English Version is Here
Sudah dua pekan saya kembali ke Jakarta dan menjalani rutinitas harian; bekerja, menjadi ibu, dan menjalankan semua aktivitas biasanya. Namun, setiap kali mau tidur, kepala saya masih sering kembali ke Lisbon, Barcelona, dan Milan. Perjalanan keluarga pada tahun 2026 ini.
Kami punya kebiasaan traveling pada bulan Juni-Juli. Selain karena liburan panjang kenaikan jenjang belajar anak-anak, Juli juga bulan ulang tahun kami bertiga kecuali si anak pertama.
Tapi perjalanan kali ini rasanya berbeda, karena saya sempat 7 hari sendirian di Lisbon, sebelum akhirnya keluarga saya menyusul dan kami traveling bersama di tiga negara itu.

Pertama kalinya sendirian cukup lama di tempat yang jauh dari rumah
Traveling bukan hal yang asing bagi saya. Sejak kecil, keluarga saya juga sering traveling. Waktu saya bekerja sebagai jurnalis, traveling jadi makanan sehari-hari. Bisa jadi saya pagi berangkat ke kantor, tapi malamnya mendadak tidur di kota atau negara lain, karena tugas liputan mendadak. Jadi, packing, transportasi darat, udara, laut, rasanya biasa saja.
Sejak menjalankan AKAR, saya juga sering harus bepergian karena beberapa kali terpilih dalam program fellowship, accelerator, dan sebagainya yang membuat saya harus pergi ke luar kota atau ke luar negeri sendirian. Namun, biasanya, acara-acara tersebut sudah disiapkan oleh tim. Jadi, saya tinggal berangkat dan berada di sana bersama teman-teman atau para penyelenggara acara.
Sisanya, ya, pasti saya bepergian sama keluarga atau business trip bareng salah satu anggota tim AKAR. Baru kali ini, saya harus berada di luar negeri, jauh sekali dari Jakarta, tidak bersama tim atau disiapkan oleh penyelenggara acara, sendirian di apartemen, dan dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Jadi perasaannya serba campur aduk gak keruan. Masalahnya bukan sendirian. Saya bukan orang yang penakut. Bukan juga perkara mengurus diri sendiri. Bagian itu biasa aja. Waktu kuliah juga saya pernah tinggal sendirian dan bisa mengurus diri sendiri. Malah lebih enak karena bisa semaunya.
Tapi karena saya rasanya seperti menemukan diri sendiri lagi, dan jadi paham bahwa dalam kondisi saya sekarang, saya enggak mau lagi sendirian.
Saya adalah orang yang sangat menikmati kesendirian
Bagi saya, tidur dengan orang lain itu menyiksa sekali. Saya lebih suka tidur sendirian. Saya enggak pernah merasa nyaman tidur sambil nempel-nempel sama orang lain, dan saya sangat menyukai malam hari yang tenang: enggak ada suara, enggak ada gangguan, jadi saya bisa menikmati waktu bersama diri saya sendiri.
Kucing masih bisa saya tolerir, tapi manusia, duh. Makanya, waktu menikah, saya agak lama beradaptasi. Hahahaha..

