ya sudahlah..

Gallery

Beberapa tahun lalu, saat saya mengawali hidup sebagai seorang jurnalis, saya penuh semangat. Saat itu saya pikir saya bisa melakukan sesuatu buat membangun Indonesia, mengubah paradigma orang tentang berbagai hal yang selama ini kurang tepat dan melakukan sesuatu untuk dunia.

Besar sekali ya pikiran saya?

Tapi setelah menjalani kehidupan sebenarnya, sebagai seorang jurnalis, ternyata tidak ada yang seindah itu. Tidak ada. Ternyata menulis setiap hari di media yang –seharusnya- dibaca orang setiap hari seperti Koran dan online tidak membuat saya, yasmina hasni, bisa melakukan sesuatu.

Saya pernah cerita, cita-cita saya bukan jadi jurnalis. Saya ingin melakukan sesuatu. Gak harus terlihat, gak harus terdengar, tapi melakukan sesuatu ya buat Indonesia, ya buat agama saya, ya buat dunia. Buat siapa saja, selama masiv dan butuh pertolongan. Sayangnya, sampai detik ini saya Cuma membantu keuangan diri saya sendiri dan membantu media tempat saya bekerja dalam meraih keuntungan.

Saya masih begini aja. Gak kreatif dan tenggelam di dunia yang semakin hari semakin membuat saya gak nyaman, tanpa bisa melakukan apapun. Crack. Ada bunyi patah di hati saya menyambut 2010 lalu. Karena mahal-mahal saya disekolahin orang tua saya, dan begini aja hidup saya. Cari gaji tetap, bonus dan klaim-klaim yang membuat hidup tenang karena pasti dapat tiap bulan. Berangkat kerja, menjalankan tugas dan pulang dengan hati yang tertinggal di rumah…

Saya galau.

Tiga bulan lalu, mulailah pergolakan batin saya untuk berhenti bekerja dan melakukan hal-hal yang saya ingin lakukan, hal2 yang –saya yakin- akan saya kerjakan dengan hati, meski dengan pendapatan yang tak tetap. Sayangnya, saya terlanjur hidup di dunia yang sedemikian ruwetnya.

Sudah menjadi pilihan saya untuk menikah. Memang seharusnya saya tenang karena ada yang menanggung kebutuhan hidup saya. Tapi, sayang lagi boi, suami saya PNS. Di departemen yang sekarang lagi jadi musuh orang se-Indonesia, karena kelakuan segelntir orang di dalamnya, dan kebanyakan orang diluarnya. Departemen yang bertanggung jawab penuh akan keberadaan APBN.

Gajinya gak setipis gaji PNS biasa, memang. Sebenarnya cukup untuk kami berdua. Sayang disayang juga, kami kan gak Cuma hidup berdua. Ada keluarga, ada tetangga, ada lah. Sekali lagi, saya gak menyesal itu semua. tetapi keadaan itu yang akhirnya membuat saya takut berhenti kerja.

Gaji saya memang tak sebesar dia. Tapi cukup buat nambahin yang bolong-bolong. Kalo itu gak ada, otomatis beban suami saya tambah besar. Sumpah demi Tuhan, saya takut dia tertekan dan karena kepepet jadi ngambil dana yang harusnya bukan untuk dia, bukan untuk saya.  APBN MEMANG GAK PERNAH DIBERIKAN BUAT RAKYAT, tapi gak berarti kita jadi berhak meraup-nya.

Di mata saya, istri mengambil peranan besar buat para koruptor.

Coba kalau bisa menahan diri sedikit, gak usah beli LV, gak usah ke hongkong tiap weekend, gak usah naik alphard, gak usah beli Ipad padahal Cuma dipake main game. Kasus itu juga terjadi pada saya, dan itu alasan utama yang bikin saya masih terjebak di tengah dunia jurnalisme yang tidak seindah teori di buku. Terjebak. Terjerembab. Nyungslep.

