It’s SUPER STEAK!

Gallery

Saya bukan ‘steak lovers’ yang jauh2 dateng ke satu tempat, sengaja2 Cuma buat makan steak enak. Tapi malam minggu kemarin, saya lagi kepengen banget makan steak, dan males banget masuk mol.

***

Setelah menghabiskan sore bertiga, duduk2, foto2, nyemil2, di taman suropati, langsung ilang selera ya kalo harus masuk mol. Jadi, niat awalnya kita mau makan di holycow steak di senopati. Sesampainya disana, kita baru ngeh bahwa hari itu adalah malem minggu. Yang merupakan PR besar buat kita, yang kelaparan, dan bawa bayi, buat masuk ke tempat yang masih happening di kalangan anak muda jakarta itu. NGANTRI nya booo…

So, we turn around, dan mulai gugling. Nyari tempat makan steak yang direkomendasikan orang2, bukan di mol, daerah jakarta selatan, dan tempatnya sepi. Sampailah kegiatan berselancar itu pada sebuah artikel di The Jakarta Globe ini. Namanya Super Steak, daerah Kebayoran Baru.

Dengan mengandalkan GPS, sampailah kita ke jalan dempo 1 yang letaknya di deket mayestik itu. gak jauh dari belokan setelah taman puring ke arah SMPN 19. Cuma, sebelum smp 19, harus belok kiri dan masuk komplek. Enggak susah kok nyarinya, emm, selama ada GPS. Hehe..

Sesampainya di super steak, honestly, saya dan Poe langsung berpandang2an. RAGU. Soalnya, kita ngebayangin tempat yang –setidaknya- mirip2 lah sama holycow. Apalagi setelah baca artikel tentang steak house ini, yang katanya menggunakan bahan2 premium, pantas dinikmati bersama wine, dan harganya yang cukup mahal untuk kategori steak rumahan. Bisa gak ngebayangin, yang saya bayangin, sebelum melihat penampakan aslinya?

Ternyata, tampilan visual super steak di depan saya, bener2 sebuah ‘warung’ di garasi rumah seseorang. Waw. “Kok kaya warteg?” kata saya, bingung. Oke, let’s jangan ngebayangin warteg banget yang suka dekil,tempat ini bersih kok. Tapi, ah, ini aja deh, liat fotonya…

(Ini pemandangan dari meja tempat saya duduk..)

(foto ini nyomot dari sini..)

Iya, jadi, restoran steak ini bener2, literally, disusun di sebuah garasi. Ada empat meja makan, dua meja panjang, dua meja ukuran standar. Dindingnya dipenuhi sama foto-foto pengunjung, baik artis, selebritis, pengusaha, maupun teman2 empunya resto. Seru banget. Jadi, sambil nunggu steak, kita bisa liat2 sekeliling.

Eniwei, kursinya pake senderan dengan ukuran cukup gede, jadi sangat menyenangkan buat saya. Karena bisa naro car seat abib, dan saya bisa makan dengan tenang. Hehehe *maklumemak2

Nah, saat mendudukkan pantat, kita disambut selembar menu berwarna hijau, di meja. Ada berbagai pilihan steak dan bumbu nya. Well, gak terlalu banyak sih pilihan steaknya. Ada angus, super black angus dan local prime. Harga2 termahal, tentu daging super black angus.

Dimana-mana daging black angus emang masuk kategori mahal, karena sapinya punya kualitas daging yang lebih tender dibanding daging sapi lain. Katanya sih, marbling –guratan2 putih yang ada di daging- black angus itu bagus, ehm, banyak. Karena semakin banyak marbling, daging sapi semakin bagus, dan enak. Sebab, penyebaran lemaknya merata di antara daging. Semakin merata, semakin mudah mengolah daging sapi. Kemudian akan menghasilkan daging yang empuk, dan juicy, bahkan sampe terasa ‘manis’.

Jadi gak heran, harga paling mahal di super steak adalah tenderloin super black angus, Rp 220 ribu. Sementara pilihan sausnya memang lumayan variatif, ada delapan opsi.

Akhirnya, saya mesen tenderloin angus 200 gram yang harganya Rp 150 ribu, dan Poento pesen sirloin angus 200 gram seharga Rp 115 ribu. Saya pilih saus cajun delight, karena disitu tulisannya hot and spicy. Si Poento pesen butter garlic. Dari berbagai review yang saya baca, termasuk tips di foursquare, katanya orang2 paling demen sama butter garlic nya. Tapi udah jauh2 masa gak nyoba yang lain? Ya kan..

Sayangnya, opsi minumannya gak banyak. Cuma beer, coke, ice lemon tea, aer mineral dan teh botol. Sambil nunggu steak, kami disapa oleh seorang bapak2 yang keliatannya udah cukup berumur. Namanya pak Mashud. Ternyata, restoran ini adalah ide putranya, Windu. Dan semua pilihan saus steak itupun, racikan Windu. Well..

