Blog Archives

Cerita Otak dan Konsumen Bijak

Video

Dokumenter ini emang udah lama, tapi bukan berarti isu yang dibawa jadi basi. No. Setidaknya, di Indonesia, hal ini masih terjadi. Well, kalo lagi ada waktu, dan belum pernah nonton, coba ditonton deh..

Kemarin, saat lagi nonton sebuah acara petualangan anak2, saya liat iklan Mc donald yang baru (atau mungkin udah lama, hehe, gaktau juga saya jarang nonton tivi) yang awalnya, ada seorang anak kecil lagi bercerita, dibuka dengan kata2 “Ada sebuah tempat…” yang intinya adalah menceritakan soal Mc D sebagai “world heaven” for family and friends.

Well, persis kan kaya video ini. Anak2 adalah kunci untuk meningkatkan penjualan suatu produk, produk apapun, bukan Cuma restoran dan mainan anak. Tapi semua produk.

Iklan-iklan yang ‘disuarakan’ oleh anak2 ini, memudahkan anak kecil yang nonton jadi cepat mengidentifikasikan dirinya terhadap produk itu, kemudian memaksa orangtua untuk membelikan, ya kan? Dan ini bukan Cuma buat anak di kategori kids-diatas 5 tahun. Justru udah ada di kepala, sejak infant-balita. Karena justru dimasa 5 tahun pertama dalam hidup seseorang itu kan, otak sedang berkembang. Golden age. Dan coba itung, berapa jumlah balita Indonesia yang sepanjang hari dibiarkan duduk di depan tivi, entah bersama orangtuanya atau yang lebih parah, tanpa pengawasan orangtua. Karena tivi adalah, hiburan keluarga?! Heheheuu…

Banyak orangtua yang menganggap si balita ini toh belom ngerti apa yang disampaikan di tivi itu, jadi diet televisi Cuma dilakukan saat kosakata bocahnya sudah banyak.

Padahal ya, saya baca di buku ‘raising your child’ nya Dr Oz, tiga tahun pertama dalam kehidupan manusia itu lah yang paling harus dijaga. Eniwei, buku ini recommended banget, karena mata kuliah faal di kedokteran, dijelaskan dengan cara ringkas, mudah dan menyenangkan. Ehem, jadi ceritanya, menurut buku setebal 492 halaman itu,,,

“Di dalam rahim, otak membangun 250 ribu sel saraf per menit untuk menghasilkan sekitar 100 miliar sel saraf saat bayi dilahirkan. Jumlah itu SANGAT banyak untuk kemampuan belajar yang luar biasa. Sayangnya, si otak ini, gak sanggup membuang-buang energi untuk mempelajari semua hal. Iyalah, walopun otak Cuma 2 persen dari berat tubuh, tapi benda ini menggunakan 20-25 persen oksigen dan pasokan energi tubuh.

Oke, kembali ke sel saraf. Maka, untuk bekerja secara efisien, si otak ini perlu beradaptasi- mempelajari hal baru dan melupakan hal lama. Nah nah, selama perkambangan awal (masa hamil dan masa bayi) tugas otak itu tumbuh layaknya sebuah hutan dan mendapatkan sebanyak mungkin pohon. Membuatnya rimbun, subur dan kaya dengan pepohonan saraf yang kuat. Bahkan ya, pada jangka waktu tertentu (rata-rata 40 pekan), sebagian besar sel saraf yang nantinya akan berfungsi seumur hidup sudah menempati lokasi yang tepat. Padahal otak bayi Cuma seperempat ukuran otak orang dewasa.

Maksudnya, sebagian besar sambungan sinapsis terbentuk selama tahun pertama kehidupan, yakni periode ketika  otak membesar dengan cepat sehingga mendekati ukuran otak orang dewasa dan jumlah sinapsis yang terbentuk hampir dua kali lebih banyak dibandingkan pada orang dewasa. Menariknya, hubungan sinapsis terbentuk dengan keteraturan tertentu.

Pertama, sinapsis SENSORI PRIMER, yang membuat bayi bisa merasakan dunia di sekitarnya. Kemudian diikuti dengan sinapsis YANG MENGENDALIKAN KETERAMPILAN GERAKAN KASAR, hingga seorang bayi bisa melepaskan diri dari setiap ancaman yang dirasakannya. Diikuti dengan keterampilan gerakan halus, sehingga ia bisa menulis apa saja yang baru dilakukannya. Sinapsis terakhir adalah sinapsis yang mengendalikan fungsi otak yang lebih tinggi seperti motivasi, penilaian, dan logika. Sehingga dia bisa belajar apakah perbuatannya benar atau salah. Ehem, kalo yang terakhir ini belum berfungsi sepenuhnya sampe akhir masa remaja atau bahkan sampe usia awal 20-an. Karena inilah kebanyakan ABG itu GALAU. Bhahaha..

Hmm, penjelasan soal pemangkasan agar otak menjadi efisien, dimulai pada usia satu tahun. Ketika itu bayi mulai mengenali lingkungan di sekitarnya. Maka, titik berat perkembangan otak BERALIH dari pertumbuhan, menjadi pemangkasan. Bayangin aja proses ini seperti proses pengelolaan hutan; untuk mendorong pertumbuhan pohon yang paling sehat dan kuat, tanaman kecil dan semak2 perlu dipangkas. Otak melakukannya dengan menghilangkan sambungan sinapsis yang berlebihan atau jarang digunakan.

