English version is here
Anak saya yang besar tahun ini berusia 15 tahun.
Dulu saya banyak sekali bercerita tentang fase hidupnya di blog. Dari lahir sampai usia menjelang SD. Setelah itu, saya melahirkan anak kedua, dan sibuk bekerja, maka saya banyak skip cerita soal dia.
Iya, anak yang dulu lucu dan menggemaskan itu, sekarang suaranya mulai ngebass dan tinggi badannya sudah melebihi saya. Tentu, sudah enggak lagi menggemaskan.
Sebetulnya saya sudah mempersiapkan diri menghadapi anak remaja, karena saya ingat Mama dulu paling banyak ngomel waktu saya remaja. Bahkan ketika saya dewasa, Mama pernah bilang “Ngurus anak bayi dan balita itu enggak capek, sungguh lebih capek ngurus anak remaja yang sebenarnya seharusnya sudah enggak perlu diurus..”

Jadi, ketika si sulung ini mulai masuk masa pre-teen, saya menyiapkan banyak buku untuk saya dan untuk dia, dalam rangka mempersiapkan diri memasuki fase baru. Saya juga nge-list film yang bisa saya tonton bareng dia, kemudian saya bacain lagi diary-diary saya jaman remaja. Duh untung dulu rajin ya nulis diary
Kemudian jantung saya sempat terhenti sepersekian detik ketika membaca tulisan-tulisan itu.
Masalah? Apa itu masalah?
Rasanya antara kepengen ketawa, well, ngetawain diri sendiri karena: YA TUHAN YASMINA, APA SIH ITU YANG KAU SEBUT MASALAH??? Enggak ada tandingannya sama masalah orang dewasa yang sering kali bikin napas nyaris putus. Namun, saya sadar juga bahwa saya dulu melewati berbagai perkara dari trauma, sendirian. Jadi banyak sekali tulisan yang sebetulnya agak mengkhawatirkan, meski alhamdulillah, saya selamat. Hehehee..
Saya nulis diary dari kelas 1 SD terus sampe hari ini. Meski sekarang nulisnya di app Journey, udah nggak di buku lagi. Maka saya bisa terus memantau perjalanan hidup dari masa ke masa, Pengennya sih bikin diary nya kaya Leonardo da Vinci, tapi ternyata saya menulis itu untuk mengungkapkan perasaan, sesuatu yang sulit sekali keluar lewat mulut.
Karena segala knowledge, skills, keputusan, pemecahan masalah, solusi, ide, inovasi, semuanya bisa saya ungkapkan di mulut, kemudian jadi karya. Tapi perasaan, ternyata hanya bisa saya ungkapkan dengan runut dan jelas, dalam tulisan. Maka, rasanya, diary banyak menyelamatkan masa remaja saya yang selalu berada di ujung tanduk karena adrenaline rush,
Saya ingat, saya dulu menulis karena mama saya kasih hadiah diary saat usia saya 6 tahun. Saya bisa baca sejak usia 4 tahun, fyi, tanpa ada yang ngajarin. Makanya di usia 6 saya sudah lancar menulis. Sayangnya, dalam bentuk perilaku sehari-hari, saya lebih sering memukul ketimbang bicara. Hahahaha…
Sepertinya itu yang jadi alasan mama ngasih hadiah diary, “Kalau susah diomongin, tulis dulu, baru bertindak..” begitu katanya, selalu. Karena saya impulsif, dan kalau bicara, mudah terdistraksi, jadi lompat kesana kemari. Sementara itu, saat menulis, saya akan selalu bisa kembali ke topik utama.
Tapi, anak saya lebih lancar bercerita dengan bicara
Sayangnya, remaja itu kan isi kepalanya sangat messy. Kalau kata Daniel Siegel, otak anak remaja sedang dalam proses renovasi. Kebayang kan kalau rumah lagi di renovasi?
“The upstairs brain remains under massive construction for the first few years of life, then during the teen years, it undergoes an extensive remodel that lasts into adulthood”

