Belajar dari Rendra..

Gallery

Dulu, waktu kecil, papa suka nyuruh saya baca puisi, dan doi main gitar. Abis itu hasilnya direkam, dan diputar ulang, buat ngasitau intonasi-intonasi yang harusnya lebih ditekan, atau lebih light dsb.

Itu adalah kegiatan favorit ayah-anak perempuan, yg pnah kami lakukan.

Kebanyakan puisi yang disodorkan ke saya adalah puisi gubahan Rendra. Si burung merak, yang kini sudah meninggal.

Dia, adalah seniman favorit kami. Orang yang pertunjukkan baca puisi dan bengkel teaternya selalu kami nanti..

Sajak favorit saya dan papa adalah
Sajak seonggok jagung

Ini dia:

Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu,sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
Ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,para wanita dengan gendongan pergi ke pasar ………
Dan ia juga melihat suatu pagi hari di dekat sumur gadis-gadis bercanda sambil menumbuk jagung menjadi maisena.

Sedang di dalam dapur, tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda.Ia siap menggarap jagung. Ia melihat kemungkinan, otak dan tangan siap bekerja

Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda tamat SLA Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.

Seonggok jagung di kamar tidak menyangkut pada akal,tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar tak akan menolong seorang pemuda yang pandangan hidupnya berasal dari buku,dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,dan hanya penuh hafalan kesimpulan,yang hanya terlatih sebagai pemakai,tetapi kurang latihan bebas berkarya.

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,atau apa saja,bila pada akhirnya,ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”

Tim, 12 Juli 1975
Potret Pembangunan dalam Puisi

Papa sering mengulang2 sajak itu buat saya. Dia cerita, belajarlah seperti burung. Terbanglah kesini, kesana, mendaratlah disana, disini. Lihat. Rasakan..
Itu namanya belajar.

Bukan di bangku sekolah saja. Karena itu gak cukup.

Sedih ya kalo mengingat skarang, orang2, guru, anak2 sekolah plus orangtua nya cuma mikirin gimana caranya tu anak lulus sekolah. Gimanapun caranya. Curang kek, jujur kek. Yang penting lulus.

Karena lulus, artinya, dapat melanjutkan jenjang pendidikan, dan kemudian bekerja di tempat bonafid, menghasilkan uang banyak. Tanpa peduli akan jadi apa lingkungannya. Dan jika gagal, dia cuma jadi pemuda SLA dengan seonggok jagung di kamarnya. Enggak tau harus ngapain…

Trus mau sampai kapan nyalahin pemerintah, krn bikin sistem UAN yg dianggap susah? Karena udah bikin anak SD, yang harusnya main dan eksplorasi banyak hal, jadi belajar hal2 yang berat? Pemerintah, gak usah dituding2, emang udah pasti salah. Tapi trus? Mau apa?

Ya harusnya maju aja..

In my humble opinion, rasanya gak harus segitunya cuma buat ngebelain bangku sekolah. Iya, kita wajib sekolah. Wajib. Tapi kalo budaya curang udah dimulai dari kecil, ya gedenya mereka juga cuma bakalan jadi birokrat atau pengusaha yang bentukannya macam sekarang ini.

Eniwei,
Sekarang saya jadi ngeh, orang2 cerdas di sekitar saya, kawan, boss, narsum,gak selalu pemegang ranking 1 di kelasnya dulu. Tapi dia ada. Ada di dunia. Dia membaca, dia berkeliling, dan kemudian paham lalu meresapinya.

Mereka, itu orang2 yang berani. Iya, berani melawan ketakutannya. Berani keluar dari kotak nyamannya. Berani menempuh perjalanan panjang yang melelahkan. Gak takut sama panas, sama hujan.

Biasanya, karena itu, mereka punya jiwa besar yang kuat..
Dan pastinya, cerdas.

3 responses »

  1. Postingan ini, telah menginspirasi saya hari ini. Hari ketika saya mengenal sajak Seonggok Jagung. Saya tersakiti oleh sajaknya. Tapi mencoba sama humblenya dengan dirimu. Saya juga baru ngeh, betapa merugilah waktu saya terbuang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s