Do’a untuk Ara (dan Abib..)

Gallery

 

Do’a nyanyak untuk Naira

Naira Hati. Nama-mu sengaja kami buat sederhana, namun punya arti yang besar. Naira; Asal katanya dari Bahasa Arab. Artinya cahaya, atau yang bersinar; nuur.

Sama dengan asal kata Neira di Banda Neira

Nuur..yang berkilauan.

Gak usah Panjang-panjang. Nanti kamu ribet kalau sudah besar. Kalau kakakmu Langit Habiby, kamu Naira Hati. Do’a yang besar dalam sebuah nama yang singkat. Do’a nyanyak dan dan deded untuk Abib dan Ara.

**

Naira,

Kali ini nyanyak mau cerita. Awal bulan Mei 2018 ini,

Kami bawa kamu yang masih ada di dalam perut ke sebuah pulau indah bernama Flores. 6 hari 5 malam yang penuh air mata.

DSCF9763

Ada sebagian air mata gembira karena mendapatkan kesempatan sekali lagi mengecup harumnya udara Flores. Dan sebagian air mata kekhawatiran..

Bukan khawatir karena kamu, tapi khawatir sebagai bentuk dari kegelisahan akan sebuah pertanyaan besar dalam hati nyanyak..

“Masih bisakah kamu menikmati pemandangan yang sama dengan yang nyanyak, deded dan Abib lihat ini?”

**

Naira,

Ada pemandangan indah berwarna warni di hadapan kami kemarin. Biru dan hijau nya lautan, karang berwarna kuning, merah, biru, ungu dan coklat. Pulau-pulau yang mulai tertutup rumput hijau. Biru langit, putih awan, dan warna warni mahluk laut yang berseliweran di hadapan kami.

DSCF0043

Mungkin kamu bisa merasakan betapa hangat hati nyanyak ketika berada disana kemarin.

Enggak Cuma lautan, kami juga main ke pegunungan. Berkunjung ke kebun kopi, kebun cengkeh, menikmati harumnya rumput segar, memandangi hamparan sawah dan menikmati pemandangan Abib main bola sama anak-anak Ruteng.

Sambil minum kopi panas, bikinan mama-mama manis petani kopi. Rasa kopinya manis, semanis mata bundar orang asli Flores yang cantik-cantik..

DSCF9846

Abib berulang kali bilang betapa gembira hatinya. Betapa ia enggan pulang ke Jakarta. Dan betapa bahagianya dia bisa jumpalitan di tanah dan laut seluas itu.

Semua punya kita, Naira. Punya Indonesia.

Tapi enggak tahu kalau nanti kamu lahir dan besar. Apakah masih jadi punya kita?

Naira,

Labuan Bajo mulai rame. 2 tahun lalu belum seramai pekan lalu. Pesawat yang terbang langsung dari Jakarta kini bertambah jumlah maskapai dan jam terbangnya.

Hotel dan café makin banyak, bahkan ada satu hotel besar berbasis villa yang sudah besar di Bali sedang dibangun di sana. Oktober launching, katanya.

Phinisi, boat, yacht dan perahu diver juga makin banyak. Artinya yang buang sampah ke laut kelihatannya makin banyak juga

Komodo mulai bertelur di pinggiran pantai pulau Padar. Kemarin kami ketemu dia sedang asyik menggali pasir siap bertelur dan bersarang.

Bahkan berita pekan ini diramaikan dengan rencana perusahaan swasta membangun sarana rekreasi di pulau yang ada Komodo nya, dek. Patah hati rasanya nyanyak.

Cuaca semakin enggak menentu, ketika angin kencang dan ombak sibuk bergelombang keras sampai menggali pasir di kedalaman 24 meter kebawah, padahal belum musim gelombang.

Jalanan menuju pegunungan sekarang sudah beraspal. Enak emang, bisa naik mobil biasa menuju wae rebo-ruteng dan sebagainya. Tapi, apakah semua yang tadinya kekayaan warga, ketika kamu besar nanti masih jadi kekayaan milik mereka?

