Saya punya seorang partner bekerja di AKAR, laki-laki dan usianya terpaut 12 taun dibawah usia saya, tapi dia old soul. Jadi sejak awal ngobrol sama dia, rasanya selalu nyambung dan sekarang kami sudah kerja barengan hampir lima tahun. Meski makin kesini sih rasanya makin kaya kakak-adik, saking dekatnya dia dengan saya dan seluruh anggota keluarga saya.
Sudah banyak sekali hal yang kami lakukan barengan, termasuk business trip ke Doha tahun lalu, outing kantor ke luar kota, sampai family trip ke luar kota. Terakhir, pekan lalu kami hadir di pernikahan teman di Solo, bareng anak-anak dan suami saya. Road trip gantian nyetir.
Saya dan dia punya kesenangan yang sama: bengong sambil ngobrol random, ngalor ngidul, gak keruan. Kegiatan favorit yang selalu kami lakukan dengan sengaja dan secara rutin. Kadang berdua di rumah, kadang bareng tim yang lain. Nah, kemarin di jalan pulang dari Solo menuju Jakarta di mobil, sambil ngeliatin sunset.
Hal yang dibahas bisa banyaaaak banget, dan biasanya pembicaraannya jadi dalem banget. Bukan diskusi agenda kerja, atau brainstorming terstruktur. Hanya dua orang yang duduk (atau dalam hal ini, duduk di mobil sambil lihat sunset), membiarkan pikiran mengalir ke mana pun ia mau pergi.

1.398 Topik dan Satu Kesimpulan
Di perjalanan pulang dari Solo ke Jakarta kemarin, suami dan anak-anak saya tidur di belakang. Giliran dia yang nyetir. Saya, seperti biasa, jadi navigator, karena memang dasarnya susah tidur di mobil, terlalu banyak random thoughts di kepala.
Obrolan kami mulai dari pemandangan Indonesia yang majestic, betapa lelahnya jadi supir truk yang harus bolak-balik rute panjang dengan kecepatan sangat rendah, cerita soal pacarnya, rambu jalanan yang aneh, pengalaman touring, cerita soal diri masing-masing, sampai ketawa-ketawa ngomentari kelakuan pemerintah yang makin ke sini makin ajaib.
Dari 1.398 topik itu, ujungnya kami sampai di satu titik yang sama:
“Ternyata banyak banget hal yang bisa kita syukuri, ya? Pegel nyetir, tapi mobilnya enak. Perjalanan panjang, tapi pemandangannya indah. Kalau merasa sedih, enggak pernah dibiarin sendirian. Setiap masalah pasti ada solusinya. Hidup ini indah banget, sebenarnya…”
Enggak ada yang merencanakan itu sebagai kesimpulan. Muncul aja dengan sendirinya.
Beda generasi, bukan berarti gak bisa nyambung
Saya jadi kepikiran, dia dan saya itu beda usianya jauh, itungannya beda generasi. Waktu saya udah mulai pacaran, dia masih bayi. Waktu saya menikah, dia masih sekolah. Tapi kami enggak pernah kekurangan bahan obrolan, dan enggak ada yang gak nyambung. Saya bisa dengerin cerita dia, dan begitu juga dia.
Bukan karena kami punya banyak kesamaan, justru sering kali perspektif kami berbeda. Tapi perbedaan itu gak terasa seperti tembok, sepertinya justru itulah yang bikin obrolannya jadi kaya.
Saya jadi berpikir: barangkali yang membuat dua orang bisa benar-benar nyambung bukan soal usia atau generasi. Tapi soal kesediaan untuk hadir, duduk, diam sebentar, dan membiarkan percakapan tumbuh tanpa agenda.
Kegiatan yang seringkali dianggap membosankan
Iya, mungkin terdengar membosankan. Tapi percayalah, di tengah gempuran segala sesuatu yang serba cepat dan instan, apalagi buat kami yang tinggal di kota besar sejak lahir, dan harus melewati hari-hari yang serba terburu-buru, duduk bengong dan ngobrol random rasanya jadi nikmat banget.
Enggak butuh biaya besar, karena sering kali justru kami lakukan di teras rumah aja sambil nyemil, dan duduk di bean bag. Nyaman banget. Iya, yang kami lakukan bukan ruminasi, melainkan refleksi. Dua hal ini terdengar mirip, tapi rasanya sangat berbeda.
Ruminasi adalah ketika pikiran berputar di tempat yang sama, mengulang kejadian, menyalahkan diri sendiri, dan tidak bergerak ke mana pun. Melelahkan. Biasanya makin lama makin berat.
Refleksi — yang bukan pijat refleksi juga — adalah ketika kita memproses perasaan, kejadian, dan pikiran dengan curiosity dan tanpa penghakiman. Ada arahnya, meski enggak terasa seperti sedang menuju sesuatu.
Neurosains menunjukkan bahwa keduanya melibatkan jaringan otak yang sama (Default Mode Network, sistem yang aktif ketika kita tidak sedang fokus pada tugas eksternal), tapi dengan cara yang sangat berbeda. Refleksi mengaktifkan prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur, mengarahkan, dan memberi makna. Sementara ruminasi enggak. Makanya refleksi bikin perasaan lega, sementara ruminasi rasanya seperti terjebak.
Bengong sambil ngobrol random dengan orang yang tepat, tanpa tekanan, tanpa agenda, tanpa harus perform, adalah salah satu cara paling alami untuk masuk ke mode refleksi.
Karena, ketika kami melakukannya yang terasa adalah rasa nyaman. Soalnya, refleksi itu sebetulnya membantu kita untuk memproses perasaan, kejadian, dan segala macem pikiran, yang akhirnya bisa membantu untuk lebih kenal sama diri sendiri, atau jika dilakukan sama orang lain, ya saling mengenal. Otak kita memang dirancang untuk mengikat hubungan melalui momen seperti ini, momen yang sederhana, gak dipaksakan, dan terasa aman.
Yang Mulai Hilang
Sayangnya, belakangan ini yang lebih sering terjadi adalah: Kita masih duduk bareng. Kita masih kelihatan bersama. Tapi yang dibahas seringkali bukan tentang diri kita sendiri atau orang yang ada di depan kita, melainkan tentang isi layar. Topik yang datang dari trending, bukan dari dalam.
Be here, now, menjadi sesuatu yang mulai susah dilakukan.
Saya dan partner kerja saya ini sama-sama senang ngulik sesuatu. Kalau ada yang muncul di kepala, pasti akan dicari tahu sampai puas. Makanya bisa ngebahas apa aja. Sayangnya juga, yang sering saya lihat sekarang, orang-orang jadi malas ngulik, karena semuanya sudah di-generate AI, sudah tersedia, tinggal ditelan. Critical thinking yang seharusnya jadi kekuatan manusia pelan-pelan terkikis oleh kenyamanan jawaban instan. Kayaknya ruminasi/over thinking ini yang lebih sering diglorifikasi.
Kalau udah capek ngulik, bengong, ngobrol, sambil laid back and relax itu justru istirahat yang kami butuhkan. Istirahat yang produktif tapi gak terasa seperti produktivitas.
R ke-10: Ramble

