English Version here
Oktober adalah ADHD Awareness Month. Saya jadi mengingat saat itu…
Desember 2024. Pada usia 40 tahun, berlembar-lembar hasil asesmen menyebutkan satu kalimat yang menjelaskan hampir seluruh hidup saya: ADHD, tipe kombinasi: Inattentive dan Hyperactive.
Empat puluh tahun saya hidup dengan pertanyaan yang sama: kenapa aku begini? Saya yang bisa mengerjakan puluhan dokumen dengan mudahnya, tapi selalu ketinggalan barang. Saya yang sering banget nyalahin diri sendiri dan selalu inget kalau orang mengkritik, tapi enggak pernah merasa bangga kalau berhasil melakukan sesuatu. Saya kesulitan catch up dengan pelajaran di sekolah dan selalu ranking hampir terakhir, tapi selalu lulus dengan nilai bagus.
Setelah diagnosis, pertanyaannya jadi berubah. Awalnya saya bertanya, bagaimana cara memperbaiki diri saya? Pelan-pelan saya menyadari: pertanyaan itu keliru. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: apa yang dibutuhkan otakku agar bisa berkembang?
Saya sudah membangun dan bekerja di bidang pendidikan anak usia dini selama lebih dari sepuluh tahun. Di AKAR, kami tidak pernah menyalahkan benih yang sulit tumbuh. Kami memeriksa tanahnya, airnya, cahayanya. Anehnya, untuk diri sendiri, saya butuh 40 tahun untuk memakai cara berpikir yang sama.
Apa yang sebenarnya terjadi di otak ADHD
Saya membaca banyak penelitian, dan satu hal yang paling melegakan adalah ini: otak ADHD bukan otak yang rusak pada satu bagian. Para peneliti menggambarkannya sebagai jaringan yang bekerja secara berbeda. Ada jaringan untuk kendali diri, jaringan untuk rasa “ini layak diperjuangkan”, jaringan untuk mengatur waktu, dan jaringan untuk melamun.
Beberapa hal yang bikin saya merasa dilihat:
Fokus yang bergantung pada konteks. Dopamin dan noradrenalin, dua zat kimia yang mengatur perhatian dan motivasi, bekerja seperti kurva: terlalu sedikit membuat kita sulit fokus, terlalu banyak (misalnya saat stres berat) juga membuat kita kacau. Titik terbaiknya berubah sesuai minat, urgensi, hal baru, bahkan waktu dalam sehari. Karena itu, saya gak sanggup memulai laporan sederhana di siang hari, lalu tenggelam berjam-jam dalam ide yang saya cintai di tengah malam.
Pikiran yang mengembara bukan tanda tidak peduli. Ada jaringan otak yang aktif saat kita melamun. Pada kebanyakan orang, jaringan ini “diam” saat harus fokus. Pada otak ADHD, ia sering kali tetap menyala. Kalau saya, biasanya pikirannya “hilang” ketika berada di tengah konferensi dan harus mendengarkan orang lain membicarakan topik yang enggak menarik, dan cara menyampaikannya muter-muter, gak keruan, panjang, dan lama. Sementara itu, saya harus duduk, diam, dan mendengarkan. Udahlah itu, gak bisa diselamatkan.
Hadiah yang jauh terasa sangat jauh. Sinyal di otak yang berkata “Ayo terus, jangan berhenti, nanti hasilnya akan sepadan” biasanya lebih lemah dan kalah dibandingkan hal yang memberi rasa senang sekarang, yang terasa jauh lebih menarik. Saya sekarang baru tau, bahwa itu bukan kelemahan karakter, melainkan cara sistem penghargaan kami dikalibrasi.
Waktunya berbeda, bukan rusak. Sebuah penelitian penting menemukan bahwa pada anak dengan ADHD, ketebalan lapisan otak mencapai puncaknya sekitar 3 tahun lebih lambat dibandingkan anak lain dengan urutan perkembangan yang sama. Jadi bukan jalannya yang salah, tapi jadwalnya yang berbeda. Kalau kata lagu Blink-182: “My friends say I should act my age. What’s my age, again?” Hahahha
Penelitian terbaru pada tahun 2026 bahkan membuka pertanyaan yang lebih besar. Para peneliti menemukan perbedaan dalam pola keseimbangan otak kiri dan kanan pada anak dengan ADHD dan menyebutnya sebagai “keterlambatan”. Tapi ada penulis lain yang mengingatkan bahwa data itu bisa dibaca dengan dua cara: sebagai keterlambatan atau sebagai konfigurasi yang berbeda, dengan kekuatan dan tantangan yang berbeda, yang kebetulan diukur dengan tes yang dirancang untuk otak mayoritas.
Kalimat itu menempel di kepalaku: datanya nyata, tapi cara kita membacanya adalah pilihan.

