Bukan memaksakan, namun menantang diri

Kalau saya ingin menciptakan perubahan, kenapa saya sendiri enggan berubah?

English version is here

Saya lupa saya nonton atau baca di bukunya ya, tapi saya enggak pernah lupa inti dari pernyataannya. Jadi, Jane Goodall, hingga tutup usianya kan masih ngomong disana dan di sini untuk nyeritain ke semua lapisan masyarakat soal kondisi alam, kondisi hutan, kondisi hewan, kemudian ngajak semua orang untuk terlibat dalam melakukan perubahan baik dalam bentuk apa pun. 

Mana tuturnya lembut, pemilihan diksinya menenangkan, dan pernyataannya juga lugas sehingga mudah dimengerti. Saya nyaris terhenyak waktu Ibu Jane bilang bahwa dia sebenernya bukan orang yang suka bicara di depan orang banyak. Dia bahkan lebih suka menulis, ketimbang bicara.

Ketika googling, pernyataan itu ada juga di wawancara di laman ini

RICHARD: Do you enjoy speaking in front of people? 

JANE: I don’t know where it came from, but I was born with the gift to communicate, first through writing, but I was so scared of speaking. I was terrified during my first talk. I thought I was going to die. When I knew I had to do it, I sort of made a vow to myself — I will never read a speech.

RICHARD: Really? Is that still true? 

JANE: I try to speak from my heart wherever I am. All over Europe, all over Japan, all over South Korea, all over the Americas. Everywhere I go now. The audience is always just extraordinary. I mean, especially in Europe, they start applauding and they go on and on and I’m thinking, could you please stop clapping! [Laughs.] You have to put everything you have into your talk, and then you get this incredible energy back.

Saya belajar banyak dari Jane Goodall

Sebab aslinya, saya juga begitu. Saya lebih suka bercerita dalam bentuk tulisan, dan bahkan buat saya cenderung lebih mudah mengungkapkan sesuatu dengan tulisan, ketimbang bicara. Saya selalu merasa awkward ketika harus bicara di depan orang banyak, hingga kini, padahal pengalaman saya berbicara sudah cukup banyak.

Sebelum saya mendengar atau membaca cerita Jane, saya adalah Yasmina yang bekerja di balik layar. Saya enggak pernah muncul, enggak pernah tampil, dan bahkan saya memilih untuk diem di pojokan setiap ada banyak orang di sekitar saya. Bukan enggan karena merasa lebih dari orang lain, namun enggan karena saya memang bukan orang yang suka tampil. 

Tapi saya ingat betul, waktu itu Jane bilang bahwa dia punya misi besar untuk melakukan perubahan, dia ingin segala upayanya melindungi hewan dan alam raya ini dipahami banyak orang sehingga berdampak lebih luas dan membuat orang-orang juga ingin terlibat. Cara paling efektif untuk memperluas dampaknya itu adalah dengan bicara kepada lebih banyak orang.

So be it, itulah yang dia lakukan. Semua untuk sebuah purpose yang sangat mulia. Hari itu saya narik napas panjang sampai hampir lupa dihembuskan. Sebab sebelumnya saya udah sering banget dapet masukan bahwa saya harus muncul dan bercerita pada orang-orang. Saya tadinya selalu menolak, karena saya merasa saya enggak mampu. 

Lalu suami saya juga bilang “Kalau kamu belajar segitu banyak, dan kamu simpan sendiri, untuk apa punya ilmu yang enggak dibagi?” 

Saya suka tantangan, maka saya memberanikan diri

RICHARD: Is there anything that Jane at ninety would tell Jane at twenty?

JANE: No, because if I told Jane at twenty what Jane would become, Jane at twenty would have said, “Okay. I’m not going to go there.” She would have gone into something else. I was very shy and horrified when I began to be recognized in airports and stuff like that. Terrified.

RICHARD: That’s so interesting. What pulled you out of your shyness?

JANE: I suddenly realized that if I wanted to spread a message about the importance of trying to protect the environment, I would be recognized when I do it. So I went around with little brochures the size of a business card. I would give these things out when people recognized me in airports. I would smile at them and they would usually burst into tears! It’s quite funny — everybody cries when they meet me!

Yang saya lakukan enggak sehebat yang Jane lakukan, mungkin sampai kapanpun saya enggak akan pernah jadi seperti Jane Goodall, dia terlalu keren. Tapi kalau seorang Jane, yang setiap ujarannya bisa bikin banyak orang kepengen terlibat, ternyata adalah seorang pemalu yang gak suka tampil, mungkin saya juga sebenarnya bisa.