Sekarang juga suami saya jadi lebih sering tidur sama anak-anak ketimbang sama saya, apalagi sejak anak-anak semuanya sudah tidur di kamar masing-masing. Keluarga saya memang banyak pengertiannya.
Tapi ternyata, ketika saya harus sendirian dan meninggalkan tanggung jawab saya sebagai ibu, di tempat yang jauh, saya kehilangan. Bukan saya enggak percaya sama orang-orang dewasa yang menjaga anak-anak saya di Jakarta; saya yang kesepian.
Karena sekarang saya sudah tahu rasanya jadi bagian dari sebuah keluarga, sudah tahu rasanya disayang sepenuh hati tanpa syarat, sudah tahu rasanya diterima apa adanya, saya ternyata merasa sangat nyaman ketika saya merasa belong bersama orang-orang yang saya sayangi. Memberikan waktu sendirian tetap perlu, tapi hanya untuk tidur atau jelang tidur.
Bukan 7 hari penuh!
Otak saya kelelahan karena tidak punya support system
Sejak mengetahui kondisi ADHD dan menyelesaikan masalah trauma yang dulu bikin saya selalu dalam kondisi alert, saya baru tahu kalau selama ini, saya memang tidak pernah santai. Selalu waspada, karena perform, enggak mau dilihat jelek dan dinilai enggak mampu mandiri oleh orang lain. Jadi saya ingat segalanya.
Sejak terapi dan bisa menerima diri sendiri, saya justru jadi pelupa, dan teledor. Apalagi karena sekarang saya berada di tengah ekosistem yang sangat menerima saya apa adanya. Jadi mereka justru yang dengan sepenuh hati mau mengingatkan saya segala macam. “Udah pipis belum?” “Kartunya ada? Enggak ketinggalan, kan?” “Handphone udah masuk?” “Pintu sudah dikunci?”
Ternyata rasanya menyenangkan. Sering kali juga mereka yang sibuk membantu saya yang jadi seperti orang enggak punya life skills. Sementara 7 hari di Lisbon, saya harus bisa melakukan semuanya sendiri, berupaya mengingat segala hal supaya enggak ada yang hilang dan ketinggalan, berupaya enggak tersesat karena males baca peta dan maunya jalan aja gak tentu arah, dan berusaha untuk mengatur jadwal dengan baik agar enggak terlambat.
Saya enggak suka jadi orang yang bisa segalanya! Capek sekali. Prefrontal cortex saya alert, jadi saya kesulitan berpikir kreatif dan menemukan solusi atas persoalan-persoalan. Rasanya enggak bisa berpikir dengan clear seperti biasanya, yang hidup dengan banyak bantuan. Ternyata ini ya penyebabnya: saya yang dulu rasanya enggak sebrilian seperti saya sekarang!
Saya lebih bebas eksplorasi

Iya betul, tanpa keluarga atau tim yang tenaganya enggak sebanyak saya, eksplorasi saya lebih bebas. Saya bisa jalan aja tanpa Maps, bisa seenaknya memilih mau naik kereta, bus, jalan kaki, atau naik taksi. Bisa memilih destinasi sesuka hati saya, dan kalau nyasar ya santai aja, enggak perlu menenangkan orang lain.
Saya juga bisa lebih semaunya memilih makanan, karena pada dasarnya saya doyan makan apa saja dan senang mengeksplorasi rasa. Saya juga bisa mengatur waktu semau saya, karena enggak ada orang yang harus saya pikirin. Pada dasarnya saya enggak suka mengatur, karena saya juga enggak suka diatur.
Tetapi kebebasan itu ternyata enggak sepadan dengan lelahnya harus perform, dan mengingat hal-hal kecil dan detail yang biasanya enggak perlu saya lakukan kalau ada orang lain. Enggak sepadan dengan segala perasaan yang muncul saat ada kabar sedih, dan saya enggak bisa berbagi cerita dengan siapa pun. (Karena baru sekarang-sekarang ini kan saya banyak mengenal emosi, dulu waktu masih sendirian, saya gak kenal juga sama emosi)
Ternyata kemampuan memahami emosi itu memang harus sejalan dengan keberadaan ekosistem yang penuh dukungan!
Jadi, kalau saya ditanya, hal apa yang paling berkesan dari traveling Eropa 2026 ke Lisbon, Barcelona, dan Milan?
Tentu, saya bisa cerita soal gereja-gereja di Lisbon, cerita soal Sintra, makan sardin tiap hari, atau Sagrada Família di Barcelona, atau Duomo di Milan. Saya juga bisa bercerita tentang konferensi di Lisbon dan kunjungan ke berbagai sekolah. Atau bercerita juga tentang pemandangan dan tempat.
Namun, justru bukan itu yang masih terngiang-ngiang di kepala saya hingga kini. Justru segala perasaan besar yang muncul saat itu baru bisa saya proses pelan-pelan di sini, di Jakarta, di kamar saya yang paling nyaman sedunia, sambil berdoa semoga saya enggak perlu sendirian dan merasakan kesepian seperti itu lagi.

Traveling buat saya, bukan tentang pamer berkunjung ke sana kemari, apalagi belanja ini itu. Traveling buat saya adalah tentang belajar, tentang sejarah, cerita dari sebuah tempat, dan tentunya tentang rasa. Karena ternyata itu yang tidak pernah hilang dari kepala.
Yasmina

Leave a comment