English Version is Here
Kasusnya sudah selesai di luar, tapi kepala saya masih bekerja keras menyelesaikannya sendiri
Minggu lalu, ada kejadian yang berujung pada kekecewaan teman saya. Bukan sesuatu yang fatal. Bukan sesuatu yang akan jadi berita besar atau bahkan berujung pada komplain resmi. Namun, menurut saya, itu menjadi sesuatu yang berbentuk dan rasanya seperti kegagalan. Sehingga ketika mereka menceritakannya kepada saya, dengan lembut, dengan jujur, seperti yang dilakukan teman sungguhan, ada sesuatu di dada saya yang terasa jatuh, seperti yang selalu terjadi saat kita menyadari bahwa kita telah mengecewakan seseorang.
Inilah bagian yang masih saya renungkan, berhari-hari kemudian: mereka jauh lebih baik kepada saya daripada saya kepada diri saya sendiri.
Cerita yang mereka ungkapkan sangat logis dan mereka memisahkan orangnya dari sistemnya. Alih-alih memutuskan bahwa ini berarti institusinya yang rusak, mereka tetap percaya bahwa hal-hal lain yang mereka lihat—kurikulumnya, rasa makanannya, cara anak-anak lain diperlakukan, budaya yang susah payah kami tanam berbasis koneksi—terasa nyata dan justru membuat mereka percaya kepada kami. Kasusnya ditutup.
Tapi ditutup tidak sama dengan selesai, bukan? Setidaknya tidak di kepala saya. Karena buat saya, sebagai orang yang paling bertanggung jawab, ketika ada satu orang yang missed, artinya saya GAGAL membangun budaya yang thorough.
Otak menyimpan catatan dengan cara yang berbeda dari kebenaran
Saya sedang membaca tentang sesuatu yang disebut negative memory bias, kecenderungan otak kita, terutama otak seperti milik saya yang selalu bekerja cepat dan panas, memegang banyak benang sekaligus, untuk mencengkeram satu momen buruk erat-erat, sementara momen-momen baik lolos begitu saja seperti pasir dari genggaman. Butuh waktu, waktu yang sungguh-sungguh, yang benar-benar dipegang dan dirasakan, agar sesuatu yang baik dapat berpindah dari sekadar pikiran sekilas menjadi ingatan yang benar-benar tertanam. Otak saya tidak mudah melakukan itu. Jadi, satu sore ketika kami mengecewakan satu keluarga, terdengar lebih keras di dalam diri saya dibandingkan dengan sepuluh tahun membangun sesuatu yang telah melayani ratusan keluarga dengan baik.

Perasaan ini bukan kerendahan hati. Dulu saya pikir begitu. Sekarang saya mulai paham bahwa cara berpikir ini lebih dekat dengan distorsi ketika kita mengambil satu insiden kecil yang nyata, lalu membiarkannya mewakili keseluruhan. Ketika terjadi setitik kesalahan, diam-diam berubah menjadi “saya telah gagal sebagai pemimpin”, tanpa saya pernah benar-benar memutuskan bahwa hal tersebut merupakan kenyataan yang dibuktikan oleh bukti-bukti yang ada.
Karena buktinya, kalau saya benar-benar memaksa diri untuk melihatnya: puluhan orang datang setiap hari untuk merawat anak-anak orang lain, dalam sebuah sistem yang kami bangun untuk memegang standar kualitas tertinggi yang diakui negeri ini untuk pendidikan anak usia dini. Empat ratus lebih keluarga telah mempercayakan kepada kami orang-orang paling berharga dalam hidup mereka. Saya harusnya bisa melihat dengan kacamata yang sama bahwa hal itu tidak membuktikan bahwa sistem gagal. Justru sistem yang sebagian besar, secara konsisten, bekerja dan sedang diuji oleh satu momen ketika satu orang tidak memegang teguh apa yang seharusnya.
Rasa bersalah tidak sama dengan tanggung jawab
Saya ingin berhati-hati di sini, karena saya tidak ingin membebaskan diri saya dengan cara yang keliru. Saya memang bertanggung jawab, sebagai pendiri, sebagai orang yang membangun standarnya, sebagai orang yang harus memastikan standar itu terus dipegang. Bagian itu benar, dan saya tidak sedang berusaha meyakinkan diri sebaliknya. Kami sudah kembali ke tim dan langsung meninjau ulang protokolnya.