Kalau otaknya sensitif terhadap konteks, maka konteks adalah bagian dari dukungan
Di sinilah semuanya jadi terasa tersambung. Kalau otak ADHD bekerja sangat bergantung pada lingkungannya, maka “dukungan terbaik” bukan hanya tentang memperbaiki individu. Dukungan terbaik adalah ekosistem di sekitarnya.
Latar belakang saya di Ilmu Kesejahteraan Sosial mengajarkan bahwa manusia selalu hidup berlapis: diri, keluarga, sekolah atau kantor, masyarakat, dan lingkungan alam. Begitu juga dengan ekosistem untuk otak ADHD.
1. Tubuh: tanah yang paling dekat.
Tidur, gerak, makan, dan waktu di alam bukan sekadar “gaya hidup sehat”. Bagi otak seperti kami, semua itu turut menentukan apakah jaringan-jaringan di kepala dapat bekerja sama. Gerak setiap hari membantu tidur dan meningkatkan suasana hati. Bermain di luar ruangan dan dekat dengan alam membantu menenangkan sistem saraf. Makanya, belakangan rasanya lebih stres karena serba salah, di luar udara kotor banget dan berbahaya, tapi kalau harus melakukan rutinitas yang sama terus setiap hari, di dalam ruangan? Duh, menderita!
Maka biasanya saya memang banyak bergerak ke sana dan ke sini, atau treadmill, dan ya, seenggaknya setiap pagi harus olahraga supaya seharian aman.
2. Hubungan: “prefrontal cortex” di luar kepala.
Hallowell, psikiater yang juga hidup dengan ADHD, menyebut orang-orang terpercaya di sekitar kita sebagai pengganti sementara bagi fungsi otak yang mengatur rencana dan rem. Teman yang mengingatkan kita sebelum kita memutuskan sesuatu secara impulsif. Keluarga yang tidak mempermalukan, tetapi menemani. Untungnya, selama ini saya rasanya memang selalu dijaga oleh orang-orang di sekitar saya. Di kantor selalu ada yang membantu, di rumah juga. Bahkan anak-anak saya yang tipikal itu selalu siaga sebagai sistem pendukung. Selalu ada teman yang membantu untangle isi kepala saya yang ruwet dengan 1.276 ide setiap hari.
3. Tempat kerja dan sekolah: struktur yang pas, bukan yang kaku.
Terlalu sedikit struktur membuat kacau. Terlalu banyak membuat kami memberontak atau tenggelam. Yang dibutuhkan adalah struktur yang pas: sederhana untuk dijalani, lentur untuk disesuaikan. Ditambah ruang untuk bekerja dengan kekuatan, bukan dipaksa untuk terus-terusan memperbaiki kelemahan. Kadang suka heran, kenapa ya cara berpikir manusia itu janggal? Kalau seseorang lemah dalam hitungan detail, tapi bagus dalam membuat konsep, yang dilakukan justru drilling hitungan detail supaya orang itu bisa melakukannya. Bukannya terus mendukung kemampuannya dalam mengembangkan konsep.
Makanya, di kantor maupun di rumah, saya justru bikin diskusi rutin untuk mereview kinerja dan memberikan pilihan: bidang apa yang hendak dikuatkan? Lagi penasaran sama hal apa? Saya ini jelek banget kalau urusan detail, dan saya juga enggak pernah jadi pelaksana. Jadi ya saya bikin semua yang urusannya sama konsep, sisanya implementasinya ditangani tim. Nanti kalau ada masalah, kita diskusi lagi bareng, karena saya suka nyari jalan keluar dari masalah.
4. Masyarakat: dari “nakal” dan “malas” menjadi “berbeda”.
Di Indonesia, banyak dari kita tumbuh dengan label: anak bandel, ceroboh, dan nggak bisa diam. Banyak orang dewasa seperti saya baru tahu di usia 30 atau 40, atau bahkan enggak pernah tahu sama sekali. Ekosistem yang baik dimulai dari bahasa yang lebih adil dan akses asesmen yang lebih mudah.
5. Bumi: lapisan yang jarang dibicarakan.
Udara kotor, panas ekstrem, hidup yang makin banyak di dalam ruangan dan di depan layar. Semua ini membuat otak yang sudah bekerja keras makin kewalahan dan membuat kita makin merasa kesepian. Merawat bumi, buat saya, juga berarti merawat otak-otak seperti kami.

Musuh yang menyamar sebagai bantuan
Brené Brown menulis tentang near enemies: hal-hal yang tampak seperti koneksi, padahal justru menjauhkan. Saya melihatnya juga dalam cara kita “membantu” orang dengan ADHD:
- Mengerti bisa berubah menjadi penjelasan yang menjelaskan semuanya dengan label: “Ah, itu kan karena ADHD-mu.”
- Menemani bisa berubah menjadi mengendalikan: memperbaiki kami agar cocok dengan sistem, bukan menyesuaikan sistem agar kami bisa berkembang.
- Belas kasih bisa berubah menjadi kasihan.
- Struktur bisa berubah menjadi aturan yang kaku dan tuntutan yang sempurna.
Dukungan sejati, seperti kata Brené, adalah berjalan bersama. Tidak mendorong dari belakang, tidak menarik dari depan.
Koneksi sebelum koreksi
Di AKAR, kami punya prinsip yang kami gunakan untuk anak-anak: koneksi sebelum koreksi. Ternyata, prinsip itu juga yang paling saya butuhkan untuk diri saya sendiri.
Saya enggak butuh otak yang berbeda. Saya butuh tanah yang tepat, orang-orang yang mau berjalan bersama, dan cara pandang yang tidak lagi bertanya apa yang salah denganmu, melainkan apa yang kamu butuhkan untuk bertumbuh.
Ekosistem yang terkoneksi adalah kunci untuk membantu orang dengan ADHD agar bisa thrive di mana pun mereka berada. Karena, percayalah, saling terkoneksi justru membuat setiap orang berani untuk menjadi dirinya sendiri, merasa nyaman, dan pada akhirnya membangun ekosistem yang inklusif untuk semua orang, karena saling sayang, dan saling jaga

Leave a Reply