English version is here
Saya mendirikan AKAR Family dan seluruh unit di dalamnya secara bertahap sejak 2015. Awalnya hanya ROOTS Daycare, kemudian unitnya bertambah menjadi ROOTS Daycare Corporate di Bank Indonesia. Setelah banyak permintaan untuk menyediakan frozen food agar memudahkan orang tua menyiapkan makanan sehat untuk anak-anak di akhir pekan, akhirnya kami menghadirkan Healthy Roots.
Tidak lama kemudian, kami merasa harus membuat komunitas sebagai wadah untuk orang tua belajar dan saling berbagi, maka kami menginisiasi Parenting is Easy. Karena anak-anak di daycare kami sudah mulai besar dan membutuhkan sekolah, kami kemudian mendirikan Roots Preschool and Kindergarten. Ketika itu, rencananya pada 2020, kami ingin mulai merapikan sistem dari kurikulum hingga keseluruhan sistem yang memayungi unit.
Sayangnya, pandemi menyerang. Akhirnya, kami harus bertahan agar tidak memecat dan tidak gulung tikar dengan berfokus pada jualan makanan lewat Healthy Roots, menyelenggarakan berbagai event online dari Parenting Is Easy, dan berupaya tetap menyelenggarakan sekolah dan membuat produk khusus sekolah online bernama School of Connection. Saat itu kami juga berjualan kit belajar dan kami beri nama MyRootsy Kit.
Karena obrolan dari komunitas orang tua jadi banyak bergeser ke kepedulian terkait krisis iklim, maka kami pun mengonsepkan wadahnya dan memulai dengan kampanye kolaborasi dengan berbagai brand, organisasi, hingga kedai kopi terdekat. Kami menamai gerakan ini: PERI BUMI. Awalnya hanya pelatihan bersama dengan mitra-mitra ahli yang biasa bekerja bersama kami, sekarang Peri Bumi jadi gerakan yang cukup besar di skala nasional dengan fokus pada pendidikan keluarga: ibu dan anak hingga anak muda, melalui beberapa program utama.
Pandemi berakhir. Daycare dan sekolah bisa hidup kembali. Kami mulai sibuk dan situasi cukup ruwet karena market tiba-tiba mencari, dan center kami sangat penuh. Jadi Parenting is Easy, School of Connection, dan MyRootsy kit pun hiatus. Kami fokus pada Roots Learning Center: daycare, preschool dan kindergarten, Healthy Roots, dan Peri Bumi. Hingga akhirnya kami pun perlahan menata sistem sehingga lahirlah MyRootsy App.
Udah kebayang ya isi kepala saya yang penuh ini? Karena sebetulnya, kami pun menyediakan banyak layanan dari unit-unit tersebut: daycare overnight dan weekend, afterschool classes, weekend classes, hingga menyewakan tempat untuk digunakan oleh vendor di akhir pekan.
Pasar kami sebetulnya cukup niche karena kami membuat sendiri semua kurikulum dan sistem berdasarkan pendekatan berbasis koneksi. Maka semuanya, mulai dari lesson plan, kebijakan, standar kualitas, panduan, SOP, checklist hingga sistem HR untuk induksi dan penilaian staf, berlandaskan pendekatan koneksi.
Tentu BUWANYAAAK SEKALI. Teman-teman dekat saya sering bercanda dan meledek seraya bilang “Kayaknya elo mendingan bikin negara sendiri, deh. Udah lengkap ini buat jadi negara!” Hehehe… begini kali ya kalau seorang ADHD yang pernah jadi jurnalis dan paham betul bahwa negara carut-marut ini lacks system and implementation.
Belajar dari banyak institusi di berbagai negara
Karena itulah saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi berbagai institusi pendidikan, organisasi, atau gerakan di berbagai negara untuk belajar mengenai pengelolaan sebuah tempat yang membuat sistemnya sendiri. Biasanya hasil belajar dari berbagai teori, kemudian dipadukan dengan realitas yang dibutuhkan oleh masyarakat di sekitarnya.
