masa kecil saya yang indah

Gallery

(from FB’s note, july 12th 2009)

saya gemar sekali meledek kulit poe yang hitam legam. ledek…dan meledek terus. hingga akhirnya, anak jawa yang tumbuh di buaran, jakarta timur itu bercerita tentang sejarah keling kulitnya.

selain memang sejak lahir warnanya sudah sawo matang, poe tumbuh di lingkungan yang membuatnya banyak habiskan waktu di jalan. rambut lurusnya pasti bau matahari, dan sudah jelas kulitnya gosong terbakar. dia ceritakan kaki-kaki kurusnya biarkan masa kanak-kananknya habis dengan bermain. dari buaran sampai pasar jatinegara. panjat pohon, curi buah tetangga. baretkan kulit telapak tangan dengan gelasan dan kenur. cari ikan kecil di selokan. jadi ronaldinho di lapangan RT yang belum berubah jadi mal. sampai berlaga ikut tawuran dengan genk kampung sebelah.

poe ceritakan semuanya dengan wajah sumringah dan suar kencang. bahagia benar tampaknya dia. sambil asyik dengarkan dia cerita, saya jadi teringat masa kecil saya. hehhe,,jadi malu kalau ingat betapa biasanya itu semua…

saya lahir, tumbuh dan besar di kmpleks perumahan, bukan di kampung.saya sekolah di sekolah swasta milik bank indonesia. kulit saya putih, bahkan terlalu putih. baru tiga tahun belakangan kulit saya menghitam..jelas saja. semua yang poe alami, tidak pernah saya alami dulu. karena kedua orangtua saya bekerja, mereka jadi membiasakan anak-anaknya yang cuma dua untuk disiplin. diajaknya kami ke toko buku tiap hari minggu. kami beli semua buku yang kami mau untuk seminggu. setelah itu, ya begitu saja hidup saya, teratur.

berangkat sekolah diantar. belajar di sekolah sampai jam 12, pulang ke rumah, harus langsung ganti baju, makan siang, sholat, baca buku sampai tertidur. bangun saat azan ashar berkumandang, sholat, mandi sore kemudian guru les keyboard atau ngaji atau bahasa inggris privat telah menunggu di depan kamar. karena pada jam itu mama pulang dan ingin lihat kedua anaknya di rumah jadi kami tidak pernah ikut ngaji di TPA. setelahnya, kami nonton film bersama lalu sholat maghrib, makan malam dan mengobrol-obrol, kerjakan peer jam 9 kami sudah harus tidur.

ada waktu dua kali seminggu kami berdua boleh main sepeda bersama teman-teman kompleks, usai shalat ashar. sebenarnya, saya dan adik semata wayang saya juga boleh bermain, tapi tidak setiap hari. kami juga jarang bermain keluar saat mentari masih lucu-lucunya. jadi jelas, saya putih. tidak keling seeprti poe. tapi…ya begitu saja itu saya habiskan masa seragam merah putih saya. gak seru ya?
sekarang saya suka iri kalau dengar cerita-cerita poe.

saya tau, sebenarnya, sangat paham mengapa hidup saya tidak seperti layaknya anak-anak kecil lainnya yang bebas bermain. karena kedua orang tua saya super sibuk. ayah saya wartawan, ibu saya humas departemen pertanian. mobilitas mereka sangat tinggi namun pada saat itu belum didukung oleh perkembangan teknologi yang sangat memudahkan seperti sekarang. maka mau tidak mau, mereka harus lebih banyak habiskan waktu diluar rumah. saya paham, kenapa pulang sekolah saya harus langsung pulang. karena pada saat itu mama akan telepon dan membiarkan kedua anaknya berceloteh tetang seharian di sekolah lewat telepon rumah. begitu akan membantu kami merasa bahwa dia tetap ada.

saya ngerti kenapa kami harus langsung masuk kamar dan tidur. supaya dua pembantu yang ada tidak terlalu banyak berinteraksi dengan saya dan adek. jadi kami-sampai kapanpun-bukan anak pembantu. bangun selepas ashar, mandi sholat dan langsung les agar saat pulang ibu lihat kami. mereka juga tidak membiarkan kami kelayapan siang bolong, karena tidak mau anaknya kenapa2 sebab mereka pasti kesulitan untuk langsung bertindak karena jarak yang cukup jauh dan keterbatasan sarana komunikasi. ya begitu itulah…

tapi bagaimanapun, orang tua saya berhasil.
apapun yang terjadi pada hidup saya kini, sudah jelas karena mereka. sudah jelas karena apapun yang mereka berikan untuk saya. saya memang tidak menikmati gelasan dan kenur. tapi, orangtua saya tidak melarang saya coret2 dinding rumah. dari ruang tamu, ruang tivi, kamar hingga kebelakang semua jadi aquarium raksasa dengan gambar ikan aneh dan tiba2 mucul gunung di dalam lautan. orang tua saya tidak pernah paksakan sekolah dan rengking satu buat saya. saya tidak mau masuk sekolah? boleh…selalu boleh…kapan saja saya mau. syaratnya hanya satu, pertanggungjawaban saya pada rapor, dan kalau nilai jelek…sudah barang tentu sebuah reward menarik akan lolos dari tangan saya.

sejak kecil, saya sudah diajak baca puisi, nonton rendra, nonton kyai kanjeng, nonton balet, nonton teater koma (yang nontonnya sambil ketar ketir takut ditangkap) apa lagi? nonton musik, main musik, fotografi,…malah saat saya kelas dua esde, saya dapat kamera sebagai hadiah POL puasa sebulan. ikut mama kuliah s2, ikut papa liputan, ikut mama dinas ke daerah sampai bolos sekolah…apapun yang saya suka, pasti diajak. orang tua saya tidak tergila2 pada nilai. mereka mau saya lakukan hal-hal yang saya cinta. ya begitu saja, kedua orang tua saya yang saya cinta.
tidak ada di kepala mereka anaknya harus jadi dokter, harus jadi insinyur (seperti si mama), harus jadi abri…

mereka cuma minta saya disiplin, turuti aturan mereka sehari-hari. bagaimanapun, itu semua, buat saya sangat berarti di masa saya sekarang. begitulah kedua orang tua saya yang sibuk, begitulah masa kecil saya, begitulah hidup saya..
mungkin terdengar basi. mungkin kurang seru. mungkin pantas saya sesali karena kult saya tidak melegam di masa kecil. tapi, satu hal yang tidak akan saya ingkari…saya dibesarkan oleh dua manusia yang bahu mambahu mengajak saya menikmati masa kecil agar tetap indah di tengah keterbatasan waktu yang kami miliki…

ini di dieng…hehehe, seru ya?

One response »

  1. Pingback: Berbagi Kesenangan, Jangan (melulu) Kesusahan « My -FreeTime- Writing Domain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s