal (ya kalo gaji kami, jangan ngoyo pengen beli rumah diatas 400 juta lah, kaga kekejar..hahaha), ga punya cicilan lain yang berat, plus banyak berdoa. Hehehe,,,

Eniwei, kami ngajuin kredit ke BNI Syariah. Kenapa? Karena lagi promo. Bagi hasilnya 8 persen, fix seumur nyicil. Itu enaknya syariah. Memang awalnya kerasa berat, tapi, dia gak bakalan berubah. Mau ada krisis kek, mau bi rate naik kek. Tetep 8 persen. Ditambah kebijakannya yang fleksibel, BNI membolehkan pelunasan dengan harga asal. Jadi, di akad awal, dengan bagi hasil 8 persen, means kita harus bayar sekitar 600 jutaan utk cicilan 15 tahun. Tapi, kalau tiba2, aaamiiin, di usia cicilan 3 tahun kita punya uang 260 juta, boleh dilunasin begitu ajah. Gak harus sesuai dengan jumlah di akad nya.

Well, kreditnya hanya di approve 260 juta. Akhirnya, kita bayar DP ke si empunya rumah sebesar Rp 25 juta (karena udh bayar 5 juta di awal), secara nyicil sampe hari kepindahan. Pekan kedua Maret, akhirnya akad dilakukan di BNI Syariah  Bekasi, dan rasanya legaaa banget. Plus berasa kereeee banget. Hahaha…karena selain harus bayar 25 juta, kita juga harus bayar notaris, untuk ongkos balik nama, pengurusan tetek bengek sertifikat sebear RP 4. 650.000, asuransi jiwa dan kebakaran Rp 500 rebu, pembiayaan bank macam buka rekening baru, plus angsuran pertama Rp 3.495.000, biaya admin en materai Rp 1,5 juta en pajak2 yang lebih dari Rp 10 juta…

Banyak kan? Berasa, sumpah deh!! Buat itu semua, believe it or not, kami berhenti boros. Heu.,,,berusaha untuk mengeluarkan uang Cuma buat benda2 yang ada di level 1 kebutuhan. Karena, emang ga ada uangnya!! Hahaha curcol..tapi, alhamdulillah, kami punya rumah. Rumah nyaman, yang akan kami cicil 15 tahun dengan biaya cicilan Rp 3,3 juta sebulan.

Oia, gak boleh lupa diceritain! Sejak Januari, rumah itu ketemu, kami akhirnya merencanakan untuk punya anak. Hehehe,.. akhir Maret, saya dinyatakan positif hamil. Alhamdulillah. Saya ga bisa berhenti bersyukur dan makin yakin bahwa Allah benar2 sayang sama saya. Hehehe…*kecenderungan posesif*

9 April 2011. Saya, poento, Cantik, Himmy, Aling, Ovi, Jhonny dan 4 ekor bayi pindah kerumah baru ini. Dibantu bapak mertua, seluruh anggota keluarga kandung saya, kaka sepupu dan tukang2nya, citra dan eva yang cantik, kami –akhirnya- menempati rumah adem ini. Rasanya  legaa..iya, memang perlu bebrapa perbaikan kecil buat engsel2 pintu plus jendela, plus mewujudkan rumah jadi seperti yang kami mau. Benerin kitchen set, benerin lobang udara, yah namanya juga rumah 2nd. Tapi, saya, bener2 ngerasa bersyukur.

Akhirnya, Tuhan ngasih keluarga mungil kami rumah sendiri. Rumah buat kami tempati untuk waktu yang lama. Kayanya gak habis2 semua pemberian Tuhan buat kami.

Iya, saya sekarang emang jadi harus menempuh jarak jauh untuk berangkat dan pulang kerja. Saya harus berangkat lebih pagi, dan mau gak mau pulang lebih telat. Tapi, rasanya lebih tenang. Karena kami gak lagi tinggal di wilayah yang banyak penjahatnya kaya di  otista.

Setiap pagi, saya juga gak harus liat poento pergi lebih subuh. Karena kantornya dekat sama rumah. Saya  masih punya kesempatan untuk nge teh pagi dan ngobrol dulu sama dia. Malamnya juga saya masih  punya kesempatan ngobrol, meskipun sebentar. Disini, saya juga jadi punya tetangga, yang bisa diajak ngobrol.

Lega juga datang, karena rumah ini, bukan rumah megah. Bukan rumah dengan pagar dan tembok tinggi yang egois. Bukan rumah yang  angkuh. Sebab, suatu hari, saya pernah lihat seorang pemulung, duduk di depan rumah angkuh dengan pagar tinggi tanpa lubang di suatu wilayah. Tatapan matanya yang terpaku lama pada rumah itu, gak bakal pernah saya lupain. Rasanya pedih.

Saya langsung berdoa, semoga Tuhan jangan sampe berikan saya rumah yang akan ditatap macam itu. Semoga Tuhan berikan saya rumah yang hangat dan ramah buat semua mata yang memandang. Rumah dan seluruh penghuni yang bisa menyenangkan dan berguna buat banyak orang…

Aamiiin…

6 responses »

  1. Yasmiinn..barakallah ya,slamat utk rumah barunya,selamat utk baby in your tummy,slamat jd ibu hamil yg gaul ya..hehehe:)

  2. Pingback: Kisah si Rumah (part 1) « My -FreeTime- Writing Domain

  3. Pingback: Kisah si Rumah (part 1) « My -FreeTime- Writing Domain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s