Saya pernah menjadi jurnalis selama lima tahun sebelum akhirnya melahirkan dan memutuskan untuk berhenti. Bukan karena saya enggak suka bekerja sebagai jurnalis, tapi justru karena saya sangat menyukai pekerjaan saya dan saya takut enggak bisa menentukan prioritas antara bekerja dan anak saya.
Mendengarkan cerita orang, mengumpulkan materi, lalu menuliskannya adalah hal yang, menurut saya, sangat menyenangkan. Iya, meski hal itu dilakukan dalam bentuk pekerjaan. Bagi saya, tetap menyenangkan.
Saya jadi ingat dulu salah seorang pimpinan di media tempat saya bekerja, juga menjadi mentor salah satu kelas yang rutin diadakan bagi kami para jurnalis, untuk mengasah kemampuan menulis, pernah bilang: “Duh, ngapain sih Yasmina ada di sini? Mengajari Yasmina menulis itu seperti mengajari ikan berenang..” ujarnya.
Saya enggak pernah lupa kata-kata itu. Makasih ya, you know who you are. Sebab saya sering merasa enggak percaya diri dengan kemampuan saya menulis. Tapi saking gemarnya saya menulis, saya sering menulis panjang hingga satu halaman koran penuh. Karena sehari-hari kan palingan nulis berita untuk kolom-kolom yang padat. Saya sering merasa enggak puas, dan kepengen menceritakan lebih banyak mengenai isu yang sedang saya hadapi di lapangan.
Bukan rajin, sih. Karena saya senang sekali menulis. Saya jauh lebih suka menulis dan mendengarkan ketimbang berbicara.
1 buku untuk 1 minggu? Rasanya kurang…
Jika ditelusuri, sepertinya kesukaan saya ini disebabkan oleh kebiasaan membaca deh. Saya hidup di dunia kutu buku. Ayah saya juga dulu jurnalis, sementara ibu saya bekerja di divisi komunikasi. Keduanya punya buku yang jumlahnya ribuan di rumah. Kami punya kebiasaan berkunjung ke toko buku setiap hari Minggu, lalu saya dan adik saya boleh membeli 1 buku untuk dibaca selama seminggu.

Tugas? Bukan! Bagi saya, jatah segitu kurang banget. Jadi saya sering nabung uang jajan, supaya bisa beli lebih dari 1 buku. Mungkin karena dulu juga anak-anak gak hidup dengan distraksi seperti anak sekarang, ya, yang senengnya scroll. Dulu kan hiburan anak-anak dan remaja ya main di luar atau baca buku.
Tapi emang saya agak eksesif sih baca bukunya, karena saya bahkan enggak suka main game, tapi saya senang sekali menikmati cerita, apa pun itu. Jadi, karena jatah buku hanya 1 seminggu, saya akhirnya membaca hampir semua buku Papa dan Mama yang ada di rumah. Waktu saya SD, saya sudah baca cerita soal Saddam Husein, Palestina, perang Bosnia, dan novel-novel cinta mama seperti Gone with the Wind hehehe
Kata mama, saya sudah bisa baca sejak usia 4 tahun, tanpa ada yang ngajarin. Jadi sepertinya ini bentuknya: NASIB ya?!
Mengaitkan setiap bacaan dengan kehidupan
Setiap kali saya membaca, bukunya memang enggak pernah bersih. Selalu penuh coretan, tanda, dan post-it. Meski yang saya baca adalah cerita fiksi. Saya seneng mengingat quotes dari buku yang saya baca, sehingga nempel di kepala, dan biasanya nempelnya abadi. Karena ketika saya menulis, quotes tersebut seolah menari di hadapan saya untuk saya integrasikan ke dalam cerita yang sedang terlintas.
Iya, cerita. Saya selalu tenggelam dalam cerita, bukan dalam tips atau buku panduan. Meski sekarang, saya sering baca nonfiksi sebagai referensi yang berkaitan dengan kebutuhan data dan informasi dalam pekerjaan saya yang membuat saya jadi lebih sering nulis panduan, kebijakan, standar kualitas, handbook, kurikulum, dan program. Namun, bagi saya, tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan fiksi. Percayalah!
Cheesy banget sih, bacanya novel
Hehehe, pernah denger gak hasil penelitian yang menyatakan bahwa orang yang paling memahami suatu isu biasanya bisa menjelaskannya dengan bahasa yang paling mudah dan cara yang paling mudah dipahami oleh lebih banyak orang? Bukan dengan bahasa yang jelimet, yang isinya lebih banyak teori dan hanya bisa dipahami oleh akademisi atau orang-orang di ranah tersebut. Ini tantangan besar, lho. Makanya dulu saya seneng nulis panjang, karena saya jadi bisa memperbanyak narasumber dari berbagai kalangan, enggak cuma dari kalangan expert atau pejabat/lembaga yang terkait dengan isu tersebut.
Kebayang kan, bikin feature ekonomi tentang pengaruh kenaikan harga bensin terhadap harga bahan makanan. Isi tulisan saya lengkap dari pernyataan menteri, pengamat, sampai tukang sayur dan ibu rumah tangga. Biasanya saya ceritakan dengan bahasa yang paling ramah dan hangat yang bisa saya gali, bukan bahasa yang serius layaknya jurnal penelitian.

