Byar-Pet..

Gallery

Saban mati lampu, atau istilah kerennya; byar-pet, saya jadi suka senyam senyum sendiri. Inget papa.

Dari kita kecil dulu, tiap kali lampu mendadak mati, tanpa pemberitahuan, dan mati-nya sekomplek2, si papa pasti langsung suruh semua kumpul diruang tengah dan dia sendiri lari keluar. Ada 5 menit dia keliling sambil bawa senter, lalu kembali pulang. Sesekali matanya jg memandangi langit, mencari suara pesawat, atau dentuman2 senjata.

Hehehe..

Tapi bener. Saya ga bohong. Emang itu yg selalu dia lakukan. “Bukan gak mungkin setelah ini ada kebakaran disengaja,” kata dia. Nanti mama yang selalu berusaha menteralkan rasa takut yang acapkali timbul di hati kami. “Ah dia aja itu berlebihan,” gitu kata mama dengan tenang, sambil nyalain lilin dan mulai ditaro disana dan disini. Di tempat2 tinggi.

Meskipun sebenernya, saya tau, mama juga telah memegang posisi amannya. Mama gak pernah mengubah letak senter, korek dan lilin di dalam rumah. Semua anggota keluarga tau, disitu lah tempatnya, diatas rak kecil 5 laci. Jadi kalau sampe mati lampu, tempat itu yg pertama dicari. Senter selalu dalam keadaan full battery. Korek selalu dalam keadaan gas penuh. Mama juga sudah meletakkan semua dokumen penting dalam satu kotak yang gampang diraih, dan kalau sampe ada apa2, semua tinggal comot. Selesai urusan.

Tapi nantinya, setelah situasi dinilai aman, papa bakal buka pintu, duduk di teras, ditemenin sebatang lilin dan kopi panas, sambil kipasan. “Berasa di kampung,” kata dia. Saya, dan adik saya, yang gak pernah tinggal di kampung, cuma bingung. Biasanya, mama akan ngebiarin dia asik dengan reuni citarasa kampungnya, dan ngajak kita berdua main sandiwara bayangan, sampai ngantuk dan ketiduran.

Kalau belum sempat merem, dan lampu sudah menyala kembali, kita akan mengucap syukur. Terus, sperti yg semua anak kecil lakukan, kita akan meniup semua lilin yg msh menyala, dan tepok tangan.

Kalau tiba2 kepengen ke kamar mandi, biasanya juga menjadi tantangan buat saya. Dengan rayuan manja khas bocah, saya bakal minta ditemenin sama mama buat pipis. Tapi jawaban mama, gak pernah berubah, “Gak. Kamu bisa sendiri!” Nanti saya jawab, “takuut gelaap” dan dengan senyum dia akan bilang “Kalau takut, baca doa, trus nyanyi”.. Akhirnya saya akan baca2 doa dan bernyanyi sepanjang pipis. Belakangan saya baru tau, itu cara mama biar tau bahwa saya baik2 aja di kamar mandi. Hehe..sebenernya dia kepengen nemenin, tapi dia gak mau saya jadi manja. Sungguh2 nyebelin yah? Hehehe..

Hmm..sebenarnya,
Waktu saya masih kecil, mati lampu juga jadi momen kami untuk berkumpul diruang tengah. Tentu, setelah semua kepanikan hilang. Karena jarang2 kami berempat bisa berkumpul, dan menghabiskan waktu sama2, kecuali saat mati lampu. Kami cuma duduk, dan saling bercerita.

Semua itu, bikin saya jadi gak takut lagi sama mati lampu. Mama, selalu sukses bikin kami disiplin taro barang, tenang dan ngerasa bahwa mati lampu, kapanpun, dimanapun, harus dihadapi dengan tenang. Tidak panik. Sebelumnya, tentu saja, mama juga lah oknum terbawel yang selalu ngingetin kami untuk matiin lampu saat keluar dari kamar atau kamar mandi. Bahkan, dia juga yang selalu matiin semua listrik kalo rumah ditinggal kosong. “Penghematan energi, biar gak mati lampu melulu,” katanya. Hehehe…

Sementara papa, juga sukses bikin kami-meskipun terlihat agak paranoid- waspada, dan lebih aware sama perubahan apapun yang terjadi, secara mendadak.

Semua itu juga, bikin saya kangen rumah, setiap kali mati lampu…

Terimakasih ya PLN, kalo anda2 disana gak pernah bikin salah, mungkin saya gak pernah kangen rumah.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s