Karena seorang bayi gak perlu tau caranya bergoyang patah-patah, maka sambungan soal itu bisa dipangkas. Sementara, jika si bayi mendengar bahasa spanyol dan Inggris di rumahnya maka sambungan untuk kemampuan berbahasa perlu diperkuat. Gampangnya; seorang anak akan memiliki jumlah sinapsis maksimal yang bisa dimilikinya seumur hidup saat mencapai usia 1 tahun!!! Gila kan? Lalu, di usia 3 tahun, jumlah itu berkurang setengahnya. INI DIA, alasan pentingnya seorang anak mendapatkan rangsangan yang tepat sejak lahir sampe usia 3 tahun sehingga ia bisa memangkas sel2 saraf dengan bijak.

Got what i mean? Jadi, proses memangkas sambungan saraf itu secara langsung terkait dengan lingkungan tempat anak2 berada. Ada pemangkasan hubungan yang tidak kita gunakan karena gak ada rangsangan tertentu dari lingkungan kita. Artinyaaa, jika seorang bayi jarag diajak ngomong atau jarang dibacain cerita, otaknya akan memutuskan bahwa dia gak butuh sel saraf bahasa. Begitu juga sebaliknya, kita akan memperkuat sambungan yang oleh otak kita dianggap penting karena kita melakukannya berulang-ulang!”

Jadi gimana ceritanya, kalo yang berulang2 diperhatikan oleh bayi, adalah iklan? Ehem..atau sinetron yang ditonton emaknya? Atau die hard yang ditonton bapaknya? Atau konser slipknot yang ditonton saya,,? *eh hehehe…

Di buku ini, dr OZ juga secara spesifik bilang: “Bila seorang bayi ditaruh di depan televisi seharian, hanya akan ada sedikit sambungan di otaknya, dan penelitian membuktikan bahwa anak-anak kehilangan sinapsis lebih cepat jika televisi terus menerus menyala”

Di buku buyOLOGY, favorit saya, juga ada penjelasan soal coca cola dan pepsi cola. Di AS, taun 1975, pernah dilakukan “Pepsi Challenge”. Yakni berupa uji sesap antara pepsi dan coca cola, dengan gelas tanpa merek. Rata2 orang yang ikut serta, lebih suka dengan minuman berkarbonasi yang rasanya lebih manis, which is: PEPSI. Tapi, kenyataannya, cocacola lebih memimpin pasar. Tes macam ini kemudian diulang lagi pada 2003, sama Universitas Baylor, Houston. Ada 67 subjek penelitian. Mereka semua satu suara, saat ditanya, yakni tidak suka pepsi. Tapi, saat dilakukan tantangan dengan gelas polos, ternyata mereka lebih suka rasa pepsi.

Kenapa? Karena sisi emosionalnya lebih kuat dalam mengambil keputusan, ketimbang sisi rasionalnya. Sisi emosional terhadap coca cola yang sangat kuat, salah satunya terbentuk berdasarkan kenangan masa kecilnya terhadap coca cola. Terbentuk dari iklan TV dan media cetak selama bertahun-tahun, menimbulkan perasaan emosional ke-coke-an yang enggak bisa ditawar2.

Jadi buat pelaku industri, ini merupakan salah satu cara marketing yang legal. Enggak bakalan ada larangan buat mencekoki iklan buat anak2. Karena sebenarnya hal ini kaya jualan palu. Well, palu bisa dipake buat nge getok orang sampe mati, tapi fungsi sebenarnya kan bukan itu. Artinya, gak bakalan ada larangan menjual palu, ya dong?

Kita, konsumen, yang harus lebih waspada, dan tentunya, harus lebih kritis.

Mungkin udah saatnya kita bikin tabel rencana, mau dibawa kemana arah batita kita berpikir. Saya, mulai rajin bercerita soal uang, dan angka. Siapa tau, ntar anak saya bisa jadi gubernur the fed. *eh

Well, ujungnya, semua ini sebenarnya adalah untuk Indonesia yang lebih kuat dan enggak terus2an ditindas. Dicekokin iklan dan siaran2 pLoduk2 dalam negeri, disuruh jadi konsumen loyal yang sibuk berbelanja dengan alasan emosional tok, biar ibu bapaknya bisa terus2an gesek kartu kredit, jadi bank nya terus untung, dan katanya PDB tinggi padahal Cuma dari sektor konsumsi masyarakat. Yang artinya Cuma disokong oleh segelintir orang kaya, sisanya? INI!

Semua itu terus menerus dilakukan, dari generasi ke generasi, tanpa pernah kita diajarin bagaimana caranya punya kemampuan untuk bersaing….

