Belajar Makna Cinta dari Konflik dan Vulnerability

English version is here

Tentang gesekan di kantor, adik yang berantem tiap detik, tahun pertama pernikahan, dan mengapa aku akhirnya memahami alasan mama yang selalu mengizinkan konflik di rumah

Ada satu hal besar yang saya pelajari dari berinteraksi di kantor AKAR yang semakin besar dan semakin banyak orang terlibat di dalamnya: gesekan semakin sering terjadi. Ternyata sering kali, kalau ditelusuri sampai ke akarnya, masalah utamanya bukan perkara yang diributkan sama sekali.

Awalnya saya pikir ini tanda kalau ada yang salah. Tim makin besar, seharusnya makin rapi,  kenapa malah makin banyak gesekan? Tapi semakin saya amati polanya, saya semakin sadar bahwa saya sudah pernah melihat pola ini sebelumnya. Dua kali, malah, dalam hidup saya sendiri.

Adik yang Berantem Tiap Detik

Kalau mengingat masa kecil, saya dan adik berantem hampir tiap sepersekian detik. Rasanya wajar sih, namanya juga kakak-adik. Tapi yang membekas justru bukan pertengkaran itu, melainkan cara Mama menanganinya.

Mama enggak langsung melarang kami berkonflik. Dia melakukan upaya bertahap. Di awal, dia masih ikut membantu mencari solusi, duduk di tengah, mendengarkan keduanya, dan menuntun kami berbicara. Tapi lama-kelamaan, dia mulai menahan diri. Ditunggu saja. Biarkan kami menyelesaikannya sendiri. Dan pelan-pelan, entah bagaimana, konflik kami memang berkurang, dan ternyata bukan karena dilarang, melainkan karena kami belajar cara mengatasinya.

Saya masih ingat, kalau lagi benar-benar marah, Mama akan melotot dan bilang dalam bahasa Sunda, “Ai maneh teh jalmi atawa munding? Bicara! Lain gelut,” yang kalau diterjemahkan kira-kira: “Kamu ini manusia atau kerbau? Bicara, bukan berantem.” Sampai sekarang saya masih ketawa kalau ingat itu. Tapi di baliknya, ada pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar leluconnya: konflik itu boleh, asal diucapkan, bukan dipendam, dan bukan menjadi alasan untuk melakukan kekerasan.

Tahun Pertama dengan Poe

Pola yang sama muncul lagi, bertahun-tahun kemudian, di tempat yang sama sekali berbeda: pernikahan dengan Poe.

Setahun pertama menikah, kami berantem nyaris tiap detik, gara-gara hal-hal kecil yang saking kecilnya, sebenarnya bukan hal sama sekali. Tapi lambat laun, frekuensinya berkurang. Sekarang, kayaknya sebulan sekali aja nyaris enggak ada konflik berarti. Semuanya berjalan smooth banget.

Saya sempat menelusuri apa sebenarnya yang terjadi di balik pola ini. Dan saya menemukan satu benang merah: adaptasi dan upaya menyelaraskan persepsi; hal itulah yang sebenarnya memicu konflik. Dua orang (atau lebih) yang sedang berusaha saling memahami akan selalu bergesekan terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan titik temu.

Begitu saya menyadarinya, saya justru jadi senang setiap kali melihat gesekan terjadi di rumah atau di kantor. Karena itu, orang-orang yang terlibat sedang berada di fase menuju koneksi. Bukan menjauh. Justru mendekat, lewat jalan yang enggak selalu mulus.

Mirip kok dengan prinsip gaya gesek dalam terminologi fisika: gaya gesek adalah gaya yang berarah melawan gerak benda atau arah kecenderungan benda untuk bergerak. Gaya gesek muncul apabila dua buah benda bersentuhan.  Gaya gesek dapat merugikan atau bermanfaat. Akan tetapi, tanpa gaya gesek, manusia tidak dapat berpindah tempat karena kakinya hanya akan menggelincir di lantai. Tanpa adanya gaya gesek antara ban mobil dengan jalan, mobil hanya akan slip dan tidak membuat mobil dapat bergerak. 

Konflik Bukan Musuh; Penghindaran yang Berbahaya

Saya menemukan bahwa di banyak tempat orang justru diajari untuk menahan diri, menghindari konfrontasi, dan menjaga suasana agar “aman.”

