Di Tempat Mungil ini, kami Bhinneka Tunggal Ika: AKAR Family

(English Version is Here)

Cerita tentang tempat favorit saya di seluruh dunia

Waktu pertama kali menginisiasi terbentuknya sebuah daycare pada 2015, kami memulainya dengan nama “TAMAN MAIN

Ketika itu, kami belum punya apa-apa, bermodalkan semangat, enggak paham-paham banget pengelolaan, enggak ngerti-ngerti banget juga soal pendidikan dan pengasuhan, tapi kami BELAJAR SETIAP HARI. Saya mulai ikut beberapa kursus terkait pendidikan, sementara anggota tim lainnya mulai mengurus yayasan, perizinan, dan sebagainya.

Badai topan tornado menghajar kami berkali-kali. Dari kericuhan, pendiri taman main tinggal sisa tiga orang karena konflik. Kemudian memutuskan untuk membangun Roots Learning Center supaya bisa punya sekolah preschool dan kindergarten di Brawijaya. Sekolah baru jalan setahun trial, enggak tahunya … PANDEMI menyerang!

Berusaha bertahan tanpa anak di daycare, dengan berbagai kegiatan online, meng-embrace kebijakan new normal, menyelaraskan berbagai kurikulum untuk membuat kurikulum kami sendiri, sampai akhirnya pandemi berlalu dan kami bangkit lagi.

Masa-masa yang cukup aman sehingga kami bukan sekadar Roots Learning Center yang isinya sekolah dan daycare aja, tapi jadi…beranak banyak.

  • Ada PERI BUMI dibawah naungan Yayasan AKAR PERI BUMI
  • Ada Roots Learning Center (Daycare, preschool, kindergarten), dan Healthy Roots dibawah Yayasan Taman Main Petualang
  • Ada PT AKAR Edukoneksi yang menaungi kegiatan bisnis AKAR Family seperti MyRootsy App dan Parenting Is Easy

 Karena kami bergerak di sektor pendidikan, visinya harus SANGAT BESAR

Ngapain sih, nambahin kerjaan aja? Padahal kan kalau yang dikerjain cuma daycare aja, cuannya bisa banyak banget, lho. Karena cost operasionalnya gak terlalu tinggi, elemen biaya gaji juga bisa diminimalkan. 

Iya paham, ngerti banget, tapi kami kan enggak jualan cireng yang ekspansinya ada di menambah cabang dan menambah produk. Kami ada di sektor jasa dan, untuk lebih spesifiknya, PENDIDIKAN DAN PENGASUHAN. Makna ekspansi untuk kami adalah: memastikan lebih banyak lagi yang mendapatkan manfaat dan pada akhirnya semuanya bisa memberikan dampak baik untuk Indonesia. Spesifiknya lagi: untuk masa depan anak-anak di Indonesia.

Pundak saya pernah terasa sangat berat ketika saya merasa bahwa semua bertumpu pada saya dan saya mengerjakan segalanya sendirian. Saya pernah merasa sangat kesepian karena berpikir dalam pola yang membuat saya merasa bahwa tidak ada yang benar-benar peduli pada kesejahteraan anak-anak. Saya pernah merasa ingin menyerah, saking merananya menjalani ini semua.

Sampai akhirnya saya sadar kalau gak mau sendirian, ya ngajak temen dong!

Kalau merasa enggak ada lagi yang peduli, coba cari buktinya dong. Apa bener? Jangan-jangan itu cuma ada di pikiran aku aja? Kalau  enggak mau kesepian, ya JANGAN SEMUANYA DIKERJAIN SENDIRI, delegasilah! Belajar percaya sama orang lain, belajar yakin bahwa koneksi akan membawa semua orang untuk bergabung.

Saya tadinya mikir bahwa saya ini lagi mencari massa untuk bergabung. Setelah sadar, eh, kayaknya saya ini lagi membangun taman ya. Sebuah taman yang ada kebunnya, ada bunga, ada sayur, ada buah, ada banyak ruang untuk lebih banyak anggota. Saya membangun sebuah kebun yang aman untuk banyak warga.

