Disclaimer: Tulisan ini sangat personal, mungkin terlalu personal, karena rasanya masih sangat galau di kepala.
English Version Here
Saya bukan akademisi, dan sepertinya enggak pernah tertarik untuk menjadi seorang akademisi. Saya lebih suka jadi praktisi, karena itu karya yang saya buat biasanya dalam bentuk konsep, untuk kemudian dijadikan materi yang dikelola oleh tim saya yang isinya akademisi itu.

Namun, ketika pandemi, saya menyadari bahwa saya kurang knowledge. Saya harus lebih banyak belajar dan fokus pada topik-topik dari dunia yang sedang saya jalani saat ini. Makanya, pas pandemi itu banyak sekali kelas yang saya ikuti, banyak sekali buku yang saya baca, sehingga memperkaya otak dan pengalaman belajar, yang selama ini terhalang oleh sistem pendidikan Indonesia yang carut-marut dan gak keruan, dan membuat saya jadi enggak suka sekolah.
Ternyata sekolah itu hanya institusi; belajar bisa dilakukan di mana saja, dengan siapa saja, dan kapan saja. Hal itu saya sadari dan menikmatinya betul. Meskipun demikian, saya sadar juga bahwa saya butuh pengalaman kuliah yang lebih spesifik, belajar yang sifatnya kontinyu dalam jenjang waktu yang cukup lama. Sebab, selama ini kalaupun ikut sertifikasi, masa belajarnya paling lama 4 bulan.
Akhirnya di 2023, saya mulai merancang rencana untuk kuliah lagi. Iya, master. Saya ini sampai hari ini, masih undergraduate kok. Ijazahnya hanya lulusan sarjana aja, dan selama ini saya gak ada masalah karena saya bisa belajar banyak dari mana saja.
Long story short, berbagai macam hal terjadi sepanjang 2023-2026, dari gak keterima kuliahnya, huru-hara di AKAR, dan segala hal dalam hidup saya yang setiap harinya penuh tantangan ini. Mari kita fast forward ke…
Dapat unconditional offer, tapi situasinya jadi conditional
Awal 2026, saya submit aplikasi. Mei, keluar semua hasilnya. 1 uni gagal, 1 uni berhasil. Wow, senang sekali rasanya. Saya juga langsung dapet unconditional offer, yang artinya saya enggak harus melengkapi apa-apa lagi, tinggal urus CAS visa dan berangkat. Akhirnya saya bisa kuliah master! Di tengah London pula, ih seneng banget. Udah gitu, kuliahnya hanya 1 tahun. Ok, mulai cari tahu!
Ternyata, sejak 2024, UK punya kebijakan baru: master student yang taught-based gak bisa bawa keluarga. Kaya kesamber geledek rasanya. Tapi kan anak tambeng ini enggan menyerah dengan mudah, saya cari tau lagi, dan menemukan bahwa anak-anak bisa mendapatkan visa pendidikannya sendiri enggak perlu jadi dependant saya.
Akhirnya saya ngontak dua sekolah pilihan, dan keduanya bisa ngeluarin visa. Sayangnya, anak-anak harus punya guardian, dan itu gak boleh orang tua yang sedang studi. Pilihannya hanya orang tua yang emang hanya buat ngurus anak-anak, atau anak-anak bisa tinggal bareng guardian yang UK resident, atau tinggal di dorm.
Saya coba ngontak certified immigration officer di UK (duh tapi ini ya hebat banget, fast response banget sekolah-sekolah maupun si lembaga ini, dan willing to help dengan memberikan jawaban yang sangat detail untuk pertanyaan saya yang seabrek),juga ngontak agen pendidikan di Jakarta dan jawabannya juga sama. Kuncinya hanya saya bawa suami saya dan dia emang cuma nemenin anak-anak aja di sana.
Belum siap menolak, tapi …
Saya harus ngasih jawaban offer tanggal 23 Juni, dan sampai hari ini, saya masih belum siap bilang “no”, jadi saya email juga uni-nya dan menceritakan kondisi bahwa saya pengennya ke sana bawa anak-anak. Belum ada balasan, tapi saya tahu rasanya ini enggak masuk akal.
Kenapa sih harus bawa anak-anak? Ini kan keinginan dan kebutuhan Yasmina, harusnya anak-anak bisa ditinggal. Kalau saya ditanya begitu, saya akan jawab: Iya, saya tahu banget anak-anak saya mandiri dan bisa ditinggal, saya percaya juga sama suami saya dan seluruh support system di Indonesia yang emang saya siapin untuk kehilangan saya.
