Ternyata Takut Itu Tanda Kita Sayang sama Diri Sendiri 

English version is here

Kalau nonton film Inside Out, inget pasti ya, salah satu emosi penting utama yang sudah muncul sejak awal hidup kita adalah: rasa takut. Buruk enggak? Tentu enggak. Sebab, rasa takut ini yang akan membuat kita waspada dan jadi lebih berhati-hati ketika melakukan apa pun dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, waktu kecil, saya jarang sekali merasa takut. Mengulang-ulang kesalahan yang sama, atau naik level kesalahan adalah hobiku. Padahal jaman sekolah dulu, kalau betingkah, hukumannya kan sering sekali enggak nyambung ya sama perbuatannya.

Misalnya, terbukti mencoret-coret dinding kelas, hukumannya dijemur di tengah lapangan. Karena bagiku enggak logis, maka ketika dijemur aku teriak-teriak nyanyi lagu soundtrack Doraemon. Loh, tentu dipanggil lagi sama kepala sekolah, dan disuruh bersihin temboknya. LOL.

Itu baru satu dari 193.476 hal lain yang saya lakukan dengan bobot yang lebih menantang. Misalnya: ikutan balap liar, flying fox di hutan yang ga ada tempat berhentinya dan nubruk pohon, Lompat dari atas kapal yang melaju kencang di tengah laut, dan menuliskan berita soal mafia yang berujung pada saya diancam nyawanya.

Manusia seperti saya yang nyaris enggak pernah paham apa itu takut, dan baru bisa menemukan keberadaannya di usia 35+ ketika sudah rutin terapi, jadi seringkali enggak bisa relate dengan pernyataan “takut nyoba”, karena buat saya lebih baik minta maaf dari pada minta izin. Nyoba adalah nama tengah saya, tanpa ragu saya akan mengangguk untuk tawaran tantangan baru.

Belajar dari si bungsu

Tapi setelah belajar lagi soal emosi, rada sedih juga ya, menjalani hidup selama ini tanpa rasa takut. Karena sebetulnya keberadaan rasa takut itu penting banget. Saya justru belajar banyak soal rasa takut dari anak kedua saya, yang sejak kecil, perasaannya cukup bervariasi dan seringkali “susah panas”, jadi justru “takut nyoba” dan kalau akhirnya mau nyoba, dia akan memulainya dengan rasa takut dan mengekspresikannya dengan menangis.

Anak pertama saya, cenderung jarang takut dan senang mencoba hal baru. Jadi anak kedua ini yang justru mengajarkan saya untuk memahami bahwa rasa takut itu wajar, dan bahkan baik. Baru saja Sabtu beberapa hari lalu, dia memenuhi target yang dia susun sendiri di awal tahun: mencoba mengikuti lomba berenang satu kali di tahun ini. 

Dia memutuskan untuk mengikuti 3 kelas gaya: Butterfly, Back stroke, dan Freestyle sekaligus. Kaget juga nih kami bertiga, wow, katanya nervous, tapi ngambil lombanya langsung tiga. Yaudah, tentu saja kami bertiga fully supported dong, ikut nganter dan nemenin di Kolam Renang Bulungan yang panasnya bisa bikin kulit crispy dari jam 12 siang sampai jam 4.30 sore.

Dia sudah menyatakan dirinya nervous, karena meski kami semua sudah membahas bahwa niat ikut lombanya adalah untuk mendapatkan pengalaman baru, bukan untuk menang. Ya kalau menang, itu namanya bonus. Tapi dia ini cenderung ambisius memang, suka ada hasrat menang. Jadi yaudah kami ingatkan lagi aja ke niatnya.

Beberapa saat sebelum gilirannya tiba, setelah usai pemanasan, dia tiba-tiba meltdown dan menangis. Mengulang-ulang kata “Aku takut. Takut sekali…”, kami bertiga menemani air matanya. Karena tidak ada kata “Aku gak jadi ikut” atau “Aku menyerah, mau pulang aja”, maka yang kami lakukan hanya memvalidasi perasaannya. Mengajak dia untuk merasakan takutnya. 

Ternyata, kelas gaya pertama berlalu, lanjut kelas gaya kedua, dan hingga kelas gaya terakhir, dia tetap konsisten menjalankannya. Meski berkali-kali harus inhale, exhale dan mengelus-elus dada, karena yang terasa ada di dadanya. Tapi dia enggak berhenti. Dia terus mencoba. Terus berupaya melakukan semua yang terbaik yang bisa dia lakukan. 

