Blog Archives

Here’s to never growing up..

Image

Oh well, saya bukan penggemar Avril Lavigne. Bahkan saya enggak tau banyak lagu2nya. Tapi 2 pekan belakangan ini saya banyak menghabiskan waktu dijalanan.

Akhirnya dengerin lagu-lagu top 40 nya prambors.

Dan berakhir dengan mellow setiap lagu here’s to never growing up nya mba Avril ini dimainkan.

Jadi kangen…

IMG2_0001 (2)

Singing Radiohead at the top of our lungs
With the boom box blaring as we’re falling in love
Got a bottle of whatever, but it’s getting us drunk
Singing here’s to never growing up

IMG2_0004 (2)

Call up all our friends, go hard this weekend
For no damn reason, I don’t think we’ll ever change
Meet you at the spot, half past ten o’clock
We don’t ever stop, and we’re never gonna change

Say, won’t you stay forever stay
If you stay forever hey
We can stay forever young

IMG_4453

Singing Radiohead at the top of our lungs
With the boom box blaring as we’re falling in love
Got a bottle of whatever, but it’s getting us drunk
Singing, here’s to never growing up

IMG_4972
We’ll be running down the street, yelling “Kiss my ass!”
I’m like yeah whatever, we’re still living like that
When the sun’s going down, we’ll be raising our cups
Singing, here’s to never growing up

IMG_9941

Oh whoa, oh whoa, here’s to never growing up
Oh whoa, oh whoa, here’s to never growing up

1_124228228l

We live like rock stars, dance on every bar
This is who we are, I don’t think we’ll ever change (hell no!)
They say just grow up, but they don’t know us
We don’t give a fuck, and we’re never gonna change

IMG2_0004

Say, won’t you stay forever stay
If you stay forever hey
We can stay forever young

Singing Radiohead at the top of our lungs
With the boom box blaring as we’re falling in love
Got a bottle of whatever, but it’s getting us drunk
Singing, here’s to never growing up

IMG2_0006

We’ll be running down the street, yelling “Kiss my ass!”
I’m like yeah whatever, we’re still living like that
When the sun’s going down, we’ll be raising our cups
Singing, here’s to never growing up

DSCN1385

Oh whoa, oh whoa, here’s to never growing up
Oh whoa, oh whoa, here’s to never growing up

DSC04315

Say, won’t you stay forever stay
If you stay forever hey
We can stay forever young

IMG2_0003

Singing Radiohead at the top of our lungs
With the boom box blaring as we’re falling in love
I got a bottle of whatever, but it’s getting us drunk
Singing, here’s to never growing up

Scan1

We’ll be running down the street, yelling “Kiss my ass!”
I’m like yeah whatever, we’re still living like that
When the sun’s going down, we’ll be raising our cups
Singing, here’s to never growing up

DSC04452

DSC04512

IMG_9938

Kakak adik

IMG2 (2)

IMG2_0005

Betiga

IMG_9932

DSC05040

n547253770_918494_2968

Hihihihi…dulu itu lucu amat ya. Gak sih, saya enggak akan bilang ‘kaya gak ada beban hidup’ hahaha dulu justru rasanya beban hidup saya JAUH lebih berat ketimbang sekarang.

Tapi, karena punya banyak temen, orang-orang yang selalu ada, selalu rame dan selalu bikin ngakak tiap hari, jadi rasanya happy terus.

Like a family i never had.

Haha.. miss y’all..

IMG_9985

We are, we are, Not your ordinary fama-mily
But we can all agree that
We are, we are
Close as close can be

So it don’t matter what it looks like, We look perfect to me
We got every kind of lover, We’re so lucky indeed
They can keep on talking, It don’t matter to me cause
We are, we are family

We are are are are (We are are)
We are are are are (We are are)
We are are are are (We are are)
We are, we are family, family, family
We are, we are family

So what? We don’t look, we don’t act
We don’t walk, we don’t talk, Like you do
So what?
If we hang just a hang and no shame
We both do what we want to

Cause we come from everywhere, Searching for ones to care
Somehow we found it here, We found us a home

We are, we are
Not your ordinary fami-mily
But we can all agree that
We are, we are
Close as close can be

So it don’t matter what it looks like, We look perfect to me
We got every kind of lover, We’re so lucky indeed
They can keep on talking, It don’t matter to me cause
We are, we are family

Ok, so the links in our chains makes us strange
But really they make us stronger
And no one would replace not a thing
Mother or father
Cause we…

Cause we come from everywhere, Searching for ones to care
Somehow we found it here, We found us a home

We are, we are
Not your ordinary fami-mily
But we can all agree that
We are, we are
Close as close can be

So it don’t matter what it looks like
We look perfect to me
We got every kind of lover
We’re so lucky indeed
They can keep on talking
It don’t matter to me cause
We are, we are family

(Family)
(We are, we are)
We are, we are family

From Ice Age: Continental Drift

(Review) Gravity..

Image

Sendirian.

Saya suka sendirian, suka sekali. Jalan-jalan, dirumah, makan, nonton, baca buku, banyak hal menyenangkan saat dilakukan sendirian. Banyak..

Tapi, sendirian diluar angkasa?

***

Sudah nonton Gravity?

Saya enggak akan cerita detail soal film ini, bagaimana kisahnya, tekniknya, aktingnya, dan lain lain. Karena yang saya rasakan saat credit title nya keluar, hanya, air mata. Saya bisa menempatkan diri dalam posisi Ryan Stone (Sandra Bullock) saat harus sendirian. Benar-benar sendirian. Di luar angkasa.

