Jadilah bahagia, bib..

Gallery

Dua pekan lalu, si Abib bagi raport Portfolio. Lalu saya berkesempatan dong ketemu sama dua ibu gurunya, untuk dapat laporan perkembangan dan sebagainya.

Nah, ketika itu, saya dikasih kertas untuk diisi. Tulisannya “Harapan Orang Tua pada Anak”

Dan ternyata, saya gak bisa jawab. HAHAHAHAHA..

Harapan itu spesifik

Setiap orang tua pasti punya harapan sama anak. Pasti dong. Tapi, saya lebih memilih untuk menggunakan kata “Do’a” ketimbang harapan. Ya sebab, di setiap tarikan nafas, saya mendo’akan Abib yang baik-baik. Tapi kalo harapan, tunggu dulu..

Kata itu, buat saya, mengandung makna yang berat. Misalnya dulu saya berharap, bisa jadi sarjana. Tentu saja, saya harus mengejarnya sampe dapat, bukan? Belajar, mengerjakan tugas, melakukan praktikum, dan mengerjakan skripsi sampe selesai. Bisa diukur, dan bahkan bisa ditargetkan. Jadi, buat saya, harapan itu konkrit dan pribadi.

Maka, kalau saya berharap sesuatu pada Abib. Misalnya saya berharap agar Abib jadi orang baik, sholeh, sukses dunia akhirat dan sebagainya, tentu saja terlalu umum. Itu, adalah do’a. Harapan, buat saya, lebih spesifik. Misalnya saya berharap Abib jadi pengusaha. Lah, kan itu harapan saya. Tapi kan yang ngejalanin hidup si Abib. Masa saya letakkan harapan saya di bahunya?

Kalo dia enggak mau jadi pengusaha, gimana? Nanti saya yang high determination ini akan memaksa dia untuk mewujudkannya, dan dia enggak suka. Kasian kan?

Harapan untuk Abib

Akhirnya setelah berpikir panjang, saya mengisinya dengan satu poin saja: Menjadi orang yang bahagia.

Spesifik, buat saya. Dan langkah-langkahnya masih bisa saya usahakan, insya Allah..

Gini,

Coba deh renungkan, mungkin gak seseorang bahagia kalo enggak dekat sama Tuhannya? Mungkin gak seseorang bahagia kalo enggak bisa sukses dunia-nya?

Oke, gak usah membantah bahwa dunia enggak penting. Dunia itu penting, tapi bukan segalanya. Lho, kalo kita aja enggak berpendidikan, bagaimana mau mendidik orang lain? Kalau kita makan aja susah, gimana mau memberi makan orang yang tidak mampu? Kalau kita enggak punya uang untuk modal, bagaimana kita mau memberikan peluang untuk banyak orang yang membutuhkan?

Saya meyakini bahwa kita harus kuat dulu, baru menguatkan orang lain. Dan iya, itu bukan semata-mata soal dunia, namun bukan berarti perkara dunia enggak penting sama sekali, bukan?

Nah, kembali ke bahagia;

Harapan saya adalah agar Abib tumbuh menjadi manusia yang bahagia.

Saya dan Poe masih bisa mengupayakan setengah mati, insya Allah, agar Abib sekolah sampe lulus. Memberikan dukungan moril dan materil agar Abib dapat mengejar cita-citanya. Memberikan semangat agar ia tidak merasa sendirian. Menemani hatinya, menjadi pendengar terbaiknya, agar ia mendapatkan kebutuhan utamanya: kemampuan meregulasi emosi.

Saya dan Poe, masih bisa mengupayakan, insya Allah, agar Abib mendapatkan nutrisi yang cukup. Eh, iya dong. Tunjuk tangan yang kalo laper jadi galak, hayooo…

Coba deh, kalau kita sakit-sakitan karena nutrisinya tidak terpenuhi, apa iya kita bisa bahagia? Boro2 membahagiakan orang lain, kita aja terpuruk terus.

Saya dan Poe juga masih bisa mengupayakan sekuat tenaga, insya Allah, agar Abib ada di lingkungan terbaik yang cocok dengan karakternya. Memberikan Pendidikan moral dan spiritual, serta menjadikan ia siap untuk terjun ke dalam komunitas terbesar; MASYARAKAT.

Iya, saya setuju, gak harus ikut2an tren agar diterima. Tapi, kita kan mahluk sosial. Kalau tidak bisa menjadi tetangga yang baik, apa kita bisa bahagia? Kalau hidup sendirian terus, apa kita bisa bahagia? Kalau selalu gagal membangun hubungan baik, karena insecure, apa kita bisa bahagia?

Buat saya dan Poe, menjadi bahagia adalah harapan yang spesifik. Dan bisa dikejar dengan upaya, tenaga, pikiran, hati juga do’a. langkah-langkah yang harus dikerjakan bahkan bisa ditergetkan. Namun, pilihan menjalani hidup dan cita-cita, tetap milik Abib. Ya, karena dia kan enggak selamanya balita.

