Berbahaya dan Tidak Bermanfaat, tapi boleh dibaca

Gallery

Luar biasa ya memang internet ini. setiap hari membuka laman sosial media, ada saja hal baru yang bisa jadi pengetahuan, sekaligus perdebatan menyebalkan yang pasti saya lewatkan begitu saja.

Kenapa menyebalkan? Sebab, kedua pihak yang berdebat, seringkali tidak begitu paham dengan apa yang dibicarakan. Oh ya? Iyalah. Karena kerjanya Cuma meng klik tombol share, lalu memberikan komentar panas. Yang kemudian memicu perdebatan (atau pertengkaran) lainnya, dan apa hasilnya? Ya gak ada.

Ilusi. Iya, lebih banyak ilusi. Kalo meniru tulisan sahabat kesayangan saya disini, saya jadi setuju. Dia bilang:
“Selain algortima yang dijalankan mesin, sistem “like” dan “retweet“, dibantu kecenderungan naluriah manusia juga jadi pendorong polarisasi. Sesuatu yang kita posting atau kicaukan, saat di-like dua puluh orang, misalnya, seakan jadi pembenaran atas pemikiran yang kita tuangkan dengan mengabaikan ratusan kawan lain yang mungkin punya pendapat berbeda. Saat ia kemudian di-shareatau dicuitkan ulang, bahkan tahi kucing pun serasa coklat.

Sementara yang kita tuliskan di internet dan media sosial juga rapi terekam. Dari situ, ia menghalangi potensi kita untuk menimbang ulang pendapat atau berubah pikiran. Karena sudah dilihat banyak orang banyak, kita terdorong mencari pembenaran untuk pendapat-pendapat yang kita sampaikan dan terekam di internet. Dan dalam internet, Anda bisa menemukan pembenaran untuk apa saja, untuk ide sekonyol apapun.”

Perdebatan terakhir yang saya baca, dan kemudian berhasil membuat saya geleng-geleng kepala adalah perkara susu. Hadeh. Ampun deh.

Jadi gini ya, setau saya, awal kisah terjadinya perdebatan soal susu ini dimulai dari gerakan para penggiat ASI yang menolak susu formula. Oke, ini jadi informasi yang sesungguhnya amat berharga, karena saya percaya betul, ASI pasti lebih baik dari susu formula. Namun, kemudian, ada keluhan dari orang-orang yang merasa disingkirkan karena tetap menggunakan susu formula karena keterbatasan.

Dan akhirnya jadilah perdebatan itu dimulai. Sampai ada kata-kata, “Gak usah bicara ASI deh, kan kasian ibu-ibu yang enggak bisa ngasih ASI” lalu ditanggapi lagi dengan “Kenapa gak ngasih ASI, jangan-jangan memang ibunya malas..” BAH!

Tiba-tiba, BOOM! Muncullah link dari erikar lebang dan Dr Tan Shot Yen. Tentang kibulan susu, dan sesungguhnya manusia tidak membutuhkan susu tambahan lain selain ASI. begitu banyak orang yang men-share link ini di media sosial. Hingga tibalah saatnya, DUARRR, ada lagi tandingannya yang menggunakan hadits-hadits bahwa susu itu bermanfaat.

Terbitlah komen-komen sadis dan menyebalkan yang saling membela kepentingannya masing-masing. Tentu saja dengan bumbu kalimat-kalimat yang menyatakan secara tidak langsung (atau bahkan langsung), bahwa si empunya komen adalah manusia paling pinter di seluruh alam raya.

Hhhh…gini ya, menurut saya yang enggak pinter ini, kita udah enggak butuh deh gini2an. Terkait susu ini, coba deh dibaca lagi dengan benar. Dr Tan, erikar, tidak pernah bilang bahwa susu itu dilarang, haram, gak boleh sama sekali masuk kedalam perut kita. Erikar bahkan pernah bilang bahwa susu itu minuman rekreasional, sesekali saja. Jadi mereka, sebetulnya, hanya menekankan pada poin agar tak ada dari kita yang MEWAJIBKAN susu.

