English Version is here
Tentang kesepian pemimpin, ADHD, dan alasan saya memilih memimpin dari akar
‘It’s lonely at the top,’ kata orang-orang. Menjadi pemimpin itu sering kali diasosiasikan dengan rasa kesepian, bahkan ada penelitian dari Gallup’s 2026 State of the Global Workplace yang yang menyatakan bahwa rasa kesepian beneran meningkat di tingkat tertinggi kepemimpinan dalam dunia kerja.

Sepertiga pemimpin menyatakan bahwa mereka merasakan kesepian yang signifikan belakangan ini. Apalagi dengan situasi kerja yang sekarang semakin individual di setting urban seperti saya. Angkatan kerja yang multigenerasi, bisa kerja hybrid, AI, dan makin susah menemukan waktu untuk nongkrong, sekadar ngobrol tanpa tujuan ‘berjejaring’ dengan kolega. Iya, seneng banget semua disebut kolega, ya, sekarang, bukan lagi ‘teman’ yang rasanya lebih hangat.
Saya juga sering kok merasa kesepian. “I feel like I’m carrying this alone.” mungkin lebih tepat untuk menggambarkan rasa kesepian yang saya rasakan. Mungkin enggak literally, ya, karena saya punya tim yang luar biasa banget dalam melakukan pekerjaannya. Lebih ke rasa tanggung jawab yang secara otomatis membuat saya merasa harus menjadi yang paling kuat.
Maka dari itu, saya jadi enggak membagi rasa lelah dan berbagai perasaan lainnya. Saya menyimpannya sendirian, supaya orang-orang merasa aman. Jadi bukan karena enggak ada yang berbagi pekerjaan dan semuanya saya harus kerjain sendiri. Tapi justru karena ingin melindungi semua orang dari tekanan, saya enggak membuka diri supaya ada orang lain yang juga bisa melindungi saya.
We protect people from things they don’t even know are happening. We’re the last to go to bed and the first to worry. We see everything — but rarely feel seen.
Jalan sendirian dan kesepian? ADHD sepertinya sudah terbiasa.
Tapi kalau saya pikir-pikir ya, rasa kesepian ini enggak terjadi baru-baru ini aja kok. Saya sudah lama merasakan ini, sebagai orang dengan ADHD. Saya punya cara pikir yang berbeda dengan kebanyakan orang, saya biasa mengintegrasikan segala hal dan berpikir strategis jauuuuh ke depan, yang bahkan membuat orang-orang kesulitan memahami keputusan-keputusan saya.
Dari dulu juga saya kan selalu dibilang aneh dan keputusan yang saya buat jadi terasa tidak populer, bahkan kontradiktif. Sering kali nyusahin, tanpa orang lain paham, ‘Mau ke mana sih ni orang, kok malah ngerjain hal-hal yang kaya gini?’ karena sering kali, kalau kata lagu Live Forever-nya OASIS, we see things they’ll never see.
Kesepian itu berbahaya, maka saya berubah
Hingga akhirnya, sekitar lima tahun lalu, saya ngobrol sama salah satu anggota tim saya yang emang jadi think tank untuk mengonsep segala hal di AKAR. Dia bilang, “Kamu itu sibuk jagain setiap orang, satu per satu dicek, dipastikan aman. Terus, siapa yang jagain kamu?” Omongan itu nempel banget di otak saya, sehingga saya kemudian berpikir ulang tentang cara saya memimpin.
Kalau saya selalu kelihatan kuat, enggak pernah terlihat rentan (padahal yang namanya manusia itu sarat dengan kerentanan), enggak banyak mengekspresikan perasaan, dan enggak pernah minta di-support siapa pun, apa iya saya bikin tim saya merasa aman secara psikologis? Bukankah mereka malah akan merasa bahwa pemimpinnya selalu kuat, meski badai apa pun menerjang, artinya mereka juga enggak boleh mengekspresikan perasaannya?
Orang-orang di sekitar kita itu kan seperti cerminan diri, ya? Apa iya saya mau punya tim yang enggak pernah merasa sedih, butuh pertolongan, enggak pernah capek, dan enggak pernah merasa putus asa, meskipun semua itu dilakukan dengan babak belur, tidak sepenuh hati, karena mereka hanya ingin terlihat perform, seperti pemimpinnya?
