Jangan-jangan masalahnya adalah cara kita mendefinisikan “Keluarga”

Jangan pernah percaya pada tempat bekerja yang “Seperti Keluarga”

English Version is here

Adalah kalimat yang, menurut saya, menggelitik. Karena setiap kali saya menonton video dan membaca artikel soal itu, saya terhenyak dan merasa miris. Sebuah pertanyaan besar akhirnya membuat saya menggali lebih dalam lagi soal makna keluarga.

“Perusahaan yang menyebutkan dirinya seperti keluarga, hanya akan menggunakannya sebagai excuse untuk membuat kamu bekerja lebih banyak, memperlakukan jadwalmu tanpa batasan, membuatmu bekerja tanpa dibayar, dan memperlakukan kamu seenaknya.” Biasanya menjadi pernyataan kuat untuk menentang hal itu. 

Jika hal itu dilakukan, saya setuju. Benar sih, tidak ada siapa pun atau institusi apa pun yang berhak memperlakukan orang seperti itu.  Namun, jika hal itu kemudian jadi makna keluarga, kok sedih sekali, ya?

Jadi, keluarga adalah sekelompok manusia yang membuat kita menderita dong, ya? Bayangin, diperlakukan seenaknya, tidak izin dulu kalau mau meminta sesuatu, tidak menghargai waktu kita, bisa memperlakukan anggotanya semena-mena. Kok di saya rasanya enggak seperti keluarga, ya?

Jadi, menurut saya, diksi “memperlakukanmu seperti keluarga” itu ironis, bukan hanya karena  kalimat itu dipakai perusahaan untuk mengaburkan batas antara loyalitas dan eksploitasi, dan antara kebersamaan dan ketidakmampuan untuk berkata tidak. Tapi juga karena: seperti itulah kita memaknai keluarga, sekelompok manusia yang berkumpul dan memperlakukan anggotanya semena-mena. 

But why?

Kenapa rasanya shallow sekali kita memaknai keluarga, yang seharusnya sangat penuh dengan rasa sayang, terkoneksi, kebersamaan, karena setiap anggota keluarga adalah a significant other to the other family members, bukan? Keluarga, dalam arti paling purba dan paling manusiawi, adalah ekosistem kepercayaan, bukan yang bikin anggotanya kehilangan suara.

Empat dekade dalam penelitian, dari Belonging-nya Brené Brown, Interpersonal Neurobiology-nya Daniel Siegel, Trauma Science-nya Gabor Maté, dan Neurosequential Model-nya Bruce Perry, menyatakan satu kesimpulan: manusia tidak didesain untuk bertahan hidup sendirian, dalam nuclear units, maupun dalam kesepakatan yang transaksional. Kita ini didesain untuk berada dalam sebuah ekosistem dengan rasa sayang yang genuine. Otak kita ini dibangun dari hubungan, dari pengalaman yang munculnya mulai dari relationships. Belonging itu kebutuhan biologis setiap manusia, dan rasa memiliki itu pasti muncul dari hubungan yang terkoneksi. 

Atau mungkin yang harus sama-sama kita luruskan juga adalah makna koneksi, ya? Apakah kita selama ini memaknai bahwa karena terkoneksi, dekat, dan belong, kita memiliki setiap orang dalam lingkaran terkecil kita? Artinya memiliki: aku bisa seenaknya sama kamu. Gitu? Kalau mau pakai sendalmu, maka aku pakai aja, gak perlu nanya. Kalau ngerusak barangmu, maka a simple sorry akan membuat kamu pasti maafin aku aja, gak usah pake marah lah, kan aku keluargamu. 

Keluarga memang berarti mencintai tanpa syarat. Kita mencintai anak-anak di rumah setulusnya, enggak punya ekspektasi yang harus mereka kejar meski mereka enggak mau, enggak meminta “Kamu harus bikin mama dan papa senang”, atau enggak menuntut mereka harus perform dan kelihatan hebat terus di depan kita. 

Bagaimana sebuah perusahaan bisa melakukan itu? Nanti enggak untung! 

Jadi menurutmu, kalau kamu meminta anak-anakmu menjadi dirinya sendiri, meyakinkan mereka bahwa kamu akan mencintai mereka setulusnya, dan mereka boleh vulnerable, boleh punya waktu bersedih karena kucingnya meninggal, boleh izin sakit ketika mens, boleh minta dipeluk saat ingin menangis, maka mereka enggak akan sukses? (definisi sukses dan untung yang berlaku di dunia sekarang sama saja kan, maknanya?)