Pada awalnya, menyaksikan film  berdurasi 90 menit ini, di teater IMAX3D, rasanya seperti berada di gedung planetarium. Menjadi penonton dari obrolan yang menyenangkan dari Matt Kowalsky (George Clooney) dan dr Stone saat melakukan tugasnya bersama rekan-rekan explorer, saya jadi ikut melayang ringan. Film ini mengawali aksinya dengan sangat smooth.

Dan mengakhirinya dengan air mata.

Kenapa?

Sebab, setelah adegan dialog yang menyenangkan di awal, mulailah segala kegelisahan film ini. Sebuah satelit Rusia mengalami tabrakan, dan menciptakan sebuah badai debris.( Fyi, badai ini membuat saya yang duduk manis di bioskop mengenakan kacamata 3D, mencelat ke kiri dan kanan karena rasanya seperti benar-benar tertabrak. Hihihi ndeso.)

Badai dahsyat ini menghancurkan space station mereka. Dan dari seluruh kru, hanya Matt dan Ryan yang selamat. Itu juga setelah Ryan sempat terpental sendirian entah kemana.

Melayang berdua di luar angkasa, mencari space station yang  menjadi satu-satunya tiket pulang ke Bumi. Oksigen yang amat minim, keterbatasan komunikasi, ditambah kepanikan Ryan membuat jantung saya ikut berdetak kencang. Tadinya, saya pikir, mereka akan terus berjuang berdua agar bisa kembali ke bumi.

Ternyata…tidak.

Ryan Stone harus berusaha sendirian.

gravity

 

dr Stone: ‘Don’t let go’ | Matt: ‘You gotta learn to let go’ —-foto dari Rotten Tomatoes

 

Mulai dari scene ini, jantung berdebar saya beralih ke mata yang panas. Rasa takut, panik, gak bisa bernafas, sedih, yang dirasakan Stone, bisa saya rasakan. Kalo jadi dia, saya udah pasti nyerah. Heuh..

Setelah itu, ah, air mata tidak bisa berhenti mengalir. Betapa rumitnya kondisi yang dia alami. Ditambah bumbu drama ingatan Ryan akan kisah putri satu-satunya yang meninggal di usia 4 tahun, oh no.

Kisah tentang ‘sendirian’ ini sebenarnya sudah lumayan banyak. Life of pi, misalnya, yang masih anget filemnya. Buku dan film itu juga bercerita soal kesendirian pi patel terombang ambing di lautan selama beratus hari. Tapi gravity ini berbeda.

Sebab, life of pi, menceritakan kesendirian dalam waktu yang lama. Sementara gravity bercerita soal kesendirian, kepanikan, kesedihan, dan harus. HARUS, diselesaikan dalam waktu secepatnya, karena dia berada di luar angkasa. Dia enggak punya waktu sebanyak Pi Patel.

Dalam waktu yang amat singkat tersebut, Ryan seolah diminta untuk belajar begitu banyak hal. Belajar melepaskan, belajar mandiri, belajar teknis spaceship, belajar move on, dan belajar untuk tidak pernah menyerah. Gila.

Hebatnya, di film ini, saya benar-benar bisa menempatkan diri dalam posisi dr Stone. Mungkin karena banyaknya pengambilan gambar yang lama tanpa potongan (long shot), jadi mau gak mau bikin saya konsentrasi dan larut kedalam film?  Atau karena Cuaron banyak mengambil gambar point of view, jadi saya bisa melihat adegan dari mata si Stone?

Atau mungkin karena saya emak-emak?

Cuaron, mempersembahkan filem ini untuk ibu nya. Maka banyak simbol yang mengungkapkan hal itu dalam film ini. Banyak shot menampilkan pose yang terkait dengan motherhood, fetal position, dan sebagainya. Mungkin saya, tanpa sadar, memosisikan diri masuk kedalam film ini. Maka, jadi begitu mudah mengidentifikasi diri dengan apa yang dirasakan Ryan Stone?

Apapun itu, yang jelas, lebih dari 1 jam saya mewek. Haha..padahal filmnya aja Cuma 90 menit.

***

Saya bukan penggemar film sci-fi, tapi Gravity, dimata saya, bukan film sci-fi. Filem ini drama, dan dalem buat orang yang susah move on kaya saya. Bukan sekadar film yang bercerita soal astronot yang harus bertahan hidup, tetapi kisah tentang KENAPA si astronot ini harus survive.

Tegang, kagum karena aspek visual dan sinematografi yang CAKEP itu, buat saya, cuma rasa pendamping. Yang paling terasa buat saya justru kesedihan, ketakutan, kepedihan,dan rasa-entah-harus-gimananya Ryan. Sandra Bullock, saya enggak nyangka dia bisa menggambarkan semua itu dari aktingnya. *TepokTangan*

Masih terngiang di kepala, saat Ryan kehilangan kesadaran dan hampir menyerah, tetiba ada Matt dan bilang “What’s the point of going on, what’s the point of living?” …

Ah..

 

(Btw, thank u kakak andrisaubani, kalo bukan karena review nya disini, mungkin hari itu, saya lebih milih nonton cloudy with a chance of meatballs 2. Karena nonton bioskopnya kan harus sama si bocah. Ohiya, film ini aman ditonton bocah, Cuma untuk bocah yang udh pinter ngomong harus hati-hati dikit sama dialognya. Rada banyak kata-kata kasar…)

 

Belajar Move On dari Gajah..

