Memilih? Ayo deh…

Gallery

Oke. Baca berita dari tempo.co ini, saya garuk-garuk kepala.

Jadi sudah diputuskan bahwa pemilukada DKI berlangsung dua putaran ya? Jadi males…

Satu-satunya yang bikin seneng hanya LIBUR. Sisanya, boorriiing…loh iyalah, opsinya jadi menyempit antara FOKE dan JOKOWI. Dua kandidat yang bukan pilihan saya.

Ya, waktu putaran pertama kemarin, saya nyoblos nomor 5, Faisal-Biem. Enggak sih, bukan karena terprovokasi twit, tapi karena mereka independen. Beberapa kali nonton debat cagub cawagub, Faisal-Biem juga konsisten, selalu memaparkan visi misi dan program yang rasional. Bahkan, mereka ini merupakan cagub yang tetap bertahan dari dulu, sampai akhirnya pemilukada DKI putaran satu berakhir. Coba baca tulisan saya ini.

Di tulisan saat itu, saya belum memutuskan siapa yang akan saya pilih. Lagipula saat itu saya pikir, kami sudah akan mendaftar warga Bekasi. Sayangnya, E-KTP di Jakarta Timur saja belum beres, maka kami belum bisa ngurus E-KTP Bekasi. So, ternyata kami masih warga DKI. Hehe.. Tapi, still, saya menganggap, Bang Faisal punya program yang rasional. Eh, ternyata, dari calon-calon yang saat itu nongol, hanya Faisal yang masih terus maju.

Hal ini, menurut saya, bentuk komitmen yang baik. Meskipun berdarah-darah (tanpa partai, di wilayah sebasah DKI hmm), Faisal tetap berani maju. Jadi saya putuskan untuk mendukung dia. Sayang, perolehan presentase suara Faisal-Biem, enggak lebih dari 5 persen aja.

Ya, sebenarnya sejak awal, seperti penilaian masyarakat kebanyakan, saya juga udah yakin, pasti JOKOWI merupakan satu-satunya calon yang mampu menandingi kepopuleran Bang Kumis, Foke. Tentunya karena dia adalah walikota terbaik. Sejak dulu, saya mengagumi cara kerja Jokowi di Solo. Keren. Enggak usah lah dipaparkan satu demi satu kebaikan program-program Pak Joko di Solo, semua orang juga sudah tau.

Tapi untuk mimpin Jakarta? Kok saya enggak yakin ya…

Saya enggak pernah yakin sama siapapun calon dari PARTAI manapun. Karena ini DKI Jakarta. IBUKOTA Indonesia. Terlalu menggiurkan untuk partai, sebaik apapun calon yang mereka ajukan. Apalagi mengingat 2014 yang datangnya sebentar lagi. Ya enggak usah lah disebut namanya: Prabowo atau Megawati Soekarnoputri. Kita udah pernah ngalamin Soeharto, kemudian Susilo sekarang menghadapi Aburizal, ya ngono lah. Tapi, siapapun yang berhasil ‘memegang’ Jakarta, dia pasti kuat. Dan kekuatan itu, brr, *begidik, agak mengerikan ya kalau disalahgunakan.

Apalagi kalau mengingat Pak Jokowi itu, masih berstatus walikota Solo. Saya ni, kalo jadi warga Solo, pasti sakit hati. Kok kami, sudah enak-enak punya walikota se Oke ini, tiba-tiba ditinggal begitu saja. Atas nama partai. Jadi posisi rakyat-nya, ada dimana?

Lalu, Foke? Fauzi Bowo…hmm…*elusdagu*

Tadi baca kan ya artikel di blog saya yang saya tulis sebelum ini. Baca kan openingnya? Itu kejadian nyata. Itu doorstop-an wartawan istana di Bogor, kala itu. Dan buat saya, kejadian itu cukup bikin muak. Enggak usahlah repot-repot bicara kinerja dan sebagainya. Cara seorang Foke, Gubernur, berpendidikan, bicara pada gerombolan wartawan yang melakukan doorstop aja sudah cukup menggambarkan, seperti apa kepribadiannya.