Saat Listrik pun Harus Dibagi

Video

Dulu, saya pernah liputan acaranya pak Jusuf Kalla di suatu hotel di Jakarta. Acara seminar bisnis. Isinya sih standar-lah soal perkembangan bisnis dan prospek Indonesia kedepannya, tapi catch up line nya cakep banget:

“Kalangan businessman itu ganteng-ganteng ya, pada pake kemeja, dasi dan jas rapi. Pantes saja di gedung-gedung sentra bisnis, AC nya dingin. Kalo ndak dingin tentu pada kepanasan. Bagaimana kalau diganti bajunya pake batik? Selain bantu mempromosikan budaya sendiri, juga bisa membantu penghematan energi. Ya toh? Kan batik tipis, jadi AC tidak perlu terlalu dingin lagi…”

Gerrr…semua ketawa. Iya juga ya, kenapa hal-hal kecil macam itu tidak pernah kepikiran?

Saya jadi inget acara kawinan seorang temen di salah satu gedung  mewah beberapa waktu lalu. Acaranya ciamik banget, dan berlangsung selama 4 jam karena dia bikin dua sesi. Sesi pertama untuk keluarga dan temen2 orangtua, saat makin malem, dia bikin sesi untuk teman2nya. Dengan konsep yang lebih hip, dan anak muda banget. Makanannya enak, lampu2 gemerlap, band pengiring yang berganti2 macam konser, plus pendingin ruangan yang sakses bikin saya bersin-bersin melulu. Hehehe…maap tipikal masyarakat tropis, mak.

Disitu, saya ngobrol sama seorang kawan. Pembicaraan ngalor ngidul gak jelas yang berujung pada pembahasan omongan pak JK itu. kemudian si kawan saya bilang, “Ya juga ya, kan sampe sekarang masih Byar-Pet terus, alias pemadaman bergilir listrik. Jadi artinya kalo ada tempat2 macam gedung kawinan ini lagi berpesta pora dengan penggunaan listrik yang menggila, berarti ada wilayah yang lagi susah payah mati lampu dong ya? Padahal bayar listrik mahal bener tiap bulan…”

Trekdungjess…

Iya ya?! Jadi, kawinan temen saya yang megah meriah itu udah bikin orang2 di belahan Indonesia lain ngalamin mati lampu ber jam-jam gitu? Lah, kasian ya? Abis itu, saya jadi mikir rada panjang.

Berarti, kalo orang kota macam saya ini yang demennye ngemol, berarti saya turut berpatisipasi juga dalam pemadaman bergilir, gitu? Kan mol tetep buka dengan gagah dan ngabisin banyak energi listrik, kalo pengunjungnya masih banyak. Jam bukanya juga otomatis lebih lama, ya?! Atau mungkin kebiasaan-kebiasaan kecil tapi rutin dirumah, macam dispenser yang nyala terus, AC yang nonstop, lampu yang enggak pernah mati, semuanya ngabisin energi dan ujung2nya rakyat juga dong yang rugi?! Termasuk saya…

Mana bayar listriknya mahal pulak. Hmmppf..jadi malu. Apalagi, masih BANYAK banget wilayah di Indonesia yang belom dipasang listrik. Gak usah deh jauh2 ke kalimantan, sulawesi, nusa tenggara. Waktu itu saya main ke daerah Anyer aja, masih banyak yang belum dapet listrik.

Ya kasarnya mungkin jadi kaya video ini..

Hehehe…

Well, kalo Mumbai bisa, kenapa Jakarta gak bisa ya? Hmm..saya mau ah mulai.

Capek, Tapi Seneng..

Video

Keren ya iklan itu? Hahaha…iklan yang selalu sukses bikin saya ngakak. Ya karena bener, punya anak itu enggak gampang. Tapi bukan berarti enggak bisa. 🙂

inget cerita saya ini ?

Saat itu saya bercerita soal capeknya pengalaman jadi wartawan istana. Sekarang, saya kasitau, bahwa punya bayi itu lebih sulit ketimbang jadi wartawan di Istana Presiden. Lebih capek, lebih bingung, lebih membutuhkan ide2 kreatif, dan komitmen tingkat DEWA. Cuma, ada sih bedanya, kalo jadi ibu itu, meskipun cuwapek, tapi masih banyak senengnya. Sementara kalo jadi wartawan yang ngepos di istana, tetep lebih banyak SENEP nya. Ehehehe…

Jadi ya, anak saya itu, adalah tipikal anak yang sangat moody. Dia bisa kadang2 begitu anteng dan damai, bangun setiap dua jam sekali kalo siang dan cuma bangun sekali tengah malem. Tapi kadang2 dia bisa begitu ‘gila’. Yang saya maksud dengan gila, adalah:RAKUS. Sesuai dengan pengetahuan yang saya dapet dari The Baby Book (My PRIMBON), si Abib ini emang tipikal si doyan makan yang sangat demen nyantel dan menghisap ATE (Air Tete Enyak) hehehe…

Dannn, dia juga rada2 punya tipikal ‘Bayi dengan Kebutuhan tinggi’. Apa itu? Dari 10 Ciri2, dia memiliki 8 diantaranya, KADANG2. Oke, ciri2 itu adalah : 1. Gak bisa dilepas dari gendongan. Kalo orang dulu bilangnya ‘bau tangan’. Well, dari awal, saya dan Poento emang udah niat mau jadi orangtua responsif, yang tidak akan lama2 membiarkan dia menangis sendirian, dan ditaro aja di box gak digendong2. Tapi ternyata, Abib jadi demen. Hehehe,.. Kalo kata tu buku, “Bergerak, tidak diam terpaku, adalah cara hidup bayi-bayi ini. Mereka adalah bayi2 yang tak lepas dari pelukan dan tak lepas dari payudara, jarang mau berdiam diri lama2 dalam boks”

2. Bukan penenang diri sendiri. Pangkuan ibu adalah kursi baginya, lengan dan dada ayah adalah tempat tidurnya, payudara ibu adalah penenang hatinya. EXACTLY!

