English version is here
Empat tahun lalu, saya pernah menulis ini
Anak itu, Aling, pada Juni 2026 menutup mata untuk selama-lamanya pada usia 17 tahun.

Sepertinya Juni dan Juli cerita saya memang banyak sekali terpusat di perjalanan Eropa akhir Juni hingga awal Juli lalu, ya? Karena tiga pekan itu memang BANYAK SEKALI KEJADIAN. Termasuk meninggalnya Aling.
Pedih sekali rasanya kehilangan peliharaan, yang rasanya seperti anak, karena saya asuh sejak lahir hingga 17 tahun. Lebih pedih lagi, karena saat dia meninggal, saya harus presentasi di Lisbon yang jaraknya 12 ribu kilometer dari Jakarta.
Bukan kematian mendadak, tapi enggak sakit terlalu lama
Beberapa kali saya mengalami kejadian kehilangan kucing yang seperti ini. Sehat-sehat saja hingga usia tua, kemudian memburuk sekitar 1-2 bulan, dan meninggal. Jadi enggak bikin kaget, tapi enggak menyusahkan juga. Maka sebetulnya perasaan saya lebih bisa menerima kejadiannya, meski yang namanya kehilangan ya tetap berat.
Sejak sekitar dua bulan sebelum meninggal, Aling sudah mulai menunjukkan perubahan sikap dan kebiasaan. Mulai sedikit makannya, maunya hanya makan yang lembut. Awalnya saya pikir karena giginya mulai tua, tapi tentunya saya tetap memeriksanya ke dokter. Meskipun Aling selalu kontrol rutin setiap enam bulan sekali, dan baru saja kontrol sekitar sebulan sebelum mulai sakit, saya kembali lagi ke dokter.
Saat itu dokter hanya tes darah keseluruhan dan memeriksa gigi. Hasil tes darah bagus semua, dan saya hanya membawa pulang suplemen-suplemen aja. Awalnya masih mulus aja nih dia makan lembut, tapi kemudian saya perhatiin BAB nya mulai enggak teratur dan gak normal. Selain itu kaki belakangnya juga kelihatan susah digunakan untuk berjalan, jadi dia jalan diseret-seret. Awalnya saya pikir karena dia lebih banyak duduk, jadi pegel aja gitu.

Saya kembali ke dokter, akhirnya check up keseluruhan dari tes darah, rontgen, hingga USG. Hasilnya menyedihkan. Tes darah masih bagus semua, tapi ketika rontgen, dokter menemukan bahwa di perutnya banyak feses dan gas yang enggak keluar karena ternyata karena dia mengalami pengapuran sehingga susah ngeden.
Dokter juga lihat ada sesuatu yang abnormal di jantungnya. Ketika USG ditemukan ada tumor di jantung. Treatment yang dilakukan akhirnya agak complicated, karena sebetulnya dia bisa di laser untuk meminimalisir sakit kakinya, tapi laser berisiko mengaktifkan sel di tumornya. Akhirnya dia akupuntur tanpa listrik, supaya tetap aman.
Kabar buruk yang membuat saya sesak napas
Sampai hari saya berangkat ke Lisbon, saya masih bawa dia terapi akupuntur dan nyuapin karena napsu makannya makin turun. Tapi iya sih, intuisi saya yang menyebalkan ini udah berkali-kali punya firasat dia akan meninggal dalam waktu dekat. Namun ya karena saya harus pergi, saya enggak bisa melakukan apa-apa juga, kan?
Sesampainya saya di Lisbon, keluarga di rumah ngabarin kalau Aling mulai kelihatan sesak. Saya bilang observasi dulu, lihat makannya, dan aktivitasnya. Beberapa hari kemudian, kabarnya dia memburuk makin sesak. Jadi saya langsung telpon dokter dan Aling dibawa ke dokter. Dia harus dirawat karena sudah kritis.