Image

Bulan lalu, saya, Poe dan Abib plus keluarga paman saya, berkunjung ke Taman Safari- Cisarua. Tempat, yang saya pikir menyenangkan untuk ajak Abib berkeliling. Luas, adem, dan banyak hewan untuk dilihat, diberi makan, bahkan disayang-sayang.

Saya gak mau cerita soal bagaimana taman safari, dan bagaimana kondisi hewan-hewannya. Yang jelas, Abib senang. Apalagi saat dia, untuk pertama kali dalam hidupnya yang baru 20 bulan itu, menunggangi gajah. Hewan besar yang selama ini hanya dilihatnya di tivi atau di filem kartun.

IMG_8036

Senang sekali dia kelihatannya, karena hingga beberapa hari kedepan, dia kerap mengulang-ulang. “GAJAAAAH” kemudian duduk diatas guling dan bergerak-gerak seolah ada diatas tubuh gajah. Menggemaskan. Kadang ia juga mengambil handphone saya dan meminta diperlihatkan fotonya saat berada diatas gajah yang super besar.

IMG_8280

Kembali ke Taman safari, saat Abib dan sodara-sodaranya sedang asyik berkeliling, saya yang nasibnya sudah ditakdirkan jadi tukang poto keluarga (artinya jarang nongol di foto-foto, errr..) akhirnya mengobrol aja dengan si suami yang demen baca.

Saya sempat nanya, bagaimana cara melatih gajah. Karena saya melihat pertunjukan gajah, dan para pawang hanya mencolek sebuah spot di leher gajah dengan lembut, atau mengelus bagian kepala, untuk membuat para gajah itu duduk, menaikkan belalai dan melakukan berbagai perintah lainnya.

Dia bilang, “Ingatan gajah itu memang kuat, tapi akalnya tidak sepandai manusia.”

Jadi, pelatihan awal gajah, para pawang menggunakan tungkai yang cukup tajam untuk membuat gajah bisa mematuhi perintah-perintah yang diberikan. Setelah beberapa lama, tungkai tajam itu berganti tangan, dan bahkan ujung jari. Namun, yang ada di ingatan gajah, jari lembut tersebut tetap tungkai tajam yang menyakitkan. Maka, mereka bisa mengikuti order yang diberikan.

Begitu juga dengan rantai kaki. Waktu masih bayi, mereka dilatih untuk bisa disiplin diam di satu tempat dengan menggunakan rantai. Awalnya, semua gajah pernah mencoba untuk melepaskan rantai tersebut. Sayangnya gagal, karena rantai lebih kuat daripada gajah mungil.

Maka hal itulah yang ada di ingatan gajah. Rantai di kakinya kuat, tidak bisa dilepas. Saat mereka beranjak dewasa, acapkali kakinya dirantai, mereka tak pernah lagi berusaha melepaskan kaki dari rantai yang membelit itu. karena sepanjang ingatannya, rantai tersebut lebih kuat dari tenaganya, dan tidak bisa dilepas. Padahal, kalo menurut perhitungan saya, rantai itu akan sangat mudah ditarik dan putus oleh gajah-gajah ukuran raksasa tersebut.

Fakta lainnya tentang gajah adalah, tulisan yang saya baca disini. Ini dia:

“Ketika kesepakatan internasional melarang perdagangan gading gajah tahun 1989, tinggal tersisa sekitar sejuta gajah di Afrika dan sekitar 7.5 persennya diburu gadingnya per tahun. Sekarang, tersisa kurang dari separuhnya saja, namun masih saja kita kehilangan sekitar 8 persennya karena pemburu gading.

Pada dasarnya, para pemburu gading gajah telah melakukan tugas seleksi alam pada para gajah. Karena gajah dengan gading yang bagus diburu dan dibunuh, maka mereka memiliki keturunan yang lebih sedikit daripada gajah dengan gading jelek. Akibatnya, jika sebelumnya hanya 2 hingga 5 persen saja gajah Asia yang lahir tanpa gading, sekarang naik hingga 38 persen. Lebih dari sepertiga populasi gajah!

Seleksi alam ikut bekerja disini. Gajah cewek lebih memilih gajah tanpa gading daripada gajah bergading, sehingga keturunannya lebih mungkin tanpa gading, dan karenanya lebih mungkin bertahan hidup dari serangan para pemburu. Perhatikan evolusi ini terjadi hanya dalam tempo sekitar satu abad, semenjak para kolonial eropa mulai tertarik menjadikan gading gajah liar sebagai komoditas ekspor.”

Ternyata sampai sebegitunya ya, trauma gajah. Sesusah itu buat move on. Sampai harus ber-evolusi segala, saking mengerikannya tantangan mutakhir yang harus mereka hadapi. Kekejian manusia. Maka kini kehidupan gajah, yang seharusnya memiliki gading untuk bertahan hidup, melindungi diri dari musuh-musuhnya di alam liar, telah berubah total. Mereka lebih aman hidup tanpa gadingnya, agar aman dari satu-satunya musuh: manusia.

Yess, trauma melihat kerabatnya yang dibantai dan mati tanpa gading membuat gajah harus berevolusi.

Nah, begitulah gajah, mahluk anti move on kalo kata Andri si pemuja gajah. Iya ya, ingatan gajah memang kuat, tapi akalnya tidak secerdas manusia.