Tapi kan bekerja itu digaji. 

Ya iyalah, memang anak-anak di rumah itu enggak kamu sekolahin? Enggak kamu beliin baju, makanan, enggak dipenuhi kebutuhannya? Ada transaksi kok di rumah, tapi kita sebagai orang tua tahu banget bahwa hal itu merupakan kewajiban kita dan enggak masalah melakukannya. Sebetulnya, tanpa harus teriak-teriak agar mereka sadar bahwa mereka itu dibayarin sekolah dan kehidupan mereka, anak-anak sadar kok. Apalagi kalau kita memperlakukan mereka dengan penuh rasa sayang, percayalah, mereka akan lebih cepat menyadari bahwa mereka harus berkontribusi pada keluarga dengan apa pun yang mereka bisa dan mampu. 

Kalau kerja jadi keluarga, kita enggak bisa resign dong?

Emang kita enggak bisa resign dari keluarga yang tersambung darah? Mari kita revisit lagi makna “resign” deh. Buat saya, resign itu bisa jadi dua makna:

  1. Merasa tidak cocok dan ingin keluar mencari kehidupan lain
  2. Merasa ingin mengepakkan sayap lebih luas dan menjadi bagian dari entitas yang lebih besar

Oke, kalau tidak cocok, sebetulnya, baik di perusahaan maupun di keluarga, idealnya adalah sesuatu yang selalu bisa dibicarakan dengan baik. Di keluarga saya, kami rutin melakukan weekly meeting untuk merecap selama seminggu ini apa saja yang sudah terjadi. Biasanya merupakan recap dari ritual bersyukur yang kami lakukan setiap malam, merefleksikan apa yang terjadi hari ini, challenge apa yang paling berat, bagaimana cara kita mengatasinya, apa yang bikin sebel, apa yang bikin seneng, dan bagaimana kita menyikapinya secara individu maupun kolektif.

Hal ini saya lakukan bersama anak-anak saya yang sekarang berumur 14 tahun dan 7 tahun, sejak dulu. Tujuannya untuk mencegah terjadinya konflik yang terlalu besar, jadi kami akan membahas setiap hal yang berpotensi menjadi konflik, atau hal-hal yang sudah menjadi konflik dan mengganjal. Saya melakukan ini karena jengah melihat betapa buruknya komunikasi dalam keluarga, hanya karena terjegal beban “Kan keluarga, ya maklumin aja, sabar, tahan, gak usah diomongin, nanti jadi masalah”

Saya enggak mau mereka sampai membenci kegiatan bersama keluarganya, tapi terpaksa harus hadir, karena kita keluarga. Masa gak nongol. Saya mengalami itu, dan saya enggak mau anak-anak saya mengalami itu. Begitu pun di tempat kerja, kita harus bisa terus membuka kesempatan berkomunikasi yang transparan dan jelas, apa yang dirasakan, apa yang bisa dilakukan. 

Namanya manusia hidup, ketidakcocokan adalah mutlak. Tapi bukan berarti kita enggak bisa agree to disagree, mencari jalan keluar bersama, atau bahkan jika enggak ketemu juga kesamaannya (karena kita tidak membangun visi-misi bersama sejak lahir, kan?), ya, opsi keluar juga ada. Artinya, visi misi kita berbeda, dan tidak bisa disamakan. Orang bisa berubah cara pandang, lho.

Bukankah konflik itu juga ada di keluarga? Makanya, kalau di keluarga di rumah, yang bisa dilakukan adalah rutin membangun kesamaan visi-misi. Meski opsi keluar juga saya buka, kok, misalnya, anak ini menemukan sesuatu yang berbeda di luar dan merasa cocok dengan dirinya. Kalau di perusahaan, ini sebabnya kami ribet sekali dalam kurasi wawancara dan penerimaan orang baru. Baik untuk anggota tim, maupun pelanggan. Kami juga melakukan advokasi terus, seperti yang saya lakukan di tulisan ini.

Sementara untuk alasan ingin mengepakkan sayap yang lebih luas dan mencari kolam yang lebih besar adalah sesuatu yang justru saya dukung, baik pada anak-anak di rumah maupun anak-anak di kantor. Main yang jauh, pergi keluar, cari peluang untuk terus menjadi besar, jangan mau diem aja di satu tempat dan terbiasa dengan yang itu-itu saja. Belajar, belajar, kami juga terus memberikan semua yang bisa diberikan untuk ngasih kesempatan belajar. 

