On fantasy, dreams, and the rooms inside us, we forgot to keep them open
Anak saya yang paling kecil masih punya banyak cerita menarik di kepalanya. Dia masih tidur dengan unicorn dan naga di tempat tidurnya. Usianya tujuh tahun, dan dia yakin betul akan keberadaan makhluk-makhluk itu, bahkan bisa bercerita dengan sangat rinci.
Saya dengan senang hati mendengarkan, bahkan terlibat dalam ceritanya. Boro-boro mengoreksi, sebab aku percaya.
Terlibat dalam setiap cerita buatannya bukan agenda atau sekadar parenting trick untuk membuat anak tumbuh secara optimal. Justru karena saya SANGAT MENIKMATI setiap kebersamaan dengan cerita-ceritanya. Kakaknya, yang sekarang sudah 14 tahun, juga masih bisa diajak berkhayal bersama. Meski sekarang otak remajanya sedang awut-awutan, dia masih seru diajak berburu naga.

Saya masih ikutan nangis kalau nonton film anak-anak. Masih sering berkhayal di depan cermin, role-play menjalankan berbagai peran seru seperti di film. Saya masih nyanyi keras-keras kalau dengerin lagi dan di kepalaku rasanya aku ada di panggung nyanyi di depan ribuan orang. Saya bahkan masih bikin cerita di kepalaku sebelum tidur. Iya, cerita, bukan rencana, atau to-do list. Cerita aja, dan saya bisa mengekspresikan segala macam emosi dalam cerita itu, and I let them take me wherever they want to go.
Maka, meski usia saya 42 tahun, saya adalah leader dari sebuah organisasi, pendiri institusi pendidikan dengan puluhan anggota tim dan ratusan keluarga dalam komunitas, sering kali harus jadi pembicara atau mentor untuk membahas hal-hal serius, menuliskan strategic frameworks, and one very complicated vision for what education in Indonesia could be.
Tapi saya percaya bahwa naga, raksasa, unicorn, dan mermaid itu ada.
Tadinya saya sempat berpikir bahwa saya kekanak-kanakan, dan khayalan-khayalan ini memalukan untuk diceritakan karena takut dianggap enggak serius dan enggak tepercaya. Tapi seiring bertambah dewasa, saya jadi semakin sadar bahwa imajinasi/fantasi adalah sesuatu yang SANGAT PENTING untuk saya jaga agar tidak hilang dari pikiran saya sebagai orang dewasa. Saya menolak menjadi orang dewasa yang ruwet.
Menjalankan visi dengan serius itu wajib, tapi enggak semua hal bentuknya visi
Saya sadar betul, banyak orang dewasa di sekitar saya yang bahkan belum memiliki visi atau tujuan hidup yang jelas. Banyak yang masih mempertanyakan passion-nya, dan menjalani hidup dari hari ke hari aja. Sepertinya justru terjebak dalam imajinasi atau mimpi, namun enggak tau bagaimana cara menjalankan visi.
Saya juga tahu, bahwa menjadi orang dewasa itu adalah tentang bertanggung jawab atas kehidupan. Seiring dengan matangnya otak depan, maka kemampuan untuk bisa mengambil keputusan pada pilihan-pilihan dalam menjalani hidup itu harus bisa dipertanggungjawabkan. Sayangnya, sebagian lagi orang dewasa di sekitar saya terlalu ambisius dalam mengejar visi mereka.
Memperlakukan setiap hal sebagai sesuatu yang harus ada KPI-nya, harus mengejar goal tertentu dan enggak bisa menikmati hembusan angin sama sekali. Hidup itu harus dijalankan untuk mengejar agenda, rencana, dalam mewujudkan setiap cita-cita. Enggak ada waktu untuk berkhayal, untuk memikirkan kehidupan naga dan unicorn di suatu tempat.
Kalau dalam pendulum, ini sudut kiri dan sudut kanan pada ekstrem. Padahal hidup kan enggak pernah hitam dan putih aja, Kita ini hidup dalam spektrum ribuan tone warna. Kenapa harus kaku begitu?
Bertanggung jawab dan punya visi serius yang harus diwujudkan itu wajib, dan tentunya sangat penting. Namun, jika ketika melakukannya dan kita jadi melupakan sisi menjalani hidup dengan imajinasi-fantasi-mimpi, apa rasanya? Bangun setiap pagi, rutinitas yang sama, pulang, dan tidur lagi—semuanya seperti ritme dalam lagu baris berbaris, hanya mengulang chord yang sama, dilakukan secara otomatis, seperti perintah yang kita berikan pada AI.
