Anak-anak adalah guru yang efektif
Dulu, saya adalah seseorang yang enggak suka anak kecil. Kalau datang ke suatu tempat dan liat anak kecil dalam jumlah yang banyak, maka aku akan memilih untuk enggak masuk. Saya enggak pernah benar-benar membersamai anak kecil, dan bahkan waktu baru melahirkan, saya enggak tahu cara menggendong anak sama sekali.
Tapi ternyata, hal itu terjadi karena Yasmina waktu kecil banyak sekali mengalami benturan, dan enggak terpenuhi banyak kebutuhan emosinya. Sehingga, berada di dekat anak kecil jadi mentrigger luka-luka yang selama ini dipendam. Sehingga saya memilih untuk menghindari anak-anak; sepertinya saya bukan menghindari anak kecil, melainkan menghindari agar otak saya tidak membuka berbagai hal yang pedih.

Tentu saja titik baliknya ketika punya anak
Begitu punya anak, saya clueless banget. Saya cuma paham hal-hal yang sifatnya sangat teknis dan bisa terukur, misalnya kontrol ke dokter anak, pemberian ASI, dan memenuhi kebutuhan stimulasi. Berhasil ketika anaknya masih bayi, namun begitu dia mulai makan, bergerak, merangkak, dan berjalan, emosinya pun semakin kompleks, dan ibunya semakin clueless. Karena ternyata bagian itu yang paling sulit untuk saya pahami.
Padahal, kalau orang lain, sepertinya justru mulai dari sayang, ya? Kalau saya enggak, saya mulai dari rasa tanggung jawab. Saya yang membawa anak ini ke dunia, maka saya harus mengupayakan yang terbaik. Maka terkait hal teknis, saya benar-benar belajar sepenuh hati dari berbagai buku, orang, kelas, dan sebagainya.
Tapi mempelajari emosi? Ya, harus dialami.
Sementara saya dulu cenderung menghindari segala sesuatu yang sifatnya melibatkan banyak perasaan di dalamnya. Tentu saya enggak pernah paham berbagai emosi yang diekspresikan anak saya. Pening banget rasanya. Tapi saya yakin Tuhan maunya saya belajar. Saya justru berusaha mengingat alasan saya bisa mengurus hewan dengan sangat baik. Apa yang saya rasakan saat bersama hewan-hewan, dan dari mana saya harus mulai dengan anak saya?
Setelah itu, tentu saya pergi ke psikolog anak, sebab banyak perilaku anak saya yang sepertinya kurang pas, tapi saya enggak ngerti. Untungnya lagi, saya datang ke psikolog anak yang tepat, dan merujuk saya yang harus datang ke psikolog. Awalnya sempat merasa dihakimi, rasanya seperti, “Lho, kok gue yang salah, sih?”
However, Yasmina ini seneng mikir, dan jadinya penasaran, kemudian akhirnya baca lagi resource-resource dan sampe ke ilmu soal koneksi yang menceritakan bahwa EMANG SEGALANYA HARUS DIMULAI DARI DIRI SENDIRI DULU. Termasuk dalam membesarkan anak.
Sebuah petualangan yang LUAR BIASA menarik
Dua tahun pertama anak saya, mama masih ada, dan saya terus menerus cerita ke mama mengenai emosi anak saya, kunjungan saya ke psikolog, perjalanan membaca dan belajar saya, hingga suatu hari saat saya sedang bercerita mengenai koneksi dan berbagai hal yang baru saya temukan, mama menatap saya dalam dan menitikkan air mata
“Maaf ya, memang mama yang dulu ngajarin kamu untuk move forward. Lihat ke depan aja, gak usah banyak dirasa-rasa, nanti jadi berat buat mengejar cita-cita. Karena mama khawatir,” katanya.
Saya terhenyak. Sebenernya mama gak perlu merasa bersalah sih, karena hidup kita dulu emang on the edge bertahun-tahun, dan saya yakin, untuk mama pasti 1.000x lipat lebih berat daripada yang saya jalani. Namun sepertinya saya memang membutuhkan pernyataan itu, karena ada yang terasa lebih ringan di bahu saya setelahnya.
Akhirnya sejak 2013, sampai hari ini, saya masih rutin konsultasi sama psikolog klinis dewasa. Mulai dari intensif seminggu dua kali, jadi seminggu sekali, kemudian dua minggu sekali, sekarang bisa sebulan atau dua bulan sekali. Tapi saya masih selalu merasa butuh, karena sulit sekali untangled perkara di otak Yasmina tanpa bantuan orang yang mengingatkan baseline emosi dan rasa.
Rasanya tanpa anak-anak, semua ini enggak akan pernah terjadi
Kalau sekarang saya bisa menjalani banyak peran dengan tenang; jadi leader, jadi ibu, istri, teman, saudara, anak, partner kerja, dan sebagainya, yang selalu bisa saya bagi dengan baik, itu semua ya karena saya memulainya dari diajarin sama anak pertama saya. Tanpa dia, saya enggak akan pernah ngalamin bengong di depan bayi nangis karena enggak tahu harus ngapain, sebab saya enggak paham setitik pun soal emosi yang dia rasakan.
Tanpa dia, yang emosinya bulet dan bisa diekspresikan dengan baik, saya enggak akan pernah bisa memahami rasa. Sekarang adiknya, punya karakter yang beda lagi. Maka saya belajar lagi untuk beradaptasi dengan karakter dan ekspresi emosi yang sangat berbeda. Ini baru anak saya yang hanya dua orang, sementara saya sekarang di AKAR bersentuhan dengan anak kecil seabrek-abrek. Begitu banyak rasa, perilaku, dan kejadian yang bisa saya pelajari setiap hari.