Malam itu saya susah tidur, karena sepanjang malam suster di vet ngabarin kondisi Aling per jam. Tapi karena besoknya saya harus presentasi, jadi saya paksain tidur. Sebelum tidur saya berdoa banyak-banyak, meski saya tau, kalau memang sudah waktunya, maka yasudah. Bener aja, saya bangun pagi, dan Aling meninggal. Saya hanya punya waktu sekitar 3 jam untuk menangis, dan saya menangis sejadi-jadinya.
Logika saya tentu bisa menerima tanpa kesulitan, tapi perasaan saya berantakan gak keruan. Ini saya nulisnya aja masih terasa sesak, padahal sudah sebulan lebih ya kejadiannya. Karena saat itu saya merasa bersalaaaah banget, gak ada buat dia. Saya selalu merasa bersalah kalau ada kucing yang harus meninggal tanpa keluarganya, di dokter. Saya tahu banget, kalau saya enggak jauh, Aling gak akan dirawat dan meninggal di rumah bareng kami.
Satu jam nangis, dan saya kan tetap harus siap-siap ya. Jadi saya tarik dan buang napas lalu bergerak. Saat itu saya mikir, kalau saya sudah jauh-jauh pergi dan meninggalkan semua yang saya sayang di Jakarta untuk mempresentasikan hal baik yang sudah dilakukan dengan sepenuh hati dan tenaga itu, maka saya harus bisa melakukannya dengan sangat baik. Jadi kepergian saya enggak sia-sia. I’ll make the best of it.
Belajar berfungsi dalam society
Saya presentasi, dan hasilnya luar biasa!
Selesai acara hari itu, saya pulang lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Berjalan kaki sambil menangis dari kampus sampai apartemen, karena saya udah gak bisa nahan lagi. Saya tau betul, saya punya segala hak untuk berduka dan menolak untuk memaksakan diri. Karena di AKAR, kalau ada yang berduka karena peliharaannya meninggal, dia berhak izin atau cuti.
Tapi kondisi ini berbeda. Saya tidak sedang menjalankan rutinitas bekerja harian atau meeting internal. Saya ada di Lisbon, mempertanggungjawabkan pekerjaan untuk Peri Bumi, menceritakan soal praktik baik yang kami lakukan, dan saya enggak bisa mangkir.
Maka, sejak pagi hingga jam 3 sore saya berfungsi dengan baik. Presentasi, berjejaring, bercerita, dan terus mengupayakan segala yang kami butuhkan di Indonesia. Setelah jam tiga, kaki saya lemes, kepala saya sakit, pundak saya kaku, dan seluruh badan saya bergetar, karena sepertinya sudah sampai batas kemampuan saya menahan rasa sedih.
Bagi saya setiap perasaan itu valid dan boleh dirasakan. Sedihnya kehilangan peliharaan itu bukan hal kecil yang kayak dicemooh dianggap enggak penting, karena yang namanya berduka ya berduka. Setidaknya saya sudah melakukan segala upaya terbaik yang bisa saya lakukan, maka setelahnya saya berhak sedih. Dan itu yang saya lakukan, menangis, bengong, on repeat.
Pedih sekali rasanya berduka sendirian, enggak ada yang peluk, enggak ada yang dengerin cerita, enggak ada yang membersamai, dan tetap harus melakukan setiap hal untuk bisa menjalani hari.
Sesampainya di rumah setelah perjalanan selesai, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka kamar tempat Aling saya rawat selama dua bulan. Lalu saya menangis lagi, karena saya masih bisa lihat kasurnya, masih bisa cium aromanya, masih bisa mendengar suaranya, dan rasanya masih enggak percaya bahwa saya enggak lagi bisa peluk dia.
Kejadian ini mengajarkan saya untuk kembali lagi tidak melogikakan perasaan
Sebab saya biasanya kabur dari perasaan-perasaan berat, dan menerimanya dengan logika. Padahal, perasaan-perasaan tersebut enggak akan hilang kalau enggak pernah dirasakan. Logika penting untuk bisa menerima kejadian duka tanpa terjerembab dalam kubangan kesedihan yang berlarut-larut. Tapi bukan berarti menafikkan perasaan.

Saya juga belajar lagi bahwa memang saya enggak akan pernah bisa mengontrol apa pun kecuali diri sendiri. Karena enggak ada perasaan yang terlalu kecil untuk dirasakan, enggak perlu terburu-buru menyingkirkan duka dengan logika, dan setiap kejadian yang terjadi di dalam hidup saya akan membantu saya untuk menjadi lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan sebagai manusia.
Terima kasih ya Aling, karena kamu sudah hadir dalam hidupku selama 17 tahun ini. Jadi anak manis yang manja dan selalu minta dipangku. Jadi teman nonton filem tengah malam, dan selalu berhasil bikin aku belajar hal baru. Sampai ketemu lagi ya!

Leave a comment