Saat ngobrol2 dengan pak Mashud, saya jadi inget Pino. Ownernya signora pasta. Gayanya rada mirip, dan pada akhirnya menciptakan ‘rasa’yang sama. Betul, rasanya seperti ‘namu’ kerumah tetangga, bisa ngobrol2 ramah sama owner. Disela-sela obrolan, pria yang malam itu tampil dengan kaos dan celana pendek tersebut cerita bahwa sebenarnya diluar menu, Super steak juga menyediakan beef sashimi, dengan saus yang khas buatan Windu juga. Waww, kita udah niat, kalo abis makan steak belom kenyang, mau nyobain.

Sayangnya, kita bener2 kenyang. Hahaha

Gak lama setelah memesan, steak pesanan kita datang. Diawali dengan medium rare butter garlic sirloin angus punya poento. Yang, saking kelaparannya, langsung dipotong2 siap dimakan, sebelum difoto. Hahaha…

Suapan pertama, sebelum dikunyah….asin! Tapi setelah dikunyah, mulailah berasa daging yang juicy, teksturnya cukup berasa, empuk dan rasa asin tadi mulai berubah jadi gurih. Gurih yang nempeeel di lidah, dan langit-langit mulut. Daging, bumbu, dan irisan bawangnya meleleh di dalam, bikin saya males menelan. Saat mengunyah, saya ngerti kenapa orang2 merekomendasikan pilihan butter garlic. Enak BANGET bro.

Kemudian, pesenan saya dateng juga. si gendut well done cajun delight tenderloin angus.

Daging mateng, bertabur wijen dengan bumbu yang meresap sampai bagian terdalam daging. Seperti tenderloin kebanyakan, pilihan saya ini juga tak berlemak. Jadi, daging terasa empuk sekali. Aroma dagingnya juga harum. Sayangnya, kalo menurut saya, cajun delight adalah tipikal bumbu yang ‘nanggung’. Pedesnya gak sampe ke tenggorokan, tapi gurihnya juga kurang. Jadi ngegemesin gitu, kaya enggak selesai. Hehe. Jadi saya mengakalinya dengan mencocol steak saya ke bumbu butter garlic punya poe. Nah! Ini baru nendang enaknya..

Saat makan, poento bilang: “Kurang panas nih steaknya”. Saya jadi nyadar, iya ya, steak nya kurang panas. “Kelamaan bikin topping kali,” kata Poento sambil cengengesan. Hmm, pantesan rasanya jadi tambah nanggung. Tapi gimanapun, ini steak yang masuk kategori enak. Plus kentangnya, yang gurih,dan empuk. Didukung semeriwing angin, lagu jazz yang mengalun pelan dan tempat yang sepi, tapi bukan sunyi, steak jadi makin berasa enak. “Kita kan baru buka jam 18.30, jadi orang2 biasanya baru rame setelah jam 9” kata Pak Mashud. Sementara kita sampe disana jam 7.15. pas! Hehe

Pak mashud cerita, enggak lama lagi, usaha steak ini akan melakukan ekspansi. Dengan membuka cabang di The Urban Kitchen-Pacific Place dan alam sutera-Serpong. Tapi tetep, buat orang2 yang males masuk mol, makan di garasi rumahnya adalah pilihan paling tepat.

Selesai makan, istrinya Pak Mashud keluar dan langsung mengakrabkan diri dengan abib, si bocah sejuta cengir. Hehe..dan jadilah abib berpindah tangan dalam gendongan Oma, yang baru ketemu itu. kocak. Ini yang saya bilang, suasana akrab, nyaman yang bikin rasa steaknya semakin enak. Worth it lah, jauh2 dari Bekasi.

Harga mungkin agak lebih mahal untuk ukuran steak rumahan. Tapi, ketimbang harus berpenuh-penuh makan gak nyaman, atau harus makan berjejal dengan suasana mewah dan gak santai. Menikmati steak kelas premium, sambil senderan kena sepoi angin malem, pake kaos dan piyama, udah paling bener.

It’s a garage, NO. It’s a warteg, NO. It’s super steaaaakk…!!! :D

6 responses »

  1. di Radio Dalam kan ada Holycow juga, walaupun yg sekarang bukan punya Lucy Wiryono lagi. menurutku sih tetep enak steak yang disitu *sausnya sih beda ama yg di senopati :)

    trus ada lagi sinou steak yg di PangPol, itu juga lumayan enak, tapi sausnya enaaaak :P

    yang super steak ini kemahalan di kantong gwe soalnya, hauahahha

  2. Pingback: Holycow Steak; Steak Buat KARNIVORA.. « My -FreeTime- Writing Domain

  3. Pingback: Waroeng Super Steak | anggitawardani

  4. Hay saya abis nyobain steak ini di tahun 2014 , salut ternyata tema tempatnya tetap sama dan rasanya waooow gurih banget .. Saya pesan sirloin with butter garlic .. Hmmnn enak banget empuk & juicy + wedges potato yang gurih empuk ! Woow recomended buat saya dan keluarga

    Btw sbelumnya saya biasa makan supersteak di bali punya anaknya (windu) dan enaak banget !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s