Eh, masa sih?

Bukannya itu yang disebut trauma? Hal yang terjadi, hal yang buruk, dan gak bisa dilupakan, maka sampai kapanpun, sepertinya hal itu yang akan terjadi.

Misalnya, cerita seorang kawan yang memutuskan untuk tidak akan menikah, karena trauma pada laki-laki. Sepanjang masa kecilnya, begitu banyak pelecehan yang ia terima. Baik fisik, mental dan ekonomi. Semua dilakukan oleh laki-laki. Maka sampai dewasa, yang dikepalanya ya demikian. Laki-laki itu BRENGSEK.

Sama kan ya, dengan gajah?

Coba berapa banyak orang yang tenggelam dalam trauma, dan tidak mampu mengatasinya kemudian move on? Sepertinya banyak.

Saya sendiri juga banyak menyimpan trauma yang suliiiiiit sekali dilupakan.

Meskipun sudah begitu banyak hal baik yang Tuhan berikan, sudah begitu banyak nikmat yang kita dapatkan, tapi, trauma itu terus aja nempel. Seolah dunia ini sudah runtuh dan gak ada lagi besok.

Sejak mendengar cerita gajah itu, saya jadi malu. Haha…ternyata akal saya enggak lebih baik dari gajah. Kita sebelas dua belas, jah! 😀

Tapi kan harusnya tidak demikian kan, ya? Harusnya saya lebih cerdas dari gajah, saya kan manusia, diciptakan Tuhan untuk lebih unggul wqdari mahluk lain. Agar kedepannya, saya bisa melakukan hal-hal baik demi kebaikan seluruh mahluk.

Masa saya enggak belajar. Belajar buat move on dari semua hal yang pernah membuat saya takut. Belajar percaya bahwa Tuhan itu ada, dan selalu melindungi saya. Belajar memahami bahwa banyak hal indah yang harus saya syukuri, ketimbang mengutuk dan menyalahkan pengalaman buruk dari orang lain.

Hidup saya itu hari ini dan besok, lusa, tahun depan, dan seterusnya. Bukan kemarin atau dulu waktu kecil. Ya kan?

Hehe..

Terimakasih ya gajah-gajah di Taman Safari, kalian sudah bikin saya malu sekaligus belajar banyak. Dan kalian juga sudah sukses bikin Abib bahagia karena pernah keliling naik gajah.

IMG_8047

Belajar dari Alam

Image

Dulu, waktu belom punya anak, sahabat saya pernah berteori. Dia bilang:

“Gak ada induk burung yang bawel nyuruh-nyuruh anaknya ini itu. Contohin aja, nanti juga ditiru.”

Dulu, saya memandang quotation itu dari kacamata anak, yang mendambakan sosok orangtua ideal, yang enggak pake bawel suka ngomelin saya yang nakal. Yang gak cerewet nyuruh-nyuruh ini itu plus ngomelin.

Sekarang, saat anak saya masuk ke usia jelang dua tahun, saya terngiang lagi kata-kata itu. Dan, heuheu, gak gampang yah?

Ya bener memang, kalau mau ambil pelajaran dari parenting gaya hewan. Hehe..enggak salah juga kok. Karena ternyata cukup sulit aplikasinya. Yang suka cerewet ngasitau anaknya jangan naik-naik kursi, tapi sendirinya naik kursi buat ngambil barang diatas lemari, mana suaranyaaa?? Yang suka bawel ngomelin anaknya kalo makan jangan pilih-pilih, tapi sendirinya gak doyan ini itu, angkat tangannyaaaa!!

Belom bisa banyak ngasih contoh sih, kan anaknya masih 1,5 taun. Ahahaha..tapi ya masa-masa ini memang saatnya dia meniru dan meniru dan MENIRU. *GarukPala*

Salah satu hal yang saya rasa berat adalah, mengajarkan si Abib kegiatan outdoor. *Batuk* saya ini, adalah orang yang gak gitu suka kegiatan outdoor, dan bahkan gak suka olahraga—kecuali berenang, that’s all. Dulu, SMA saya adalah sekolah yang semi sekolah alam. Banyak banget kegiatan outdoornya. Dan saya, selalu bolos. Ahahaha..

Bekasi Selatan-20130121-00089

Maksudnya, tiap ada kegiatan outbond dan sebagainya, saya pasti minta mama bikinin surat sakit. Yess, karena males. Ogah amat gue nyemplung ciliwung, becek-becekan, perosotan di tebing. Dududududuuuh…males.

Begitu juga saat kuliah. Bahkan KKN wajib di kampus, saya pilih gelombang1, yang KKN nya di kota. Deket rumah. Gak pake harus nginep di kampung, since denger cerita sepupu saya bahwa ada desa lokasi KKN yang rumahnya di tengah rimba. Saya emang (dulu) lumayan ribet. Karena saya punya alergi, saya gak pernah tahan sama dedaunan, rerumputan, kotor-kotor tanah, selalu gatel2, bentol sekujur badan. Yeah well, mungkin karena gak dibiasain ya…

Mendingan jalan kaki keliling kota deh buat hunting foto, atau cari cerita. Selama masih di kota, saya merasa aman. Hahahaha..

**

Sekarang, saat dianugerahi anak laki-laki, it’s a big no no untuk mendidik anak dengan kebiasaan saya. Apalagi dia ini cenderung anak dengan pola belajar kinestetik. Gak bisa diem. Dan gak mau belajar sambil duduk anteng dirumah.