Kalau saya nekad, tetap bekerja, sambil terus mengerjakan dan mengejar mimpi saya siang malam, saya juga takut. Pertama, takut sakit. Karena kalau saya sakit, sumpah, saya nyusahin! Kedua, takut suami saya jadi melompong. Pulang ke rumah, ketemu istri yang mukanya ruwet, kerja kaya kesetanan, gak pernah siapin teh anget, gak pernah masakin, ga pernah ngajak ngobrol, sibuk kejar mimpi. Akhirnya, jadi salah saya, kalo dia malas pulang. Main2 diluar dan kawin lagi.

Perlu diingat wahai korban selingkuhan. Berkacalah. Mungkin anda ambil peran besar saat suami anda berselingkuh.

Belum lagi ditambah kalau, ini KALAU yah, kalau saya sampe dikasih anak sama Tuhan. Alhamdulillah dulu, tapi…coba bayangkan kayak apa ruwetnya hidup saya kedepan itu sambil kerja, sambil ngerjain hal2 yang saya mau, sambil urus anak. Begitu kan yang banyak terjadi? Pasangan lupa ngurusin hubungan mereka, dan sibuk membagi perhatian Cuma buat anak.

Padahal, heyyy…anda, para orang tua tau gak rasanya jadi anak yang hidup di tengah perang dunia ke tiga yang gak habis2. Cuma karena pasangan2 miskomunikasi, jarang ngobrol, sibuk sendiri, sebenarnya anak yang dikorbankan. Jadi menurut pandangan saya, nampaknya pasangan yang udah punya anak tetap harus punya BANYAK waktu buat mengurusi hubungannya. Karena mau itu anaknya pinter kaya apapun, kalau keadaan rumah gak enak, dia gak akan jadi seperti yang anda harapkan.

Ya begitulah cara berpikir saya.

Akhirnya saya memilih. Saya memilih buat mencoba lagi. Mencoba bekerja lagi jadi jurnalis dengan gaji aman setiap bulan. Kenapa tetap jadi jurnalis? Karena saya ga tahan bekerja dengan jadwal teratur, absen jempol dan pake baju rapi kaya orang kantoran. Dan saya-sebenernya-sangat suka menulis dan belajar.

Saya tetap jadi jurnalis yang tidak tergila-gila dengan pekerjaan saya, jadi saya bisa memilih buat pulang cepat, gak terlalu militan kejar berita, dan bisa bikini suami saya minum, siapin makan, nemenin ngobrol dan menghabiskan weekend sama dia. Karena itu, saya tetap mempertahankan creative instinct. Karena disitu saya bekerja dengan hati, dengan kreatif, dan saya bekerja dengan suami saya, bareng.

Cuma rasanya, saya harus menyingkirkan sedikit mimpi2 yang belom terkejar, hasil2 research yang udah saya lakuin bertahun-tahun, dan banyak cerita di kepala. Mungkin suatu hari nanti Tuhan masih kasih saya kesempatan buat menyelesaikan itu semua. sedikit-sedikit, pelan-pelan. Semoga Tuhan memeluk mimpi2 saya buat Indonesia. Semoga suami saya juga mau terus dorong saya biar pada akhirnya, setidaknya sebelum mati, saya bisa menyelesaikan yang sudah tertunda bertahun2 itu.

Karena saya yang memilih buat menikah. Saya juga yang memilih untuk jadi jurnalis. Saatnya saya mempertanggung jawabkanpilihan-pilihan saya itu. Patut diketahui, saya gak pernah menyesal…

Kalo kata Bondan sama fade2black…

Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud, ya sudahlah…

Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai, ya sudahlah…

Kalo kata Yoris, di web-nya, waktu dia cerita soal james Cameron dan film2 fenomenalnya :

….Jadi inspirasinya adalah “Banyak jalan menuju Roma” Jangan takut untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai mimpi kita saat ini, bila itu bisa menjadi modal untuk kita menggapai mimpi.  Asal lakukanlah dengan maksimal.  Walau kadang realitas memaksa kita harus mengerjakan pekerjaan yang tidak terlalu kita sukai.  Seize the Day.  Manfaatkan hari-harimu semaksimal mungkin tanpa melupakan mimpi atau passion yang kita miliki….

4 responses »

  1. Pingback: Kamu Gak Cocok Kerja di Air! « My -FreeTime- Writing Domain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s