Saya enggak takut kehilangan, jika hal itu dilakukan untuk tujuan kebaikan yang lebih besar. Sebab saya yakin banget, resign itu bukan berarti kita jadi musuhan. Kalau anak saya keluar dari rumah dan punya nilai yang berbeda, bukan berarti dia enggak punya tempat pulang bersama kami semua. Kalau kita berbeda pandangan, bukan berarti enggak bisa jadi keluarga. Pekerjaan dan perasaan itu bisa dijalankan bersama, selama ada fondasi value yang kuat untuk jadi benang merah yang menyatukan kita semua, karena sayang. Karena ingin. Karena merasa belong. Bukan terpaksa. 

Karena yang membedakan keluarga dari kontrak adalah:

“Kamu tetap dicintai bahkan ketika kamu tidak sedang produktif.” Di AKAR, kami gak cuma bayar gaji. Kami juga hadir sebagai teman. Kami melihat satu sama lain sebagai manusia, bukan sekadar fungsi. Kami membangun koneksi hati yang memang dibutuhkan setiap orang. 

Karena rasa dan bekerja adalah dua hal berbeda, kita bisa tetap jadi partner profesional, sambil juga saling menyayangi. Boundaries kami sebagai manusia jelas batasannya dan dikomunikasikan dengan jelas. Karena begitu pun, harusnya keluarga menjalani hubungan di rumah. Di balik satu keluarga itu, ada kebutuhan tiap individu yang berbeda-beda, lho. 

Bagi kami, batasan (boundaries) adalah koneksi. 

Keluarga yang sehat bukan keluarga tanpa batas. Keluarga yang sehat WAJIB punya “batas” yang bukan “tembok”. Batas melindungi setiap orang agar bisa tumbuh sebagai dirinya sendiri. Tembok memisahkan dan mengucilkan. Semua orang bisa pergi kapan pun mereka siap berdiri sendiri.

Tapi semua tahu bahwa selalu ada tempat yang bisa kita sebut rumah.

Makanya yang dikejar adalah merapikan sistem supaya bisa diupayakan agar adil dan mengakomodasi setiap suara. Enggak hanya buat anggota tim, tapi juga buat anak-anak dan keluarga yang memilih untuk berjalan bersama kami di AKAR. Jika pada akhirnya memilih untuk berada di tempat lain, tentu baik sekali, apalagi jika hal itu berarti terus berkembang dan thrive. 

“Trauma happens in relationships. But it is also in relationships that healing occurs.”

(Bruce Perry) 

Jadi, hubungan itu bilateral; relationships adalah mekanisme dari wounding and repair, apalagi jika kita membangun hubungan yang genuine. Penelitian juga menunjukkan bahwa keluarga yang kita pilih sendiri ini bisa menyediakan kebutuhan regulasi sistem syaraf yang manfaatnya sama dengan hubungan keluarga biologis, ketika ada keamanan secara psikologis dan hubungan saling timbal balik 

The nervous system cannot tell the difference between biological family and chosen family, as long as the safety is real. 

Jadi, hal ini yang jadi kuncinya, kan? Bukan: “Yah, namanya juga keluarga.” Sementara kalau kata Dan Siegel: “We’re wired to connect. Our brains light up in the context of relationships.” Ketika ia menjelaskan soal MWe (ME+WE), iya, hubungan itu harus MWe, karena “me”-nya juga penting ketika kita menjadi bagian dari “we”, enggak boleh di-blend.  Goal-nya bukan menjadi “larut” dalam sebuah kelompok (which is what manipulative “we are family” cultures demand). Goal-nya adalah integrasi, ketika kita bisa jadi diri sendiri yang terkoneksi secara penuh. 

Inget aja, otak kita itu bersifat neuroplastic, artinya kita bukan finished product. Kita ini selalu dalam “under construction” sepanjang hayat kita. Maka, menyediakan sebuah komunitas yang mengizinkan setiap orang untuk “under construction”; untuk bertumbuh, berubah, dan kadangkala struggle, artinya justru terkoneksi.

That is the exact opposite of the toxic family culture that demands performance and punishes growth. Hal ini seharusnya diterapkan di MANA PUN kita berada, baik di tempat kerja, tempat belajar, maupun di rumah bersama SIAPA PUN. Ini baru makna keluarga. 

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>