Maka berbekal tujuan besar dan semangat ingin melakukan sesuatu untuk masa depan anak-anak yang lebih baik, saya mulai muncul. Saya mulai dengan belajar lebih banyak lagi. Bukan, bukan belajar teknik public speaking. Saya menambah ilmu saya aja, tentang anak, tentang pendidikan, tentang iklim, tentang masalah dunia dan kemungkinan solusinya, tentang sejarah, dan segala hal yang di kepala saya selalu bisa diintegrasikan.

Ngide dan bikin konsep bukan hal sulit untuk saya, baca buku, jurnal, dan penelitian beratus-ratus halaman juga bukan masalah. Merangkumnya dalam kalimat pendek, diksi sederhana, sehingga mudah dipahami orang lain, dan bikin orang lain kepengen terlibat itu yang sangat sulit. Apalagi dengan otak yang impulsif dan sangat mudah terdistraksi ini.

Tapi saya tau banget kok, semakin banyak seseorang memahami ilmu (gak sekadar tau), maka semakin dia bisa memahami sebuah hal yang complicated dalam bentuk ringkasan yang kalimatnya bisa dimengerti banyak orang. Karena ternyata, semakin banyak saya belajar, semakin saya merasa bahwa saya ini banyak banget gak taunya. Maka ketika bicara depan orang banyak, saya enggak pernah “nyeramahin” orang karena merasa paling pinter, tapi jadi “mengajak dan berbagi” kepada banyak orang sebagai pemantik supaya terjadi diskusi.

Dari diskusi-diskusi yang muncul dengan begitu banyak perspektif itulah saya jadi belajar lagi dan lagi, semakin penasaran, semakin pengen tau lagi, dan dunia ternyata jadi jauh lebih menarik. Seiring dengan saya yang jadi semakin berani bicara di mana-mana. 

Big Fish in a small pond or Small fish in a big pond?

I’d rather be a fish in a pond, or lake, or river, whatever I need myself to be!

RICHARD: Do you get nervous now when you talk to a huge theater of strangers or if someone comes up and asks if they can touch you? [Laughs.] Or are you immune to it now? 

JANE: I’m not immune to it. I am moved by it because it means I am doing my job. There are two Janes. There is this Jane — the one who is me, the one who is talking to you. The same one who has fun, who’s silly, here in the home where I grew up. And the other Jane is the icon probably created by National Geographic and Discovery and all that stuff. The “real me” Jane has to work quite hard to keep up with the icon Jane. 

So that’s the only way I can deal with this thing that’s happened to me. Some people seek fame. They crave it. I never wanted it. But since I have it, I must use it.

Iya, persis banget begitu juga perasaan saya, meski enggak sekeren Jane Goodall. Saya aslinya dua orang hahaha.. Seperti Peter Parker dan Spider-Man. Hanya saya enggak mau terjebak dengan konotasi yang seolah-olah harus memilih antara menjadi “Big fish in a small pond” atau “Small fish in a big pond”. Ada saatnya saya merasa perlu bercerita di ruang yang lebih luas, bahkan tanpa batas, seperti dunia internasional, untuk berbagi dan mendengar dari belahan dunia mana pun. Ada juga saatnya aku ingin berada di ruang kecil, hanya bersama mereka yang dekat dan nyaman.

Betul, kita harus paham, mana dip, dan mana tong setan. Harus tau kapan harus terus maju dan kapan harus pivot. Tapi pivot berbeda dengan menyerah. Istirahat di kolam kecil karena capek berenang di danau atau sungai yang besar itu penting, bukan lantas gak mau coba lagi. Kadang rasanya berat dan luar biasa capeknya, apalagi kalau harus melawan arus kencang di sungai besar, bertabrakan dengan batu, ikan besar, atau menghindari predator. Tapi kan hidup itu enggak akan pernah benar-benar mulus. 

Sayangnya, saya sayaaaaaang sekali sama anak-anak Indonesia. Saya kepengen sekali semua anak bisa punya hak yang sama dan merasakan kenyamanan yang sama. Karena itu, saya gak mau mengupayakannya sendirian. Sebanyak mungkin pihak harus terlibat dan saya dengan senang hati berenang lebih jauh dan lebih lama untuk ngajakin mereka.

Jadi saya ikut Dori; what do I do? I swim, swim, keep swimming! 

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>