Persis seperti Loris Malaguzzi waktu menginisiasi pendekatan Reggio Emilia, LEGO waktu menginisiasi play-based learning, atau New Zealand ketika menyusun Te Whāriki?
Salah satu yang paling berkesan dan paling baru yang saya kunjungi adalah sebuah center bernama LEARN LIFE di Barcelona.
Saya tahu Learn Life dari Lisa yang ngajakin saya podcast awal tahun 2026 di Leadermorphosis. Lisa tinggal di Barcelona, dan dia juga sudah pernah ngobrol dengan tim dari Learn Life. Dia cerita bahwa sekolah itu mirip sekali dengan cara berpikir saya, dan mereka juga cukup nyeleneh dengan bikin sistem sendiri.
Saya janjian sama Mich siang itu di bulan Juni 2026, untuk ketemu di Urban Hub di tengah kota Barcelona. Sebetulnya, Urban Hub ini khusus untuk anak usia SMP dan SMA. Mereka punya tiga buah hub, dan sekolah untuk anak-anak kecilnya ada di wilayah yang punya lahan lebih luas, di Eco Hub. Jauh dari pusat kota, jadi ya udah saya ke Urban Hub aja.

Di sana saya belajar soal integrasi pendidikan yang benar-benar terinternalisasi di dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi culture yang dijalankan oleh setiap murid, staf, dan keluarga yang terlibat di Learn Life. Saya terus-terusan berdecak kagum selama 90 menit saat ditemani Mich berkeliling hub.
Sekolah kecil di sebuah ruko
Hub ini lebih mirip learning hub untuk komunitas atau working space untuk orang dewasa yang bekerja. Enggak mewah dan lengkap dengan fasilitas seperti lapangan basket, lapangan bola, kolam renang dan sebagainya. Ruko dua lantai yang berkelok-kelok, dengan loker yang bahkan enggak ada kuncinya.

Mich bilang, “Kami ini sekolah komunitas, harus didasari trust. Kalau semua harus dikunci, maka kamu enggak percaya sama komunitasmu sendiri, buat apa?” Mau nangis dengernya. Rasanya mirip seperti mendengar cerita salah satu pengajar preschool di New Zealand yang saya kunjungi pada 2024, ketika saya bertanya soal halaman becek dan dingin karena hujan, dan anak-anak tetap bermain di halaman, yang biasanya akan dihujat karena enggak safety, dia bilang “Anak-anak belajar dari pengalaman, kalau mereka jatuh, atau terpeleset, mereka akan belajar supaya enggak mengulanginya lagi. Kenapa harus dilarang?” Sementara di Jakarta, berani-berani ngajak anak main hujan sih selesai ya, pasti kena maki habis-habisan sama orang tuanya.
Di Learn Life, ada dapur yang juga jadi ruang kelas. Bukan, bukan cuma belajar masak, tapi anak-anak belajar geografi dan sejarah di dapur itu, sambil memasak. Setiap bahan masakan, jadi cerita. Asal-usul bahan tersebut, apa yang terjadi di negara itu, letak negara tersebut, kaitannya dengan kehidupan mereka, serta nutrisinya. Apa enggak edan?
Anak-anak bahkan boleh memilih mata pelajaran yang ingin mereka pelajari. Matematika, misalnya, bukan hanya matematika murni; anak-anak bisa memilih matematika yang paling relevan dalam kehidupan mereka. Matematika untuk arsitektur, untuk bisnis, bahkan untuk yang berkaitan dengan seni.

Ruangan-ruangan workshop-nya mirip Green School di Bali, tapi ini di ruko, di tengah kota. Anak-anak masuk sekolah jam 10, enggak jam 7 pagi. Mereka bahkan diajarkan hal-hal yang sifatnya sangat relevan dengan kehidupan: ngitung pajak, misalnya. Anak-anak diberikan kebebasan untuk mikir sendiri, bidang apa yang mereka ingin pelajari, dan project apa yang ingin mereka buat, dengan mentor khusus dari guru-guru.