Tapi ternyata, menghindari konflik itu enggak sama dengan menyelesaikannya. Waktu saya mengamati orang-orang di sekitar yang memilih diam dan enggan berkonfrontasi, masalahnya enggak pernah benar-benar selesai. Ia cuma pindah tempat, melebar dan ribut di “bawah tanah”, sampai akhirnya meletup dalam bentuk yang jauh lebih enggak penting dan sering kali lebih menyakitkan daripada kalau saja dibicarakan sejak awal.

Saya jadi ingat, ada satu istilah dalam riset soal tim dan organisasi yang menggambarkan persis apa yang kualami sendiri: psychological safety, atau rasa aman psikologis. Amy Edmondson, peneliti dari Harvard yang mempopulerkan istilah ini, menemukan bahwa tim-tim yang berkinerja paling baik justru bukan tim yang paling jarang berkonflik, melainkan tim yang paling berani mengangkat masalah, kesalahan, dan ketidaksepakatan secara terbuka karena mereka merasa aman melakukannya, tanpa takut dihakimi atau dijauhi. Ternyata, hal yang saya alami di rumah sejak kecil dan yang saya bawa ke pernikahan punya nama dan riset di baliknya.

Ini juga persis yang pernah kubawakan dalam sesi fasilitasi soal kekuasaan dan keamanan psikologis untuk sebuah tim beberapa waktu lalu, dan rasanya lucu juga menyadari bahwa yang saya fasilitasi secara profesional sebenarnya sudah saya alami secara personal jauh sebelum saya tahu istilahnya.

Yang Perlu Dikhawatirkan Bukan Konfliknya

Setelah sekian tahun mengamati pola ini — di rumah, di pernikahan, dan sekarang di kantor AKAR yang terus bertumbuh — saya sampai pada satu kesimpulan yang mungkin terdengar aneh buat sebagian orang: konflik itu sendiri enggak bisa dikategorikan sebagai “masalah.” Konflik bisa jadi baik.

Yang justru patut dikhawatirkan adalah ketika konflik terjadi, lalu dipaksa selesai lewat maaf-maafan tanpa benar-benar mencari solusi. Atau lebih parah lagi, ketika ada kepalsuan, pura-pura enggak ada apa-apa, padahal sibuk menyikut dari belakang, karena fondasi emosinya enggak pernah benar-benar diupayakan untuk teregulasi.

Sebelum membahas perilaku, ada emosi yang perlu dianalisis terlebih dahulu. Dari mana konflik itu datang — itu yang penting ditelusuri. Di situlah, sebenarnya, kami (saya dan Poe, saya dan adik dulu, dan sekarang tim di AKAR) sedang berupaya saling mengenal.

Konflik yang Berujung Pelukan

Setelah sekian tahun, saya menyaksikan sendiri betapa menyenangkannya jalinan koneksi yang tumbuh dari proses ini, baik di rumah maupun di kantor. Saya betul-betul kagum pada tim di AKAR. Banyak dari perspektif mereka justru mengajarkan tentang kehidupan, karena saya menyaksikan langsung perubahan dari saling gertak menjadi saling menopang.

Ternyata, konflik justru harus mengizinkan satu sama lain untuk saling berbagi kerentanan. Ia memberi ruang untuk saling bercerita, saling mengenal, bukan sekadar berdamai di permukaan. Kemarahan yang tadinya meledak-ledak, yang dulu bikin saya pengen menenggelamkan kepala ke ember berisi es batu, sekarang justru sering berujung pada pelukan paling hangat yang pernah saya rasakan.

Jadi kalau kamu pertama kali datang ke AKAR, jangan kaget ya. Kami sangat terbuka untuk mengungkapkan segala bentuk perasaan. Kalau berkunjung cuma sekali, mungkin kamu cuma akan melihat bagian konfliknya, belum sempat melihat bagian ketika konflik itu terselesaikan, dan pelukan yang enggak pernah dipaksakan itu akhirnya datang dengan sendirinya.

Mama benar. Kami memang cuma punya satu sama lain, dan kebersamaan itu ternyata dijaga bukan dengan menghindari gesekan, melainkan dengan berani berbicara di tengahnya.

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>