Solo Karier di Istana Presiden..

Gallery

Jadi, sekarang saya sudah fix jadi wartawan istana presiden. Solo karier.

Persis kaya ikhsan sepanjang 2010, sepanjang 2011 ini saya sendirin yang cover semua berita2 di istana itu.

Capek

Hehehe..iya capek rasanya badan dan otak. Harus mikir demi menyapu bersih semua berita yang didapet di istana. Apalagi saya sendirian, while media2 lain seringkali menempatkan shift buat wartawan istana, atau dua orang sekaligus jadi bisa bagi2 bikin beritanya. Ditambah, setelah setahun kemarin, saya asik menikmati istana wapres yang nyantai..ya mungkin Cuma kaget, atau eneg. Sehari saya bisa bikin lebih dari 10 berita. Bukan, bukan karena saya rajin. Tapi karena, MAU GAK MAU, di istana emang selalu banyak berita.

Apalagi, kalau ada sidang kabinet. Baik yang terbatas maupun yang paripurna. Saatnya semua menteri dan pejabat2 negara macam jaksa agung, gubernur BI, juga hadir. Dan kantor, yang udah menjejali saya dengan order2 yang segambreng dari malamnya.

Gak kebayang yah rasanya jadi wartawan istana yang hitungannya bertahun-tahun ngendon disitu doang. Soalnya, beda dengan jadi wartawan di desk tertentu. Misalnya, sebelum di wapres, saya ditaro di desk ekonomi-perbankan, dan BUMN. Itu kan jelas, berita yang dibikin ya berita-berita bank, korporat, perusahaan BUMN, dan semua ekonomi aja.

Sementara di istana, ada yang namanya tuntutan, bahwa saya harus bisa bikin berita ekonomi, hukum, politik, nasional, jabodetabek, agama, sampe olahraga.  Gak main-main lah. Kadang-kadang saya sampe migraine, dan mual. Meskipun gak jarang juga seneng, karena suka ada berita2 yang bagus, munculnya dari istana.

Jadi yang jelas, selain harus lebih banyak belajar, entah dari baca maupun banyak sharing sama senior2, saya juga harus bisa punya badan yang tetap fit. Karena jadwal di istana presiden, seringkali kurang ajar. Bisa dari pagi buta sampe tengah malem, bisa tiba2 harus dateng tengah malem, bisa juga mulai jam 2, tapi rapat yang baru selesai jam 5an membuat saya harus bisa cepat berpikir lead berita karena dikejar deadline.

Ini, rasanya, dua kal lipat capeknya jadi wartawan perbankan yang sebenernya udah cukup capek. (apalagi waktu masa sidang bank century di DPR) capek, dan risiko sakit plus dimanyunin si suami. Hehehe…mungkin kalo saya single, tinggal di kostan, gak punya kucing, saya lebih santai. Tapi sekarang, tanggung jawab saya udah banyak, dan rasanya jadi dobel capek. Hahahaha

Tet toooott…Mengulang kata CAPEK!

Makanya, kalo presiden lagi keluar kota dan keluar negeri, dan bukan giliran saya untuk ikut, legaaaaa banget rasanya. Jadi saya bisa agak santai, melipir ke wapres, dan menikmati suasana nyaman plus santai di kebon sirih itu. Kenapa istana wapres lebih nyaman? Pertama, karena di pressroom nya gak boleh ngerokok. Saya gak suka kerja ditengah sumpeknya asap rokok. Bikin pusing. Kedua, karena di wapres, semua wartawannya gak punya ekspektasi lebih. Kami lambat laun, menikmati berita2 bapuk yang ada di wapres. Kenapa bapuk? Karena wapres gak doyan ngomong (atau gak berani?), jadi menteri2nya juga gak ngomong sebanyak di istana.

Dan, kalo lagi ada presidennya, biasanya, di wapres sepi. Tamunya gak gitu penting, dan kita rebah2an makan gaji buta di pressroom, sampe sore. Enak kan? Hehehe

Padahal ya, sebenernya, si presiden itu kerjanya melimpahkan semua kerjaan dibawah tanggung jawab wapres. Jadi, anak2 selalu bilang:”Di wapres itu, wapresnya capek, wartawannya santai. Kalo di istana, presidennya santai, wartawannya capek!” haha..ya iyalah, kalo ada jeda dari satu acara, tu presiden bisa rebahan dulu, ganti baju, makan santai. Kita? Ya nyelesein puluhan berita yang rasanya gak kelar-kelar, sampe acara selanjutnya. Selesai semua, si presiden tinggal pulang, ngelewatin jalanan yang disteril, setengah jam sampe ke Cikeas. Kita? Ngetik berita lagi sampe geblek, baru bisa pulang dengan kepala pening. Kena macet. Sampe rumah, mau mati rasanya.

Makanya, saya, lebih simpatik sama si wapres. Soalnya, dia bukan pengambil kebijakan. Dia itu pengajar yang lebih suka belajar dan baca buku. Dia gak terlibat politik, dan bukan orang yang demen cari muka demi pencitraan. Sementara presiden? Ya bisa diliat sendiri lah…

Tapi yaaa, mau gimana lagi. Mungkin emang saya dikasih belajar sama Tuhan. Belajar ngeliat, bahwa uang pajak2 dari PPn, pajak barang mewah, pbb, pajak tahunan, dan semua jenis pajak yang mau gak mau saya bayar itu, ujung2nya jadi pengadaan buat biaya rapat. Sidang kabinet, yang implementasinya semua ngawang2, gak pernah konkrit. – sampe kadang2 saya kasihan liat Gayus, biarin sih dia ambiln aja tu uang, ngapain juga dia ngumpulin uang banyak2, toh uangnya gak buat rakyat- hehehe

Belajar sabar, karena ngeliat semua itu depan mata, seringkali bikin saya pengen ngebakar istana. Belajar nulis, itu pasti. Nulis cepet, nulis pendek, nulis panjang, nulis feature dan nulis banyak berita dari banyak desk. Belajar mengenal dan mempelajari lingkungan, belajar tau siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang enggak. Belajar waspada. Belajar terbuka. Belajar pake baju rapi, ngehehe. Belajar disiplin. Belajar bangun pagi. Dan belajar mengenal muka sama nama, karena kadang2 saya suka gak kenal, siapa aja tamu yang dateng ketemu presiden.

Apapun itu, yang sudah terjadi sama saya sekarang, pasti yang terbaik buat saya.

Jadi, jangan pernah mikir, jadi wartawan istana itu keren dan membanggakan. Enggak loh. Cuma satu kata: CAPEK!

Hehehehe…

One response »

  1. Pingback: Capek, Tapi Seneng.. « My -FreeTime- Writing Domain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s