Diksi-diksi itu saya dapatkan dari buku fiksi. Karena kita bahkan bisa menceritakan soal ekonomi dari sudut pandang cinta yang romantis, lho. Percaya deh. Lagian nih ya, baca fiksi itu akan bikin kita punya wawasan dan kepribadian yang lebih luas dan matang. Hal ini karena membaca tentang pergulatan hidup tokoh-tokoh dalam dunia fiksi mampu membuka mata dan memecahkan barier yang melingkupi diri kita.
Buat saya, membaca fiksi sangat membantu untuk memperlambat laju kehidupan. Di tengah begitu banyaknya pekerjaan dan tanggung jawab saya, membaca bikin saya merasa lebih tenang karena saya akan memperhatikan kata demi kata. Enggak, saya enggak punya waktu yang banyak banget untuk “menganggur” dan baca buku, tapi saya memilih baca buku ketimbang tiap weekend ada di mal. Saya memilih membaca buku ketimbang menelusuri media sosial setiap malam. Karena saya sedang belajar tracking, saya jadi tahu bahwa hingga akhir Agustus ini, saya sudah membaca 27 buku. No pressure, just enjoy each moment.
Hal yang paling saya nikmati dari membaca fiksi adalah bahwa saya juga bebas membayangkan visual tokoh dan ceritanya. Saya enggak perlu mikir. Tokoh ini kayaknya nggak cocok diperankan oleh si A. Saya bisa meletakkan siapa aja di situ, semau saya. Ini juga yang akhirnya melatih empati. Soalnya, kalau saya, sebagai pembaca, tidak peduli pada para tokohnya, alur cerita menjadi tidak bermakna dan saya pasti akan meletakkan buku itu. Tokoh-tokohlah yang menggerakkan narasi, alur cerita, dan pembangunan dunia dalam cerita tersebut.
Pengalaman kita saat membaca sebuah buku dibentuk oleh kehadiran para tokohnya. Hilangkan unsur itu, dan yang tersisa hanyalah kerangka buku yang layak dibaca. Begitu juga dalam berinteraksi dengan sesama, kan? Jika unsur ini dihilangkan dari kehidupan, segalanya akan menjadi rumit. Cerita dalam buku fiksi melatih empati lebih efektif dibandingkan membaca buku panduan psikologis tentang empati!
Jadi, mari kembali membaca cerita, kembali menikmati fiksi, dan rasakan pikiran kita memahami koneksi setelah seharian hidup berjalan terlalu cepat dan menjadi sulit dinikmati.

Leave a comment