Babak baru (lagi) kehidupan kami

Gallery

Saya udah biasa pindah-pindah tempat tinggal sejak kuliah di Bandung. Pindahan pertama adalah dari Jakarta ke Jatinangor. Kemudian hengkang ke Bandung, karena bosan tinggal di Jatinangor. Tahun terakhir, harus lulus cepat- karena kalau lebih dari 4 tahun mama gak mau bayarin- hahahaha..

Jadi balik lagi ngontrak rumah sendirian (bareng kucing2) di Jatinangor. Setelah itu pulang deh ke Jakarta.

Menikah, dan pindah-pindah lagi. Rumah terakhir kami di Bekasi.

**

Sudah sejak banjir pertama, 3 tahun lalu, saya sebetulnya sudah enggak nyaman tinggal dirumah Bekasi. Well, rumah itu sesungguhnya enak bgt dan bikin betah. Tapi, banjir ini kan melelahkan dan mendebarkan ya. Trauma lho tiap denger hujan deras.

Pernah dapat opsi untuk renovasi dan meninggikan pondasi rumah. Lalu ketika dengar biayanya, hahahaha, mending pindah rumah. Mahal bener.

Ditambah perjalanan pulang-pergi Bekasi yang makin hari makin enggak masuk akal. Pulang jam berapapun, lewat manapun, jalurnya belarakan. Abib makin sering gak ketemu sama deded dan kami bahkan ketemu selalu dalam keadaan Lelah.

Mulai terasa enggak manusiawi.

**

Akhirnya kami memutuskan untuk mulai cari-cari rumah. Tapi slow sih, enggak keburu-buru. buka-buka website penjualan rumah, jalan-jalan liat-liat rumah disana sini. Ngobrol-ngobrol, diskusi, dan sebagainya.

Hingga akhirnya banjir kedua melanda, tahun lalu.

Disitu limit kami, hehehe. Baru deh mulai pencarian dengan serius dan intens. Hingga akhirnya, ALHAMDULILLAH, dapet rumah yang cocok, di daerah yang sesuai keinginan.

20180314_081815

Pindah Rumah dan kejutan-kejutan

Februari 2018, kami akhirnya pindahan.

Setelah packing selama 3 bulan. Hahahha, literally loh packingnya 3 bulan. Karena dicicil sih seminggu sekali, masuk2in barang ke containers plastik lalu kirim ke rumah ibu dulu. Bukan apa2, mulai masuk penghujan, mulai parno banjir lagi. Jadi barang-barang yang letaknya di lemari bawah, dan buku2 yang sudah dibaca, langsung aja kirim.

Lagian surprising banget, dan selalu begini kejadiannya. Ketika kami tanda tangan perjanjian jual beli rumah di bulan Oktober, tiba-tiba …. Jeng jeng….SAYA HAMIL. Hmppfttt..

20180211_172851

Dulu juga gitu, setelah tanda tangan perjanjian rumah Bekasi, saya hamil Abib. Hahahaha…

Untung kami bukan triliuner yang kerjanya jajan rumah dan tandatangan perjanjian rumah setahun sekali. Bisa ngalah2in keluarga halilintar gue..

**

Maka, ditengah berbagai pergelutan pindah rumah, lalu teknis sekolah Abib plus dia tahun ini masuk SD juga. Kerjaan yang lagi LUAR BIASA BANYAKNYA (karena yang saya bikin adalah rencana pengembangan bisnis, bukan rencana penambahan anggota keluarga hahaha). Ditambah saya mabok hamil.

Baiiiqqq…

Memang kadang Allah suka rapel ngasih rezekinya ya? Alhamdulillah..

Tapi akhir tahun 2017 sampe awal tahun ini memang saya seperti ditelan jadwal. Makanya blog sepi banget. ini sudah April, dan akhirnya saya bisa nulis. Hahaha..

Catification

Ketika lihat komplek yang sekarang kami tempati ini, rasanya memang jatuh cinta. Karena tidak terlalu luas, ada pengamanan, dan rumahnya terasa nyaman.

20180303_192533

Ketika pindah, alhamdulillah, iya. semua merasa nyaman. Memang saya perlu adaptasi hingga sebulan, karena biasalah ya, Namanya juga separo kucing kan adaptasinya lama.

Eh tapi kucing-kucing saya justru terlihat JAUH LEBIH NYAMAN.

20180208_082552

Jhonny yang di Bekasi tiap pulang kerumah Cuma numpang makan, kemudian kencing2 karena enggak betah dirumah itu. disini mah, diem dirumah mulu. Karena dia dapet teritori yang dia damba2kan selama ini. Seneng banget deh.