Tetapi ada perbedaan antara tanggung jawab yang mengarahkan kita kepada tim dan rasa bersalah yang meyakinkan kita untuk merebut kembali kendali ke tangan kita sendiri. Saya kenal betul insting kedua itu di dalam tubuh saya; rasa mengencang. Seharusnya saya yang menangkap ini, seharusnya saya lebih waspada, seharusnya saya yang mengerjakan sendiri. Dan yang sedang saya pelajari, perlahan-lahan, adalah bahwa insting ini bukan pikiran saya yang paling jernih. Ini alarm saya. Alarm dibuat untuk membuat kita bereaksi cepat, bukan untuk melihat dengan jelas. Alarm menarik kita ke mode lawan atau lari, dengan fokus penuh pada ancaman yang justru berlawanan dengan pikiran luas, percaya, dan mendelegasikan, yang sesungguhnya dibutuhkan oleh sistem sebesar ini dari saya.
Semakin saya merasa takut, semakin saya ingin mengendalikan semuanya sendiri. Kacaunya lagi, semakin saya berusaha mengendalikan semuanya sendiri, semakin sedikit ruang tersisa untuk struktur yang justru saya bangun — RASCI-nya, para heads dan leads-nya — agar saya tidak harus jadi orang yang menangkap setiap hal yang jatuh.
Tetap berakar, bukan memanjat kembali ke atas
Selama bertahun-tahun saya berbicara tentang sesuatu yang saya sebut Genuine Leadership — gagasan bahwa tugas saya bukan hanya duduk di puncak apa pun. Tugas saya adalah tetap berakar, rendah, dan terhubung, agar semua orang di sekitar saya memiliki sesuatu yang kokoh untuk bertumbuh. Saya menuliskan dan mempercayainya. Ternyata, pekan ini menjadi ujian paling nyata apakah saya benar-benar menjalankannya, karena begitu sesuatu rusak, setiap insting dalam diri saya ingin kembali menjadi pohonnya, bukan akarnya, terlihat, memegang kendali, menangkap setiap daun sebelum jatuh.
Setelah saya berhasil beristirahat dan menenangkan emosi, saya berefleksi dan menyadari bahwa tindakan seperti itu bukan merupakan kepemimpinan. Itu ketakutan yang memakai baju kepemimpinan.
Jadi, sebagai gantinya. Saya membiarkan tim memegang perbaikannya, karena mereka mampu memegangnya dan karena mempercayai mereka adalah standarnya, bukan risiko terhadapnya. Saya hanya duduk bersama dengan tim dan berdiskusi, merunut kejadian, dan memastikan setiap poin sistem dan standar kualitas telah dipahami esensinya, agar bisa diimplementasikan dengan baik.
Saya membiarkan insiden ini duduk berdampingan dengan semua hal lain yang juga benar; sepuluh tahun itu, empat ratus keluarga itu, dua orang tua yang memilih untuk tetap berbesar hati, alih-alih membiarkannya mewakili semuanya. Ketika alarm di dada saya berbunyi, mengatakan bahwa seharusnya saya berbuat lebih, seharusnya saya ada di mana-mana sekaligus, saya berusaha mengingat: alarm ini bukan kebenaran.
Kesalahan di sini nyata, kecil, dan sedang diperbaiki oleh orang-orang yang saya percaya. Rasa bersalah yang meminta lebih dari itu bukanlah kebijaksanaan. Itu hanya rasa bersalah. Rasanya saya tidak perlu menyerahkan seluruh kemudi kepadanya untuk membuktikan bahwa saya peduli, kan?

Leave a comment