Behavior Change tidak untuk dilakukan sendirian

English Version Here

Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari trip ke Lisbon, Portugal, Juni 2026 ini. Terutama dari pengalaman pertama presentasi di hadapan Akademisi dari EU dan UK, untuk bidang ilmu yang bahkan saya pelajari hanya dari kursus online RARE dan kelas basic UCL Behavior Change tahun lalu.

Meski sebetulnya saya udah bikin Teori perubahan, tools, dan framework untuk AKAR Family dan PERI BUMI, sejak sebelum saya ikut kursus.

Presentasi ini adalah inti dari kunjungan ke Lisbon, dan hadir di Behavior Change Conference 2026 yang diadakan oleh UCL. Awalnya, saya nemu di LinkedIn pengumuman untuk nulis abstrak soal behavior change dan pilihan topiknya: kesehatan dan climate change. Hmmm… masuk banget nih ya kan? Saya coba lah nulis. Nothing to lose aja seperti biasa. 

Ternyata abstract nya kepilih, karena mereka memang sedang menggagas acara yang akan menghubungkan akademisi-praktisi. Wah segitu aja saya udah ngerasa keren banget. Ternyata setelah presentasi, saya merasa lebih keren lagi. Hahahaha boleh dong!

Persiapan presentasi 

Materi presentasi sudah harus dikumpulkan sejak dua pekan sebelum hari H, jadi sejak di Jakarta saya udah ngerjain PPT nya, dan udah nyiapin script untuk ngomongnya. Waktu presentasi 12 menit, dan akan ada Q&A. Maka tentunya saya siap-siap sejak sebelum berangkat, baca ulang soal materi-materi Behavior Change, belajar-belajar lagi, ngubek-ngubek datanya Peri Bumi, dan minta tolong Tim Peri Bumi untuk validasi angka yang saya tulis di PPT.

Setelah itu PPT di design diga dan dikumpulkan. Ok. Siap lah siap!

Tapi, karena ini pengalaman pertama, tentu saya worried. Udah gitu banyak banget hambatannya. Harusnya saya berangkat bareng Diga supaya ada yang foto dan video jadi anak-anak konten bisa dapet bahan. Lalu Tata juga udah siap-siap, karena rencananya usai conference, anak-anak akan nyusul. Ternyata visa kami sekeluarga aman, visa diga dan tata ditolak. Sudah nyoba dari dua negara, dan tetap ditolak. Wow padahal ada surat pengantar.

Was-was betul karena saya ternyata tu enggak pernah lho benar-benar sendirian di negara orang, mana ini jauh banget dari Indonesia. Biasanya kan berangkat pulang sendiri, tapi di lokasi ada tim dan emang sanma grup bersama-sama. Tapi okelah, seenggaknya kan saya udah punya pengalaman ke Eropa sebelumnya, jadi harusnya gak canggung amat. (Nanti saya cerita soal pengalaman sendirian di tulisan lain)

Waktu presentasi saya ada di hari kedua conference. Saya sengaja daftar kelas pre-conference dulu supaya familiar dengan lokasi, jadi bisa adaptasi (Maklum ya neurodivergence kan susah adaptasi). Setelah di hari pertama nontonin presentasi orang-orang, agak minder juga karena akademisi ternyata beda sekali presentasinya dengan praktisi, apalagi saya biasa presentasi ke praktisi lainnya, atau dunia entrepreneur. Jadi semakin worried.

Ketika berangkat, saya meninggalkan kucing saya, Aling, yang udah usia 17 tahun dalam keadaan kurang sehat. Ada tumor di jantung, dan pengapuran. Ternyata satu hari sebelum hari presentasi, dia sesak dan kritis. Jadi masuk rumah sakit. Sejak pertama sampe Lisbon, sampai malam sebelum presentasi, saya latihan terus, script presentasi masih saya rombak-rombak supaya tetap komprehensif, tapi alurnya bercerita, dan enggak keluar waktu.

Tapi malam sebelum present, adalah malam YANG BERAT SEKALI, karena setiap 30 menit rumah sakit ngabarin kondisi Aling yang memburuk. Saya berusaha untuk tetap konsentrasi latihan, dan berusaha tidur biar besoknya enggak ngantuk. Tapi tidur saya kebangun-bangun terus karena notifikasi dari rumah sakit. Sampai akhirnya beneran tidur, dan bangun tidur, baca text yang ngabari…Aling meninggal. (Nanti saya ceritain juga di tulisan lain)

Hari Presentasi

Saya berusaha napas, meski air mata sih enggak bisa ditahan. Akhirnya saya memutuskan untuk datang lebih cepat 40 menit dan duduk di ruangan presentasi sendirian. Supaya sempat napas dan adaptasi. Untungnya ada teman dari Universitas Newcastle UK yang juga datang pagi, jadi saya ada teman ngobrol, dan bisa minta tolong difotoin. Dia presentasi urutan pertama, saya ketiga.

