“I was beginning to understand what people are capable of and how an indomitable determination can motivate and inspire a nation and turn what seems an inevitable defeat into victory, that with courage and determination, the impossible becomes possible.”
(Jane Goodall)
Seberapa jauh kamu percaya pada Hope?
Saya sangat percaya bahwa harapan akan selalu ada. Saya juga meyakini bahwa definisi harapan bukanlah wishful thinking, sesuatu yang kosong dan hanya membutuhkan pikiran kita untuk berharap sesuatu akan terjadi, namun enggak melakukan apa pun untuk mewujudkannya. Hope itu adalah sebuah harapan yang kita yakini betul, sehingga kita, dengan sepenuh hati dan sepenuh raga akan melakukan segala yang terbaik yang bisa diupayakan untuk mewujudkannya.
Sebagai masyarakat Indonesia yang hidup di negara ini sejak 1985 hingga kini, 2026, saya sudah melihat dan merasakan upside down-nya kita karena berada di dalam sebuah sistem yang carut-marut gak keruan karena banyak sekali orang yang lupa.
Iya, saya lebih suka menyebutnya dengan lupa, ketimbang “jahat” atau “tamak”, karena kedua kata tersebut adalah turunan dari lupa. Seperti yang dijelaskan, “perilaku” sebenarnya merupakan tindakan turunan dari “perasaan”. Perilaku yang tidak kita sukai itu biasanya muncul dari isu perasaan yang tidak berhasil diregulasi atau dikelola.

A memukul B, misalnya. Tindakan memukul itu tidak baik. Maka A dihukum. Biasanya, runutannya begitu saja untuk mengatasi perilaku yang tidak sesuai dengan norma. Padahal ada jalan lain yang memang sedikit memutar, tetapi biasanya lebih efektif dalam mengatasi perilaku yang tidak sesuai. Yakni dengan mencari tahu alasan A memukul B.
Sebab biasanya hal-hal seperti ini terjadi karena perasaan yang tidak teregulasi. Bisa jadi trauma jangka panjang, bisa jadi frustrasi, bisa jadi merasa tidak “dilihat”. Maka, coba deh lihat lebih dekat. Biasanya, mereka yang “jahat” atau “tamak” punya isu perasaan yang tidak terkelola dengan baik. Betul, personal sekali memang. Tapi kan memang isu personal ini landasan dari isu sistemik.
Maka, lupa, meski bentuknya masih berupa perilaku, lebih memberikan harapan untuk bisa diperbaiki ketimbang “jahat” atau “tamak”. Sebab diksi sebetulnya tidak netral, banyak pesan-pesan politik dan ekonomi di balik pemilihan diksi yang digunakan dalam kehidupan. Maka saya berhati-hati sekali dalam pemilihan diksi.
Sistem yang carut-marut karena para pelupa akan indahnya Indonesia, dan lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah diberikan oleh Indonesia ini, bagi saya tetap layak untuk diberikan kesempatan. Tentu saja, saya juga harus terlibat dalam melakukan perubahan sebagai upaya mengembalikan landasan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran yang sebetulnya merupakan DNA kita.
Membaca berita, tidak harus selalu dalam bentuk “mengkonsumsi”
Membaca berita agar tahu bahwa ada banyak hal yang terjadi dan melihat setiap berita sebagai kesempatan untuk bisa berbuat lebih banyak dalam tatanan kebaikan dan kebenaran. Tidak selalu ditelan bulat-bulat, diserap, atau dijadikan bekal menjalani hidup, bukan? Sebab bombardir berita atau postingan di media sosial yang lambat laun menyetir cara kita berpikir ini yang akhirnya membuat kita menjadi anxious, tapi tidak teregulasi dengan baik.
Sesungguhnya mengonsumsi terlalu banyak kabar buruk dan terus-menerus melakukan scrolling media sosial akan mendistraksi kita dari waktu tenang untuk berpikir. Kita jadi kehilangan kemampuan untuk merefleksikan hal-hal yang kita lihat dan dengar, sehingga akhirnya berakhir dengan percaya pada apa pun yang dikatakan oleh setiap kanal, yang bahkan sering kali punya tendensi menyebarkan kebencian untuk alasan-alasan politis atau ekonomis.

