Kalau Hewan Bisa Ngomong….

Gallery

Logis saja….anjing liar itu tidak ada gunanya….Dan bukan pula binatang yg sukar berkembang biak…..
(Twit @arbainrambey, Jumat malam (28/10)

Well yess mungkin dia bener. Tapi nampak konyol saat hewan2 liar itu dimatiin dengan cara diracun, trus digeletakin begitu aja di pinggir jalan, kan?

Enggak kok, saya gak Cuma mau menulis tentang kabar ‘pemusnahan’ anjing liar di Sumatera Selatan,untuk Sea Games. Yang katanya demi pencitraan, dan takut bikin malu di hadapan tamu2 internasional itu. Enggak, gak Cuma itu, maksudnya. Hehehe…

Masalah hewan liar ini, pernah jadi pembahasan hangat antara saya dan beberapa dokter hewan kesayangan. Sejak dulu, dokter hewan keluarga kami, drh Erwin Ahmad Jauhari di Bandung, selalu aja rame teriak2 soal perlindungan hewan liar. “Harusnya memang ada tindakan pengebirian, vaksin rabies gratis, dan disediakan shelter yang mumpuni. Tapi tiap kali kami usulkan, nanti ada aja yang teriak, ah manusia nya aja gak punya itu masa mau ngurusin kucing/anjing,” gitu kata dia. Hehe..iya, pemerintah kita itu nampaknya benar bekerja layaknya tim cewek amatir main bola ya?

Gak ada pembagian tugas. Bola kemana aja, anggota tim semuanya ikutan ngejar. Gak jelas mana penyerang, mana back, mana kiper. Semua heboh kejar bola. Ya gitu juga pemerintah. “Lah elu, kemensos, dinsos, ya tugasnya ya ngurus orang. Gue, sebagai dokter hewan dan dinas peternakan, ya ngurusin binatang lah! Toh ujungnya juga demi kemaslahatan masyarakat!” selalu gitu kalo pak erwin ngomel. Hehehe…

Di Jakarta, Drh Ida, dokter hewan keluarga kami juga, bilang bahwa sebenarnya kebiri hewan liar itu sudah jadi program gratis pemerintah sejak lama. Enggak tau juga sejak kapan. Dia gak bilang dan saya gak nanya. Tapi, menurut bu Ida, yang juga merupakan pns dinas peternakan Jawa Barat, ada dana yang disediakan untuk melakukan kebiri atau steril hewan liar. Karena itu, dia selalu bilang, “Bawa aja kesini kalo nemu kucing/anjing liar, biar saya kebiri, nanti kita lepas lagi. Gratis.”

Jadi program itu, macam program vaksin rabies yang sering diadain setahun beberapa kali. Biasanya drh Erwin juga suka dapet tuh. Jadi misalnya setahun 3 kali, dia dapet vaksin rabies itu dari dinas peternakan. Katanya sih disebar ke beberapa dokter hewan, meskipun gak selalu semuanya kebagian. Entah deh, gimana prosedurnya. Sebab, soal program-program pemerintah ini, sosialisasinya gak saya temuin dimana-mana. A.k.a saat gugling, enggak ada. Yang saya dapet infonya Cuma program2 dadakan kaya di Bali waktu rabies mewabah, dan yaaa…pemusnahan anjing liar jelang sea games itu…:)

Tapi ya, kalo memang beneran ada, dan udah berjalan dengan baik, seharusnya gak perlu kan ada kejadian macam ‘pencitraan sea games’ itu?

Ini yang saya dapet dari Kompas.com :

“Kepala Dinas Peternakan Sumatera Selatan Asrillazi Rasyid mengatakan, pembasmian anjing liar dilakukan karena anjing liar dikhawatirkan menggigit manusia di sekitar kawasan Jakabaring yang akan dihadiri ribuan tamu asing itu. “Kami akan menggunakan makanan yang telah dibubuhi racun untuk membasmi anjing-anjing liar ini,” katanya di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (25/10/2011).