Hal itu cukup untuk membuat saya SUPER YAKIN, gak bakalan nyoblos Foke. Meskipun yang bersangkutan cukup percaya diri, coba buka link ini.

Nah, realita ini kemudian memojokkan saya. Jadi haruskah saya golput? Atau Haruskah saya rusak kertas suara itu dengan mencoblosi wajahnya satu persatu, seperti pemilu dan pemilukada yang sebelumnya?

Membaca data dari PoliticaWave ini; Dicatat oleh pihak KPU DKI Jakarta bahwa jumlah warga Jakarta yang tercantum dalam daftar pemilih tetap (DPT), tetapi tidak menggunakan hak pilihnya, tercatat sebanyak 2.555.207 pemilih (dari laman blog PoliticaWave ini). Saya kemudian jadi takut salah. Memilih untuk TIDAK memilih, juga merupakan opsi. Tapi itu merupakan opsi yang terlalu mudah.

Padahal, saya menginginkan adanya perubahan di Jakarta. Karena saya cinta sama Jakarta.

Well, sudah pernah baca buku fotonya Thibault Gregoire “One day In Jakarta”?

 

 

 

(Gambarnya nyomot dari Sini)

Dia, Fotografer asal Belgia, menceritakan berbagai kejutan sepanjang 24 jam di Jakarta lewat foto-foto. Di kata pengantarnya, dia bilang: “Kebanyakan buku panduan wisata menyebut jakarta “Durian Raksasa”. Begitu datang pertama kali, kita bisa saja menyukainya atau tidak. Tetapi, ibarat pertama mendekati sebuah durian, kita harus menembus kulitnya yang keras dan baunya yang menyengat untuk dapat menikmatinya.”

Begitu, kata Thibault. Saya bukan pendatang. Saya lahir dan besar di Jakarta. Meskipun kuliah di Bandung dan sekarang pindah ke Bekasi, tidak membuat saya berhenti berharap pada Jakarta. Sayangnya, Jakarta semakin hari semakin tak terurus. Sekali lagi saya bilang, saya mau ada perubahan nyata.

Tapi apakah memilih salah satu calon gubernur akan menghasilkan sebuah perubahan yang lebih baik?

Sebaliknya, kalau tidak memilih, apakah saya sudah berupaya untuk bersuara demi perubahan?

Galau. 😦

**

Namun, akhirnya saya sadar. Seperti juga jodoh, atau rumah tinggal, atau pekerjaan, atau jurusan kuliah. Pada akhirnya saya harus memilih. Harus.

Bagaimana mungkin, saat dihadapkan pada pilihan jodoh, atau rumah, kemudian saya coblos semua?

Atau saya lari, dan tidak pernah memilih.

Tidak mudah, tapi toh saya bisa juga. tidak ada yang bisa bilang pilihan saya adalah yang paling sempurna, tak ada juga yang bisa menjamin bahwa kedepannya nanti pilihan saya tidak akan melakukan kesalahan.

Tapi apa saya harus menyesal karena menikahi Poento? Atau menyesal karena sudah menandatangani surat akad beli rumah dengan cicilan 15 taun di Bekasi? Atau bahkan menyesal karena sudah memilih menjadi ibu, dan meninggalkan pekerjaan saya?

Saya menginginkan adanya perubahan nyata untuk Jakarta. Tapi toh, siapapun yang saya pilih, dia tidak akan pernah sempurna. Dia juga tidak mungkin mampu melakukan perubahan instan dalam waktu semalam. Dia butuh proses, dan butuh bantuan.

Dari saya. Dari kita semua, warga Jakarta.

Kalo Mario Puzo nulis di The Godfather: “I don’t trust society to protect us, I have no intention of placing my fate in the hands of men whose only qualification is that they managed to con a block of people to vote for them.”

Iya, saya masih harus berpikir demikian. Agar kemudian, saya tetap memilih dan tetap melakukan segala  yang terbaik untuk mewujudkan perubahan yang semua orang impikan.

Jakarta yang lebih manusiawi. Jakarta yang layak dicintai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s