Indonesia masih punya harapan, teman..

Gallery

Berapa uang yang anda keluarkan setiap bulannya buat bayar keamanan, sampah dan RT?

Biasanya Rp 40 ribu keatas kan?

Saya gak. Di Otista, jalan pedati ini gak ada yang harus dikeluarkan untuk biaya rutin bulanan itu. Tinggal disini, Cuma harus bayar 70 ribu untuk keamanan/tahun, RT dan lain-lainnya juga gak ada. Nah, bayar sampah ini lain lagi urusannya. Kalau biasanya bayar sampah sekitar 20 ribu-an bahkan lebih, tinggal disini Cuma ada kata “Seikhlasnya”

Dan itu gak main-main.

Karena, seperti kata pak RT, rata-rata penduduk sini bayar sampah hanya Rp 5.000-10.000 per bulan, itu juga kalau mau. Kalau ingat. Kalau sempat. Kalau tidak? Yasudah, sampah tetap mereka letakkan di depan rumah dan setiap hari tetap diangkat oleh pak tukang sampah yang berjalan jauh dari ujung jalan sambil menggeret-geret gerobaknya yang kepenuhan. Sudah pasti saya sih gak akan bisa melakukan itu. Berat soalnya.

Murah kan? Sangat! Karena itu, saya, sekuat tenaga berusaha membayar sampah sebelum si bapak tua itu jerit-jerit depan pagar teriak “Sampaaaah…sampaaaah” sebagai bentuk penagihan. Selain itu, karena mengingat perjuangan beratnya dan jumlah uang yang sangat sedikit itu juga saya seringkali berusaha untuk melebihkan jumlahnya. Misalnya membayar Rp 15 ribu.

Tapi air mata saya pernah menetes. Kejadiannya sebulan lalu. Saya tidak punya uang pas, yang saya genggam adalah selembar uang Rp 20 ribu. Akhirnya saya lungsurkan selembar-lembarnya itu sambil bilang “Sudah ambil aja, pak”…jadi apa yang buat saya menangis? Jawabannya. Dia bilang “Jangan” sambil merogoh saku dan mengeluarkan uang Rp 10 ribu. Saya menolak dan memaksa. Tapi dia lebih kekeuh lagi.

Saya melongo.

Sambil mempertanyakan. Kenapa sifat jujur seringkali malah muncul dari si papa? Kenapa dia, yang miskin, dan bekerja dengan keras, malah menolak uang yang -dia anggap- seharusnya tidak dia terima. Kenapa malah dia yang bau dan mendapatkan penghasilan dari buangan kita, yang punya harga diri untuk tidak menerima jumlah yang tidak dia kerjakan?

Panik. Iya, sontak saya panik. Ternyata pikiran buruk saya selama ini mendapatkan jawaban. Indonesia masih punya harapan, teman. Masih ada. Karena masih ada orang jujur, masih ada orang baik. Rasanya pengen saya jitak kepala si bapak tukang sampah itu, sambil ngomong “Ambil pak, saya ikhlas kok. Saya juga masih ada uang..”

Tapi gak mungkin kan? Akhirnya saya senyum dan saya bilang “Barakallah,” balik badan dan mewek. Dia melengkapi tokoh-tokoh saya. Orang-orang yang saya jadikan penyemangat bahwa Indonesia ini masih punya harapan.

Mereka itu, dua orang dokter hewan saya yang gak kaya-kaya. Drh Erwin di Bandung dan drh Ida di Jakarta. Karena seringan ngasih gratis ketimbang mahalin harga. Yang mau keluar rumah tengah malam dan bantuin pemilik hewan nyusahin macam saya. Mereka yang mau ikut mengurus kucing-dan anjing terlantar, for free. Ada juga ibu saya, yang mengikhlaskan hari tua nya untuk memperbaiki stigma “Napi pasti tetap jadi penjahat sampe mati”, dengan dateng ke LP Cipinang seminggu dua kali, ngajar ngaji, gratis gak dibayar. Ibu mertua saya, yang juga selalu mau jalan ke kampung-kampung buat nawarin les gratis ke orang miskin. Hmm..Oiya tukang cuci disini juga jujur, dia mencuci dengan benar, dia juga selalu mengembalikan uang kembalian kalau kita minta nitip beliin pemutih.

Orang-orang itu, bukan orang yang setiap hari mencela kinerja pemerintah dan DPR di twitter, bukan orang yang percaya semua informasi TIDAK berimbang dari media dan menelannya mentah-mentah, bukan orang yang ada di barisan paling depan aktivis yang suaranya paling kencang saat demonstrasi, tapi mendadak hilang saat diminta membuktikan. Mereka sudah membuktikan. Memulai hal paling kecil dari dirinya sendiri, dengan bersikap jujur dan amanah.

Sikap mereka itu menginspirasi saya. Dan sekarang jadi tugas saya untuk membaginya dengan orang banyak. Pay it forward. Membalas kebaikan dengan menyebarkan kebaikan-kebaikan lainnya kepada orang lain. Semoga ada juga orang yang mau membaca dan melanjutkan ritme kebaikan dari para tokoh saya itu,,,

Lalu apa yang saya lakukan untuk membalas kebaikan si bapak tukang sampah?

Saya Cuma bisa memisahkan sampah organik dan non organic dari rumah saya. Semoga bisa meringankan tugas dia, jadi ada waktunya untuk sedikit selonjor dan menyeruput kopi hitam yang mengepul di samping istrinya…

One response »

  1. yasmin yang aih, gw tersentuh sangat dengan banyak tulisan di blog ini
    moga blog lo ngedatengin banyak manfaat buat pembaca (haseekk)!
    ditunggu episode2 selanjutnya ya kak Ros…. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s