Bukan menjadi independen, tapi interdependen

Saya baca di buku The Attachment Parenting Book- nya Dr Sears. Disitu ada poin yang bikin saya manggut-manggut. Jadi, membesarkan seorang anak dengan koneksi yang kuat, artinya memberikan tujuan agar ia tumbuh menjadi manusia yang interdependen.

Apa sih itu? singkatnya;

  1. Orang yang dependen: “YOU do it for me” – ia berharap ada orang yang terus melakukan segalanya untuk dia, ia bergantung terus pada keberadaan orang lain. Buah dari pengasuhan yang permisif dan memanjakan.
  2. Orang yang independen: “I do it MYSELF” – ia merasa bahwa dirinya dapat melakukan segala hal sendirian, enggak perlu orang lain dan cenderung memikirkan kepentingannya sendiri diatas segalanya. Individualis. Buah dari disiplin keras. (I’m talking to myself hahahaha…)
  3. Orang yang interdependen: “WE do it” – ia menjadi orang yang bijak karena mampu mendengarkan orang lain, mampu berkolaborasi, dan get the most out of their relationships while asking the most of themselves as well. Ia bisa melakukan banyak hal sendiri, dan atau Bersama orang lain.

Iya, jadi, orang yang independen akan menjadi leader namun terikat pada dirinya terlalu banyak sehingga melewatkan banyak kesempatan untuk lebih berkembang, karena tidak mau berurusan dengan orang lain. Orang yang dependen akan menjadi follower, karena terlalu sibuk mengikuti orang lain sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk mengetahui apa maunya.

Sementara orang yang interdependen mampu menjadi leader dan follower tergantung situasi dan kondisi yang dibutuhkan.

Mana yang bisa lebih membahagiakan?

Iya, ini termasuk harapan. Tapi, menjadi interdependen sama dengan menjadi orang yang bahagia, buat saya. Ini dia makanya saya bilang bahwa hal ini bisa dilakukan, bisa dipelajari, bisa dido’akan.

Parenting is easy

Ngeselin gak? hahahaha.. tapi iya loh sebenernya, karena biasanya yang bikin susah ya kita sendiri. baca buku banyak-banyak tentang parenting, tapi berusaha untuk ngikutin semuanya tanpa memertimbangkan bahwa anak itu unik dan beda-beda.

Pengen ngasih nutrisi terbaik lalu sibuk cari bahan makanan serba impor dan mahal, tanpa pernah nanya jangan-jangan anaknya doyan tumis tempe pake wortel (duh jadi laper..). Belum lagi terkungkung pada beliefs yang tidak disesuaikan dengan kondisi pribadi dan karakter anak.

Memaksa anak untuk harus tidur sendiri sejak bayi, tidak mau nggendong karena takut anak bau tangan dan sebagainya. Dr Sears juga pernah bilang bahwa orang tua itu penting membentuk bonding dengan cara paling sederhana di dunia, yang semua orang PASTI BISA; mendengarkan kata hati dan mengikuti insting.

Tapi karena sibuk membatasi diri dengan mitos, buku bacaan, dan dengerin apa kata orang lalu banding2in anak tanpa berusaha mengenal kebutuhan dasar anak kita sendiri, hal tersebut jadi SANGAT SUSAH UNTUK DILAKUKAN. Logis, kan?

Padahal kadang anak hanya butuh dipeluk, ditemani, diajak mengenali perasaannya, dan diajak ketawa.

Tapi apalah saya ini, bukan expert. Hahahaha…anak saya aja masih 5 tahun usianya. Newbie.

Ya karena itu juga, bib, nyanyak Cuma berharap kamu tumbuh bahagia dan menjadi manusia bahagia.

Kenapa bahagia?

Karena saya capek liat postingan pecinta hewan mengenai hewan-hewan yang disiksa. Karena saya capek baca berita tentang kekerasan dan kriminalitas. Karena saya bosan denger kasus korupsi merajalela. Karena saya Lelah liat orang berantem di medsos, untuk sesuatu yang bahkan diluar yurisdiksinya. Bahkan saya mumet dengerin ibuk-ibuk saling pamer dan membandingkan anaknya dengan anak orang lain.

Orang yang bahagia gak akan melakukan semua itu. orang yang bahagia akan tau, ada dimana posisinya sekarang. Orang yang bahagia bisa mengenal dirinya dengan baik, jadi tau tujuan hidupnya. Orang yang bahagia akan siap menjadi teman yang baik. Orang yang bahagia bisa membagi kasih sayang yang dimilikinya pada mahluk-mahluk lain.

Dan yang terpenting, orang yang bahagia akan mencintai Tuhan-nya, dan siap melakukan segala perintah-Nya. Pun, orang yang bahagia akan memenuhi jiwa raganya dengan rasa syukur pada apapun yang terjadi dalam hidupnya.

**

Maka bib, maaf ya kalau nyanyak enggak bisa ngisi kertas itu sampe penuh dengan harapan-harapan. Bukan karena nyanyak enggak peduli sama kamu, namun justru karena nyanyak sangat sayang sama kamu. Nyanyak gak sampai hati kalo harus memaksakan harapan yang kamu enggak ingin lakukan. Tapi nyanyak dan deded janji akan selalu mendo’akan dan berusaha agar kamu jadi manusia yang bahagia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s