Padahal setiap elemen dalam cara otak kita memproses sesuatu itu penting banget untuk setiap hal dalam kehidupan. Saya enggak mau setiap sudut dalam kehidupan saya kemudian berubah jadi pekerjaan, dan bahkan saya melakukannya tanpa sadar, karena beban rasa harus bertanggung jawab, menjalani kehidupan dengan intensi tinggi, sebagai orang dewasa. TEGANG BANGET, BRO!
Menempatkan imajinasi, mimpi, dan visi dalam tiga ruangan terpisah

Saya selalu menempatkan ketiga hal itu dalam ruangan yang terpisah. Saya percaya, setiap manusia sebetulnya pasti memiliki tiga ruangan itu, hanya mungkin kita lupa.
Ruang pertama adalah ruangan imajinasi/fantasi. Di ruangan inilah tempat naga dan unicorn berada. Di ruangan ini juga saya bisa menjelma jadi Santana sambil nyetir, jadi John Wick saat mandi, atau bikin karakter sendiri di cerita yang bahkan enggak pernah ada yang bikin. Enggak ada yang perlu meninggalkan ruangan ini. Biarin aja disini, enggak perlu berubah jadi rencana, produk, atau pesan moral. It asks nothing of you except presence. Its only job is to exist, and to remind you that your inner life belongs to you, not to your calendar.
Ruang kedua adalah ruangan mimpi. Bukan mimpi bunga tidur ya, tapi yang disebut dalam quotes “Keep the dream alive” itu. Sesuatu yang selalu ada di dalam kepala, hal yang bisa kita “gambarkan” tapi mungkin enggak selalu bisa dinamai. Bisa didorong jadi realita, jika kita mengupayakannya dengan lebih keras. Ruangan ini berada di tengah antara fantasi dan visi, jadi bentuknya emotionally real, tapi belum jadi rencana dan bahkan kadang enggak perlu jadi rencana. A dream is not a goal waiting to happen.Maka kebutuhannya bukan diwujudkan dalam timeline, tapi diperbolehkan untuk ada di kepala dan enggak dipaksakan untuk jadi nyata.
Ruang ketiga adalah Ruangan Visi. NAH DISINILAH WAKTUNYA MENJADI ORANG DEWASA, yang otak depannya sudah matang dan bisa dipake mikir! Disinilah kita mengatakan: Ini adalah tujuan hidup saya, ini adalah sesuatu yang saya bangun, disini saya memilih mimpi-mimpi yang ingin saya jadikan kenyataan dalam pengorganisasian yang nyata. Disini ada KPI, ada tracker, ada hal-hal spesifik yang harus dijadikan tugas harian.
Setiap ruangan ini penting, karena fungsinya berbeda-beda, and none of them were designed to swallow the others.
Semakin terasa penting ketika kita menjadi orang tua (baca: parents)
Kalau buat saya, keberadaan ketiga ruangan itu enggak hanya penting untuk meregulasi emosi, menjaga kewarasan, namun juga penting untuk menjadi ibu yang bisa bermain dengan anak-anaknya tanpa agenda.
Jadi lebih bisa mengerti isi kepala mereka, dan berbagai emosi yang mereka rasakan juga merasakan emosi saya sendiri supaya kemudian bisa notice pada banyak hal yang dianggap kecil padahal bagi mereka sebetulnya sangat besar. Saya enggak mau bermain sama anak-anak dengan agenda calistung. Semua harus mempertimbangkan milestone, ceklis, atau setiap hal dalam hidup saya sebagai hal serius yang harus dibuatkan tracker.
Sebab, saya sering banget ngeliat para orang tua di sekitar saya yang menghadapi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, brilian, bahkan bermain dengan anak-anaknya, tapi isi kepalanya: evaluasi. Secara fisik, hadir. Bermain dan menjalani hari-hari bersama anak-anak, tapi di balik mata antusias itu ada sebuah ceklis.
Is this age-appropriate? Should I be asking more open-ended questions? Am I doing enough? Dia udah bisa memahami konsep sesuai usianya apa belum ya? Apakah dia udah bisa berhitung? Sudah tau huruf?
Visi yang digotong ke ruangan yang seharusnya isinya imajinasi. Percaya deh, anak-anak bisa merasakan ketika kegiatan yang dilakukan bersama mereka isinya penuh dengan agenda orang tua. Ada keinginan orang tua yang dijejalkan ke dalam kegiatan yang seharusnya dilakukan dengan riang gembira. Ada alat ukur dan ceklis yang mengevaluasi kemampuan mereka.
I know this because I’ve done it too, di ROOTS.
Makanya aku jadi sering ngingetin ke pendidik. Emang tricky sekali menjalankan kewajiban sebagai pendidik yang punya kewajiban untuk memenuhi alat ukur, tapi juga harus dipercaya oleh anak-anak karena tulus.