Tapi kehilangan itu artinya meninggal. Bukan dengan sengaja saya tinggal setahun ke luar negeri. Sebab kalau meninggal, kan saya enggak bisa memprediksi, jadi sistem yang sudah dibentuk harusnya bisa berjalan tanpa saya. Sementara kuliah master di luar negeri selama setahun itu kan pilihan. Saya enggak mau memilih pergi tanpa membawa anak-anak.
Bukan pengorbanan, ini pilihan
Saya enggak pernah merasa bahwa saya harus berkorban buat anak-anak. Saya yang memilih, meminta pada Tuhan, dan berusaha untuk punya anak. Saya (dan suami saya) yang memilih untuk menghadirkan mereka di dunia ini. Mereka enggak pernah minta dilahirkan. Karena saya yang memilih, maka saya yang berupaya untuk menjadi guardian sebaik-baiknya.
Kebutuhan yang hadir di sini bukan hanya anak-anak yang butuh saya karena mereka masih kecil, tapi saya juga butuh mereka karena saya enggak bisa membayangkan terpisah jarak sejauh itu selama satu tahun, jauh dari mereka.
Saya sering bilang bahwa semua hal yang saya lakukan di sini saat ini adalah untuk mereka, dan saya menyatakannya dengan sangat jujur karena memang benar. Saya pengen mereka hidup di dalam ekosistem yang terkoneksi. Banyak yang bisa jadi support system bareng-bareng. Kok malah saya tinggal pergi jauh dan lama?
Ternyata mencintai itu memang terlalu dekat dengan being vulnerable
Benar kata Brene Brown, orang yang berani mencintai itu adalah orang yang paling berani di dunia. Karena, percaya deh, suami saya sudah bilang “Berangkat aja, cuma satu tahun ini, nanti kami main kesana.” Tapi anak-anak hanya menatap saya dengan gamang, mereka tahu bahwa ini mimpi saya dan keinginan saya, mereka juga paham banget bahwa penting untuk melihat ibunya bisa mengejar mimpinya dan saya tau mereka mendukung. Tapi mereka gak mau ditinggal, saya juga gak mau ninggalinnya.
Saya sebetulnya enggak punya masalah dengan tinggal sendiri, dan melakukan segala hal sendirian. Saya bukan orang yang senang bergantung sama siapa-siapa. Tapi ini berat sekali. Saya juga enggak nyangka akan pernah berada di posisi ini. Saya ini kan seumur hidup loner, saya biasa sendirian, dan bahkan lebih sering sendirian.
Saya enggak berangkat dari ekosistem yang komunal, dan saya punya banyak knowledge, skill dan attitude untuk menjalani hidup. Baru sekarang saya tahu rasanya punya significant others, baru tahu rasanya benar-benar mencintai dan memilih orang-orang ini sebagai prioritas hidup diatas segalanya.
Saya tahu juga kok saya harus mendahulukan mencintai diri sendiri, dan kepentingan diri sendiri. Tapi ternyata, koneksinya terlalu erat, ya? Saya ngebayanginnya aja sedih, karena saya terbiasa mengisi hari-hari saya dengan celoteh mereka, akhir pekan peluk-pelukan berempat, bahkan kemana pergi juga berempat.
Bukan karena kami enggak bisa sendiri, dan jadi diri masing-masing. Ada saatnya saya pergi sendiri, pergi berdua suami saya, suami saya pergi sendiri, anak-anak pun begitu. Tapi hitungannya kan pekan, bukan berbulan-bulan. Apalagi satu tahun.
Iya, meski sekarang situasinya saya udah tau bahwa saya enggak bisa melakukan apa-apa lagi selain menolak offer-nya, tapi saya sengaja membiarkan dulu. Saya butuh waktu untuk menerima keputusan ini, dan ikhlas. Karena rasanya luar biasa berat.
Tapi saya rasa, mau kapan pun ya saya akan tetap pada pendirian saya sih. Saya akan selalu memilih anak-anak duluan, sebelum apa pun itu.
Dan saya pastikan mereka tau, supaya mereka sadar bahwa mereka penting, dan ada manusia yang akan selalu menerima, mencintai, dan memilih mereka apa adanya, kapan saja: Ibu bapaknya.

Leave a comment