Saya juga udah lupa berapa hitungan waktu dan posisinya dalam ranking, karena buat saya, melihat anak usia 8 tahun bisa mengungkapkan rasa takut, menangis, meregulasi diri, bernapas, dan meminta bantuan regulasi, saya sudah merasa bangga luar biasa. Karena saya bahkan berupaya luar biasa untuk mampu melakukan hal-hal yang dilakukan si anak kedua ini dengan otomatis. Dia bisa mengatasi rasa takutnya, yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

Film dokumenter Travis Barker: Near-Death Experience

Waktu film ini keluar, saya langsung bergegas nonton, dan saya butuh memutus ceritanya di tengah untuk berjeda satu hari, baru esoknya saya lanjut lagi. Buat saya, film ini berat. Karena emosi yang diungkapkan Travis sangat dekat dengan saya. Ibunya yang meninggal. Berantem sama ayahnya, ketakutan besar, kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, dan bertahun-tahun berupaya menjalankan hidup sebagai manusia dengan rasa takut yang sangat besar menghantui hidupnya.

Karena saya nyaris enggak pernah takut, maka sepanjang hidup, saya seolah berteman dekat dengan maut. Saya seringkali dibilang punya banyak nyawa seperti kucing, bahkan oleh dokter paru saya. Tapi saya pernah mengalami kematian, literally. Jantung saya berhenti berdetak, entah untuk berapa lama, di usia 22 tahun, dan saya diberikan prosedur kejut jantung.

Sejak hari itu, saya banyak mikirin hidup dan maknanya.

Saya enggak akan pernah bisa lupa, terbangun di ruang ICCU dengan banyak kabel, dan selang, juga bunyi mesin dalam keadaan bingung. Kemudian tiba-tiba mama saya menyambut dengan air mata yang mengalir-alir, sambil terus mengatakan “Jangan tinggalin mama ya, jangan tinggalin mama”

Saya ini anak yang nyusahin. Kalau mama saya minta tolong adik-adiknya untuk jagain saya, semua nolak, karena saya kaya Denice the Menace. Saya bukan anak manis yang mudah diurus, di sekolah juga sudah beberapa kali nyaris dikeluarkan, karena bikin masalah terus. Tapi, saat itu, saya baru tahu, bahwa mama enggak mau saya mati. Mama mau saya ada sama dia.

Kok bisa? Itu yang pertama terlintas. Anak kaya saya sepertinya enggak pantas disayang. Hari itu benar-benar mengubah cara saya menjalani kehidupan. Saya jadi pengen hidup. Kalau kata psikolog saya, “keberanian” saya adalah upaya saya untuk mati.

Karena saya enggak suka sama diri saya sendiri. Karena saya merasa diri saya enggak berharga.

Ternyata merasa takut itu bentuk kita sayang sama diri sendiri

Saya akhirnya paham bahwa ternyata yang terjadi pada anak kedua saya itu sehat sekali. Padahal tadinya saya merasa enggak sabar, karena dia apa-apa takut dulu. Ternyata, tanpa rasa takut itu, justru kita jadi enggak menanggap nyawa kita penting, keberadaan kita di dunia ini penting, dan ada orang-orang yang masih ingin kita hidup. 

Persis seperti cerita Travis di dokumenternya, kurang lebih begitu lah yang saya rasain. maka , kemarin, setelah usai lomba, saat sudah santai, saya nanya kenapa dia enggak menyerah. Jawabannya

“Aku bilang ke diri aku sendiri, aku bisa, aku kuat, dan aku ingat pesan nyanyak: Kalau capek, istirahat. Kalau ngantuk, tidur. Tapi kita enggak menyerah…”

Air mata saya pecah. Usianya baru 8 tahun, dan dia sudah jauh lebih matang daripada ibunya. Padahal ia memulai lomba dengan linangan air mata, dan rasa takut, yang membuat saya gatel banget mulutnya untuk bilang “Apa sih yang ditakutin? Ayok udah sana pasti bisaaaa!!” karena merasa kesal, udah capek-capek, udah panas-panas, masa dia takut?

Untung saya bisa inhale exhale dan memberikan ruang untuk dia merasakan takutnya. Iya, karena takut itu penting.

Sekarang saya jadi merasa aman, karena saya tahu, anak saya menyayangi dirinya, dan merasa bahwa dirinya penting.

Karena enggak ada yang salah dengan rasa takut. Keberadaannya penting sekali untuk kita dalam menjalani hidup. 

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>