Ada lima hal utama yang benar-benar saya pelajari dari anak-anak, baik anak saya maupun anak yang berinteraksi dengan saya:
- IF YOU’RE HERE, BE HERE
Hal itu ternyata menjadi pengingat di rumah kami dan, pada akhirnya, di mana pun kami berada. Karena tadinya saya sering, secara otomatis, melakukan multitasking yang ternyata membuat orang merasa tidak benar-benar didengar. Jadi, authentic presence matters!
- Stay Curious!
Hal istimewa dari anak kecil yang sering dilupakan orang dewasa adalah: PENASARAN. Kita sering bias dalam menghadapi sesuatu, sehingga lebih senang menghakimi ketimbang penasaran dan mencari tahu alasan terjadinya hal itu. Mungkin karena lupa bahwa enggak ada hal yang terlalu kecil di dunia ini; semuanya saling berkaitan.
- Models what matters
“Nyanyak ngingetin aku gak bawa gadget ke kamar, tapi nyanyak kerja sampai pagi di kamar,” kata si sulung. Iya juga, gimana mau menjalankan leadership yang baik kalau aku nggak walk the talk? Makanya kami bikin ceklis kebiasaan yang sama dan ternyata sangat bermanfaat untuk saya juga.
- Consistency Builds Trust
Anak-anak butuh rutinitas, sesuatu yang bisa diprediksi untuk membimbing mereka. Sementara saya impulsif banget, jadi tadinya sering kali tidak konsisten. Mereka yang memperlihatkan ke saya bahwa konsisten itu sesuatu yang penting juga untuk meregulasi emosi dan pikiran awut-awutan
- Vulnerability creates connections
Tadinya saya selalu sok jagoan, tampil perform dan selalu kuat di hadapan mereka. Tapi mereka enggak begitu. Mereka selalu tampil apa adanya, dan ternyata dengan begitu saya jadi belajar bahwa saya gak bisa bangun koneksi kalau bareng mereka aja, Saya selalu sok kelihatan paling kuat.
Ternyata leadership itu adalah soal ketulusan
Lima hal tadi, juga ratusan hal lainnya yang aku pelajari dari anak-anak saya dan anak-anak kecil di ROOTS, adalah hal penting yang sering kali luput dari perhatian otak orang dewasa yang sudah banyak terkontaminasi. Anak-anak itu keren banget, lho.
Tanpa ketulusan, kita enggak akan pernah bisa benar-benar memahami emosi, dan enggak akan bisa benar-benar merasakan koneksi. Karena itu, kita jadi kesulitan memahami apa yang terjadi pada diri sendiri dan apa yang terjadi di sekitar kita.
So, all we have to do is be present and truly listen to them, karena kita butuh diingetin juga soal makna hidup dari mereka.

Leave a comment