Anak2 yang lain juga terlihat amat kerasan, jadi yang tadinya hobi ngumpet di kolong sofa, sekarang bisa santai tidur di tempat orang lewat. Yang tadinya gak tenang dan marah-marah mulu, disini jadi santai banget. ini catification yang berhasil. Semua masalah terkait kucing mendadak selesai dengan pindah rumah!

20180323_174822

Nyaman juga buat kami

Ya karena kucing2 nyaman, kami juga nyaman dong ya. Banyak pintu yang membuat sirkulasi udara sangat baik, ada halaman belakang untuk main dan berjemur. Rumah yang tinggi membuat kami bisa menikmati hujan sambil melamun di teras. Bahkan enggak perlu nyalain AC melulu.

Lampu pun hanya perlu dinyalakan kalau malam, karena rumahnya serba terang. Disini juga enggak ada nyamuk, dan masih suka denger suara tokek.

Tapi yang jelas….JARAK dan aman dari banjir insya Allah. Berasa banget sih ya Allah, jaraknya ini benar2 membantu kami. Kami jadi sempat ngobrol pagi-pagi, saya bisa masak dan bawain bekal makan siang Abib, enggak ada lagi abib tidur malam baca doa dan baca buku di mobil sepanjang perjalanan pulang dari Taman Main.

Deded pun lebih sering ketemu abib, dan kami bahkan masih bisa sempat makan malem bareng.

20180329_092007

Kaya mimpi rasanya.

Hadiah besar

Sekarang tiap pagi saya bangun dengan rasa bersyukur yang enggak ada habisnya kepada Allah SWT. Karena suka senyam senyum sendiri kalo inget semua yang sudah kami lalui.

Setelah menikah, saya dan Poe hanya sempat tinggal 2 minggu dirumah mama. Setelah itu kami ngontrak dan memulai kehidupan yang sebenar-benarnya. Saya dan poe udah biasa ngekos dan tinggal terpisah dari orang tua, tapi kan selama ini masih diurusin ya, semua2nya. Setelah menikah, ya kami malu dong masa masih diurusin orang tua.

Baru deh ngalamin yang Namanya KEHIDUPAN hahahaha…

Setahun pertama pernikahan kami, isinya berantem. Iya, berantem adaptasi. Menyatukan dua manusia dengan karakter yang EKSTRIM sangat berbeda, dari latar belakang keluarga yang juga amat berbeda, dan kebiasaan yang luar biasa bedanya bukan hal mudah.

Ditambah gaji kecil dan kebutuhan besar. Udah macam mulder and scully. Apa aja bisa jadi bahan berantem.

Cuma satu yang kami selalu ingat “Kalau ada yang naik, harus ada yang turun…” itu yang kami berdua pelajari, dan selalu diterapkan. Jadi kalau ada yang mulai ngeGAS, ya yang satu harus ngerem. Karena kalau dua2nya ngegas, nanti jadi fast and furious, ujung2nya ngerusakin mobil. Sayang kan..

**

Melewati tahun pertama juga bukan berarti semuanya jadi lebih mudah. Tantangannya justru makin besar, ujiannya makin banyak, tapi insya Allah kami nya makin kuat. Ya dong ya kan?

Karena kami percaya, seberat-beratnya ujian itu, kami pasti mampu. Kan Allah udah siapkan kemampuannya dulu, sebelum ngasih ujiannya, bukan? Emangnya UAN, kemampuannya distandardisasi. *lah

Lagipula, seberat2nya ujian pun toh Allah juga gak pernah lupa ngasih hadiah. Kami setiap hari selalu sempat ngobrol dan membahas hadiah-hadiah besar itu. karena enggak habis-habis, lho.

Bahkan, keberadaan kami berdua yang menjalani 8 tahun pernikahan dan masih bisa ketawa-ketawa berduaan ngobrolin dunia ini sambil sarapan buah pagi2 aja udah hadiah besar buat saya. Iya, buat saya, ini kaya mimpi. Sesuatu yang bahkan dulu saya gak berani berharap, bisa kejadian sama saya.

Dulu mimpiinnya aja gak berani. Makanya saya lebih memilih untuk bersentuhan dengan realita, bahwa saya akan menghabiskan masa depan saya sendirian atau bareng kucing2 dan pekerjaan. Enggak menikah, enggak punya anak.

Sekarang saya tiba-tiba ada di titik ini. Ketika melewati berbagai persoalan pelik yang terjadi dalam kehidupan, berdua. Lalu bertiga, dan sekarang mau berempat. Riuh sekali. Gak nyangka. Saya yang lebih suka sepi dan sendiri, ternyata dikasih kehidupan yang ramai, dan ternyata semua ini bikin saya bahagia.

**

Tapi saya selalu yakin, semua ini berawal dari keputusan saya dan poe keluar dari rumah mama. Memulai semuanya berduaan saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s