Kalo ditanya kepengenan saya sih, maunya duduk aja santai dirumah, belajar dari iPad, atau browsing-browsing, baca buku, nonton. Atau kita jalan-jalan ke museum, pameran foto, nonton bioskop, dan main di playground buatan aja yang ga banyak rumputnya. Bhahahaha..

Tapi, saya sudah jadi ibu. Bukan saatnya untuk egois. Kalo memang belajar dari alam, bisa membuat Abib jadi lebih cepet ngerti, membantu kinerja otaknya, dan menyambungkan sinapsis2 dengan lebih baik. Well, outdoor it is!

Bekasi Selatan-20130110-00027

Maka, saya akhirnya berkegiatan di lapangan rumput, di semak-semak penuh rumput, di pinggir danau, ketemu air banjir, main hujan, dan berjibaku dengan tanah plus lumpur. Abib bahagia, saya gatel-gatel. Namun, ternyata memang sangat efektif. Abib cepat belajar mandiri, dia jadi cepat paham bahwa tempat yang basah itu licin (karena dia sering jatuh), jadi harus pelan-pelan. Dia juga cepat mengerti wilayah yang berbahaya dan aman. Tubuhnya juga punya alarm, saat lagi gak enak badan, dia gak mau main hujan, sebab paham bahwa dia akan kedinginan.

Bekasi Selatan-20130311-00273

Yang paling menyenangkan adalah, anak saya, langit Habiby, tumbuh berani. Yess, dia jadi berani mencoba banyak hal baru, berani sama berbagai hewan yang baru ditemuinya-termasuk anjing GEDE. Ini juga tantangan buat saya dan suami, karena saya takut banget sama ulet, dan bapaknya takut anjing. Jadi kalo lagi jalan-jalan, dan di lapangan ketemu ulet, saya mundur teratur. Berusaha KERAS untuk tidak menunjukkan ketakutan. Begitu juga kalau ketemu anjing, saya yang menggandeng Abib dan Poe mundur hahaha…

Abib juga lebih cepat mengenal hewan, tumbuhan, cuaca, benda-benda disekitarnya. Plus dia juga tambah murah senyum dan mudah bergaul dengan siapa saja. Seneng sekali melihatnya. Nah, ajaibnya, seiring dengan waktu, rajin nemenin Abib jalan, lama kelamaan tubuh saya nampaknya membentuk imunnya sendiri. Enggak ada lagi bentol-bentol gede yang menghantui berhari-hari. Ya kalau gatal, masih. Tapi udah enggak parah.

Akhirnya saya juga jadi bisa menikmati jalan-jalan pagi/sore kami berdua. Sama nikmatnya dengan si Abib. Kadang plus gendong, kadang plus lari, kadang plus drama karena sudah sore dan anaknya gak mau berhenti jalan. Lambat laun saya menyadari bahwa, alam ini adalah sesuatu yang patut dinikmati. Saya gak tau sampai kapan mereka eksis dan semuanya berganti besi…

IMG-20130117-00224

Dengan ini, saya belajar lagi, bahwa yang paling sulit dari mendidik anak adalah menguatkan hati kita sendiri. Ya, hati harus kuat dan gak boleh menyerah untuk melakukan yang terbaik buat perkembangan si anak. Meyakinkan diri sendiri agar tetap calm dan assertive menghadapi apapun kejutan yang dilakukan si anak, menghadapi anak yang rewel dan mulai masuk ke fase terrible two, melawan kemalasan dan rasa letih diri sendiri, PLUS menyiapkan argumen kuat saat diserang opini orang lain yang merasa pola pendidikan saya itu gak bener.

Semua senang? 😀

dadabib

Sharing is Caring

Image

Waktu masih bekerja di Republika, saya punya sahabat yang chubby dan menggemaskan. Hihihihi..namanya Fitria Andayani, dipanggil Pipit. Sekarang, dia sudah dapet promosi dan jadi redaktur halaman ekonomi.

Tapi saya bukan mau cerita soal dia, Geer deh lo pit..LOL

Saya mau nyalin sebuah tulisan yang pernah dia buat di halamannya, 22 Januari 2013 lalu. Judulnya: Seratus orang Terkaya Bisa Atasi Kemiskinan.

Ini isinya:

Ada satu jurus jitu untuk menghentikan penyebaran virus kemiskinan di muka bumi. Namun jurus tersebut hanya dimiliki oleh 100 orang terkaya di dunia. Tahun lalu, orang-orang kaya tersebut menghasilkan pendapatan bersih hingga 240 miliar dolar AS. Jumlah tersebut cukup untuk membuat orang miskin bangkit dari keterpurukan ekonomi mereka.

Penelitian tersebut diungkapkan oleh organisasi hak asasi manusia dan amal internasional, Oxfam, yang berbasis di London. Laporan tersebut dirilis berdekatan dengan penyelenggaraan World Economic Forum yang akan digelar di Davos, minggu depan.