3. Intens. Ia selalu bersemangat sepanjang waktu. Bayi2 dengan kebutuhan tinggi menghabiskan banyak energi dalam melakukan segala hal. Menangis dengan suara KERAS, tertawa dengan riang, dan segera memprotes bila hidangan untuknya tidak tersedia tepat waktu. FYI, si Abib kalo nangis, kaya bocah dipukulin. Drama, Lebay!! Hehehe

4. Ingin disusui sepanjang waktu. Bayi2 ini terus mencoba menyusu selama dua atau tiga jam sepanjang waktu dan menikmati saat-saat mengisap payudara ibu selama mungkin. BENAR. Begitulah adanya. Dia bisa nete sampe saya merapel sarapan, makan siang dan mandi jam 3 sore.

5. Hiperaktif, Hipertonik. Bayi2 ini sering menggeliat ketika digendong sampai anda menemukan posisi gendongan kesukaannya.

6. MENGURAS ENERGI! –ga perlu penjelasan lah ya?

7. Tak daopat dipeluk. Semenntara kebanyakan bayi tenang dalam pelukan dan gendongan, bayi2 tipe ini biasanya menggeliat ke belakang. Karena, perhatikan baik2, MEREKA TIDAK SELALU SUKA DIGENDONG DENGAN GAYA YANG SAMA.

8. Menuntut. Bayi2 ini memiliki standar tinggi dan kepribadian kuat untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.

Ya, begitulah si Langit Habiby, putraku yang mukenye copy-paste daddy nya. Emang enggak selalu sulit, seperti yang udah saya bilang, kadang2 dia begitu manis dan anteng. Tapi bisa tiba2 berubah jadi syulit.

Nah itulah yang bikin saya suka carangkeul, pareugeul, lalieur.

Tapi efek positifnya adalah, saya jadi lebih banyak baca dan belajar. Juga lebih banyak sabar, belajar tenang, lebih kuat, dan bersyukur. Karena semua ini berarti anak saya sehat walafiat, aktif dan cerdas. Eniwei dia juga cepat besar. Hehehe..

Lagian ya, saya itu punya suami yang oke nya tiada tara. Si Poento ini selalu aja bantuin saya. Nih, kalo siang2 saya udah lemes, gabisa makan dan harus terus nete in, si Poe pasti maksain pulang pas makan siang. Biar saya bisa makan, dan dia gendongin Abib. Saya juga bersyukur karena punya mbak yang rajin. Gak kebayang kalo enggak ada doi, cucian segunung, rumah yang harus diberesin, kucing2 yang harus diurus, masakan. Sementara saya ditahan dikamar sama Abib. Saya juga beruntung karena punya mama yang mau ngurusin saya di 2 minggu pertama abis lahiran, dan sekarang rutin dateng 1-2 minggu sekali cuma buat bantuin gendong bocah yang demen beyayakan ini.

Saya juga beruntuuung karena punya sepupu kaya inon, sahabat kaya pani, adik kaya Rhanny dan citra, dan teman2 yang siap sedia ngajak ketawa, menghibur dan ada buat saya.

Anak itu, menyenangkan. Karena dia bawa rezekinya sendiri, bukan cuma finansial, tapi juga mental. Kalo bukan karena Abib, saya pasti masih Yasmina si moody yang seenaknya, dan gak bisa ngontrol emosi. Thanks to u, dude. Enyak Loves u more than u’ll ever imagine…

Life Is Good, yes?

Video

Suatu hari, di tengah teriknya kampus fisip unpad Jatinangor, saya duduk di emperan depan kios pak Nanang sama seorang teman.

Dia itu, laki-laki, rambutnya gondrong, kulitnya legam, aroma badannya bau bacin cucian gak kering, dan pake baju hitam bertuliskan “REVOLUSI” besar warna silver..

Hehehe..

Tiap kali kita punya kesempatan ngobrol, saya dipaksa utk berfungsi sebagai pendengar yang baik aja. Mendengar keluh kesahnya terhadap pemerintahan, keluh kesahnya terhadap carut marut dunia perpolitikan, ketidakadilan perekonomian, dan hobi korupsi pemerintah. Bosen banget sebenernya. Tapi berhubung dia temen, ya saya dengerin aja. Apalagi kalo sambil nyemil kue2 pak nanang, yaudahlahya…

Tapi hari itu beda, hari itu saya bertekad untuk menjawab keluh kesah dia yang gak ada habisnya itu. Jadi, saat dia mulai berkoar-koar dengan semangat revolusinya, saya potong.

Saya tanya dia, “Trus kalo lo ngeluh mulu ke gue gini, lo protes siang malem, bkn rencana revolusi, demonstrasi besar2an, bakar2an, trus presiden lo bakalan denger dan berubah?” Dia kaget. Ya iyalah, soalnya selama ini saya cuma manggut2 sok tertarik. “Ya kan tapi kita udah melakukan sesuatu!”