Sasaran pembasmian adalah anjing-anjing yang masih berkeliaran pada malam hari. Para pemilik anjing diimbau untuk menjaga anjing miliknya pada malam hari. Surat edaran terkait hal itu mulai dibagikan Selasa siang ini kepada masyarakat di sekitar Jakabaring. Menurut Asrillazi, pembasmian anjing liar akan berlangsung hingga SEA Games berlangsung. Selama ini, Dinas Peternakan Sumatera Selatan telah melakukan pembasmian anjing liar secara berkala. Anjing-anjing tersebut dibunuh sebagai antisipasi penularan rabies.”

Mampus ya bacanya? Diracun men….

Pernah gak liat binatang diracun, yang racunnya diselipin di makanannya? Saya pernah. Hasilnya? Enggak semua hewan langsung mati. Seriously. Ada hewan yang, entah mungkin badannya cukup kuat, membutuhkan waktu yang cukup lama buat menggelepak2 kaya ikan dikeluarin dari air, sampe akhirnya mati. Selama itu, bisa ngebayangin gak betapa tersiksanya dia?

Akhirnya, yang pertama terlintas di kepala saya adalah: kalo emang mengancam, dan berbahaya, kemudian jalan satu2nya adalah dibantai ya disuntik mati kek, atau ditebas lah palanya kaya hewan qurban. Kan langsung mati, gak sempet tersiksa dulu. Gitu juga kata Prof Dr I Gusti Ngurah Mahardika, dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Membinasakan anjing, asalkan dengan cara yang ‘manusiawi’ yakni euthanasia dengan preparat barbiturat. Sayangnya, Indonesia belum punya, sementara izin untuk mengimport preparat tersebut hingga kini belum diberikan oleh Departemen Pertanian. “Selama ini anjing dibunuh dengan racun strichnin yang tidak manusiawi karena matinya lama sehingga sangat menyiksa. Barbiturat membunuh anjing secara perlahan karena berupa obat bius, hanya saja dosisnya lethal atau mematikan,” ungkap Prof Mahardika.

Lagipula, kata dia, kecenderungan ‘panik rabies’ umumnya terjadi pada masyarakat perkotaan yang memiliki akses informasi lebih baik terkait bahaya rabies. Hal ini kadang menyebabkan reaksi berlebihan, ada yang luar biasa panik meski yang menggigit anjing peliharaannya sendiri. Sedangkan jika yang menggigit adalah anjing liar, ada kecenderungan masyarakat untuk menangkap anjing tersebut lalu membunuhnya. Padahal ada banyak hal yang menyebabkan anjing menjadi agresif, bukan hanya karena terkena rabies. Untuk mengetahui apakah anjing itu positif rabies, anjing itu seharusnya ditangkap lalu dikarantina selama 1 minggu. Jika positif terinfeksi, anjing itu akan menunjukkan gejala klinis rabies dalam masa karantina.

Waktu kejadian pembasmian anjing di Bali, tahun lalu, juga pernah ada berita:

“Bali Animal Welfare Association (BAWA). Lembaga non-profit yang berkantor di Jl Monkey Forest 100X, Ubud, Bali itu menilai bahwa membasmi rabies tidak berarti harus dengan membasmi anjing. BAWA mendasarkan penolakannya pada pernyataan WHO tahun 1992, bahwa di negara manapun pembasmian anjing belum pernah terbukti efektif memusnahkan rabies. Pembasmian secara massal dinilai justru akan membuat masalah menjadi lebih buruk.

“Jika anjing liar dibasmi, populasinya di suatu wilayah akan menurun dan menyebabkan kekosongan pada rantai makanan. Kekosongan ini justru mengundang anjing liar dari wilayah lain untuk datang sehingga meningkatkan risiko penularan rabies pada anjing sehat,” ungkap Janice Girardi, direktur BAWA saat ditemui detikHealth, Kamis (28/10/2010). Meski menolak pembasmian anjing, Janice sepakat untuk membinasakan anjing yang positif rabies karena memang tidak mungkin disembuhkan dan berpotensi menularkan pada manusia maupun anjing lain. Namun tetap tidak boleh sembarangan, harus dibunuh perlahan dengan cara yang ‘manusiawi’ yakni euthanasia.

