Life Is Good, yes?

Video

Suatu hari, di tengah teriknya kampus fisip unpad Jatinangor, saya duduk di emperan depan kios pak Nanang sama seorang teman.

Dia itu, laki-laki, rambutnya gondrong, kulitnya legam, aroma badannya bau bacin cucian gak kering, dan pake baju hitam bertuliskan “REVOLUSI” besar warna silver..

Hehehe..

Tiap kali kita punya kesempatan ngobrol, saya dipaksa utk berfungsi sebagai pendengar yang baik aja. Mendengar keluh kesahnya terhadap pemerintahan, keluh kesahnya terhadap carut marut dunia perpolitikan, ketidakadilan perekonomian, dan hobi korupsi pemerintah. Bosen banget sebenernya. Tapi berhubung dia temen, ya saya dengerin aja. Apalagi kalo sambil nyemil kue2 pak nanang, yaudahlahya…

Tapi hari itu beda, hari itu saya bertekad untuk menjawab keluh kesah dia yang gak ada habisnya itu. Jadi, saat dia mulai berkoar-koar dengan semangat revolusinya, saya potong.

Saya tanya dia, “Trus kalo lo ngeluh mulu ke gue gini, lo protes siang malem, bkn rencana revolusi, demonstrasi besar2an, bakar2an, trus presiden lo bakalan denger dan berubah?” Dia kaget. Ya iyalah, soalnya selama ini saya cuma manggut2 sok tertarik. “Ya kan tapi kita udah melakukan sesuatu!”

Saya toyor kepalanya sampe mental. *eh *hiperbola.

Akhirnya saya kasih dia pilihan. Saya bilang, demonstrasi, bolehlah dibilang melakukan sesuatu. Tapi dampaknya gak akan berkesinambungan. Coba ya, kuliah 4-5 tahun, sepanjang hari demo, bikin kotor jalanan, injek2 makanan, bikin polusi, bkn sedih org lewat, bkn orgtua khawatir,  nyusahin, kaga didengerin juga, kaga pengaruh juga sama pemerintahan. Emang kalo soeharto turun dari tahta karena tuntutan rakyat utk reformasi itu, pada akhirnya ngefek sama keadaan sekarang?

Emang dia udah gak berkuasa? Emang pemimpin sekarang lebih baik dari dia? Yang beda cuma kebebasan bersuara, yang damn, pada akhirnya kebablasan dan bikin anak2 kecil jadi sadis.

“Jadi lo belain Soeharto??” Kata dia, alisnya ngangkat.

Saya berhenti. Ambil teh botol, trus ngasih dia minum. “Biar dengerinnya adem!” Lalu saya lanjutkan cerita saya.

Nah, kalo pemerintah sekarang udah bener, kan gak ada lagi mahasiswa yang perlu demo2. Kenyataannya, mahasiswa masih aja demo kan? Emang hobby gitu? Atau emang krn pemerintahannya juga sama bobroknya ama jaman soeharto? So, apa gunanya dulu nurunin doi? Apa gunanya demo..??

Abis itu, setelah lulus, berapa orang sih mahasiswa tukang demo yang masih konsisten ada di jalan revolusi2an? Coba itung deh, banyakan mana mahasiswa yang pada saat lulusnya masih memilih untuk menjadi aktivis dan berdiri tegak diatas idealismenya, ketimbang mahasiswa yang akhirnya memilih bekerja, cari duit kemudian mengorbankan idealisme nya, karena jaman sekarang semua butuh uang??

Tukang demo, jadi anggota dpr plesir ke luar negeri. Tukang demo, jadi staf ahli menteri yang sesat. Tukang demo, jadi pns korup. Tukang demo, kerja di bank asing. Tukang demo, jadi wartawan yang doyan duit. Tukang demo,kerja di perusahaan tambang milik asing yang kelakuannya ngeruk harta Indonesia.

Pilihan berikutnya, kalau dia gagal bekerja, tukang demo berubah jadi pengangguran. Ya gak heran juga, karena sepanjang kuliah, dia males masuk, males ngerjain tugas, kan kerjanya demo. Lulus pas di injury time dengan IPK pas2an. Akhirnya sampe tua, demo, dan jadi aktivis miskin yang gak pernah juga bisa melakukan apa2 buat Indonesia.

“Elo sendiri udah kepikiran, mau jadi apa?” Tanya saya ke dia yang mendadak pendiem. Yak, dia gak jawab. Saya nelen ludah. Dan .. melanjutkan ngoceh.

Oke, nah, sekarang, coba dipikir, lebih baik mana dengan mahasiswa yang rajin belajar? Okelah gak usah yang terlalu rajin sampe masuk golongan gak punya teman. Hmm..maksudnya, mahasiswa yang dateng ke kampus, rapi, dan masuk ke kelas dengerin kuliah. Kalo ada tugas, ngerjain tugas. Trus memanfaatkan waktu luangnya dengan bisnis kecil2an, macam bikin kerajinan, atau bikin kaos. Atau menulis. Atau les. Apalah…

Kadang-kadang ngobrol dikampus atau makan2 sama teman-teman. Ya seperti layaknya anak muda yang lagi kuliah lah. Lulus pas waktu, nilai baik, dan kerja di tempat yang juga baik. Ada juga yang milih langsung melanjutkan S2. Kemudian, dia bisa masuk ke golongan menengah yang taat. Hm, maksudnya, golongan orang-orang yang bisa memanfaatkan penghasilannya dengan baik. Menabung, berinvestasi. Menikah, punya keluarga. Kemudian mulai bergerak, melakukan sesuatu yang riil.

“Melakukan sesuatu itu butuh ilmu dan uang loh…setuju gak?” tanya saya lagi. Dia makin diam.