Pertanyaan saya waktu itu adalah “Guru-guru di sini capek sekali dong ya, kan ada begitu banyak hal yang harus dipelajari untuk bisa ngajarin anak-anak?” Mich nyengir dan bilang, “Gurunya juga berasal dari berbagai bidang kerja profesional, dan mereka menikmati ekosistem yang membuat mereka harus belajar terus!” Fyi, gurunya dateng pake kaos, celana pendek, kek anak band atau anak gunung gitu. Enggak ada yang rapi-rapi pake kemeja resmi.
Anak saya yang sudah remaja ikutan keliling, kagum sekali, dan gara-gara berkunjung ke Learn Life, sekarang dia minta ruangan workshop untuk dirinya. Padahal, sebelumnya kami juga pernah ke Green School dan dia enggak minta. Menurut dia, Learn Life lebih realistis.
Seperti namanya, sekolah untuk kehidupan
Iya, sesuai namanya, ya, sekolah memang seharusnya didirikan supaya kita siap menghadapi kehidupan. Semua yang diberikan di sekolah, baik knowledge, skill, maupun attitude, harusnya relevan dengan kehidupan yang kita rencanakan. Bukan sekadar mengejar nilai, then what?
Iya, betul, jenjang yang saya jalani di AKAR masih jauh dari kehidupan nyata, enggak seperti urban hub-nya Learn Life yang memang lebih dekat dengan kehidupan pilihan seseorang karena sudah cukup besar usianya. Tapi Mich bilang, “PAUD itu justru fondasi pertama yang membentuk seseorang, jadi perannya sungguh penting untuk seorang anak untuk flourishing!” heu, saya menitikkan air mata.
Saya jadi berandai-andai. Coba saja saya punya kesempatan untuk menjalani masa sekolah di sekolah seperti Learn Life. Sepertinya, untuk seseorang dengan ADHD seperti saya, rasanya akan nikmat betul. Karena kami ini kan interest-based, kalau enggak tertarik ya enggak akan dengerin. Mirip dengan konsep Tomoe Gakuen, ya? Sekolahnya Totto-Chan. (Fyi, semua guru di AKAR wajib membaca buku totto chan ketika masa induksi baru pertama kali masuk)
Learn Life memberikan kesempatan untuk setiap anak, literally, setiap anak, tanpa kecuali. Suami saya tentu bertanya, “Bagaimana kalau anak-anak ini lulus nanti? Syarat masuk perguruan tinggi kan biasanya dengan nilai, atau harus test?” Ternyata semua sudah ada skemanya, dan tidak ada yang kesulitan untuk ikut tes, karena sebetulnya hal itu bisa dipelajari dengan cepat.
Iya ya, kalau cuma belajar untuk nilai seperti sekolah pada umumnya, ya kaya saya aja. Nilai sehari-harinya selalu jelek, sekadar untuk bisa naik kelas aja. Tapi nanti di ujian akhir, hasilnya gemilang aja tuh, karena saya cuma belajar di enam bulan terakhir sebelum lulus. Cukup. Ngerjain skripsi aja cuma empat bulan dari ngajuin judul sampe sidang, hasilnya A gede.
Hidup yang berat, dan di sekolah biasa justru enggak diajarin caranya. Makanya saya langsung dengan semangat minta belajar lebih banyak, dan obrolan kami masih terus berlanjut meski sekarang saya sudah di Jakarta, dan Mich di Barcelona. Saya pengen sekali bisa mempelajari cara kerja sistem dan kurikulum Learn Life, karena saya kan enggak cuma bikin center untuk anak TK aja. Saya juga punya program untuk pendidik, fasilitator, volunteer, dan anak-anak muda anggota komunitas. Mereka ini yang nantinya harus juga thrive, karena sebetulnya Indonesia punya nilai dalam culture yang sangat relevan dalam kehidupan.
Meski sayangnya, boro-boro diajarin atau ditanamkan di sekolah atau dalam kehidupan, disebut aja jarang. Persis puisi rendra yang judulnya seonggok jagung. https://www.sepenuhnya.com/2025/02/puisi-sajak-seonggok-jagung-karya-ws-rendra.html
Rasanya sudah saatnya kita lebih keras mempertanyakan relevansi pendidikan di sekolah dengan cara menjalani kehidupan, ya…

Leave a Reply