Kelompok ini menyatakan, orang-orang terkaya di dunia itu mengalami peningkatan penghasilan hingga 60 persen dalam 20 tahun terakhit. Krisis keuangan dunia sama sekali tidak memengaruhi jumlah uang yang bisa mereka hasilkan. Kekayaan mereka justru bertambah, sementara jutaan orang di dunia harus bersusah payah mendiamkan perut mereka yang meraung kelaparan.

sharing1

 

(Gambar dari sini)

Direktur kampanye Oxfam, Ben Phillips, menyatakan, biasanya dunia hanya berbicara tentang ‘mereka yang tidak punya apa-apa’ dan ‘mereka yang punya’. Namun kini, pembahasan harus juga melibatkan ‘mereka yang punya segala-galanya’. “Kami kelompok antikemiskinan. Kami fokus pada kemiskinan. Kami bekerja dengan orang-orang paling miskin yang ada di dunia. Kami tidak biasa bicara tentang kekayaan. Tapi, sekarang keadaannya sudah diluar kendali. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin semakin ekstrem,” ujarnya seperti dikutip Al Jazirah.

Dengan demikian, salah satu cara untuk menyelesaikannya hanya dengan melibatkan kelompok ‘satu persen’ tersebut. Mereka yang memiliki kekayaan ekstrem untuk menyelesaikan kemiskinan ekstrem.

Oleh karena itu, mereka berharap para pemimpin dunia berkomitmen mengurangi kesenjangan ekonomi. Setidaknya, porsi kesenjanngan balik ke level moderat seperti yang terjadi pada 1990.

Sharing2

 

(Gambar dari sini)

Direktur eksekutif Oxfam, Jeremy Hobbs, menambahkan, dunia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa menciptakan banyak kekayaan bagi beberapa orang akan memberikan manfaat bagi banyak orang.

**

Shht..jangan komen dulu soal untuk siapa Oxfam berdiri, dan atas dasar kepentingan apa Oxfam berjalan.

Terlepas dari itu semua, idenya kembali lagi ke ‘berbagi’. Hal yang kini jarang dilakukan orang-orang, baik yang SANGAT kaya, orang kaya baru, orang kaya, bahkan middle class.

Padahal,  sejak dulu, sudah jelas terbukti bahwa sharing, adalah satu-satunya kunci kestabilan.

Setelah baca artikel itu, saya semakin yakin ingin jadi orang kaya. Hahahaha..etapi bener lah, orang kaya yang berbagi dong. Kalo kita kuat, insya Allah bisa ikut menguatkan yang lemah. Coba kalo kita sendiri lemah? Boro-boro menguatkan orang lain, diri sendiri aja susah.

Padahal udah sekolah tinggi-tinggi, udah bekerja atau memiliki pengalaman bekerja, sayang kan kalo gini-gini aja, dan Cuma bisa membantu sedikit? C’mon, be strong. Menabung, berinvestasi, dan bekerja lebih cerdas dan keras. Saya harus jadi orang kaya, yang mampu memberikan manfaat bagi BANYAK orang dengan kekayaan saya.

Itu jangan sampe lupa. 😀

*PelukPipit*

sharing3

(Gambar dari sini)

Kisah Cinta Mario dan Fiona…

Image

Ehm, belakangan, saya lagi punya TAMBAHAN kesibukan baru. Yakni, menjodohkan dua ekor anggota keluarga baru kami, Fiona dan Mario. Sepasang lovebird.

**

Seumur hidup, passion saya memang ada di dunia hewan. Gak tau juga dapetnya dari mana, tapi saya sangat cinta binatang dan punya hasrat tinggi untuk belajar soal hewan. Sebagai hobby, tentunya. Bukan karier. Karena, untuk jadi dokter hewan, saya gak tega-an buat melakukan tindakan operasi dan lain sebagainya. Untuk jadi breeder, saya juga gak akan bisa profesional karena gak mau jual hewan kesayangan ke sembarang orang.

Namun yah, dari dulu, saya Cuma ngerti soal mamalia domestik yang enak dipeluk. Kucing, anjing, kelinci, misalnya. Belum pernah melihara unggas atau ikan.

Sayangnya, suami saya lebih berpengalaman dalam memelhara unggas dan ikan. Hahaha..

Jadi saat menikah, dan rumah kami dipenuhi kucing, dia menuntut hak nya. LOL. Pilihan tentu jatuh ke burung, karena memelihara ikan agak ribet ya harus punya aquarium atau kolam.

Maka, kami pernah memelihara dua ekor burung., waktu masih di kontrakan. Cucak hijau dan jalak kebo. Tapi kemudian keduanya meninggal. Heu. Si cucak hijau, kami prediksi, meninggal karena keselek pisang yang masih dingin. Sementara si jalak, entah kenapa, misterius, tiba-tiba berhenti bernyanyi dan kemudian wafat.

Sejak itu, saya trauma. Takut ah. Merasa bertanggung jawab atas nyawa yang hilang itu.

Sampai kemudian, setelah tinggal dirumah sendiri, suami saya mulai lagi mencetuskan ide memelihara burung. Saya jadi ingat, dulu, saat kami membeli si jalak di pasar burung Jatinegara, ada sepasang burung paruh bengkok yang SUPER CANTIK. Warnanya abu-abu putih, paruhnya merah muda dan suaranya nyaring. Sayang, harganya lumayan mahal.

Maka, saya mulai lah cari tau soal burung yang disebut ‘lakbet’ di jatinegara. Ternyata namanya LOVEBIRD. Hahaha…dan saya ketemulah berbagai penjelasan, foto plus video2. Yang membuat saya semakin JATUH CINTA. Jadi, lovebird itu adalah burung yang punya kepribadian macam kucing siamese. Nyaring, dominan, sangat butuh teman (kalo kesepian bisa stress dan mati), bahkan bisa keluar kandang dan bersosialisasi di dalam rumah. Layaknya burung-burung yang masuk di golongan parrots. Tapi ini ukurannya kecil.

