If You’re Here, Be Here

Refleksi di Usia 42

English Version Here

Butuh waktu lama untuk saya berpikir mengenai sebuah tulisan untuk hari ini, hari ulang tahun ke-42. Sebab saya sebetulnya enggak tau apa yang harus saya refleksikan di usia ini.

Beberapa bulan lalu, saya sempat duduk bareng sahabat yang sudah mengenal saya sejak 30 tahun lalu. Dia bilang, “Belakangan ini gue gampang banget capek, kaya gue butuh waktu sendirian lebih lama dari biasanya. Lo ngerasa gitu juga gak?”

Saya terdiam agak lama. Berusaha mengingat, berusaha merasakan.

Tapi jawabannya, enggak.

Saya masih bangun pagi setiap hari dengan excited. Energi saya masih berlimpah,  malah rasanya semakin besar, karena saya semakin tahu apa yang saya mau, dan semakin paham makna serta tujuan saya ada di dunia ini. Capek? Mungkin lebih ke selektif memilih ke mana energi itu saya salurkan.

Akhirnya saya enggak menjawab pertanyaan itu,  bukan karena tidak punya jawaban. Saya diam karena menyadari, jawaban saya berbeda dari kebanyakan orang seusia saya. Hal itu yang akhirnya membuat saya bertanya-tanya: apa yang sebenarnya perlu saya refleksikan di usia 42, kalau pengalaman saya justru berjalan berlawanan arah dari cerita yang biasa didengar orang-orang tentang usia ini?

Pola yang Terbalik

Saya ini termasuk late bloomer. Ketika teman-teman seusia saya sudah mulai bersikap dewasa dan berpikir layaknya orang dewasa, saya masih seperti anak kecil yang impulsif dan seenaknya. Saya menjalani hidup live to the fullest, semua saya coba, dari yang kadar bahayanya ringan sampai yang paling berat dan berisiko kematian.

Ketika orang lain rindu masa kecil yang tenang dan menyenangkan, saya enggak pernah merasa begitu. Masa kecil saya menakutkan, dan saya enggak mau mengulanginya. Lukanya banyak, dalam, dan butuh puluhan tahun terapi bersama psikolog agar saya bisa memaafkan kejadian-kejadian berat itu.

Jadi ketika saya akhirnya settled dan mampu berdiri sendiri, hidup rasanya lebih tenang dan saya bisa bernapas lebih lega. Literally. Karena saya seumur hidup sejak kecil sampai awal menikah, selalu kumat asma-nya hampir setiap hari. Sesak dan sering sekali pingsan. Sekarang hampir enggak pernah, flu aja setahun paling banyak 2 kali. 

Jadi kalau ditanya, saya akan selalu memilih hidup saya yang sekarang, dibanding versi saya waktu kecil, remaja, atau dewasa awal. Sepertinya saya sudah kenyang banget sama tantangan kehidupan  dan justru karena itu, sekarang menghadapi tantangan apa pun, saya punya bekal pengetahuan dan pengalaman untuk berpikir jernih mencari solusinya.

Mungkin di sinilah bedanya. Cerita umum tentang usia 42 biasanya dimulai dari hidup yang tenang, lalu perlahan kelelahan mulai menumpuk. Cerita saya dimulai dari krisis — dan baru sekarang saya sampai di titik tenangnya. Bukan berarti saya lebih kuat dari siapa pun. Hanya saja urutannya berbeda. Saya menghabiskan bagian terberat hidup saya lebih dulu, dan usia 42 ini adalah dataran tinggi setelah pendakiannya, bukan awal dari kelelahan yang baru terasa.

Perpustakaan Emosi

Ada satu hal lain yang berubah, yang belakangan baru saya sadari maknanya.

Saya semakin jarang marah. Padahal biasanya, energi berlebihan saya itu yang dipakai untuk marah. Belakangan, saya males marah.

Merasakan marah? Masih, dong, saya kan manusia. Tapi memilih untuk tidak meledak, untuk inhale-exhale, berpikir jernih, dan menyikapi rasa marah dengan bijak,  itu yang sekarang saya lakukan. Bukan karena saya sudah tidak punya emosi besar. Tapi karena sekarang saya punya lebih banyak nama untuk emosi-emosi itu.

Dulu, saya menerjemahkan segala emosi hanya dengan dua nama: marah dan senang. Kalau sedih, kecewa, lelah, semua saya ekspresikan sebagai marah. Karena memang cuma itu bahasa yang saya punya.

Sekarang, perpustakaan itu jauh lebih penuh. Saya jadi paham bahwa kalau sedih boleh menangis, kalau kecewa boleh berdiam dulu dan menenangkan diri, makanya setiap kali saya bisa menamai dengan tepat apa yang saya rasakan, saya jadi bisa memilih dengan tepat pula bagaimana meresponnya. Bukan lagi meledak, bukan lagi menekan, tapi mengenali, lalu memutuskan.