Konsekuensi dari euthanasia (suntik mati) juga harus disadari, yakni berkurangnya populasi anjing seperti halnya pada eliminasi atau pembasmian anjing. Selain mengundang anjing liar dari wilayah lain, kali ini Janice menekankan kaitannya dengan pola reproduksi. “Keseimbangan pada rantai makanan juga bisa menyebabkan anjing-anjing mendapatkan makanan lebih banyak. Karena mendapatkan nutrisi berlebih, reproduksinya cenderung meningkat dan akibatnya akan ada lebih banyak anjing yang tidak terawat,” ungkapnya. Untuk itu, BAWA juga memiliki program pengendalian populasi yang diklaim lebih manusiawi daripada membunuh anjing yakni lewat sterilisasi. Pada anjing betina tindakannya berupa pengangkatan organ reproduksi sementara pada anjing jantan berupa kebiri atau kastrasi.”

Means, penanggulangan rabies sama kaya penanggulangan penyakit manusia lainnya. GAK MUNGKIN INSTAN. Kasarnya nih ya, kenapa juga, kalo pemerintah khawatir dengan penyakit TBC atau HIV/AIDS yang mudah menyebar, trus gak ada tindakan pembantaian pasien penderita? Enggak kan? Gak mungkin hal itu jadi opsi. Kenapa hal itu dilakukan sama hewan? Dengan cara yang sangat sadis pula…

So, kalo memang sudah ada program kebiri gratis, vaksin rabies gratis, ya disosialisasikan. Ya dikerjain. Karena butuh waktu bertahun-tahun menyelesaikan masalah macam ini. Itu iklan WASPADA RABIES anjing, kucing dan monyet di depan kelurahan pasar minggu, udah saya liat dari masih usia SD, sampe besinya karatan, gambarnya ilang dan akhirnya dicabut. Kenapa masalahnya enggak selesai-selesai?

Dari kucingkita.com:

“Di Amerika serikat, lebih dari 50.000 anak kucing & anjing lahir setiap harinya. Dari sekian banyak anjing dan kucing ini hanya 1/5 nya yang bisa mendapatkan rumah, sisanya berkeliaran secara liar, terabaikan atau mendapat perlakuan kasar. Setiap tahunnya, 6-8 juta anjing & kucing ini masuk penampungan hewan dan sekitar setengahnya (3-4 juta) harus di euthanasi karena tidak ada yang ingin memelihara mereka.”

Tapi, di Amerika Serikat terdapat sekitar 4.000 – 6.000 penampungan anjing & kucing. Bandingin sama Indonesia yang cuma punya beberapa penampungan hewan. Coba ya, itu di AS aja, udah punya shelter, udah program kebiri, bahkan udah di suntik mati segala, masih jadi masalah. Trus sekarang di Indonesia, mau gampang aja gitu ngebasmi.

Tapi ya kembali lagi lah pada prinsip awal bahwa pemerinta kita itu gak kepengen melakukan apa2. Akan jadi percuma untuk mengutuk mereka dan Cuma bisa mencerca. Turun dan lakukan sesuatu, mungkin akan jauh lebih baik ya…

Sampe sekarang, selain fauna welfare yang sedang memperjuangkan adanya hak-hak hewan, ada juga ‘Indonesia Peduli Kucing” yang mencanangkan program “Adopsi 1 kucing untuk 1 rumah”. Se simple itu kok. Ya memang pasti lama, tapi seenggaknya ada kan yang dilakuin. Atau bisa juga cari tau, mana dokter hewan yang mau kebiri anjing/kucing lokal dengan Cuma-Cuma. Kaya dokter hewan keluarga saya itu, Drh Ida Lestari Soedijar. Dia mau dan selalu welcome kok untuk mengebiri, gratis.

Rabies atau penyakit2 zoonosis lainnya itu memang berbahaya, dan mengkhawatirkan. Siapa sih yang nyaman ngeliat anjing2/kucing2 liar berkeliaran, dengan berbagai ancaman? Entah rabies, entah toxoplasma, atau bahkan Cuma gangguan kecil macam ketidaknyamanan makan karena direcokin. So, then, do something! Batasi populasinya, vaksin teratur, sediakan shelter, insyaAllah manusia dan hewan sama2 hidup sejahtera….

Waktu ketemu nyaris mati…

Kemudian, alhamdulillah….jadi begini:

3 responses »

  1. Pingback: Kucing Hadiah Ramadan | My -FreeTime- Writing Domain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s