Ahh..lucu amat. Belom pernah kebayang kalo ada burung yang bisa begitu.

Apalagi waktu nonton video ini.

Oh Tuhan…

Jadi saya bilang ke Poe, gak boleh melihara burung, kecuali love bird. “Kalo Lovebird, gue mau ikut ngurus. Kalo burung lain, gak mau!” #sikap

Akhirnya, jadilah Fiona. Seekor lovebird jenis fischer’s. Usianya udah delapan bulan.

IMG_3480

 

Ketuaan memang untuk memulai bonding dengan seekor lovebird. Tapi saya gak berdaya karena beberapa alasan.

  1. Saya masih takut untuk punya burung muda yang masih harus makan makanan lembut, dan sebenarnya masih butuh ibunya. Meskipun tentunya bonding lebih mudah tercipta. Tapi saya kan gak pengalaman, takut mati. Heu
  2. Di Indonesia ini, ehm, sangat JAUH berbeda dengan di luar negeri. Jadi, jarang ada yang ngejual lovebird di usia muda, karena biasanya orang cari lovebird untuk dilombakan, dicari yang suaranya nyaring dan merdu, biar harganya bisa tinggi. Bla bla.

Oke out of topic dikit, saya mau cerita soal lovebird dari hasil gugling.

Di negara bule-bule itu, lovebird, (seperti juga anjing, kucing dan pets lainnya) dijadikan anggota keluarga. Disayang, dperlakukan sama dengan keluarga, berbagi ruang rumah dan ruang hati sepenuhnya. Sementara di sini, jadi barang dagangan. Saya gak sembarangan ngomong kok. Bener deh, coba aja gugling soal love bird versi indonesia dengan lovebird versi asing. Hasilnya bedaaaaaa banget.

Web versi indonesia, judulnya akan seputar: “Cara mengembangbiakan lovebird dengan cepat, agar menghasilkan keuntungan besar” atau “Cara mengisi suara lovebird” atau”Lovebird gacor? Gampang!” dan sebagainya.

Sementara web bule, judulnya “Siapkah anda memelihara lovebird sebagai anggota keluarga?” atau “Kepribadian Lovebird dan cara menciptakan bonding” dan sebagainya.

Coba aja nonton video2 di youtube. Breeder lovebird di luar negeri, akan menyediakan ruang khusus, dengan kandang besar penuh mainan dan terbuka. Jadi burung-burungnya bebas keluar masuk dengan nyaman. Sementara di kita, harus punya kandang dengan ukuran super kecil yang efisien, jadi modal kecil hasil besar. Ah, ya gitudeh.

Maka, kalo berminat memelihara lovebird sebagai anggota keluarga, gak akan dapet banyak info dari web lokal. Siap-siap buka kamus aja buat berbagai istilah asing soal unggas, hahaha..

Nah, kembali ke fiona. Awalnya, saya juga dibilangin sama mas-mas di Galaxy bird shop itu tips2 dan berbagai obat vitamin yang isinya kimia2 semua itu biar burungnya ngekek, gacor, atau cepet kawin, dan sebagainya. Jadi saya harus menjelaskan ke dia, bahwa saya gak akan mau melombakan Fiona. Saya mau dia jadi anggota keluarga.

Untungnya si Mas Uji itu orangnya pengertian. Btw itu adalah satu-satunya toko burung yang bikin saya betah berlama-lama, karena bersih dan teratur. Mas Uji ini orangnya sayang banget sama burung. Jadi dia ngurusin semua burung itu dengan optimal. Makanya pas saya bilang gitu, dia langsung kasih ide bikinin mainan, dan ngasih jenis makanan yang enak (tapi bukan favorit breeder karena aga mahal dan bikin burung gendut jadi males nyanyi).

Tadinya niat awal saya memang Cuma mau melihara satu aja. Punya pembantu atau gak, tiap hari saya yang bersihin kandang dan ganti panganannya. Saya sengaja kasih makan Fiona dari tangan saya, biar bonding cepat terbentuk. Awalnya, tentu saja dipatokin sampe pedih-pedih. Lama kelamaan, dia bahkan bisa bertengger akrab di tangan. Sayang, belom sampe rela mau diajak keluar.

Niat awal itu akhirnya berubah karena Abib semakin besar. Saya mulai merasa kewalahan kalo harus membagi begitu banyak perhatian. Sebab Abib butuh 50 pesen, sisanya harus dibagi dengan poe, empat kucing, diri saya sendiri, rumah, dan tanaman-tanaman. Nahlo!

Hahaha..akhirnya saya memutuskan untuk mencari teman buat Fiona. Setidaknya, saat saya kewalahan, dia gak sendirian. Lagipula, ada juga kok dalam hati keinginan belajar membiakan burung. Bukan sih, bukan buat bisnis, niatnya malah mau saya bagi2kan. Tapi saya seumur hidup belum pernah secara live, melihat burung kawin, menyiapkan sarang, bertelur, telur menetas dan rangkaian proses keberlangsungan hidupnya.

Saya kepengen belajar. Hehe..seperti saya bilang kan, passion saya memang ada di hewan kok dari kecil.