Saat host acara masuk, saya baru tahu bahwa 12 menit present itu adalah: 9 menit present, 3 menit tanya jawab. Jantung saya berdebar semakin kencang, karena khawatir. Namun kemudian,

Saya terus-terusan berpikir “Saya udah pergi jauh sekali dari tanah air, ninggalin keluarga saya, ninggalin AKAR yang sedang sibuk mempersiapkan acara akhir tahun ajaran, ninggalin Aling sampai gak bisa melihat dia meninggal, artinya saya harus bisa make the best of presentation. Saya gak boleh menyia nyiakan kepergian ini. Buat Aling..”

Maka saya inhale-exhale dan tersenyum di hadapan banyak orang yang hadir, kemudian bercerita dengan suara lantang. Tentang Peri Bumi, tentang betapa hebatnya kekuatan keluarga dalam mengubah perilaku jangka panjang, tentang Indonesia yang punya value luar biasa hebat bernama GOTONG ROYONG, tentang organisasi yang teori perubahan, kurikulum, dan framework nya disusun dari landasan culture, tentang perubahan kolektif, dan tentang cara peri bumi bertahan tanpa grants tapi dengan sistem yang bisa mendapatkan revenue stream untuk menjaga organisasi bisa tetap sustain.

Saya memperhatikan sepanjang saya bercerita, setiap mata menatap saya dengan antusias, profesor yang jadi host bahkan beberapa kali memotret presentasi saya. Mungkin untuk teman-teman akademisi, presentasi saya yang tanpa kurva, tanpa tabel, tanpa ratusan angka hasil penelitian, dan tanpa framework ajeg yang diakui dunia itu aneh. Meskipun demikian, saya selalu yakin bahwa yang Peri Bumi lakukan itu dilakukan sepenuh hati, dan dampaknya signifikan untuk perubahan perilaku. 

Usai presentasi, setiap penonton menunjuk tangan dan ingin bertanya. Setiap pertanyaan yang muncul pun menyenangkan, karena tampak antusias. Menurut admin yang juga mengamati reaksi di kelas online, di Zoom banyak sekali komentar positif yang bahkan banyak yang meminta kontak saya untuk bisa bekerjasama lebih lanjut. 

Saya akhirnya bisa bernapas lega dan tersenyum, karena rasanya bahagia sekali. Segala pedih itu terbayar lunas. 

Behavior Change bukan pekerjaan diatas kertas, dan tidak untuk dilakukan sendirian

Sejak pembukaan conference, hal itu sudah diungkapkan oleh keynote speaker. Awalnya saya bingung, kok basic banget sih ini Keynote, emangnya ada orang yang belum tahu bahwa perubahan itu harus dilakukan secara kolektif, bukan kerja silo?

Ketika saya ada di conference seharian di hari pertama, saya jadi baru paham. Oh ternyata di dunia akademisi, semuanya lebih banyak dimulai dan berakhir diatas kertas. Ditambah Western Culture yang memang cenderung individualis, maka akhirnya kebanyakan tidak berhasil. Apalagi dengan kondisi ekonomi, politik, sosial dunia yang serba tidak pasti, grants susah dicari.

Di hari terakhir, satu sesi sebelum penutupan, Profesor dari Universidade NOVA, Lisbon menuliskan dalam presentasinya: 

When an intervention works – what does it work for? 

“A person with a chronic condition alongside anxiety starts a smoking cessation intervention. They quit smoking. But anxiety spikes and medication adherence drops, causing complications. The trial reported success. The person didn’t”

Behaviors are part of systems – why address them in isolation?

Kami di AKAR sudah menyusun sebuah sistem yang terintegrasi sejak awal berdiri. Makanya ada PERI BUMI di bawah AKAR. Makanya, sistem dari kurikulum, framework, theory of change, sampai implemenntasi semuanya saling berkaitan termasuk tidak bergantung pada grants, melainkan mendahulukan GOTONG ROYONG dan rasa saling terkoneksi. 

Relationships adalah hal utama di Peri Bumi. Bagi kami, bangsa komunal, orang Indonesia, sebetulnya bekerja bahu membahu itu effortless. Karena begitulah cara kerja nenek moyang kami. Maka hal itu juga yang menjadi landasan AKAR dan Peri Bumi dalam segala sistem berjalannya. Saya selalu berpikir ini biasa-biasa aja, ternyata ini adalah hal luar biasa.

Kalau kami yang tim-nya cuma 6 orang ini bisa, saya yakin, se-Indonesia bisa sama-sama gotong royong membangun kembali kedaulatan bangsa besar ini. Saya yakin, kita semua bisa terus saling sayang dan saling jaga. 

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>