Nantinya, orang-orang yang di kampusnya gak demo ini, bukan gak mungkin juga jadi koruptor. Bukan gak mungkin juga jadi antek asing. Tapi seenggaknya mereka gak perlu makan omongannya sendiri waktu masih kuliah. “Ya gak?” kata saya. Dan dia menatap botol teh yang digenggamnya kuat sedari tadi.

Dengan bekal ilmu dan uang, juga teman-teman yang punya misi dan visi yang sama, golongan tidak demo ini bisa bekerja sama mendirikan sesuatu, sesuai kemampuan. Misalnya, bikin buku? Atau bikin yayasan untuk dhuafa? Atau bikin sekolah gratis? Rumah sakit gratis? Jadi aktivis dengan basic ilmu yang kuat, sampe mendirikan organisasi anti korupsi yang kelasnya internasional? Apapun itu yang bisa dilakukan buat Indonesia.

Karena, mau diteriakin atau gak, mau diprotes atau gak, orang-orang yang udah duduk di kursi empuk pemerintahan atau parlemen seringkali sudah kadung susah berdiri. Boro2 mendengar. Jadi gimana kalo kita anggap aja mereka gak ada? Berhentilah berharap sama mereka. Lakukan sesuatu, mulai dari diri sendiri.

“Teriak2 protes itu, kalo kata bonyok gue, adalah sikap anak kecil. Liat deh anak kecil yang belom  ngerti cara berkomunikasi. Mau minta apa aja, dia pasti teriak2 dan nangis. Ngambek, kalo gak dipenuhi.  Mahasiswa, kayanya udah cukup dewasa deh buat menyatakan sikap dengan cara yang lebih elegan ketimbang demo,” kata saya lagi, ya iyalah, abis kata siapa? Hehehe…

Akhirnya kita sama2 terdiam dan tenggelam dalam renungan. Kalo saya sih, waktu itu merasa puas, karena akhirnya bisa juga mengemukakan isi hati yang selama ini tertahan. Entah deh bener atau salah. Yang jelas, negara dan agama saya ngebolehin adanya kebebasan berpendapat.

Masih boleh di debat sih sebenernya, kalo dia mau. Tapi kayanya dia gak mau…

Sejak hari itu sampe lulus dan kerja, saya belom pernah ngobrol panjang lagi sama dia. Yang saya tau Cuma, dia jadi jarang lagi melalangbuana di kampus. Entah kuliah, entah DO, entah apa…

Dan tadi pagi, saya turun dari bus trans galaxi di depan graha niaga. Dari situ, niatnya ngelanjutin naik bus transjakarta langsung ke istana wapres. Tapi sebelum saya naik ke jembatan halte, tiba2 ada orang yang nepok pundak saya.

“Min?”

Saya nengok. Dan senyum. Haha..itu dia manusianya. Nyengir depan muka saya. Rambutnya rapi, pake kemeja, celana bahan, sepatu kulit, dan aromanya wangi parfum cowok. Pertanyaan pertama saya: “Mana kaos revolusinya?” dan dia ngakak.

“Udah jadi pel tuh dirumah nyokap,” kata dia.

Dia cerita bahwa dia sekarang kerja di CIMB niaga. “Oooh jadi antek Maleysie sekarang?” kata saya ngeledek. Mukanya memerah. Tapi dia bilang, dia mau nabung dulu, nanti setelah 10 tahun kerja, dia mau bikin bisnis. Hehehe…sebenernya, dia mau kerja disitu atau gak juga saya gak masalah. Saya cukup seneng kok, liat temen saya itu masih idup.

“Elo sekarang dimana, min?” saya jawab “Gak dimana-mana, gue ibu rumah tangga, ngurus rumah, ngurus suami, ngurus calon anak, yang sesekali nulis buat media, sesekali dagang, sesekali makan di warung padang, sesekali ngopi di coffee bean,” dia ketawa.

“Hidup yang nyaman ya min?” katanya. Alhamdulillah, jawab saya.

Jadi inget lagunya one republic yang judulnya Good Life. Ya, karena, idup emang baik. Yang ngasih hidup itu malahan lebih baik. So, what there is to complain about?

One Republic-Good Life

…Woke up in London yesterday, Found myself in the city near Piccadilly
Don’t really know how I got here, I got some pictures on my phone

New names and numbers that I don’t know, Address to places like Abbey Road
Day turns to night, night turns to whatever we want, We’re young enough to say

Oh this has gotta be the good life, This has gotta be the good life
This could really be a good life, good life

Say oh, got this feeling that you can’t fight, Like this city is on fire tonight
This could really be a good life, A good, good life

To my friends in New York, I say hello, My friends in L.A. they don’t know
Where I’ve been for the past few years or so Paris to China to Col-or-ado

Sometimes there’s airplanes I can’t jump out
Sometimes there’s bullshit that don’t work now
We are god of stories but please tell me-e-e-e

What there is to complain about?

When you’re happy like a fool, let it take you over
When everything is out ,You gotta take it in

Oh this has gotta be the good life ,This has gotta be the good life
This could really be a good life, good life

Say oh, got this feeling that you can’t fight ,Like this city is on fire tonight
This could really be a good life ,A good, good life

Hopelessly
I feel like there might be something that I’ll miss
Hopelessly
I feel like the window closes oh so quick
Hopelessly
I’m taking a mental picture of you now
‘Cuz hopelessly
The hope is we have so much to feel good about

Oh this has gotta be the good life
This has gotta be the good life
This could really be a good life, good life….

One response »

  1. salam kenal mbak…
    saya suka tulisan ini
    🙂

    teman embak, pasti seneng banget punya temen yang bisa ngasih cara pandang hidup yang keren
    dan pastinya berguna bagi kehidupannya

    sip sip
    semangat
    semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s