Saya toyor kepalanya sampe mental. *eh *hiperbola.

Akhirnya saya kasih dia pilihan. Saya bilang, demonstrasi, bolehlah dibilang melakukan sesuatu. Tapi dampaknya gak akan berkesinambungan. Coba ya, kuliah 4-5 tahun, sepanjang hari demo, bikin kotor jalanan, injek2 makanan, bikin polusi, bkn sedih org lewat, bkn orgtua khawatir,  nyusahin, kaga didengerin juga, kaga pengaruh juga sama pemerintahan. Emang kalo soeharto turun dari tahta karena tuntutan rakyat utk reformasi itu, pada akhirnya ngefek sama keadaan sekarang?

Emang dia udah gak berkuasa? Emang pemimpin sekarang lebih baik dari dia? Yang beda cuma kebebasan bersuara, yang damn, pada akhirnya kebablasan dan bikin anak2 kecil jadi sadis.

“Jadi lo belain Soeharto??” Kata dia, alisnya ngangkat.

Saya berhenti. Ambil teh botol, trus ngasih dia minum. “Biar dengerinnya adem!” Lalu saya lanjutkan cerita saya.

Nah, kalo pemerintah sekarang udah bener, kan gak ada lagi mahasiswa yang perlu demo2. Kenyataannya, mahasiswa masih aja demo kan? Emang hobby gitu? Atau emang krn pemerintahannya juga sama bobroknya ama jaman soeharto? So, apa gunanya dulu nurunin doi? Apa gunanya demo..??

Abis itu, setelah lulus, berapa orang sih mahasiswa tukang demo yang masih konsisten ada di jalan revolusi2an? Coba itung deh, banyakan mana mahasiswa yang pada saat lulusnya masih memilih untuk menjadi aktivis dan berdiri tegak diatas idealismenya, ketimbang mahasiswa yang akhirnya memilih bekerja, cari duit kemudian mengorbankan idealisme nya, karena jaman sekarang semua butuh uang??

Tukang demo, jadi anggota dpr plesir ke luar negeri. Tukang demo, jadi staf ahli menteri yang sesat. Tukang demo, jadi pns korup. Tukang demo, kerja di bank asing. Tukang demo, jadi wartawan yang doyan duit. Tukang demo,kerja di perusahaan tambang milik asing yang kelakuannya ngeruk harta Indonesia.

Pilihan berikutnya, kalau dia gagal bekerja, tukang demo berubah jadi pengangguran. Ya gak heran juga, karena sepanjang kuliah, dia males masuk, males ngerjain tugas, kan kerjanya demo. Lulus pas di injury time dengan IPK pas2an. Akhirnya sampe tua, demo, dan jadi aktivis miskin yang gak pernah juga bisa melakukan apa2 buat Indonesia.

“Elo sendiri udah kepikiran, mau jadi apa?” Tanya saya ke dia yang mendadak pendiem. Yak, dia gak jawab. Saya nelen ludah. Dan .. melanjutkan ngoceh.

Oke, nah, sekarang, coba dipikir, lebih baik mana dengan mahasiswa yang rajin belajar? Okelah gak usah yang terlalu rajin sampe masuk golongan gak punya teman. Hmm..maksudnya, mahasiswa yang dateng ke kampus, rapi, dan masuk ke kelas dengerin kuliah. Kalo ada tugas, ngerjain tugas. Trus memanfaatkan waktu luangnya dengan bisnis kecil2an, macam bikin kerajinan, atau bikin kaos. Atau menulis. Atau les. Apalah…

Kadang-kadang ngobrol dikampus atau makan2 sama teman-teman. Ya seperti layaknya anak muda yang lagi kuliah lah. Lulus pas waktu, nilai baik, dan kerja di tempat yang juga baik. Ada juga yang milih langsung melanjutkan S2. Kemudian, dia bisa masuk ke golongan menengah yang taat. Hm, maksudnya, golongan orang-orang yang bisa memanfaatkan penghasilannya dengan baik. Menabung, berinvestasi. Menikah, punya keluarga. Kemudian mulai bergerak, melakukan sesuatu yang riil.

“Melakukan sesuatu itu butuh ilmu dan uang loh…setuju gak?” tanya saya lagi. Dia makin diam.

Nantinya, orang-orang yang di kampusnya gak demo ini, bukan gak mungkin juga jadi koruptor. Bukan gak mungkin juga jadi antek asing. Tapi seenggaknya mereka gak perlu makan omongannya sendiri waktu masih kuliah. “Ya gak?” kata saya. Dan dia menatap botol teh yang digenggamnya kuat sedari tadi.

Dengan bekal ilmu dan uang, juga teman-teman yang punya misi dan visi yang sama, golongan tidak demo ini bisa bekerja sama mendirikan sesuatu, sesuai kemampuan. Misalnya, bikin buku? Atau bikin yayasan untuk dhuafa? Atau bikin sekolah gratis? Rumah sakit gratis? Jadi aktivis dengan basic ilmu yang kuat, sampe mendirikan organisasi anti korupsi yang kelasnya internasional? Apapun itu yang bisa dilakukan buat Indonesia.