Saya baru sadar, ini mungkin justru penanda usia yang lebih jujur dibanding rasa lelah. Bukan seberapa banyak energi yang tersisa, tapi seberapa presisi saya mengenali diri sendiri.

Bukti, Bukan Sekadar Rutinitas

Hidup saya juga jadi lebih teratur,  tapi ini bukan dimulai di usia 40-an. Melainkan sejak punya anak pertama di usia 27 tahun, saya mulai lebih memperhatikan kesehatan. Sejak itu saya jarang sakit, kualitas hidup jauh membaik, badan terasa segar dan bugar. Saya bisa berpikir jauh lebih jernih dibanding saat masih menjalani hidup semaunya tanpa tujuan yang jelas. Sejak punya anak juga saya jadi rajin ke psikolog, membereskan luka lama yang ternyata banyak menghambat hidup saya.

Sampai sekarang, ceklis harian itu masih saya jaga: Duolingo, baca Qur’an, olahraga, baca buku, menulis diary, menghindari tepung, sholat, daily gratitude, dan mencatat emosi lewat aplikasi, duduk sejenak untuk merasakan dan menamai apa yang sedang saya rasakan.

Secapek apa pun, saya selalu ingat ceklis itu. Bahkan saat liburan ke luar negeri, atau saat tenggelam dalam kesibukan kerja.

Dulu saya pikir ini cuma soal disiplin. Tapi sebetulnya ini bukti.

Saya ini orang yang impulsif, mudah bosan, sulit sekali bertahan dengan komitmen rutinitas, dan justru karena itu, setiap hari saya berhasil menjalankan ceklis kecil ini adalah bukti bahwa otak saya benar-benar bisa berubah. Bukan berubah jadi orang lain. Saya tetap sama, masih suka intensitas, masih gampang bosan. Hanya saja sekarang saya membangunkan penyangga di sekelilingnya, dengan sengaja, supaya ada tempat berpijak yang stabil untuk versi diri saya yang dulu tidak pernah punya itu.

Hal-hal kecil itu memberi otak saya sesuatu yang bisa diprediksi. Memberi tubuh saya istirahat, dengan cara melakukan hal-hal yang dulu saya anggap membosankan, sesuatu yang dulu nyaris mustahil untuk saya, yang impulsif dan sulit berkomitmen pada rutinitas apa pun.

If You’re Here, Be Here

Jadi mungkin, refleksi usia 42 saya bisa dirangkum dalam satu kalimat itu: if you’re here, be here.

Ini bukan slogan mindfulness yang saya baca di suatu tempat. Ini kalimat yang baru bisa saya ucapkan dengan jujur setelah belasan tahun membuktikan pada diri sendiri, pada sistem saraf saya sendiri, bahwa hadir sepenuhnya — sekecil dan sesederhana apa pun caranya — benar-benar bekerja.

Saya bukan orang yang lelah di usia 42. Saya orang yang akhirnya sampai di titik tenang, setelah menghabiskan separuh hidup pertama saya bertarung untuk sampai ke sini.

Tenang yang justru membawa saya pada keyakinan bahwa menyerah tidak pernah jadi opsi dalam kehidupan saya. Sebab saya bisa sampai ke rasa tenang ini, karena segala hal yang berat itu pada akhirnya berlalu, karena saya jadi paham bahwa kalau lelah maka istirahat, kalau ngantuk maka tidur, tapi percayalah, menyerah itu bukan opsi. 

Maka, kalau ditanya usia 42 ini terasa seperti apa? Rasanya seperti akhirnya duduk di kursi yang sudah lama saya bangun sendiri, satu papan demi satu papan, dan sekarang, kursi itu cukup kuat untuk saya duduki dengan tenang.

“Everything’s gonna be fine. Stay optimistic. If dark clouds are coming, they’ll leave again. They always do. The world is round. Everything is round. The biggest invention of all time, the wheel, is round. Things pass, nothing will stay the same forever. No matter how big a pile of shite you’ve gotten yourself into, be it drugs, financial problems, fucked up relations, you will get over it. It will go away just like the weather. The sun is round, so is the planet we live on, as are marriage rings, and our eyes through which we see the world.”

Noel Gallagher 

Leave a comment

I’m Yasmina Hasni, a mother of two, founder of AKAR Family and PERI BUMI, and a changemaker rooted in genuine leadership. I don’t offer one-size-fits-all coaching, but I do work with organizations, communities, and fellow leaders to cultivate movements, build systems, and drive meaningful change.

About Me >>