Saya membangun dengan penuh semangat, penuh kasih sayang, dari yang tadinya hanya bertiga, kemudian bersepuluh, lalu tiga puluh, sekarang sudah lima puluh++ yang bekerja di AKAR. Itu baru tim internal yang setiap hari hadir, ada orang tua murid dari 3 cabang, ada anggota komunitas para ibu dari 11 provinsi di seluruh Indonesia, ada anggota komunitas anak di Jabodetabek, ada anak magang, ada relawan, ada partners, ada kolaborator, dan tentunya yang paling penting dari segalanya: ada anak-anak yang setiap hari bikin kami semangat!

Sebuah visi besar yang membesarkan kami!

Tempat mungil dengan isi beragam

AKAR ini isinya kaya buah potong di sebuah piring, baik bentuk, rasa, warna, dan tekstur, sangat beragam. Kami bisa berada di satu piring barengan, meski nature-nya macem-macem banget. Setiap unit/divisi punya nature khasnya masing-masing, dari situ turun lagi ke masing-masing individu yang juga punya nature-nya masing-masing. Enggak ada yang sama persis.

Saya belajar banget dari pengalaman sekolah yang bikin sebel setiap saat, bikin enggan berangkat dari rumah, boro-boro belajar, bahwa tidak ada satu pun, baik murid maupun guru, di sekolah saya yang menikmati berada di tempat itu. Semua datang karena harus, karena mau gak mau, bukan karena mau banget. Kebutuhannya semua sebatas transaksional, bukan relasional.

Saya enggak mau punya tempat belajar yang kayak pasar. Harusnya tempat pendidikan dan pengasuhan tidak layaknya tempat jual beli lauk-pauk. Tempat belajar seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi semua anggotanya, bahkan bagi setiap makhluk di wilayah tempatnya berada. 

Saya maunya kita ada di satu tempat yang mendasari segalanya secara relasional, dengan terkoneksi, dan dengan landasan yang menyatukan langit (pengetahuan dan keterampilan dari dunia luas) dengan akar (pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari leluhur asli kita). Sebuah tempat yang inklusif yang bisa menerima semua makhluk apa adanya dan bisa selalu menemukan cara untuk saling menyesuaikan diri satu sama lain. 

Sebuah tempat yang mencerminkan landasan negara kita dan prinsip yang emang dipegang kuat oleh leluhur mengenai beragamnya Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan sebelum orang asing mendorong inklusivitas dengan prinsip DEI (Diversity, Equity, and Inclusion). Iya, jadi orang Indonesia itu buat saya awesome, karena prinsip-prinsip leluhur kita luar biasa jeniusnya dan berbasis ilmiah. Gak heran kan kalau Bung Hatta sebut leluhur kita itu: JENIUS NUSANTARA. Karena memang jenius!

Kalau sekarang banyak yang gak sesuai, banyak yang melesat jauh dari nilai-nilai dasar Indonesia, kata saya mah, harusnya kita sebagai orang Indonesia enggak cuma bisa bikin konten mencaci dan memaki, justru belajar. Mencari di mana akar masalahnya dan yang seharusnya kayak gimana sih?

Kalau kata Ibu Jane Goodall: “And we have this stupid saying ‘Think Globally, Act Locally,’ but no! Act locally first and do something! Do something that will make you feel better, and then you want to do more, and then you will inspire others to join in!”

Ini bekal saya untuk berdiri tegak di sini untuk masa depan anak-anak Indonesia! Tapi saya enggak sendiri. Ada banyak orang yang enggak pernah berhenti menggandeng tangan saya, di dalam ruang-ruang kecil AKAR, di luar gedung mungil kami, di seluruh penjuru Indonesia, bahkan sampai di luar negeri Indonesia.

Saya enggak sendiri, saya enggak pernah sendirian, dan saya enggak mau sendirian! 

Tentu enggak lupa kalau kata anggota tim Peri Bumi, kita semua di AKAR ini semuanya dibantu Allah. Kayaknya lebih tepatnya, emang seizin Allah sih, bukan dibantu, tapi dibangun hahahaha. Karena kami percaya, we reap what we sow

Semua dimulai dari sebuah ruang mungil namun hangat yang menyatukan hati begitu banyak orang, dan kami saling percaya satu sama lain. Semoga selamanya, ya…

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>