Naira,

Pulau kalong masih dipenuhi para kalong yang ketika senja beterbangan menuju pulau Flores untuk mencari makan di hutan. Mereka yang tadinya hidup di berbagai pulau, tersingkir ke satu pulau dan hanya keluar di malam hari menyeberangi lautan untuk makan, kemudian sebelum subuh harus cepat-cepat kembali lagi ke pulau-nya.

Apakah nanti pulau itu akan tersingkir juga?

Apakah nantinya turis akan mulai meminta guide-nya untuk mengganggu kalong siang-siang demi feed Instagram yang engagement-nya tinggi, seperti video komodo berenang karena dipancing ayam ke lautan?

Apakah pembangunan pada akhirnya akan dilakukan di pulau rinca dan padar?

Apakah jalanan mulus menuju Ruteng akan berujung pada nanti semua kebun kopi di Flores akan dibeli swasta?

Apakah manta masih akan terbang berenang dengan bebas di Labuan Bajo?

Gak tau, ra. Aku gak tau. Semoga enggak..

Naira,

Aku, deded, abib dan om tante kamu pergi kesana bukan untuk feed Instagram tapi untuk memberi makan hati kami yang jenuh dengan kepadatan kota, polusi, alergi yang gak sembuh2, jenuhnya pekerjaan dan tekanan demi tekanan yang harus kami hadapi setiap hari.

Karena Indonesia ini besar, ada begitu banyak rahasia yang belum terungkap, ada begitu banyak cerita yang bahkan tersimpan rapat di balik bukit dan lautan dalam. Rahasia yang bisa menjadi pelajaran dan melatih rasa bersyukur.

DSCF9887

Rasa kebersyukuran yang lambat laun menipis kalau kamu tinggal di kota besar seperti Jakarta.

Naira,

Semoga nanti kami masih dikasih kesempatan sama Allah untuk mengajak kamu melihat yang kami lihat, bahkan yang lebih keren lagi, ya.

Semoga kamu masih bisa lihat hiu asli di lautan bukan hanya di akuarium yang banyak ngelamun, apalagi di tengah sup hangat ngepul-ngepul. Amit-amit.

Semoga kamu masih bisa berenang bareng manta yang besaaaaaar dan seperti terbang kemudian bermain Bersama penyu yang senang menari Bersama arus.

Semoga kamu masih bisa melihat puluhan lumba-lumba berlompatan dan bermain ditengah gelombang, bukan yang dikasih obat dan ngelompatin api kemudian cium pipi kamu di kolam renang. Abib aja gak pernah aku ajak liat gituan..

Semoga kamu masih bisa melihat Komodo yang sudah hidup dari jaman purba, di habitat alaminya. Bukan di zoo.

Semoga kamu masih bisa mencoba makan buah lengke, conco dan menikmati kopi yang baru saja disangrai habis dijemur oleh para petani, dari kebun milik keluarganya.

Semoga kita masih bisa membangun sekolah untuk para petualang bermata indah itu, di daerah yang lebih dekat dengan perkampungannya.

Semoga kamu masih bisa menikmati keindahan alam yang diciptakan Allah untuk kita jaga, bukan untuk kita habisi dengan semena-mena.

Semoga kamu enggak seperti aku, yang sering banget bilang..

“Nyokap gue dulu humas, bokap wartawan, mereka kerjanya keliling kemana-mana, katanya dulu disitu nyaman, disini banyak ikannya, disana banyak parrots-nya, harimau-nya, tapi sekarang habis.”

Abib dan Ara,

Semoga kalian berdua masih dikasih kesempatan untuk menyayangi alam. Dan menikmati keindahannya, sebagai bentuk rasa syukur karena disanalah kalian bisa melihat Allah. Melihat betapa besar kekuasannya, betapa besar Dia, dan akan selalu ada buat kalian.

Apapun yang jadi kegundahan kalian, ceritakan pada-Nya. Kekayaan alam akan membuat kalian percaya bahwa Dia ada. Bahwa Dia sungguh-sungguh tidak pernah tidur, dan menjaga kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s