Indonesia : Happily Ever After

Gallery

(From FB’s note, February 23rd 2010)

“Gila! Gue jadi males kerja!” Gitu teriak suami saya, beberapa waktu silam, waktu perjalanan pulang dari gedung pantat ijo di senayan, jemput saya yang terdampar sampai tengah malam. Rupanya dia menunggu saya di parkiran bersama supir2 anggota dewan. Supir-supir itu, kata dia, saling bertukar cerita. Tentang boss-nya tentu. Cerita2 busuk yang buat suami saya mual.

Mual. Karena dia setiap hari bekerja dari jam setengah delapan pagi sampai jam 5 sore, buat memeriksa perusahaan-perusahaan besar yang masuk kategori pembayar pajak di kpp madya. Bekerja sampai pusing, sampai kadang-kadang masih bawa tumpukan kertas yang isinya angka semua kerumah, buat menagih pajak, dan mengisi pundi-pundi anggaran negara. Pundi-pundi yang ujungnya buat membiayai pembangunan, gaji pejabat dan gaji sampai dana pensiun seumur idup anggota parlemen. “Kalo kerjanya pada bener sih, semangat deh gue ngumpulin duitnya. Tapi kalo pada begitu..hiiiihh..” Katanya sambil begidik. Saya senyum, sudah malas komentar.

Dan kemarin, dia cerita lagi soal suasana kantornya. Ada seorang temannya yang memeriksa perusahaan lokal yang tak sebegitu besarnya, tapi juga tidak kecil dengan tagihan pajak yang cukup besar, miliaran. Tapi katanya, supervisor kantornya malah ngomelin orang itu. “Kasian le, kalo dihabisi begitu, kebayang kan dia harus pecatin karyawannya? Dosamu jadi banyak le! Kalo perusahaan asing sih gapapa, kita itu ambil telurnya bukan ngebunuh ayamnya!”. Sayangnya, dia bilang, kebanyakan perusahaan asing itu punya uang lebih buanyak lagi buat menyewa para jagoan konsultan pajak dari perusahaan asing terkenal, yang malah mengancam para petugas pajak atau melakukan trik-trik agar tak bayar pajak sesuai keharusannya. Hehe..kaya makan simalakama ya?! Dengan target tinggi, si poe, suami saya, harus mengejarnya dengan memeriksa pajak semua perusahaan. Namun seringkali suasana hatinya buruk kalau ingat beberapa perusahaan asing dan intriknya, atau beberapa perusahaan lokal besar yang bs masuk ke jajaran parlemen dan pemerintah untuk mengubah aturan agar tak kena pajak, serta perusahaan lokal besar tapi kecil yang tak sanggup bayar pajak karena usahanya tersendat-sendat, serta beban gaji karyawan, yang kalau dipecat sudah tentu menambah pengangguran dan menciptakan kejahatan baru. Apalagi kalau ingat, semua uang yang dikumpulkannya dengan kegalauan itu, ujung2nya ga dipake buat kesejahteraan rakyat, karena angka kematian, kemiskinan masih tinggi. Infrastruktur masih kacau dan korupsi masih bebas melanglang buana di setiap lini.

Kasian juga saya liat poe, ada bimbang yang kerap dibaginya setiap pulang kerja. Ada galau menggelayuti pikirannya. Saya cuma bisa senyum. Saya cuma bisa masakin dia seadanya, ngajak dia ntn dvd lucu, dan main sama kucing-kucing yang hidupnya nyaman tanpa beban. Karena saya sendiri? Ya itu juga yang saya hadapin. Kenyataan tentang carut marutnya Indonesia. Sialnya, itu harus saya nikmati dan tuliskan, sampai banyak orang jadi tau, dan saya rasa bukan membuat rakyat jadi pintar, tapi justru bikin rakyat jadi pusing. Jadi pesimis. Atau bahkan merasa habis..

Saya jadi ingat nonton film “hook” disela bengongisasi-nya kantor wapres, suatu siang. Peter pan, yang akhirnya memutuskan buat tumbuh dewasa, menikah, bekerja dan punya anak itu sampai lupa caranya terbang, caranya berkokok, caranya perang tomat busuk, sampai caranya menikmati khayalan. Padahal, seorang peter pan, adalah ikon yang mengingatkan saya dan mungkin banyak orang, tentang cara menikmati kehidupan. Dia yang tak mau tumbuh dewasa dan kesepian seperti kapten hook itu bisa melakukan semua hal karena dia anak-anak, dan anak-anak adalah anak-anak yang penuh khayalan tanpa beban di kepalanya.

Sampai ke scene tinkerbell ngingetin peter caranya terbang, saya tertegun, “pikiran bahagia dan sedikit bubuk peri. Itu yang bisa membuat kamu terbang”…dan peter dewasa, sangat-sangat kesulitan menemukan pikiran bahagianya. Huuufff..mungkin ini dia masalah kita semua, wahai orang (sok) dewasa! Menemukan pikiran bahagia, happy thought.


Ini, mungkin, yang membuat hidup kita jadi serba ruwet, serba semerawut, dan serba curang. Banyak hal-hal kecil yang semestinya bisa membangkitkan semangat, tapi terlewat begitu saja, karena kita menganggapnya terlampau kecil. Banyak senyum yang kita acuhkan. Banyak uluran tangan yang kita tepis. Banyak kisah cantik yang jadi tampak tak menarik. Kita kehilangan daya khayal, dan kehilangan pikiran tentang kebahagiaan…

Akhirnya, di film itu, seperti wajibnya film anak-anak, berakhir bahagia. Peter berhasil menemukan happy thought-nya, dan pulang dengan rasa bahagia serta kepercayaan akan hidup yang lebih menyenangkan…

Semoga kisah Indonesia pun seperti itu. Saat semuanya bisa menemukan pikiran bahagia, setiap hari, saya rasa, buku sejarah kita bisa bertuliskan “happily ever after..” Dengan jujur, bukan cuma pencitraan….;)

One response »

  1. Pingback: Kamu Gak Cocok Kerja di Air! « My -FreeTime- Writing Domain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s