Meritualkan susu sebagai minuman yang harus diminum setiap hari, pagi siang sore dan malam. Apalagi susu-susu yang kini mudah didapat dimana-mana itu. kecenderungan produk massal adalah, KITA ENGGAK TAU APA AJA BAHAN YANG DIMASUKIN KEDALEMNYA. Bukan begitu, benar? Bukankah kita semua sepakat bahwa gula dalam porsi banyak, pengawet makanan dan tambahan-tambahan zat kimia lainnya itu tidak sehat??

Apalagi kecenderungan masyarakat kita, yang memaksakan membeli susu padahal tidak mampu. Ibu-ibu yang merasa tenang saat anaknya tidak mau makan, dan yang penting mau minum susu. Padahal, manusia butuh makan. Lalu coba dilihat lagi deh laman hadits2 itu. enggak ada juga satupun yang MEWAJIBKAN susu. Enggak seperti ayat al qur’an tentang ASI, yang memang diwajibkan hingga bayi berusia 2 tahun. So, sebetulnya ketemu dong? Minuman rekreasional, yang tidak perlu ditolak, tapi tidak harus diminum setiap hari.

JADI APA YANG KALIAN RIBUTKAN??????

Karena kata-kata “berbahaya”, “Tidak bermanfaat” yang ada di judul, maka kalian saling menghina satu sama lain? padahal coba sempatkan dulu membaca dengan benar, lalu cari tahu lagi lebih banyak dari buku, atau laman pengetahuan lainnya tentang informasi tersebut.

Ya benar kan kata sahabat saya tadi. Karena sudah dilihat orang banyak, dikomentari, dan diperdebatkan lalu kita menolak untuk melakukan research lebih dalam. Ikut aja dengan opini publik yang kita anggap benar, lalu melawan segala bentuk perbedaan. Kan percuma sekolah tinggi-tinggi kalo ujungnya habis waktu untuk bertengkar di laman medsos. Bukannya baca lebih banyak, kok malah menolak mentah-mentah dan tidak mau membuka diri untuk memelajari segala hal dari segala sudut pandang sih?

Padahal ya, kalo buat saya, segala info yang beredar bebas dan semaunya di internet itu jadi tantangan tersendiri. Saya senang sekali membaca dan kemudian mencari tahu, sebenarnya apa yang terjadi, dan kenapa info itu ramai diperbincangkan. Bagaimana faktanya, sejarahnya, lalu apa yang sebetulnya diagendakan. Seru kan? Ya yang jelas lebih seru lah ketimbang berantem di laman orang.

Ini terjadi bukan Cuma perkara susu, tapi semua hal. Ya dari politik, ya agama, omongan menteri, sampai ke gosip artis. Ini dia yang mama saya bilang “Baca sedikit, cari tau sedikit, belum pinter, tapi sudah nge guru-in orang. Berasa sudah paling tau sejagat raya” aneh kan? Tapi gitulah yang terjadi sekarang. setiap manusia yang bersentuhan dengan internet, jadi terlalu mudah tergiring sama pendapat terbanyak.

Satu marah, semua marah. Enggak ada yang berminat cari tau lagi, dan mencoba menggali dari angle lain. sebisa mungkin, malah nyari lahan buat bikin keributan. Tanpa tau, apa sih yang sebenarnya diributkan.

Ya, mungkin kita bisa agak jeli sedikit lah melihat satu persoalan yang dilempar ke dunia maya. Sebelum cepat-cepat berkomentar, cari tahu dululah. Nanti kalo sudah paham, ya baru bisa komentar. Dan kalo bisa, jangan yang bikin panas deh. Yang santai aja, biar orang-orang yang marah itu bisa rada adem. Kita enggak butuh lah tambahan persoalan. Yang kita butuhin itu tambahan senyuman. Biar besok-besok kalo ketemu saling lempar senyum. Saling tegur sapa. Saling berbagi kebahagiaan. Biar sama-sama enak.

funny-memes-facebook1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s