Di framework 10R Behavior Change milik PERI BUMI, saya menyebut kegiatan ini sebagai R ke-10: Ramble.
Hanya ngobrol, mengalir, berputar, mungkin gak kemana-mana, tapi justru di situlah sesuatu yang penting tumbuh. Mulai dari rasa sayang yang dalam, pemahaman yang lebih utuh tentang satu sama lain, dan tentang diri sendiri.
Semakin sering kami melakukan ini, semakin kuat rasa sayang dan saling jaga di antara kami. Bukan sayang yang romantis — tolong jangan diterjemahkan lewat kacamata sinetron. Tapi sayang yang tulus, yang tumbuh karena benar-benar mengenal seseorang.
Ramble ini enggak perlu biaya besar, gak perlu booking tempat, gak perlu baju bagus, gak perlu perform. Hal yang dibutuhkan hanya: hadir.
Jadi, kapan?
Kapan terakhir kali kamu benar-benar duduk diam bareng seseorang, tanpa agenda, tanpa layar, tanpa harus mengisi setiap jeda dengan sesuatu yang produktif?
Kapan terakhir kali kamu membiarkan percakapan pergi ke mana pun ia mau, dan menemukannya sampai di tempat yang tidak kamu sangka? Mungkin tidak perlu menunggu road trip sepanjang Jakarta–Solo untuk melakukannya. Teras rumah, bean bag, camilan seadanya, dan sore hari yang tidak terlalu sibuk, cukup. Yang penting untuk dilakukan hanya: matikan notifikasi. Ajak seseorang yang dipercaya, bengong bareng. Percaya deh, nikmat!

Leave a comment