Akhirnya, datanglah Mario. Tadinya mau dikasih nama loki sama suami saya, iya, loki adik angkatnya Thor yang jahat itu. kata Poe, ‘Loki itu kan super cerdas dan licin’ tapi saya gak setuju. Cerdas sih cerdas, tapi Loki kan jahat. Hehe..saya percaya, nama itu doa, meskipun buat binatang. So, jadilah Mario. Cocok kan? Mario dan Fiona.

IMG_6107

**

Setelah sekitar lima bulan, mereka mulai menunjukan gelagat-gelagat jatuh cinta.

photo (12)

Akhirnya, saya menyiapkan diri dengan ilmu-ilmu dari buku, internet dan film. Kemudian menyiapkan mental. Yak, mari kita jodohkan mereka.

Terhitung sampai hari ini, berarti sudah lima hari mereka berbagi kandang.

IMG_7506

 

(Kandang mereka berdua, sekarang)

Terbukti sih memang kalo mereka sudah lama jatuh cinta, haha. Karena, biasanya lovebird yang dijodohkan akan berantem dulu, baru kemudiankawin. Sementara Mario dan Fiona gak pake berantem, langsung suap-suapan. Hahaha..

IMG_7526

 

(Suap-suapan)

Saya sendiri belom pernah sukses liat kawinnya, tapi sejak dikandangkan bareng, dua hari pertama, sampe jam tiga pagi mereka masih aja ribut gusel-guselan berdua. Err..setelah dua hari itu, frekuwensi berisik gusel2an itu berganti dengan Mario yang sibuk mindahin jerami dari kandang ke dalam ‘gua’ untuk bertelur dan mengerami telur. Haha..romantis deh, jadi, sebelum si betina bertelur, Jantan akan menyiapkan dulu jerami dan rumah yang nyaman untuk si betina nantinya.

IMG_7503

Sebab, Fiona akan mengerami telurnya selama 21 hari kan. Lumayan juga tuh lelahnya. Duh lucu deh liat mereka berdua. Tidur berdua saling menyender, makan berdua, mandi berdua. So sweet..

Setiap pagi sampai sore, Mario sibuuuk bolak balik kandang dan Gua dalam kandang. Sementara Fiona nyuapin. Ini romantis sih. Karena saya Cuma tau mamalia rumahan macam kucing yang boro-boro kerjasama. Abis kawin seminggu, jantannya pergi aja gitu. Kadang malah kawin lagi di depan si betina. Sementara si betina harus sibuk hamil, nyari tempat beranak yang gelap dan sepi, kemudian mengejan melahirkan lalu mengurus anak-anaknya sampai bisa jalan, SENDIRIAN.

Gak heran deh namanya Lovebird. Hehe..

Ngeliatin mereka lima hari ini jadi bikin saya terharu. Karena inget suami saya yang kelakuannya sama persis Mario, waktu saya hamil. Selalu ada, selalu mau bantuin saya, selalu siap, bahkan bikinin saya juice, masakan sehat dan ngebalurin punggung saya yang pegel akut tiap hari.

Sungguh cara yang unik dari Tuhan, untuk mengingatkan saya agar bersyukur. Bahwa saya diberikan seorang suami yang baik dan selalu ada. *tersipuMalu*

Aww…hehehe..

IMG_7494

 

(Foto ini saya jepret jam 2 pagi, dan mereka lagi tidur berdua, saling menyender. Itu Mario kalo tidur emang ngumpetin muka di ketek..hehe )

117 Gram!!!

Image

Belakangan ini saya dan Citra lagi lumayan sibuk. Well, kami sekarang –finally- punya toko online. *KepalkanTanganKeUdara*

magic box 1

Sekarang ini, ada banyak orang yang berminat dibikinin scrap book, scrap wall, kartu ucapan dan sebagainya. Tapi toko2 yang udah ada, baik online, maupun yang sudah punya toko di mall, kebanyakan membandrol harga yang …. mahal. Hahaha..

Sementara bikin sendiri, biasanya bikin orang males ya? Tapi kebetulan, saya yang gaptek ini, (Baca: gak pandai menggunakan photoshop dan mendesign dari komputer) lebih lihai menggunting dan menempel. Jadi saya seneng bikinin album2 atau pajangan dinding buat orang.

Semua bilang sayang kalo ngasih gratis terus. Sebaiknya mulai berdagang.

Manut deh. Untungnya punya adek macam Citra yang punya hobby sama, plus bahan obrolan dan ketawaan yang juga sama. Jadi, fix, kami berpartner.

Dalam,,,jeng jeng,,, 117 Gram. Iya, itu brand nya. Kenapa 117? Krn Citra suka angka 11 dan saya suka angka 7. Kenapa gram? Karena kita berurusan dengan kertas, karton, plastik, yang satuan ukuran umumnya adalah gram. Lagipula, 117Gram itu bilingual. Bisa jadi bahasa Indonesia, bisa jadi bahasa inggris.

Poin pentingnya? Simple, dan gak bikin bingung orang. Hahaha,,,saya males bikin brand dengan kalimat yang sulit, panjang. Meskipun terdengar cute, tapi ribet.

Hasil karya kami gak mahal kok. Banyak promo!! Hahaha..konsepnya juga cukup detail. Kami mau memanjakan fantasi pemesan. Jadi, pengennya, kalo ada yang pesen, ketemuan dulu dan ngobrol detail.

Aaaaanyway,  gak usah lah ya saya cerita panjang lebar soal 117Gram disini.

Boleh langsung aja diintip blog nya: http://117gram.wordpress.com

Jangan lupa hubungin kami yaaaa!! *kecup

five sqr 4