Jadi, sering kali dia juga kehilangan kata-kata untuk menjelaskan perbuatannya. Maka mempertanyakan “Why?” di usia remaja hanya akan bikin dia merasa diinjak, karena dia juga enggak tau kenapa dia hari itu tiba-tiba merasa marah dan ingin marah-marah, enggak tahu kenapa hari itu dia memutuskan untuk nyobain Red Bull dan meminum sekaleng penuh, enggak tahu kenapa dia tiba-tiba susah tidur dan pengen main basket jam 12 malem.
Karena, dari diary yang saya baca, kelakuan saya JAUH LEBIH ANEH LAGI. Waktu SMA, ketika usia sudah bisa dapet SIM, momen nongkrong di Senayan bisa tiba-tiba nongkrong di Madtari Bandung dan subuhnya sudah sampe Jakarta lagi. Padahal dulu belum ada tol cepat ke Bandung, lho.
Kesel sama guru yang suka nyindir, dan saya memutuskan untuk menendang meja di depan muka bu guru yang tercengang dan membuat mama saya kena potong gajinya karena harus dateng ke sekolah siang-siang ngurus anak cewek yang pemarah. Jadi, ya, gimana ya?
Mungkin kita semua, sebagai orang tua, harus mengingat kelakuan waktu remaja
Kalau enggak terbiasa menulis diary seperti saya, mungkin ada baiknya, coba yuk cari teman zaman sekolah dulu. Sekalian menyambung silaturahim, siapa tau ada yang perlu ditemani, atau ada yang sakit, atau ada yang bisa diajak kolaborasi, sekalian mengingat-ingat kelakuan waktu masih remaja kaya apa.
Mungkin kita sudah lupa, makanya sering memarahi anak. Karena, coba deh diingat-ingat lagi, perasaan waktu remaja kaya apa? Betul, zaman sekarang tantangannya beratus kali lipat dengan anak remaja yang saling terhubung di berbagai social media: Snapchat, tiktok, Instagram, dll. Belum lagi platform-platform chat yang seringkali orangtuanya kesulitan untuk catch up (Ada bagusnya juga saya sekantor sama anak-anak kecil itu, jadi saya justru banyak belajar soal app dan platform-platform jaman sekarang), sehingga orang tua jadi frustrasi sendiri karena merasa disparitas obrolan jadi jauh banget.
Tapi sebenarnya otaknya tetap sama kok. Otak kita itu primitif lho, ngebedain sakit hati diputusin sama sakit kaki karena jatuh dari sepeda aja dia kesulitan. Meski iya, neuroplasticity, terbentuk sesuai pengalaman, tapi, pada dasarnya semua remaja itu otaknya sedang dalam proses rekonstruksi. Jadi, yang dia butuhkan bukan diteriakin atau dibilang anak nakal. Apalagi dibilang anak yang gak punya masa depan, anak yang enggak akan jadi apa-apa karena gak bisa apa-apa, bisanya ngelawan doang.
*Lah curhat Yasmina ahhahahaa
Maksudnya, kalau kita semua sama-sama mengingat kelakuan jaman remaja yang kurang lebih sama blangsaknya, kebingungannya, dan kegalauannya, ya, mungkin kita akan lebih banyak bisa memahami perasaan anak-anak remaja kita yang sedang kacau-kacaunya itu. Soalnya, kalau kita inget, kita akan berempati, dan kita akan mulai mendengarkan, instead of menghakimi.
Dih, bukan, saya bukan ibu sempurna
Kata siapa saya enggak marahin anak? Namanya manusia kan boleh ketelepasan. Yang enggak boleh kan keterusan, apalagi sampe pake kekerasan. Justru saya sekarang paham banget kenapa dulu mama saya sering terlihat capek, apalagi anak mama terpaut usia yang sangat dekat, hanya 14 bulan. Jadi remajanya barengan. Duh saya ngurus 1 remaja aja pening, apalagi dua sekaligus.

Makanya saya berusahaaaaa sekuat tenaga untuk tetap hadir, tetap jadi ibu yang berteman dengan anaknya, dan terutama, hal yang menurut saya penting adalah, tidak pernah menyerah. Sebab sering kali rasanya saya pengen menyerah kalau harus menghadapi fluktuasi emosi remaja galau yang gak keruan ini. Apalagi kalau lelah sehabis bekerja.
Tetapi, berdasarkan diary-diary alay saya, ternyata hal yang selalu membuat saya kepengen berusaha lebih baik terus setiap harinya adalah: mama yang enggak pernah menyerah sama saya. Mama yang selalu percaya sama anaknya yang seenaknya ini. Mama yang gak pernah bosan bilang “Mama senang sekali jadi ibumu..”
Karena saat itu, saya tau, saya, apa pun bentuknya, diterima dengan sepenuh jiwa.

Leave a comment