Holycow Steak; Steak Buat KARNIVORA..

Gallery

Setelah ratusan taun (lebay) Holycow steak berdiri, dari masih satu kepemilikan, sampe terpecah dua. Dari masih di tenda, sampe udah jad dalam bangunan ber-AC. Saya dan Poe akhirnya baru nyobain makanan yang happening banget di dunia socmed ini, sabtu kemarin, akhir September.

Haha..

Seperti yang pernah saya ceritain disini, saya penikmat steak amatir. Seumur-umur, saya makan steak ya ngintil mamah aja makan di Gandy’s atau di sizzler-american grill. Atau yaaah ikut2an temen2 makan yang murah di Abuba.

Nah, since Poento adalah pedaging sejati, hihi maksudnya penikmat steak banget, maka, sejak nikah, baru deh saya ngerasain hunting steak kesana kemari. Nyobain steak dari yang di mol-mol macam outback, black steer, sampe yang di resto2 kecil macam sinou, dan terakhir, super steak. Saya tau sih, holycow ini trendy banget. Semua orang ngomongin, dan semua bilang enak. No wonder, tempatnya antre melulu.

Unfortunately, antre buat menikmati makanan adalah the BIG NO NO rules buat saya dan Poento. Hihihihi pemalas. Kita sering sengajain lewat, tapi selalu keliatan waiting list. Dan males ya. Penasaran sih, tapi rasa malas itu mengalahkan segalanya.

Sampe tibalah sabtu kemarin. Saat saya dan Poento bener-bener lagi santai, gak ada acara lain, dan hari masih sore. Plus, si abib tidur lelap di Boba carrier. Yaudah, mau deh antre di Holycow steak senopati, Cuma nunggu dua list juga sih, gak banyak.

Ya i’ve heard the split between the owners. Tapi belom ada blog yang membahas perbedaan rasa antara steak milik chef yang satu dan yang lain. So i thought, capek ya jauh2 ke radio dalem, macet2an. Yang lebih deket dan gampang ajalah..

**

Kesan pertama saya sambil antre, jelas, PANAS. Tempat ini, jelas2 enggak cocok buat mahmud yang kemana2 bawa bayi kaya saya. Karena kita harus menunggu masuk ke dalam restoran, di depan tungku bakaran steak nya. Ya jelas panas ya. Gak gendong bayi aja panas, apakabar saya yang gendong bayi coba? Hihi..

Setelah hampir setengah jam nunggu, finally, masuk juga.

Ya suasana di dalem tentu saja much better, karena pake AC dan kipas-kipas gede. Bangku-bangkunya dan suasana nya, mnurut saya, lebih mirip suasana restoran jepang.

 

 

Karena saya dan poento udah capek dan SUPER LAPAR, maka kita pesan sirloin big bites. Yakni daging 400 gram. *mukalempeng* *elusperut*. Saya tadinya mau nyobain wagyu nya, tapi karena udah niat mau bikin tulisan ini, dan di resto steak lain yang pernah saya coba, saya enggak pesen wagyu.  Nanti gak apple to apple dong perbandingannya.

Ternyata, menunggu pesanan datang pun butuh waktu 30 menit. Hihi..lama ya. Saya pikir, mungkin karena yang kami pesan daging (almost) setengah kilo, so proses membakarnya butuh waktu lebih lama. Oia, saya pesan saus nya homemade mushroom sauce yang jadi rekomendasi chef. Sementara Poe pesen buddy’s special sauce.

Setelah tu daging gendut dateng, gigitan pertama saya membuktikan jargon restoran ini.

Restoran untuk KARNIVORA!

Menurut Wikipedia, pengertian karnivora adalah pemakan daging, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Tidak ada yang bilang daging yang sudah dibakar medium well. Means karnivora punya gigi taring yang tajam sehingga mampu merobek daging se keras dan se ALOT apapun.

Saya, ternyata, bukan karnivora. Karena saya gak mampu mengerat steak 400 gram milik holycow steak by chef afit ini. Entah gigi saya yang culun, atau dagingnya yang terlalu keras. In my HUMBLE and amateur opinion, daging  gendut ini sama sekali enggak juicy seperti steak-steak lain yang pernah saya makan. Daging ini bikin saya pusing karena harus mengeluarkan energi ekstra buat menggigit. Oh Lord…

(sirloin big bites yang udah saya belah-belah..hehe)

Menurut si pemakan daging dan suami saya, Poento, “Dagingnya enggak fresh.” Demikian.

Saya enggak tau, apa saya aja yang salah pesen, atau gimana. Makin saya makan, yang saya rasain Cuma capek dan kesel. Karena semua blog atau tulisan soal steak ternama ini selalu bilang bahwa steaknya enak. Tapi yang tersaji dan saya makan malam itu, enggak bisa dinikmati.

Entah karena daging yang saya pesen ukuran besar, atau emang begitu gayanya, daging itu juga dibakar enggak rata. Di sebelah kiri, GOSONG. Sebelah kanan, MENTAH. Yang saya pesan: medium well. Emang, steak tersaji dengan hangat dan terlihat nikmat. That’s a good point. tapi…

Akhirnya, saya mencoba menghibur diri. Semoga sauce nya enak. Dan ternyata, sauce yang saya pesan, yang katanya rekomendasi chef itu, hambar. Iya hambar, enggak ada rasanya. Kaya makanan Abib. Yang Poento pesan sih masih way better, jadi saya mix aja sauce saya sama sauce poe. Lumayanlah jadi bisa dimakan..

So, cara saya (berusaha) menikmati steak tersebut adalah dengan memotong-motong daging besar itu sampe ke piece terkecil. Hihi…biar bisa digigit.

Tidak ada yang istimewa dengan kentang dan sayurannya juga. Kentang supermarket dan sayur rebus biasa.

Cuma satu, menurut saya, keunggulan Holycow dibandingkan Super Steak. Bayarnya bisa gesek. Udah. Sisanya, KALAH TELAK.

**

Jadi, holycow ini, apple to apple sama abuba atau sinou steak yang juga terletak di jalan senopati. Tapi kalo sama Super Steak, enggak bisa dibandingin. Dari suasana tempat, keramahan pegawai plus owner, rasa steak, rasa kentang, dan rasa sauce, oh Super Steak way above buddy.

Sayangnya, untuk makan di abuba atau sinou, kita enggak perlu antre panas2an depan tungku.

Rasanya, saya ini punya ekspektasi yang terlalu tinggi karena menghabiskan banyak waktu membaca tulisan-tulisan di social media mengenai Holycow. Semua opini selalu bilang, holycow adalah steak rumahan dengan rasa fantastis dan harga terjangkau. Worth the queueing.

Buat saya, sorry to say, NO.

4 responses »

  1. hai, tanya donk… ini kan pecah kongsi ya, nah kamu makan di yang steak house apa yang steak hotel? ini yang di alamat ini bukan? Jl. Radio Dalam Raya No. 15, Jakarta Selatan. kalo kata web nya, itu yang steak hotel. yang steak house cabangnya di: Senopati-Gading-Bonjer. tapi dari foto menu, tulisannya steak house. jadi aku bingung ini pecahan yang mana. tia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s