Karena, mau diteriakin atau gak, mau diprotes atau gak, orang-orang yang udah duduk di kursi empuk pemerintahan atau parlemen seringkali sudah kadung susah berdiri. Boro2 mendengar. Jadi gimana kalo kita anggap aja mereka gak ada? Berhentilah berharap sama mereka. Lakukan sesuatu, mulai dari diri sendiri.

“Teriak2 protes itu, kalo kata bonyok gue, adalah sikap anak kecil. Liat deh anak kecil yang belom  ngerti cara berkomunikasi. Mau minta apa aja, dia pasti teriak2 dan nangis. Ngambek, kalo gak dipenuhi.  Mahasiswa, kayanya udah cukup dewasa deh buat menyatakan sikap dengan cara yang lebih elegan ketimbang demo,” kata saya lagi, ya iyalah, abis kata siapa? Hehehe…

Akhirnya kita sama2 terdiam dan tenggelam dalam renungan. Kalo saya sih, waktu itu merasa puas, karena akhirnya bisa juga mengemukakan isi hati yang selama ini tertahan. Entah deh bener atau salah. Yang jelas, negara dan agama saya ngebolehin adanya kebebasan berpendapat.

Masih boleh di debat sih sebenernya, kalo dia mau. Tapi kayanya dia gak mau…

Sejak hari itu sampe lulus dan kerja, saya belom pernah ngobrol panjang lagi sama dia. Yang saya tau Cuma, dia jadi jarang lagi melalangbuana di kampus. Entah kuliah, entah DO, entah apa…

Dan tadi pagi, saya turun dari bus trans galaxi di depan graha niaga. Dari situ, niatnya ngelanjutin naik bus transjakarta langsung ke istana wapres. Tapi sebelum saya naik ke jembatan halte, tiba2 ada orang yang nepok pundak saya.

“Min?”

Saya nengok. Dan senyum. Haha..itu dia manusianya. Nyengir depan muka saya. Rambutnya rapi, pake kemeja, celana bahan, sepatu kulit, dan aromanya wangi parfum cowok. Pertanyaan pertama saya: “Mana kaos revolusinya?” dan dia ngakak.

“Udah jadi pel tuh dirumah nyokap,” kata dia.

Dia cerita bahwa dia sekarang kerja di CIMB niaga. “Oooh jadi antek Maleysie sekarang?” kata saya ngeledek. Mukanya memerah. Tapi dia bilang, dia mau nabung dulu, nanti setelah 10 tahun kerja, dia mau bikin bisnis. Hehehe…sebenernya, dia mau kerja disitu atau gak juga saya gak masalah. Saya cukup seneng kok, liat temen saya itu masih idup.

“Elo sekarang dimana, min?” saya jawab “Gak dimana-mana, gue ibu rumah tangga, ngurus rumah, ngurus suami, ngurus calon anak, yang sesekali nulis buat media, sesekali dagang, sesekali makan di warung padang, sesekali ngopi di coffee bean,” dia ketawa.

“Hidup yang nyaman ya min?” katanya. Alhamdulillah, jawab saya.

Jadi inget lagunya one republic yang judulnya Good Life. Ya, karena, idup emang baik. Yang ngasih hidup itu malahan lebih baik. So, what there is to complain about?

One Republic-Good Life

…Woke up in London yesterday, Found myself in the city near Piccadilly
Don’t really know how I got here, I got some pictures on my phone

New names and numbers that I don’t know, Address to places like Abbey Road
Day turns to night, night turns to whatever we want, We’re young enough to say

Oh this has gotta be the good life, This has gotta be the good life
This could really be a good life, good life

Say oh, got this feeling that you can’t fight, Like this city is on fire tonight
This could really be a good life, A good, good life

To my friends in New York, I say hello, My friends in L.A. they don’t know
Where I’ve been for the past few years or so Paris to China to Col-or-ado

Sometimes there’s airplanes I can’t jump out
Sometimes there’s bullshit that don’t work now
We are god of stories but please tell me-e-e-e

What there is to complain about?

When you’re happy like a fool, let it take you over
When everything is out ,You gotta take it in

Oh this has gotta be the good life ,This has gotta be the good life
This could really be a good life, good life

Say oh, got this feeling that you can’t fight ,Like this city is on fire tonight
This could really be a good life ,A good, good life

Hopelessly
I feel like there might be something that I’ll miss
Hopelessly
I feel like the window closes oh so quick
Hopelessly
I’m taking a mental picture of you now
‘Cuz hopelessly
The hope is we have so much to feel good about

Oh this has gotta be the good life
This has gotta be the good life
This could really be a good life, good life….

Masih pantaskah dicintai?