Bahkan kita share ulang. Bentuknya jadi seperti buzzer gratisan, lho. Ini yang akhirnya malah membuat kita menyerap dan terus menyerap kebencian, hingga tanpa sadar, menyebarkan kebencian. Kita jadi mengabaikan kemampuan otak kita untuk melakukan refleksi terhadap sesuatu, padahal kemampuan itu merupakan kekuatan kita sebagai manusia.
Sayang sekali, kan?
Main yang jauh, belajar lebih banyak, kenal lebih dekat
Saya enggak pernah percaya dengan kebiasaan pendidikan kita untuk memulai segala sesuatu dengan menakut-nakuti. Ancaman atau bahaya berisiko tinggi, memang penting untuk dikabarkan, namun bukan dengan cara yang membuat semua orang menjadi takut. Sebab, hal ini hanya akan membuat kita menjadi apatis.
Saya selalu menekankan kepada para pendidik di AKAR untuk memulai segala sesuatu dengan banyak pengalaman. Mainlah yang jauh, supaya punya banyak pengalaman, dan pada akhirnya jadi punya beragam sudut pandang dalam melihat sesuatu, karena kita jadi bisa mengenal lebih dekat dan memahami cara dunia bekerja dengan banyak cara.
Saya mengajarkan anak-anak dari sudut pandang cinta. Amati kupu-kupu, semut, langit, awan, rumput, dan apa pun yang ada di sekitar kita dengan saksama. Dengan itu, kita jadi bisa memupuk rasa ingin tahu, supaya kemudian ingin terus belajar karena setiap hal itu menarik sekali untuk dipelajari. Kalau sudah kenal, biasanya akan tumbuh rasa cinta. Setelah cinta, kita pasti ingin menjaga, ingin melindungi, ingin melakukan yang terbaik; dari situlah kita bisa mengaktifkan kemampuan reflektif di otak dan akan selalu tumbuh harapan, bukan kebencian.

Saya pernah baca satu artikel yang mewawancarai Dr Bruce Perry, dan ada satu bagian yang saya setuju sekali ketika membacanya:
What about someone who commits a heinous, violent act? Would your first instinct be to look for signs of traumatic experiences that might have motivated that behavior?
Perry: Well, it might not be a traumatic experience that led to it, but I do think the best way to understand people is to find out their stories: Where did they come from? What was their family like? What happened within their community? I’ve interviewed a number of people on death row who have committed horrible crimes. I can’t always put my finger on a single event, but it’s rare that, after hearing an inmate’s story, I don’t have a clue why he is there. Frequently, I’ll see multiple experiences that might have contributed to it. Almost always, the inmate’s story includes being marginalized by a group he wanted to be a part of.
Many of the worst serial killers were humiliated, degraded, and marginalized by a parent. Many school shooters felt marginalized or humiliated by their peer group. Anyone who is marginalized, for whatever reason, will have a much higher baseline level of distress. In most early human cultures, the worst punishment wasn’t the death penalty; it was banishment.
Human beings are meant to be in groups. For the majority of the time we’ve been on this planet, we’ve lived in relatively small tribes or clans, and our major competitors have been other human beings. So our species’ great gift for relationships is a double-edged sword: it has enabled us to join together, but it’s also given us the instinct to create an “us” and a “them,” often with toxic consequences. If someone is unfamiliar, our default response is defensive.
Saya tidak pernah ingin menyerah
Saya sangat percaya pada prinsip terkoneksi dan gemar mengintegrasikan banyak hal. Maka menurut saya, penting untuk membangun society dalam sebuah ekosistem yang saling terkoneksi. Jadi, kesempatan apa pun yang bisa mendukung terwujudnya interkoneksi itu biasanya tidak pernah saya sia-siakan.
Pekan lalu, saya diundang dua kali menjadi pembicara di dua podcast. Leadermorphosis bersama Lisa Gill dan program Dear Daughter di BBC World Service bersama Namulanta Kombo. Meski saya bercerita dari dua sudut pandang yang berbeda karena Leadermorphosis mengajak saya ngobrol dari sudut pandang seorang leader dan BBC dari sudut pandang seorang ibu, silver line yang saya bicarakan di mana pun selalu sama: hope.
Saya percaya bahwa manusia sebetulnya bisa kembali ke asalnya, berpikir dan bertindak baik dan benar. Saya percaya kita semua pada akhirnya hanya ingin saling memiliki dan terkoneksi. Saya percaya, kita semua bisa saling memengaruhi untuk terus saling sayang dan saling jaga.
Seperti yang Jane Goodall ceritakan di buku Hope, meski ia sangat aware bahwa situasi sekarang sudah sangat darurat dan kita harus bertindak menyikapi dunia yang sudah gawat, ada empat alasan utama untuk tetap punya harapan: the amazing human intellect, the resilience of nature, the power of youth, and the indomitable human spirit.
Rasanya saya belum mau menyerah, dan saya masih akan terus berupaya sekuat tenaga untuk mengembalikan tatanan masyarakat yang terus saling terkoneksi, tidak terus-terusan membenci.

Leave a comment