Kebayang ya skenarionya, kalau lagi baca buku bareng, lalu: “Jadi ceritanya, serigala meniup rumah babi. Coba lihat ada berapa pohon di sekitar rumah babi? Hitung yuk, 1, 2, 3…” Kalau aku jadi anaknya, aku gak mau lagi baca buku sama kamu! Hahahaha.. Kenapa sih gak konteks ya bahasannya? Kan kita lagi bahas serigala sama babi. Kenapa jadi ngitung pohooon?
Makanya kurikulum kami koneksi. Artinya, meski kita ini pendidik, tapi ingat, agenda yang harus kita perhatikan bukan SEKADAR kemampuan calistung, karena itu mah nanti juga bisa minta tolong AI. Justru melihat reaksi anak-anak, bagaimana mereka menyikapi cerita, apa komen-komennya dalam menanggapi cerita, bagaimana emosinya, dan segala yang berkaitan dengan kemampuan anak-anak sebagai manusia.
Membangun visi yang memfasilitasi agar seseorang menjadi manusia memang lebih rumit sih, hehe.
Hal yang penting diingat: Kita enggak harus melakukan segalanya sendirian
Selama ini, kirain solusinya adalah disiplin pribadi, misalnya hanya dengan membangun batasan yang lebih baik, tetap punya waktu untuk diri sendiri, dan memastikan tubuh istirahat. Ya enggak salah juga, tapi kurang. Hehe..
Karena sesuatu yang wrapping those room together adalah: kita enggak bisa memastikan tiga ruangan dalam diri kita ini bisa berfungsi dengan baik jika kita melakukannya sendirian.
Ketika Poe menemani anak-anak belajar, saya bisa berhenti menjadi orang yang memegang rencana. Ketika anggota tim saya memastikan timeline berjalan, saya bisa berpikir bebas lagi, kembali berpikir luas dan membayangkan hal-hal yang sifatnya imajinasi dan mimpi. Ketika seorang teman tertawa bersama saya karena sesuatu yang absurd, dada saya terasa lebih lega.
Kita saling menjaga ruangan masing-masing, tentu dengan kehadiran yang dianggap kecil dan biasa-biasa aja. Malam ini kamu yang menjaga ruangan visi. Saya mau masuk ruangan mimpi. Besok kita gantian. Enggak harus dalam kerangka kerja atau strategi, justru ini hal yang dilakukan nenek moyang kita ketika duduk bareng di depan api unggun untuk menceritakan kisah-kisah yang lebih tua lagi, dan saling menikmati kebersamaan satu sama lain. Tujuannya kan untuk mengingatkan satu sama lain, ya, bahwa menjadi manusia itu lebih dari sekadar bertahan hidup.
Anak bukan sumber stres, mereka itu obat stres
Kita sering bilang stres karena anak. Kenapa? Padahal mereka hadir di dunia untuk mengingatkan kita agar menjadi manusia seutuhnya. Aku gak pengen menghilangkan ruang imajinasi dan fantasi. Di usia mereka, ukuran ruangannya masih jauh lebih besar dibandingkan ruangan lainnya. Bahkan mungkin ruang visi ukurannya hanya sebesar laci, ya?
Saya kepengen mereka tumbuh jadi orang dewasa yang tidak berhenti percaya pada naga. Saya pengen mereka tahu bahwa saya sangat menikmati keberadaan mereka, dan saya sangat berterima kasih karena mereka gak lelah mengingatkan saya untuk tetap memiliki tiga ruangan itu di dalam diri saya. Saya ingin mereka paham bahwa saya mencintai mereka sepenuh jiwa dan raga, dan saya bersyukur karena bisa bermain terus setiap hari, tanpa agenda.
Saya pengen mereka lihat contoh itu, seperti dulu saya lihat ibu saya juga begitu. Bahwa kita bisa main saja, membaca buku saja, bercerita saja, dan menikmati setiap khayalan bersama-sama. Menjadi orang dewasa itu bukan berarti kehilangan rainbow dan butterfly.
Saya ingin mereka yakin bahwa orang dewasa yang bisa mereka percaya, bisa bermain dengan tulus and they can see, in the people who love them, that having a vision and believing in magic are not opposites.
That you can build something real and still leave room for the things that don’t have to be.
Jadi, iya, saya masih percaya pada raksasa dan naga. Semoga kalian menemukan sesuatu yang bisa membantu untuk tetap menjaga agar ketiga ruangan dalam diri itu tidak pernah benar-benar tertutup dan tidak bisa dibuka lagi, ya.

Leave a comment