Video

Young artist for Haiti- Wavin Flag

When I get older, I will be stronger
They’ll call me freedom, Just like a wavin flag

Born from a throne, Older than Rome
But violent prone, Poor people zone

But it’s my home, All I have known
Where I got grown, but now its gone

Out of the darkness, in came the carnage
threatening my very survival

Fractured my streets
and broke all my dreams
now Feels like defeat to wretched retreat

So we strugglin’

Fighting to eat

And we wonderin’

If we’ll be free

We cannot wait for some faithful day
it’s too far away so right now I’ll say

[Chorus]
When I get older, I will be stronger
They’ll call me freedom, Just like a waving flag
(And then it goes back x3)

Ahhho ahhho ahhho

So many wars settling scores
All that we’ve been through
and now there is more
I hear them say love is the way
Love is the answer that’s what they say

But were not just dreamers, of broken down grievers
Our hand will reach us, and we will not see ya

This can’t control us, no it can’t hold us down
We gon pick it up even though we still struggling

Au nom de la survie (In the name of survival)

and we wondering

Battant pour nos vies (Fighting for our lives)

We patiently wait
for some other day

thats too far away so right now I say

[Chorus]

Uhh… well alright
How come when the media stops covering
and there’s a little help from the government
we forget about the people still struggling
and assume that its really all love again nahh
see we don’t have to wait for things to break apart
if you weren’t involved before it’s never too late to start
you probably think that it’s too far to even have to care
well take a look at where you live what if it happened there?
you have to know the urge to make a change lies within
and we can be the reason that they see the flag rise again

When I get older, I will be stronger
They’ll call me freedom, Just like a wavin’ flag
and then it goes back
and then it goes back
Then it goes back

[Chorus]

When I get older
When I get older
I will be stronger
just like a waving flag

***
Saya rasa, semua orang kenal sama lagu itu. Selain anthem world cup, anthem bencana Tahiti, tapi juga jadi jingle iklan produk minuman soda yang terkenal banget ituuu…

Tapi, belakangan ini, tiap denger lagu itu rasanya saya jadi sedih. Asli. Kenapa? Rasanya mirip aja sama Indonesia. Negeri yang, rencananya, akan saya tinggalkan ini.

Negeri yang, katanya, diciptakan Tuhan dengan senyum. Negeri tropis dengan spesies tanaman dan hewan (mungkin manusia juga? Eh?) yang jumlahnya terlampau banyak sampai gak terhitung. Negeri yang, katanya, kaya dan punya limpahan minyak, emas, uranium, batu bara, gas dan sumber daya alam lainnya. Negeri yang kebanjiran kharisma, tentu, sebelum melihat pulau jawa dan kekacauan di mukanya. J

Negeri, tempat mama melahirkan saya, 26,5 tahun silam.

..

Sejujurnya, sebelum saya jadi wartawan, saya belum terlalu ‘ngeh’ dengan kebobrokan negeri bodooh yang saya cintai sepenuh hati ini. Karena  saya, adalah tipikal pelajar dan mahasiswi hura-hura yang males ngikutin berita, boro-boro ikutan demo. Setelah jadi wartawan, setiap hari, yang saya bawa pulang Cuma  duka.

Berlebihan?  Mungkin..tapi dengan otak dalam keadaan waras dan berkesadaran penuh, saya berani sumpah, gak Cuma sekali dua kali saya mewek tiap pulang liputan. Di  Bekasi, tempat liputan pertama saya, ada seorang walikota yang gak ada otaknya tapi punya motto hidup: “In greed we trust” macam film casino jack. Sampai sampah-sampah, dia hajar jadi duit, buat dia dan kelompoknya. Sekarang, dia lagi asik karaoke tiap malem di LP Salemba.

Selanjutnya, Bogor. Tempat liputan yang sebenarnya menyenangkan, karena adem. Tapi sisanya, ada walikota gemuk yang doyan ngasih izin angkot sampe kota itu ‘dihijaukan’ angkot. Ada jajaran pemerintah yang sangat kemaruk sama uang hasil dari prostitusi gang-gang kecil di puncak.

Keluar dari desk metropolitan, saya dicemplungin di desk ekonomi sektor perbankan dan BUMN. Disitu, ada jajaran antek investor, yang apapun pernyataannya selalu berdasarkan kepentingan investor baik asing maupun lokal, jelas yang besar2 dan tamak2. Disitu, saya ketemu orang-orang yang bangga setelah menjual hasil kekayaan negaranya, sambil mengesampingkan usaha-usaha kecil yang perlahan mati di negerinya sendiri. Meskipun, saya suka desk ini, karena masih bicara data, dan memaksa saya untuk belajar sesuatu yang baru setiap harinya.

Desk berikutnya, saya terdampar di nasional. Post: istana wakil presiden. Meskipun wapresnya mantan gubernur BI, seorang profesor ekonomi, tapi, desk saya tetap nasional. Jadi, saya seringkali dilempar ke berbagai diskusi politik bahkan sesekali bantu2 di DPR. Ini adalah masa-masa yang paling membuat muak. Saya sangat sangat suka nge post di istana wapres, tapi dia dibungkam. Inget, DIBUNGKAM. Jadi, saya harus melanglangbuana ke acara politik. Acara-acara yang paling sering membuat saya marah. Karena semua orang Cuma bisa  bicara, bicara dengan tujuan2 tertentu, membuat kebijakan (baca:memaksa) demi kepentingannya, keluarganya, kolega dan bisnisnya. Kumpulan manusia yang cari duit dengan mematikan orang dan mencela-cela orang lain, tanpa tahu, apa sebenarnya yang dia bicarakan. Politik=shit.