Rasanya saya enggak mau, deh. Saya mau punya tim yang tulus. Orang-orang yang walk the talk, enggak jadi orang yang beda di depan saya, tapi mengeluh dan mencaci di belakang saya. Saya mau mereka bisa menunjukkan kerentanannya, yang bisa saya dan semua orang di tim peluk, supaya kemudian bisa bertumbuh, justru lebih kuat lagi dari biasanya, karena setiap pekerjaan dilakukan wholeheartedly dengan tujuan yang lebih besar dari dirinya.
Alasan lahirnya konsep Genuine Leadership
Sering kali kita melihat dan belajar soal “Customer Experience”, atau “Employee Experience”, tapi “Leadership Experience” ?? It’s met with silence, and that silence has consequences.
Tanpa dukungan, refleksi, dan sebuah tempat yang mengizinkan semua orang, termasuk pemimpinnya, untuk menjadi manusia, artinya tempat itu hanya akan dipenuhi orang-orang yang burnout dan leadersnya bahkan akan terputus dari orang-orang yang seharusnya mereka pimpin. Lah, kan, kami ini sistemnya berlandaskan koneksi. Masa iya internalnya malah tidak terkoneksi?
Cita-cita saya kan ingin mengangkat setiap orang agar mampu jadi pemimpin yang baik, di mana pun mereka berada. Kalau di tempat kami juga enggak diizinkan untuk jadi manusia, bagaimana mereka bisa memimpin manusia dengan cara yang sangat manusiawi? Maka saya mulai menyuarakan “Merawat mereka yang melakukan perawatan”, ya, karena industri kami kan pendidikan dan perawatan.
Pekerjaan kami utamanya adalah memastikan anak-anak tumbuh dan thrive di mana pun mereka berada. Bagaimana orang-orang yang tidak diizinkan bertumbuh untuk bisa thrive bisa mengasuh anak-anak agar bisa thrive? Kan enggak masuk akal.
Saya percaya, kepemimpinan bukan sebuah jabatan. Bukan soal berada di puncak. Kepemimpinan adalah tentang menjadi diri yang nyata, berakar, dan terhubung, kepada diri sendiri, kepada tim, dan kepada tujuan yang membawa siapa pun sampai ke sini.
Kepemimpinan biasanya bertanya: “Bagaimana saya memimpin orang lain secara efektif?”
Kepemimpinan Genuine bertanya: “Bagaimana saya memimpin diri saya sendiri terlebih dahulu?”
Karena inilah kebenarannya: Kita tidak bisa meregulasi orang lain jika kita sendiri tidak teratur. Kita tidak bisa menciptakan koneksi jika kita terputus dari diri kita sendiri.
Tidak lagi kesepian, karena saya tidak lagi berada ‘di atas’
Genuine leadership yang saya ciptakan tidak membuat para pemimpinnya ada di ‘top position’, justru di bawah, seperti pohon, di AKAR-nya. Karena tugas kami bukan ‘menunduk dan menunjuk’, melainkan memastikan setiap elemen mendapatkan nutrisi yang paling penting untuk mendukung pertumbuhan semuanya secara simultan.
Maka rasanya tidak lagi sepi. Kami bisa selalu duduk bersama, dan membicarakan hal-hal yang bahkan sangat personal, tanpa memengaruhi pekerjaan yang kami lakukan. Kami tahu bahwa tidak hanya perkara kinerja sesuai job description yang kami lakukan, tetapi juga menyuburkan value menjadi culture karena kita punya tujuan dan cita-cita yang sama.
Saya tau, kita ini sudah terbiasa banget dengan hierarchical system selama ini. Jadi memang cukup tricky untuk mengubah pola pikir sampai berani terlihat rentan dan menjadi lebih genuine. Tapi saya juga tau, bahwa merasa kesepian itu enggak enak. Tidak seharusnya ada manusia yang harus menanggung semuanya sendirian. Siapa pun, baik pemimpinnya maupun anggota timnya.
Maka ketika semua orang seperti obsesif dengan performa, rasanya memilih koneksi sebelum rasa terisolasi justru merupakan tindakan yang paling berani dan paling kuat. Ya gak?

Leave a Reply