Bekerja Buat Indonesia?

Gallery

Setiap pagi, saya melihat dia pergi saat tukang bubur kacang ijo baru menempati lapak mungilnya depan rumah kami.

06.30-07.00 wib.

Kalau tidak jam segitu, dia takkan sampai ke bekasi untuk letakkan jempolnya di mesin milik kpp madya bekasi, ditjen pajak, tepat jam 07.30.

Begitu terus setiap hari, dari senin hingga jumat. Sorenya, kalau saya sudah pulang, saya akan melihat dia membuka pagar rumah kami sekitar jam 18.00. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, karena agak padat di pintu-pintu tol. Dengan menggemblok ransel gendut dan menenteng the jakarta post, dia akan masuk ke rumah sambil cengengesan. Meskipun sebenernya terlihat capek.

Beberapa kali dia bercerita tentang pekerjaannya mengoreksi pajak perusahaan-perusahaan besar, rasa khawatirnya kalo sampai harus berurusan dengan pengadilan pajak yang luar biasa korupnya,…..

……

Kadang, saya iba liat dia. Jam bekerjanya jauh lbh panjang dari saya, kadang2 masih bawa deretan angka itu pulang, tapi semua orang memmasalahkan institusinya. Dianggap korup, dianggap curang. Membuang pemimpin institusinya yang punya kompetensi tapi diinjek2 politik.

Cuma karena gayus?ah c’mooon..lama2 saya malah kasian sama gayus. Knp?krn dia kan cuma pion. Sekaranng, kmana dia? Kemana org2 dibelakangnya? Kemana satgas?

Karena century? Haha. Siapa sih yang ada dibelakang century?
…….
Karena itu saya ga minta dia bekerja untuk saya. Saya minta dia bekerja buat Indonesia. Ajak hati agar terus hidup dan mengingat, apa rasanya diinjak2 pemimpinnya sendiri. Apa rasanya digilas roda zaman karena ketidakberdayaan. Seorang teman pernah bilang, dia memilih utk gak tau banyak karena geregetan. Karena gak bs melakukan apapun buat sistem yang menjajah. Saya akui, memang. Tapi, kalo tau, kita bisa bekerja dengan hati. Bisa bekerja dengan rasa. Bukan bekerja semata buat harta. Yang nantinya cuma dimakan sendiri, dan gak akan pernah cukup.

Kalo kita tau, pemerintah gak akan pernah bisa (atau mau?!) Mensejahterakan rakyatnya, kita bisa mulai dari hal kecil buat rakyat.

Bekerja dengan hati, juga salah satu upaya. Mulai dari diri sendiri. Kaya si suami yang sebenernya lebih kepengen jadi rocker daripada jadi pegawai pajak yang harus berkutat urus WP seharian, 5 hari dalam seminggu. Semoga dia bisa tetap bertahan bekerja dengan setulus hatinya, meski belakangan agak malas kumpulkan miliaran cuma buat manjain segelintir orang yang dipilih rakyat, digaji rakyat, tapi gak pernah melakukan hal nyata buat rakyat. Semoga saya, sebagai rakyat, juga bisa nerima dengan ikhlas saat dipaksa dipotong gajinya buat ngebiayain mereka pijet plus-plus di delta atau nge bir di oakwood pake ferrari merahnya. Gimana kalo kita anggap aja org2 itu gak ada, dan cari uang buat pelan-pelan merombak. Kecil, tapi berarti. Kaya filem lama, pay it forward…buat Indonesia. Buat negerinya. Buat rakyatnya. Bukan buat jajaran pemimpinnya..

3 responses »

  1. curhat seorang istri nih ceritanya 😉 tapi saya suka sentilan-sentilannya, terutama di paragraf terakhir, delta dan ferrari merah.
    terus menulis kawan!

  2. Pingback: Kamu Gak Cocok Kerja di Air! « My -FreeTime- Writing Domain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s