Lalu, tahun ini, saya terdampar di desk yang PALING parah. Istana presiden. Kenapa parah? Pertama, karena saya, mau gak mau, dengan hati terpaksa, harus ketemu presiden setiap hari. Kedua, saya, setiap hari menempuh perjalanan yang engga pendek buat kerja ke istana, liat orang-orang, rakyat, yang lapar, yang sakit, yang miskin, yang cacat, yang menangis. Sampai di istana, saya liat mereka, para petinggi yang seminggu sekali sidang kabinet paripurna, kerjanya Cuma  RAPAT. Rapat rapat rapat. Rapat yang gak pernah menghasilkan sesuatu yang signifikan. Rapat yang bisa bikin mas eko tempo teriak “gak ada (berita) yang baru paaaakk…”. ya iya aja gak bakalan ada yang baru, karena dari tahun kapan, sampai sekarang, orang2 itu Cuma bisa bilang “akan”. Kami AKAN membangun infrastruktur, kami AKAN membuat food estate, kami AKAN menurunkan harga pangan, kami AKAN mengurangi jumlah impor, kami AKAN mensejahterakan rakyat. Gak pernah ada kata “sudah”, dari balik tembok dingin istana, teman-teman…

Kalau anda jadi saya, anda muak gak sama Indonesia?

Saya muak. Karena seringkali saya merasa kehilangan harapan. Kehilangan kepercayaan. Kehilangan keinginan untuk bermimpi dan mewujudkan mimpi besar saya: melakukan sesuatu.

Sampai akhirnya saya merasa, sudah saatnya saya meninggalkan negeri ini. Sudah saatnya, saya juga memikirkan diiri sendiri, dan keluarga saya. Sudah saatnya, saya pergi dan pindah kewarganegaraan. Dengan pertimbangan, emang gak bakalan ada negara yang pemerintahannya beres, semua pasti ada cacatnya, tapi seenggaknya ada negara2 lain yang bisa kasih jaminan pendidikan, kesehatan, kedisiplinan, kebersihan, keamanan dan kenyamanan buat warganya. Gak seperti negara saya yang maksimal banget ancurnya ini. Sabar memang ga ada batasnya, tapi toleransi kan berbatas.

Sampai akhirnya, saya inget omongan seorang perempuan yang selalu dibilang ‘perempuan penjual aset negara’ sama  orang2 politik. Perempuan, yang dimata saya berani, tegas, punya hati yang besar, sri mulyani indrawati, dalam kuliah umumnya, sebelom dia cabut ke Amrik.

“Jangan pernah putus asa mencintai Indonesia,…”

(bisa juga buka notes temen saya, Aditya Suharmoko: http://www.facebook.com/note.php?note_id=405703158088 utk transkrip lengkapnya..)

Itu kata dia. Kata-kata yang keluar dari mulut seorang perempuan yang ada di kantornya siang malam. Pimpinan yang melindungi bawahannnya. Menteri yang ‘diusir’ dari negerinya. Sudah sebegitu pedihnya jadi dia, dia tidak pernah meninggalkan semua tugas. Kemudian, didepak. Setelah harus pergi, dia tetap mengingatkan semua orang, agar tetap mencintai negerinya yang sialan ini. Negeri rongsok, bobrok, gak keruan ini.

Jadi, ingatan saya pada omongan itu, yang membuat saya kembali mencari. Mencari selah untuk bertahan dalam rasa cinta pada negeri ini. Di saat2 itulah, saya ketemu rumah autis, yayasan yang didirikan sejumlah para terapis yang peduli. Mereka peduli pada anak2 berkebutuhan khusus yang miskin, dan mendirikan sarana terapi serta sekolah yang gratis. Sementara menteri sosial yang asalnya dari ‘partai dakwah’ itu, bahkan TIDAK TAHU pengertian dari ‘anak berkebutuhan khusus’. Dahsyat kan? Saat pemerintah gak tau, atau gak mau tau, rumah autis sudah maju. Sudah mencoba melakukan sesuatu…

Setelah itu, saya ketemu seorang pendiri yayasan yang sekarang juga sudah bisa bikin sekolah, rmh sakit dan berbagai sarana gratis buat orang miskin. Dia punya sejuta kesempatan, jelas jauh lebih banyak dari kesempatan yang saya punya, untuk melarikan diri keluar negeri. Tapi jawabannya simple, “Kalo bukan kita, trus siapa yang mau bertahan dan melakukan sesuatu?”

Orang-orang di rumah autis, si pemilik yayasan dan sri mulyani, sudah melakukan sesuatu. Saya? Belum. Kalau mereka menyerah kemudian cabut jadi WNA, wajar. Kalo saya yang cabut? Namanya culun. Belom ngapa2in kok udah nyerah. Mungkin, Tuhan masih kasih saya umur buat melakukan sesuatu, buat Indonesia, yang masih pantas dicintai. Mungkin, saya Cuma harus ingat prinsip yang saya pegang bertahun-tahun ini: “Anggap aja kita memang ga punya pemerintah. Indonesia, maju atau mundurnya, ada di tangan kita. Orang-orang yang udah ngabisin uang orang tua sampe segede gini dan sekolah sebanyak ini.”

..But it’s my home, All I have known, Where I got grown, but now its gone
Out of the darkness, in came the carnage, threatening my very survival

Fractured my streets, and broke all my dreams, now Feels like defeat to wretched retreat. So we strugglin’…Fighting to eat…And we wonderin’…If we’ll be free
We cannot wait for some faithful day, it’s too far away so right now I’ll say

When I get older, I will be stronger, They’ll call me freedom, Just like a waving flag..